Riska Sri Handayani - A traveller, writer, and storyteller- Seorang penggemar travelling yang mendokumentasikan catatan perjalanannya dalam potret dan cerita.

Pakaian Adat Kalimantan Barat

7 min read

Contoh jenis pakaian adat Kalimantan Barat

Kalimantan Barat memiliki berbagai pakaian adat yang mewakili komposisi masyarakatnya yang heterogen.

Setiap suku memiliki beberapa jenis pakaian adat yang tidak hanya berbeda menurut jenis kelamin penggunanya, tetapi juga disesuaikan menurut kebutuhan dan latar belakang pemakainya.

Apa saja jenis-jenis pakaian adat Kalimantan Barat?

Berikut ini adalah jenis-jenis pakaian adat yang mewakili suku-suku dari negeri seribu sungai ini.

Jenis-jenis Pakaian Adat Kalimantan Barat

1. King Baba

Contoh pakaian adat Kalimantan Barat suku Dayak King Baba
Ilustrasi pakaian adat King Baba, via: https://m.suarakarya.id

Suku Dayak adalah salah satu suku yang ada di Kalimantan Barat.

Suku ini memiliki pakaian tradisional yang menjadi ciri khasnya.

Nama pakaian sendiri dibedakan bagi kaum pria dan wanita. Pakaian untuk laki-laki disebut King Baba. Nama pakaian ini berasal dari bahasa Dayak dimana kata king berarti pakaian, dan baba berarti laki-laki.

Penjelasan tentang pakaian adat laki-laki suku Dayak ini adalah sebagai berikut.

a. Bahan Pakaian dan Pengolahan

Contoh pakaian adat Kalimantan Barat suku Dayak kain serat kayu
Kain dari serat kayu, sumber: https://steemit.com

Pakaian ini dibuat dari bahan dasar kulit kayu yang kemudian diolah hingga menjadi lunak hingga bisa digunakan seperti halnya pakaian dari material lainnya.

Jenis kulit kayu yang digunakan untuk membuat King Baba adalah kapuo.

Terdapat juga tanaman jenis lainnya yang sering digunakan yaitu ampuro.

Pemilihan kulit kayu ini berdasarkan pertimbangan Kayu Kapuo memiliki kandungan serat yang tinggi, selain itu jenis kayu ini banyak ditemukan di Kalimantan.

Proses pengolahan kulit kayu adalah dengan cara dipukul-pukul dalam rendaman air hingga hanya menyisakan bagian seratnya saja.

Serat ini kemudian dikeringkan dan siap diwarnai ataupun untuk diolah lebih lanjut sesuai kebutuhan.

b. Model Pakaian dan Perlengkapannya

Contoh pakaian adat Kalimantan Barat suku Dayak penutup kepala
Penutup kepala suku Dayak, sumber: https://twitter.com

Bentuk pakaian King Baba adalah berupa baju tanpa lengan yang menyerupai model rompi.

Sementara untuk bagian bawahnya para pria mengenakan semacam penutup kaki.

Pakaian ini juga dilengkapi dengan ikat kepala yang terbuat dari bulu burung Enggang Gading yang merupakan binatang endemik pulau Kalimantan.

King Baba pada dasarnya adalah pakaian perang untuk para pria, sehingga dilengkapi juga dengan senjata berupa mandau yang merupakan senjata khas suku Dayak.

2. King Bibinge

Contoh Pakaian adat Kalimantan Barat suku Dayak King Bibinge
Ilustrasi pakaian adat King Bibinge, sumber: https://analisisnews.com

Bila King Baba adalah pakaian kaum laki-laki suku Dayak, maka King Bibinge adalah jenis pakaian adat untuk kaum perempuannya.

Bahan pakaian adat suku Dayak di Kalimantan Barat ini, baik laki-laki maupun perempuan terbuat dari bahan yang sama yaitu berasal dari kulit kayu.

Informasi lebih detail mengenai model pakaian beserta aksesoris dan keterangannya adalah sebagai berikut.

a. Model Pakaian

Serat kayu yang sudah diolah kemudian diwarnai dan dilukis dengan motif-motif etnik suku Dayak.

Selanjutnya untuk King Bibinge bahan ini dibuat dengan model seperti rompi berupa atasan tanpa lengan atau seperti kemben yakni berupa kain penutup dada dengan aksen warna warni.

Busana bagian atas ini juga dilengkapi dengan aneka pernik dan perhiasan.

Bagian selanjutnya dari King Bibinge adalah stagen, dan terakhir untuk bawahannya adalah berupa rok.

b. Aksesoris dan Pelengkap Pakaian

Contoh pakaian adat Kalimantan Barat gelang Dayak
Aksesoris suku Dayak, sumber: https://picuki.com

Baik pada pakaian atas maupun bawahan King Bibinge dihiasi dengan manik-manik yang terbuat dari kayu atau biji-bijian kering.

King Bibinge juga dilengkapi dengan ikat kepala seperti halnya King Baba.

Pengikat kepala untuk kaum wanita ini berbentuk segitiga. Sementara untuk hiasan tangan, kaum perempuan mengenakan gelang yang biasa disebut jarat tangan.

Gelang yang terbuat dari akar tanaman ini dipercaya dapat menjadi penolak bala. Beberapa jenis-jenis gelang ini diantaranya Galang Pasan Manik, Galang Pasan, Tjuk Bulu Tantawan, dan Tajuk Bulu Area.

Sebagai pelengkap untuk hiasan leher terdapat kalung yang terbuat dari kulit atau tulang hewan dan juga akar kayu.

Pemakaian kalung ini diyakini dapat menangkal gangguan dari roh halus.

Berbagai jenis kalung khas daerah ini diantaranya Kalung Manik Lawang, Kalung Batu Dayak, dan Kalung Kayan.

3. King Kabo

Contoh pakaian adat Kalimantan Barat laki-laki Dayak
Pakaian adat pria Dayak, sumber: https://blog.misteraladin.com

Konon King Kabo berasal dari nama monster raksasa berbadan tinggi besar yang menjadi mitos masyarakat setempat.

Model pakaian adat pria Dayak ini adalah pengembangan dari pakaian tradisional King Baba.

Lalu apa keunikan dari pakaian adat yang satu ini? King Kabo adalah merupakan perpaduan dari bahan kulit kayu dan kain Sungkit.

Sungkit sendiri adalah bahasa Melayu yang berasal dari kata songket yang berarti “menjungkit” atau “mengait”.

Hal ini merujuk pada proses pembuatannya yakni menjungkit untuk menyelipkan benang emas sebagai hiasan.

Sementara untuk bagian yang terbuat dari bahan kulit kayu dihiasi dengan manik-manik dan rumbai-rumbai.

Perlengkapan King Kabo juga terdiri atas hiasan kepala dan dilengkapi dengan mandau seperti halnya pada King Baba.

4. King Tompang

Contoh pakaian adat Kalimantan Barat Pria Suku Dayak
Pria Suku Dayak, sumber: https://kalinnacheff.com

King Tompang memiliki nilai sejarah terkait interaksi antar budaya. Pakaian tradisional ini menandai awal peradaban masyarakat di Kalimantan Barat.

Pakaian adat King Tompang adalah berupa kain polos dengan warna dasar hitam, merah, dan biru. Pakaian adat ini kemudian dilengkapi beragam hiasan dengan kombinasi pita dan benang yang beraneka warna.

Oleh karena itu, meskipun didesain dengan model yang sederhana, King Tompang memiliki daya tarik tersendiri.

5. Indulu Manik

Contoh pakaian adat Kalimantan Barat suku Dayak penari
Penari Dayak, sumber: https://bobo.grid.id/

Seperti hanya pada banyak pakaian adat Kalimatan Barat lainnya, pakaian adat ini dihiasi oleh tempelan beragam manik-manik.

Aneka manik yang melengkapi hiasan pakaian ini biasanya berasal dari negeri Jiran, tepatnya dari Serawak, Malaysia.

Pakaian ini biasanya dikenakan saat pertunjukan oleh para penari.

6. Bulang Buri dan King Kabo Manik

Contoh pakaian adat Kalimantan Barat Suku Dayak Bulang Buri
Pakaian adat Bulang Buri, sumber: “Untaian Manik-Manik Nusantara”, Dirjen Kebudayaan Republik Indonesia

Bulang Buri dan King Kabo Manik adalah setelan pakaian untuk pengantin pria dari suku Dayak Taman Kapuas Hulu.

Potongan atas pakaian yang bernama Bulang Buri, diberi hiasan berupa manik dari kerang dengan motif bernama Kakawit Baraaran yang berupa motif akar atau sulur daun.

Sementara untuk bagian bawah pakaian berupa cawat yang disebut King Kabo Manik. Bagian ini dihias dengan manik Boko’ dengan motif tumbuh-tumbuhan yang dibentuk menjadi Mantuari yakni motif berupa gambaran manusia dalam bentuk kangkang.

Baca juga:   Pakaian Adat Aceh

Selanjutnya diberi jumbai dengan hiasan manik Boko atau manik kaca kecil dan Parapatu yang berupa pernik dari logam.

Penutup kepala yang disebut Kumbuk Manik juga terbuat dari manik Boko’ dengan berbagai motif seperti Kakawit Kanabe, Kakawit Tatali, dan Kakawit Isi-isi.

Pada bagian belakang Kumbuk Manik juga terdapat jumbai.

7. Bulang Manik dan King Manik

Contoh Pakaian adat Kalimantan Barat suku Dayak Bulang Manik dan King Manik
Pakaian adat Bulang Manik dan King Manik, sumber: http://repositori.kemdikbud.go.id

Ini adalah merupakan setelan pakaian untuk pengantin wanita suku Dayak Taman Kapuas Hulu.

Untuk bagian atas yakni Bulang Manik, diberi hiasan manik Boko’ dengan motif bernama Karawit Batang Lalo dan Karawit Isi-isi.

Pada ujung bawah baju terdapat rumbai manik Boko dan Parapatu.

King Manik adalah setelan bawah yang berupa rok yang juga dihiasi dengan manik Boko dengan motif serupa dengan bajunya.

Hiasan kepala adalah berupa ikat kepala yang disebut Tengkulas juga dihias dengan manik Boko’.

Pelengkap pada pakaian pengantin selanjutnya adalah berupa selendang yang juga terbuat dari manik Boko’.

Selendang ini berhiaskan motif Mantuari, Karawit Batang Lalo, dan Karawit Isi-isi.

Sementara sebagai aksesoris pengantin wanita mengenakan anting-anting yang juga terbuat dari manik Boko’.

Aksesoris lainnya adalah berupa gelang kaki dari manik Boko’ dilengkapi dengan genta logam.

8. Bulang dan King Buri

Contoh pakaian adat Kalimantan Barat Bulang dan King Buri Suku Dayak
Pakaian adat Bulang dan King Buri, sumber: “Untaian Manik-Manik Nusantara”, Dirjen Kebudayaan Republik Indonesia

Bulang dan King Buri adalah pakaian wanita suku Dayak.

Bagian atas pakaian ini dikenal dengan nama Bulang Manik yang dihias oleh manik dari kerang.

Konon kulit kerang yang berasal dari laut inilah yang disebut buri.

Bukan sembarang kerang, jenis kerang yang digunakan adalah kerang yang berukuran kecil dan berkulit keras.

Kerang ini kemudian dibentuk dengan motif karawit so’lajo yang merupakan motif binatang dan tumbuh-tumbuhan.

Sementara untuk bagian bawah adalah berupa rok yang diberi nama King Buri yang artinya adalah rok manik kerang.

Sama halnya seperti bagian atas pakaian, bagian bawah ini juga dihiasi kerang dengan motif Karawit So’lajo.

Terdapat hiasan berupa rumbai genta dari logam pada bagian pinggir bawah rok.

Kostum ini dikenakan oleh kaum wanita dalam berbagai upacara adat dan kesenian.

9. Bulang dan King Manik

Contoh pakaian adat Kalimantan Barat Bulang dan King Manik Suku Dayak
Pakaian adat Bulang dan King Manik, sumber: http://repositori.kemdikbud.go.id

Jenis dan desain pakaian adat ini hampir serupa dengan Bulang dan King Buri.

Hanya saja bila Bulang dan King Buri terbuat dari hiasan kerang maka Bulang dan King Manik hiasannya berupa manik-manik Boko’.

Manik ini adalah merupakan jenis manik dari kaca halus.

Motif maniknya sendiri dapat berupa Mantuari dan motif Karawit Baraba atau kait.

Sementara untuk bagian bawah adalah kain serupa rok yang bagian tepinya dihiasi dengan manik Boko’ dan genta logam.

Pakaian adat dari Dayak Kapuas Taman Hulu ini biasanya dikenakan pada tubuh jenazah sebelum dikuburkan.

10. Buang Kuureng

Contoh pakaian adat Kalimantan Barat baju kurung Melayu
Baju kurung Melayu, http://www.galaherang.com/

Pakaian ini berasal dari etnis Melayu di Kalimantan Barat.

Pakaian adat Melayu modelnya cenderung lebih tertutup.

Buang Kuureng dalam bahasa Indonesia dapat diartikan sebagai baju kurung.

Pakaian yang dikenal luas sebagai khas Melayu ini memiliki rancangan yang longgar pada bagian dada dan perut.

Baju Kurung merupakan model pakaian tanpa kerah dan kancing.

Baca juga:   Pakaian Adat Jambi

Baju Kurung sendiri sebenarnya tidak hanya ada di Kalimantan Barat.

Perempuan Sumatera Barat, hingga negara tetangga seperti Malaysia dan Brunei Darussalam juga mengenakan baju Kurung sebagai pakaian tradisionalnya.

Meski begitu, Buang Kuureng dari Kalimantan Barat tetap memiliki ciri khasnya sendiri termasuk dalam hal desain, corak, maupun bahan yang digunakan.

Sebagai ciri khasnya, baju kurung adat Melayu dari Kalimantan Barat terbuat dari bahan dasar beludru.

Sedangkan sebagai bawahannya para wanita Melayu Kalimantan Barat biasanya mengenakan kain songket khas Melayu.

Baju kurung ini biasanya dikenakan pada berbagai acara resmi atau formal dan semi formal.

Buang Kuureng terbagi menjadi dua jenis sebagai berikut ini:

a. Kuureng Sapek Tangan

Kuureng Sapek Tangan adalah berupa baju kurung dengan lengan pendek

b. Kuureng Langke Tangan

Baju kurung jenis ini adalah berupa pakaian dengan lengan panjang.

11. Teluk Belanga

Pakaian adat Kalimantan Barat Melayu Pria Teluk Belanga
Baju Teluk Belanga, sumber: https://www.jakel.my

Bila Buang Kuureng diperuntukkan bagi kaum perempuan Melayu, maka Teluk Belanga adalah pakaian Melayu untuk kaum prianya.

Jenis pakaian ini banyak dikenakan oleh suku Melayu yang ada di Sambas atau lebih dikenal dengan nama Melayu Sambas..

Pakaian Teluk Belanga biasa dikenakan pada berbagai acara seperti pernikahan.

Pakaian ini berbahan dasar satin dan warna yang paling umum dikenakan adalah kuning emas.

Ciri khas pakaian ini ada pada penggunaan songket ataupun kain sarung corak insang yang dikenakan dengan cara dililitkan pada pinggang.

Dibanding pakan adat dari suku lainnya, pakaian adat Teluk Belanga ini lebih tertutup.

12. Cekak Musang

Pakaian adat Kalimantan Barat Melayu pria Cekak Musang
Pakaian Cekak Musang, sumber: https://www.pinterest.com

Pakaian adat Cekak Musang adalah jenis pakaian untuk kaum pria Melayu.

Model pakaiannya hampir serupa dengan Teluk Belanga, tetapi ada beberapa bagian yang membedakan.

Ciri-ciri pakaian Cekak Musang yakni terdapat kerah pendek berukuran sekitar 2,5 cm yang melingkari bagian leher.

Terdapat belahan pada bagian depan yang diberi kancing, dan keunikannya adalah jumlahnya ganjil seperti tiga, lima, tujuh dan seterusnya.

Selanjutnya terdapat sebuah kantong pada dada kiri dan dua lainnya dibagian bawah pada kiri dan kanan baju.

Model pakaian ini sebenarnya dipengaruhi oleh gamis yang berasal dari Timur Tengah, dalam hal ini Cekak Musang adalah versi pendeknya dengan ukuran panjang hanya sampai menutupi batas bokong.

Untuk aksen Melayunya disesuaikan dengan model yang ada pada jenis Teluk Belanga.

Sementara untuk bagian bawahnya berupa setelan celana panjang, kemudian dilengkapi dengan kopiah atau songkok.

Pakaian Cekak Musang dianggap lebih resmi daripada Teluk Belanga, karenanya pakaian adat jenis ini kerap dikenakan untuk acara-acara formal.

Tidak dapat dipungkiri bahwa seiring waktu pakaian adat Kalimantan Barat mengalami berbagai perubahan yang disesuaikan dengan kemajuan jaman.

Modernisasi juga terjadi pada pakaian adat, tetapi tentunya dengan tidak meninggalkan bentuk dan motif aslinya.

Berbagai bahan dasar pada pakaian adat diganti dengan bahan lainnya agar dapat memberikan kenyamanan bagi yang mengenakannya.

Namun demikian, terdapat pakem yang ada pada tiap-tiap pakaian adat sehingga tentunya perubahan ini tidak mengurangi makna dan nilai-nilai warisan para leluhur yang terkandung di dalamnya.

Riska Sri Handayani - A traveller, writer, and storyteller- Seorang penggemar travelling yang mendokumentasikan catatan perjalanannya dalam potret dan cerita.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *