Nor Rahma Sukowati Indonesian/Content Writer - Selasar/ Spread positive things using our writing/ Reading & Traveling

Pakaian Adat Sulawesi Selatan

6 min read

gambar pakaian adat sulawesi barat

Bagi yang sudah berkunjung ke Manado, pasti akan berdecak kagum melihat kekayaan alam yang terpampang di provinsi Sulawesi Selatan.

Bagaimana tidak? Selain dikelilingi oleh banyak pulau, nyatanya Sulawesi Selatan juga kaya akan kebudayaan.

Di saat zaman sudah mulai tergerus oleh perkembangan teknologi, namun masyarakat Sulawesi Selatan bertekad untuk tetap menjaga kelestarian budayanya.

Salah satunya melalui pelestarian pakaian adat Sulawesi Selatan. Penasaran? Yuk simak bareng – bareng ulasannya!

Jenis Pakaian Adat Sulawesi Selatan

Terdapat beberapa suku yang mendiami provinsi Sulawesi Selatan. Salah satunya yakni suku Mandar, Toraja dan Bugis. Bagaimana ya penjelasannya?

1. Suku Mandar

Jenis pakaian ini biasanya kerap digunakan dalam acara pernikahan dan diperuntukkan sebagai busana pengantin.

Selain dalam acara pernikahan, pakaian ini juga digunakan dalam untuk busana penari adat Sulbar yakni tari Patuqdu.

Pakaian adat suku Mandar terdiri dari pakaian pria dan pakaian wanita. Simak ulasannya lebih lengkap di bawah ini ya!

Pakaian Pria

Penggunaan pakaian adat sulawesi selatan pada pria
Sumber : silontong.com

Biasanya pakaian adat selalu terlihat agak sedikit mewah dikarenakan banyaknya aksesoris tambahan yang dijadikan pelengkap.

Namun, hal ini tidak berlaku untuk pakaian pria di suku Mandar.

Ciri Khas

Pakaiannya terlihat sederhana, namun tetap menampilkan kesan wibawa bagi pemakainya.

Hal ini dapat dilihat dari perpaduan antara jas berkarakter tertutup yang khusus berwarna hitam.

Jas ini sendiri khusus dibuatkan dari jenis kain berbahan sutra dan lengannya dibuat panjang.

Sedangkan untuk model bawahannya, yakni sebuah celana yang juga dibuat dengan warna hitam dan dikolaborasikan dengan lilitan kain sarung tenun yang dipasangkan di pinggang.

Maksud dari lilitan kain sarung tenun tersebut memberikan pengertian bahwa seorang laki – laki suku Mandar haruslah berkarakter gesit dan cekatan dalam bidang pekerjaan maupun memposisikan diri.

Aksesoris

Ilustrasi pakaian adat sulawesi selatan
Sumber : bukalapak.com

Sebagai tambahan, pakaian adat ini juga ditambahkan berbagai aksesoris sebagai untuk menjadikan pakaian adat ini sempurna.

Misalnya, terdapat hiasan sebagai penutup kepala pada pakaian pria adat Mandar ini yakni bernama songok tobone, sejenis kopiah dengan warna yang bervariasi sesuai dengan busananya.

Kemudian, terdapat liontin atau sejenis medalion dengan rantai mas yang dipasangkan pada saku baju busana pria.

Untuk alas kaki sendiri, digunakanlah sepatu pantovel atau bisa juga dengan sepatu sandal khas Mandar yang khusus dibuatkan dari kulit.

Aksesoris yang digunakan untuk jenis pakaian pria, akan semakin memberikan kesan wibawa dan bijaksana.

Pakaian Wanita

Penggunaaan pakaian adat sulawesi selatan di mandar
Sumber: pinterest.com

Berbeda dengan pakaian pria, pakaian wanita membutuhkan waktu lama dari segi pemakaiannya.

Biasanya, pakaian wanita lebih sering disebut dengan Pattutduq Towaine.

Pattuqduq Towaine lebh sering digunakan pada acara pernikahan dan pertunjukan kesenian tari tradisional, patuqdu.

Ciri Khas

Untuk membedakannya, maka sesuai tradisi di Suku Mandar, pakaian wanita yang digunakan dalam acara pernikahan lebih banyak dibandingkan dengan pakaian wanita untuk tari.

Untuk pernikahan dibutuhkan sebanyak 24 buah aksesoris, dan untuk keperluan tari hanya dibutuhkan sebanyak 18 buah.

Secara umum, komponen penting penyusun pakaian wanita ini terbagi dalam beberapa bagian. Misalnya, bagian pada pakaian utama, aksesoris tambahan pada kepala, badan maupun pada tangan.

Aksesoris

Aksesoris tambahan yang ada di kepala biasa disebut dengan bunga penghias.

Terdapat berabagai variasi penggunaan bunga penghias ini.

Misalnya, jika bunganya terdapat tiga, maka pemakaiannya bisa diletakkan di samping kiri dan kanan.

Jika terdiri hanya sepasang, kemudian digunakan di sisi kanan dan kiri sambil dihadapkan ke depan, maka bunga penghias kepala ini hanya digunakan oleh kalangan Tau Pia Naqe, Tongan dan golongan bangsawan umum.

Sedangkan jika digunakan oleh semua kalangan bangsawan, maka bunga hias yang bisa dipakai hanya dua atau sepasang.

Untuk kalangan Tau Pia atau sederajat, bunga hias bisa dikenakan secara menyamping dan jumlahnya hanya sepasang.

Sedangkan untuk kalangan masyarakat, bunga hias bisa dipakai secara menyamping dan jumlahnya hanya satu buah saja.

Sedangkan bunga hias yang dipakai secara khusus oleh raja, biasa dinamakan Gal dan dibuat dari logam mulia dalam bentuk bunga yang melingkar (bandol).

Selain terbuat dari logam mulia, Gal juga bisa terbuat dari beru – beru atau biasa disebut dengan untaian bunga melati dan digunakan untuk kalangan masyarakat.

Kemudian, selain memakai bunga penghias, ada juga Dali atau Subang yakni sebuah anting – anting. Dali sendiri biasanya dikenakan pada telinga dan dirangkai bersama dengan beru – beru membentuk formasi bundar.

Adapun aksesoris yang dikenakan pada badan terdiri dari Kawari, Tombi Diana, Sare – sare dan Tollu.

Kawari sendiri berfungsi sebagai alat pelengkap sejenis tameng atau perisai dan jumlahnya sebanyak empat buah dan dipakai di samping kanan dan kiri pada bagian sekitar pinggul.

Namun, kawari hanya digunakan untuk tingkatan anak bangsawan atau raja. Kalau ingin dikenakan oleh kalangan Tau Pia dan sederajat, maka jumlah pemakaian kawari harus dikurangi menjadi dua buah dan dipakai di bagian depan dan belakang.

Sedangkan bila yang menggunakan berasal dari kalangan masyarakat umum, maka jumlah kawari yang dipakai hanya satu buah saja dan dikenakan di bagian belakang.

Adapun Tombi Diana merupakan sejenis rantai berupa rangkaian uang logam zaman dahulu yakni ringgit untuk dikenakan semua kalangan dan tingkatan.

Sedangkan Tombi Sare – Sare adalah sebuah kain berbentuk segi empat dengan kombinasi warna merah dan hijau.

Biasanya, tombi ini dihiasi dengan logam emas maupun perak dengan susunan tingkatan sejumlah 9 dan boleh digunakan untuk semua tingkatan dan kalangan.

Baca juga:   Pakaian Adat Bali

Adapun Tombi Tallu terdiri dari Buqang, maqel maupun cucur dan boleh digunakan untuk semua tingkatan dan golongan.

Gallang Balleq

Gallang Baleq merupakan sejenis aksesoris berupa gelang tangan. Biasanya, gelang ini berukuran antara 15 – 20 cm.

Poto

Serupa dengan Gallang Baleq, Poto merupakan sejenis gelang berukuran kecil yang berfungsi sebagai alat untuk mengapit gelang yang mempunyai ukuran jauh lebih besar,

Jima Salleto

Jima Salleto, sejenis gelang yang penggunaannya dikaitkan di bahu dan ukurannya lumayan lebar.

Teppang

Teppang merupakan sejenis gelang yang penggunaannya dipasangkan di kaki dengan mengikatkannya di bawah gelang jima salleto.

Jima Maborong

Jima Maborong merupakan salah satu gelang yang difungsikan untuk menggantikan Jima Salleto dan diperuntukkan hanya bagi kalangan bangsawan saja.

Kliki

Kliki, merupakan sejenis ikat pinggang khusus untuk pakaian wanita suku Mandar.

Sima – Simang

Sima – Simang merupakan sejenis gelang yang memiliki delapan bulir dan ukuran diameternya lumayan besar seperti kelereng.

2. Suku Toraja

Selain suku Mandar, pakaian suku Toraja juga lebih beragam. Sebagai informasi, di provinsi Sulawesi Barat, pakaian suku Toraja lebih banyak digunakan sebagai pakaian untuk acara resmi sejenis instansi pemerintahan dan wajib untuk digunakan oleh para Aparatur Sipil Negara (ASN).

Sayangnya tak banyak sumber yang menceritakan sejarah dari munculnya pakaian adat Toraja ini, termasuk sumber dari wikipedia.

Biasanya pakaian adat suku Toraja lebih sering digunakan untuk hari Sabtu.

Secara umum, pakaian suku Toraja bentuknya sejenis dengan busana yang panjangnya sampai ke lutut.

Beberapa ragam pakaian suku Toraja diantaranya adalah :

Pakaian Pria

Gambar ilustrasi pakaian adat sulawesi selatan pada pria toraja
Sumber : pinterest.com

Di suku Toraja, pakaian pria ini disebut dengan istilah Seppa Talung Buku. Seppa Talung Buku adalah pakaian panjang sampai ke lutut seperti tunik yang dipakai oleh wanita.

Hanya saja, baju ini dikhususkan sebagai pakaian pria. Baju ini pernah menjadi perhatian dunia dalam pergelaran di tahun 2011 tepatnya di Korea Selatan.

Aksesoris

Aksesoris yang terdapat pada pakaian pria suku Toraja ini adalah gayang, lipa dan sebagainya.

Gayang

Gayang merupakan sejenis senjata yang serupa dengan parang dan cara penggunaannya dengan cara diselipkan pada bawahannya sarung.

Lipa

Lipa merupakan aksesoris pelengkap berupa kain sarung sutra yang bentk motifnya bermacam – macam.

Pakaian Wanita

Penggunaan pakaian adat sulawesi selatan untuk toraja
Sumber : pinterest.com

Pakaian wanita suku Toraja disebut dengan Baju Pokko.

Baju Pokko ini sengaja untuk dipasangkan dengan Baju Seppa Talung, pakaian pria suku Toraja.

Berbeda dengan ini baju Seppa Talung yang panjang, baju Pokko memiliki lengan pendek yang warnanay didominasi dengan warna kuning, merah dan putih.

3. Baju Kandore

penggunaan pakaian adat sulawesi selatan pada anak toraja
Sumber : info-budaya.net

 

Baju Kandore merupakan salah satu pakaian khas Toraja. Pakaian ini tidak terlalu terkenal memang di provinsi Sulawesi Selatan.

Pakaian ini dikhususkan untuk para wanita saja. Beberapa ragam aksesories yang ada yakni terdapat kalung, gelang, ikat Pinggang dan ikat Kepala.

Ikat kepala yang digunakan pada pakaian wanita dibuat dari susunan manik – manik yang menarik dan mempesona bagi sesiapapun yang melihat.

4. Sarung Kain Tenun Khas Suku Toraja

gambar aksesoris pakaian adat sulawesi selatan
Sumber : pinterest.com

Selain baju Kandore, sarung kain khas suku Toraja juga merupakan salah satu pakaian khas yang biasanya dipakai oleh para sesepuh pada upacara adat yang disebut dengan istilah Rambu Solo.

Selain itu, kain tenun ini juga digunakan untuk upacara pemakaman keluarga. Namun, nasibnya hampir serupa dengan baju kandore yang jarang sekali ditemukan.

Bahkan, beberapa masyarakat hanya dapat memiliki sepotong sarung ini.

Padahal, adanya kemajuan teknologi harusnya menjadikan sarung kain ini semakin populer di masyarakat dikarenakan punya potensi untuk menjadi barang komoditi yang bernilai jual tinggi.

5. Suku Bugis

Selain suku Mandar dan suku Toraja, suku Bugis pun tak ketinggalan untuk melestarikan pakaian adat khas mereka. Simak ulasannya di bawah ini ya!

Pakaian Pria

penggunaan pakaian adat sulawesi selatan
Sumber : adatindonesia.org

Pakaian pria biasa dinamakan Tutu. Pakaian ini berbentuk seperti jas sehingga kadang juga disebut jas Tutu.

Model lengannya berukuran panjang dan lehernya berkerah serta terdapat haisan pada kancing yang terbuat dari emas maupun perak.

Kemudian, untuk bawahan pakaian ini memadukannya dengan celana alias paroci dan ditambah dengan lipa garusuk alias sarung.

Walaupun tidak ada hiasan dalam sarung, namun warnanya diperlihatkan agar sangat mencolok dengan warna merah dan hijau.

Selain itu, untuk mempercantik tampilan, si pemakai harus menggunakan penutup kepala seperti songkok atau peci.

Pakaian Wanita

Modifikasi pakaian adat sulawesi selatan pada baju bodo
Sumber : faizalnizbah. blogspot.com

Untuk pakaian wanita dinamakan dengan Baju Bodo. Baju ini dibuat dengan model segi empat dan mempunyai lengan yang berukuran pendek seperti setengah dari bagian siku lengan.

Uniknya, baju ini memiliki makna dalam warna yang berbeda – beda sehingga menunjukkan tingkat golongan sekaligus usia si pemakai.

Misalnya, baju yang berwarna jingga melambangkan arti bahwa si pemakai sedang berusia sekitar sepuluh tahun.

Jika warna jingga berkolaborasi dengan merah, maka dapat diartikan bahwasannya si pemakai berusia rata – rata dari usia sepuluh hingga empat belas tahun.

Untuk warna melambangkan bahwa usia si pemakai sekitar seperempat abad.

Namun, bila berwarna putih, hal ini melambangkan bahwa si pemakai berasal dari kalangan menengah ke bawah, yakni pembantu dan dukun.

Untuk kalangan bangsawan, warnana identik dengan warna hijau.

Sedangkan ungu melambangkan arti bahwa si pemakai adalah para janda di wilayah Sulawesi Selatan.

Demikianlah ulasan tentang pakaian adat Sulawesi Selatan. Jangan lupa nantikan ulasan artikel selanjutnya ya tentang kebudayaan yang lain!

Nor Rahma Sukowati Indonesian/Content Writer - Selasar/ Spread positive things using our writing/ Reading & Traveling

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *