[Lengkap] Tari Cokek Betawi: Sejarah, Gerakan, Fungsi, Properti + Video

Tari Cokek adalah tarian tradisional Betawi. Meski berasal dari suku Betawi, tarian ini sebenarnya merupakan perpaduan antara budaya Betawi, Sunda, dan Tionghoa. Dalam perkembangannya Tari Cokek dijadikan sebagi tarian penyambut tamu. Gerakan-gerakan dalam tari ini antara lain berupa gerakan berputar, maju mundur, berjinjit, serta gelengan kepala. Para penari sendiri mengenakan kostum berupa baju kurung dengan celana panjang yang terbuat dari bahan sutra dan dilengkapi dengan sehelai selendang. Sementara alat musik yang menjadi pengiring tarian antara lain Gambang Kromong, suling, gendang, dan kecrek.

Agar dapat lebih mengenal tarian khas Betawi ini simak pembahasan lengkapnya di bawah ini.

Sejarah Tari Cokek

mengenal tari berpasangan tari cokek
Sumber gambar : blogspot.com

Pada mulanya tarian ini merupakan penggabungan tiga budaya yakni Betawi, Sunda, dan Tionghoa.

Hal ini berawal dari kedatangan warga asli Tionghoa yang biasa dipanggil dengan Tan Sio Kek yang sering mengadakan pesta di rumahnya.

Pesta tersebut juga sekalian memunculkan iringan permainan musik ala Tionghoa berisntrumen serupa dengan rebab 2 dawai yang juga dikombinasikan bersama alat musik tradisional khas Betawi.

Alat musik tersebut terdiri dari suling, gong, dan kendang.

Berkat perpaduan itu, para tamu undangan yang hadir ke pesta tersebut larut ikut menari.

Sehingga dari sinilah bermula tarian tradisional khas Betawi yang dinamakan tari Cokek.

Ada juga yang berpendapat bahwa asal kata “Cokek” diambil dari nama selendang yang juga digunakan dalam tarian.

Tapi ada juga sebagian yang berargumen tentang kata “Cokek” diambil dari nama si Tuan Tanah, Tan Sio Kek.

Berhubung yang melafalkan adalah Masyarakat Betawi, maka pengucapannya menjadi Sokek.

Terlepas dari sumber yang mengabarkan tentang asal usulnya, tarian tradisional ini masih bisa eksis sampai sekarang entah itu di DKI Jakarta maupun Tangerang Selatan bahkan Banten.

Gerakan Tari Cokek

ilustrasi keunikan tari cokek
Sumber gambar : genpi.com

Dalam hal gerakan, banyak kesan negatif yang diberikan kepada tari Cokek.

Namun sudah banyak para seniman berusaha untuk menjadikan gerakan yang dilakukan para penari untuk lebih dinamis lagi dan tidak dipandang sebelah mata.

Salah satu gerakan yang menjadi inti poinnya adalah gerakan maju mundur, memutar, berjinjit serta menggelengkan kepala sambil memainkan kelentikan kedua tangan hingga si penari berputar-putar.

Gerakan berputar – putar tersebut disesuaikan dengan alunan musik yang membersamainya, yakni Gambang Kromong.

Fungsi dan Makna

mengenal pertunjukkan tari cokek
Sumber gambar : tempo.com

Sejak dulu, tari Cokek ini dianggap sebagai tarian hiburan bagi masyarakat lokal.

Selain itu juga dimaksudkan sebagai upaya untuk menjaga kebersihan hati di lingkungan masyarakat.

Namun, lambat laun untuk tetap terjaga dan melestarikan tarian ini, akhirnya tari Cokek dijadikan sebagai Tari Selamat Datang atau upacara penyambutan tamu.

Kostum dan Properti

Untuk mendukung pementasan dari tari Cokek ini, maka didukunglah dengan penggunaan kostum yakni baju kurung dan celana panjang sutra.

a. Baju Kurung

ilustrasi gambar kostum tari cokek
Sumber gambar : pinterest.jp

Di masyarakat Betawi, baju kurung bentuknya menyerupai busana atasan yang lengannya panjang.

Baju kurung ini biasanya terdiri dari ragam warna yang mencolok yakni seperti warna hijau, merah, kuning maupun ungu atau bisa juga dengan polosan saja.

Kain pembuatan baju ini adalah kain sutra.

b. Celana Panjang Bahan Sutra

ilustrasi bahan kain kostum tari cokek
Sumber gambar : bukalapak.com

Selain memakai baju atasan, para penari juga menggunakan baju bawahan berupa celana panjang yang sengaja dibuat dari kain satin.

Dinamakan sutra, karena kain ini memiliki efek glowing jika dipakaikan pada penari.

Sehingga pada pementasan, kostum yang dipakai penari akan menjadi daya tarik untuk memikat para penonton.

Hal ini tentu akan membuat para audience terhanyut dalam tari Cokek.

Sebagai tambahan di bagian bawah celana panjang nantinya akan ditambah hiasan yang warnanya sesuai dengan celana.

c. Selendang

gambar selendang tari cokek
Sumber gambar : sewabusanabetawi. blogspot.co.id

Untuk propertinya sendiri, tarian ini sangat sederhana karena hanya membutuhkan selendang.

Selendang yang diberi nama “Cokek” tersebut nantinya akan digunakan untuk mengundang para tamu agar ikut naik ke atas panggung.

Hal tersebut serupa dengan Tari Jaipong asal Jawa Barat dan Tari Gandrung asal Banyuwangi.

Penggunaan selendang oleh para penari Cokek ini yakni pemakain pada pinggang dan membiarkan dua bagian ujung sambil diuarikan ke bawah.

Tata Rias

ilustrasi gambar tata rias-tari-cokek
sumber gambar : blogspot.com

Kemudian, sebagai tambahan para penari juga membuat rambutnya disisir rapi ke belakang.

Kemudian ada juga para penari yang mengepang rambutnya dan disanggulkan dengan bentuk sanggul yang besar.

Lalu, rambut penari ini dihias dengan tusuk konde yang akan selalu bergoyang manakala para penari bergerak melenggak-lenggok.

Musik Pengiring

Nah, pada ulasan sejarah terdapat pembahasan tentang instrumen musik yang sangat khas pada tarian Cokek.

Lagu yang biasanya dibawakan oleh bagian musik pengiring yakni terdiri dari Gelatin Nguk-nguk, Cente Manis Dipatok Burung, Surilang Enjot-Enjotan.

Untuk detail pembahasan alat musiknya, simak dibawah ini ya.

a. Gambang Kromong

musik tari cokek
Sumber gambar : wikipedia.com

Bagi masyarakat Betawi, media bunyi untuk menyalurkan kesenian sebagai perwujudan ekspresi mereka adalah melalui gambang Kromong.

Seni Gambang Kromong ini mulai dikenal oleh masyarakat kurang lebih sekitar tahun 1930-an pada kalangan warga Tionghoa Peranakan atau biasa disebut Cina Benteng (dilansir dari berita di jakarta.go.id).

Awalnya, seni musik ini hanya diberi nama Gambang.

Namun, ketika memasuki periode awal abad ke-20, istilah penyebutannya ditambahkan Kromong.

Hal ini dikarenakan tambahan instrumen bernama Kromong.

Orang yang menjadi pionir dan memprakarsai Gambang Kromong India adalah Mie Hoe Kong.

Gambang Kromong ini difungsikan sebagai penyemarak upacara adat untuk bagian kehidupan seseorang seperti halnya perkawinan, sunatan bahkan nazar.

Untuk pementasannya sendiri, Gambang Kromong biasa mengiringi pertunjukkan tari cokek, lenong, dan hiburan khas Betawi lainnya.

Sedangkan komposisi para pemain Gambang Kromong ini yakni terdiri dari pemimpin dan panjak alias pemain yang terdiri dari 8 – 25 orang.

Pemimpin ini bertugas untuk menjalankan koordinasi dengan anggota, memilih penanggap, menentukan harga pentas, dan memutuskan tarif upah bagi pemain.

Tarif yang diberikan kepada pemain akan disesuaikan dengan kemampuan yang dimiliki.

Uniknya, pemimpin dalam Gambang Kromong ini dapat sekaligus merangkap sebagai pemilik, anak maupun kerabat yang memang sudah diberikan wewenang untuk menjalankan tugas.

Para panjak atau pemain sendiri dapat disesuaikan jumlahnya berdasarkan jenis musik yang dibawakan dan jumlah total pesanan penanggap.

Beberapa peranan panjak terdiri dari panjak gambang, panjak kromong, panjak teh-hian, panjak kong-a-hian, panjak su-kong, panjak gong dan kempul, panjak gong enam, panjak ningnong, panjak kecrek, panjak bangsing, terompet, organ, gitar melodi, bas elektrik, drum, penyanyi dan penari.

Keahlian yang dimiliki oleh para pemain panjak dapat diperoleh melalui beberapa cara.

Pertama, belajar kepada generasi panjak sebelumnya yang memang sudah berpengalaman dalam kesenian khas Betawi ini.

Kedua, bisa magang ke beberapa sanggar seni.

Sebagai seorang Panjak, mereka dapat menampilkan dan bermain di  mana saja.

Bisa lewat cara ngamen bersama group, asalkan aturan mainnya tetap dijalankan.

Yakni tidak memberatkan group yang lainnya ketika ngamen.

b. Suling

jenis instrumen musik tari cokek
Sumber gambar : istov.de

Alat musik pengiring yang kedua adalah dengan menggunakan suling.

Suling merupakan jenis alat musik yang dibuat dari kayu atau bambu.

Hanya saja, seiring dengan bertambahnya zaman, suling modern bisa juga dibuat dari perak, emas atau kombinasi antar keduanya sehingga bisa dimainkan oleh para ahli.

Ada juga suling yang dibuat dari nikel-perak atau sejenis logam dan dilapisi perak.

Suling jenis ini biasa digunakan untuk para pelajar juga.

Suara yang dihasilkan dari suling ini memiliki ciri khas yang lembut dan dapat dikombinasikan dengan alat musik jenis apapun.

Cara memainkannya sangat mudah yakni cukup dengan meniup lubang yang sudah ada di suling sambil membuka lubang yang lainnya sesuai dengan nada yang akan dimainkan.

c. Gong

ilustrasi gong pada musik tari cokek
Sumber gambar : hammacher.schlemmer

Gong biasa dikenal sebagai alat musik khas Jawa.

Nyatanya gong juga merupakan salah satu alat musik Betawi yang seringkali dipakai dalam pementasan kesenian Betawi.

Jangan heran, gong ini juga sudah terkenal sampai wilayah Asia Tenggara sampai Asia Timur.

(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Cara memainkan alat musik ini sendiri yakni dengan memakai alat lain untuk memukul gong yang sengaja dibalut dari kain tebal.

Hal ini sangat berguna untuk memberikan proteksi pada kondisi fisik Gong.

Selain itu, suara yang dihasilkan dari getaran yang ditimbulkan akan berbeda antara pemukul yang dibalut dengan kain dan pemukul tanpa kain.

d. Gendang

ilustrasi musik kendang pada tari cokek
Sumber gambar : wikipedia.com

Gendhang adalah alat musik yang asal muasalnya dari Jawa Tengah dan Jawa Barat dan difungsikan sebagai pengatur irama.

Gendhang ini terdiri dari bermacam-macam jenis yakni Gendhang Kecil alias Ketipung.

Untuk yang level Medium disebut sebagai Kebar atau Kendang Ciblon.

Cara memainkannya sangat sederhana.

Para pemain hanya perlu memukul gendang tersebut secara bergantian dengan ritem yang teratur.

Suara yang aneh akan timbul manakala kedua bagian pada Gendhang tersebut dipukul secara bersamaan.

e. Kecrek

ilustrasi musik pada tari cokek
Sumber gambar : blogspot.com

Berbeda halnya dengan Gong dan Suling, Kecrek merupakan jenis alat musik yang seringkali digunakan sebagai alat musik dalam bidang seni perdalangan.

Hal ini dijadikan sebagai kode dalam memberi isyarat maupun gerak sikap pada wayang.

kecrek juga bisa digunakan sebagai penghias irama pada lagu yang dibawakan.

Bila dimainkan, maka akan muncul suara crek, crek.

Di Jakarta sendiri, kecrek juga merupakan salah satu alat musik yang dimasukkan dalam kesenian orkes musik Gambang Kromong Jakarta.

Cara memainkannya terbilang mudah.

Anda hanya harus memainkan kecrek dengan cara memukul alat musik tersebut menggunakan alat lainnya yang dijuluki cempala.

Namun, untuk pementasan pada wayang Kecrek sendiri, alat musik ini dimainkan dengan cara ditekan menggunakan telapak kaki.

Untuk memainkan Kecrek adalah dengan memukul alat tersebut dengan alat lainnya yang disebut cempala. Namun, biasanya bila dalam pertunjukan wayang Kecrek ditekan oleh telapak kaki.

f. Sukong

gambar musik sukong tari cokek
Sumber gambar : kamerabudaya.com

Berdasarkan cara memainkan dan bentuknya, sukong memang masuk dalam kategori alat musik menyerupai rebab yang berasal dari Arab.

Namun, ukuran Sukong sendiri terbilang lebih kecil dan hanya memiliki dua untai pada dawai.

Cara memainkan sukong adalah dengan cara digesek.

Untuk bagian badan sukong sendiri, alat ini dibuat dari batok kelapa.

Untuk busurnya, sengaja dibuat dari batang pohon dan bersifat elastis.

Rambut yang digunakan dalam busur di sukong sendiri biasanya menggunakan rambut ekor kuda jantan yang warnanya seperti putih keemasan.

Selain mengiringi pementasan tari cokek, alat musik jenis ini juga digunakan untuk membersamai  pementasan Tari Ondel-ondel dan pertunjukkan lenong.

Alat musik ini difungsikan sebagai melodi.

Sukong sendiri mampu menghasilkan irama dari lagu-lagu populer Betawi seperti Kincir-kincir dan Jali-jali.

Walaupun Sukong ini merupakan alat musik yang muncul akibat budaya Betawi yang plural, alangkah baiknya Sukong juga tetap dilestarikan dan dijaga keberadaannya.

Pasalnya, menurut beberapa catatan sejarah sukong menjadi salah satu alat musik yang dikategorikan langka.

g. Tehyan

ilustrasi alat musik cokek
Sumber gambar : neyce.com

Tehyan merupakan alat musik gesek yang sengaja dibuat dari kayu jati.

Tehyan juga memiliki tabung resonansi yang dibuat dari batok kelapa dan dilengkapi dengan senar.

Suara yang dihasilkan oleh Tehyan adalah berupa nada – nada yang tinggi.

Alat musik Betawi satu ini adalah hasil akulturasi dari budaya Betawi dan Tionghoa pada abad ke-18.

Tehyan juga bisa dikombinasikan dengan alat musik lainnya seperti tanjidor.

Selain digunakan sebagai instrumen tambahan pada tari cokek, tehyan juga bisa digunakan saat acara pernikahan, perayaan bahkan pemakaman.

h. Kongahyan

ilustrasi musik tari cokek
Sumber gambar ; blogspot.com

Hati – hati saat pelafalan alat musik ini. Karena namanya hampir serupa dengan Tehyan.

Nyatanya, Kogahyan merupakan alat musik gesek yang sangat mirip dengan rebab dan biasa ditemukan di Jawa, Bali, Sunda.

Hanya saja, ukuran dari Kongahyan terlihat lebih kecil daripada tehyan dan sukong.

Alat musik ini sering digunakan sebagai tambahan dalam pementasan kebudayaan pada beberapa suku di daerah tersebut.

Pertunjukkan

ilustrasi gambar tari cokek
Sumber gambar : blogspot.com

Dalam pementasannya, tari Cokek diawali dengan alunan musik yang juga disebut sebagai wawayangan.

Wawayangan ini dihasilkan dari alunan Gambang Kromong sebagai step eprtama penari untuk tergabung ke dalam panggung.

Pada mulanya, para penari menggerakkan diri secara maju mundur dengan bergantian.

Kemudian, para penari merentangkan tangan setinggi bahu penari mengikuti alunan musik.

Kemudian, dilanjutkan dengan gerakan lain sampai mengajak para tamu untuk ikut larut dalam tarian dengan cara mengalungkan selendang pada leher tamu.

Biasanya, tamu yang mendapat giliran pertama untuk dikalungkan selendang pada lehernya adalah para tamu terhormat.

Kemudian dilanjutkan pada para tamu undangan lainnya yang mau diajak menari.

a. Penempatan Panggung

Pada pertunjukkan tari Cokek, panggung akan disetting agar bisa menjadi lebar dan luas.

Sehingga wilayah atau gedung yang akan dijadikan panggung harus bisa diisi oleh banyak orang saat pementasan.

Hal ini sangat penting, karena tari Cokek nantinya tidak hanya diisi oleh penari melainkan juga diisi oleh para penonton. Aktifitas ini biasa dikenal oleh warga Betawi dengan sebutan ngibing.

Untuk pemain yang mengatur alunan Gambang Kromong, terdapat 7 orang, dan posisinya sering ada di bagian belakang atau sebelah panggung dengan duduk berkelompok.

Sementara para penarinya yang bisa terdiri dari 5 sd 10 wanita berjajar di atas panggung mengikuti setiap ritme dan irama yang dibawakan para pemusik.

Tarian yang juga disebut dengan julukan tarian Tangeran – Tanggerani ini juga dibawakan oleh laki – laki dan perempuan secara berpasang – pasangan.

Pasangan ini diambil setelah melakukan aktivitas ngibing tadi.

Hanya saja walaupun pasangan ini menari dengan jarak yang cukup dekat, namun tidak diperbolehkan adanya kontak fisik atau saling bersentuhan.

Jika wilayah areal panggung luas, biasanya ada gerakan memutar pada lingkaran besar yang dilakukan oleh pasangan penari.

Tarian khas Tangerang ini dikenal dengan budaya etnik Chinanya.

Pertunjukkan tarian cokek ini sendiri juga dibilang serupa dengan sintren Yanga da di Cirebon maupun adanya ronggeng di Jawa Tengah.

b. Jumlah Penari

Pada mulanya, tarian ini dibawakan hanya 3 penari saja.

Namun seiring dengan berkembangnya zaman, komposisi para penari Cokek, terdiri dari 5 – 10 kelompok wanita yang berjajar di atas panggung sambil terikut dalam ritme irama yang dihasilkan dari iringan musik.

Pesan Moral

ilustrasi gerakan tangan pada tari cokek
Sumber gambar : indonesiakaya.com

Ternyata, terdapat pesan moral dalam setiap gerakan yang dilakukan oleh penari Cokek dalam pementasan. Simak ringkasan sederhana pesan moral yang ingin disampaikan di bawah ini.

a. Gerakan Tangan Keatas

Ketika penari melakukan gerakan tangan ke atas, hal ini menunjukkan kepada para audience bahwa sebagai manusia kita hanya menggantungkan dan memohon terkabulnya harapan kepada Tuhan yang Maha Kuasa.

b. Gerakan Tangan Menunjuk Kening

Pada gerakan tangan yang selalu menunjuk kening, hal ini menjadi sebuah harapan bagi semua elemen masyarakat untuk selalu berfikiran baik dan tidak berprasangka buruk terhadap hal apapun.

Karena berprasangka buruk terhadap sesuatu apapun tak mendapatkan kebaikan sama sekali.

Terutama hal ini sangat dibenci oleh sang Pencipta.

c. Gerakan Tangan Menutup Mulut

Gerakan tangan menutup mulut menjadi pesan kepada masyarakat bahwa manusia harus senantiasa berkata baik.

Apabla tidak dapat berkata baik, maka sebaiknya manusia bisa untuk memilih diam.

d. Gerakan Tangan Menunjuk Mata

Ketika penari melakukan gerakan tangan sambil menunjuk mata, hal ini menjadi simbol bahwasannya sebagai manusia harus selalu menjaga penglihatan dari hal hal yang buruk.

Hal ini juga merupakan bentuk rasa syukur terhadap Pencipta kita karena memanfaatkan anugerah mata yang diberikan dengan maksimal.

Pelestarian Tari Cokek

ilustrasi kelentikan tari cokek
Sumber gambar : indonesiakaya.com

a. Acara Kemasyarakatan Betawi

Dalam penjagaan dan pelestarian budaya tari Cokek ini sendiri, masyarakat Betawi berinsiatif untuk mengadakan adanya acara kemasyarakatan yang juga akan mementaskan seni tari tradisional Betawi.

Hal ini dimaksudkan agar generasi muda tak melupakan budaya Betawi asli.

b. Acara Budaya Lokal maupun Internasional

Selain mementaskan tarian pada acara kemasyarakatan Betawi, tari Cokek juga dapat dipertontonkan lewat acara budaya lokal yang diadakan negara sendiri atau bahkan internasional.

Untuk wilayah Internasional sendiri, biasanya tari Cokek asal daerah ibukota ini juga dibarengkan dengan tarian adat provinsi lainnya.

Demikian ulasan mengenai tari Cokek. Jangan lupa juga simak tarian betawi lainnya, seperti tari yapong, tari ondel-ondel, tari Topeng Betawi hingga tari sirih kuning.

Semoga dengan adanya pembahasan sederhana ini dapat memberikan keyakinan kepada generasi muda untuk selalu bangga dan senantiasa mengharumkan citra bangsa.

Pun sebagai motivasi agar para pemuda dapat senantiasa menjaga dan melestarikan kebudayaan tari cokek ini dimanapun generasi itu berada.

Jangan lupa simak ulasan tarian adat yang lain ya!

Nor Rahma Sukowati

Indonesian/Content Writer - Selasar/ Spread positive things using our writing/ Reading & Traveling

Update : 4 April 2021 - Published : 25 September 2020

Tinggalkan komentar