Kerajaan Samudra Pasai

Kerajaan Samudra Pasai adalah saksi pengembangan agama islam di Indonesia dan disebut-sebut sebagai penerus ‘warisan kekuatan maritim utama’ di Selat Malaka setelah runtuhnya Kerajaan Sriwijaya.

Kerajaan ini disebut juga dengan Kesultanan Samudera Darussalam yang eksis dari tahun 1267 sampai 1524.

Kerajaan Samudra Pasai bermula dari kekuasaan Meurah Silu (Sultan Al Malik as-Shaleh) dan runtuh akibat penyerangan oleh bangsa Portugis di masa pemerintahan Sultan Zainal Abidin Malikul Zahir.

Sejarah Berdirinya Kerajaan Samudra Pasai

Sejarah Kerajaan Samudra Pasai di Aceh
https://acehnesia.com/

Kerajaan Samudra Pasai didirikan oleh Meurah Silu, yang kemudian mendapat gelar kehormatan Sultan Malik Al Saleh (Malikussaleh) saat dinobatkan menjadi raja pertama.

Sultan Malikussaleh menjalani pernikahan politik dengan putri dari Kerajaan Perlak bernama Ganggang Sari.

Sultan Malikussaleh mengatur kehidupan di Kerajaan Samudra Pasai pada dasar syariat islam yang kuat.

Kerajaan Samudra Pasai di bawah kuasa Sultan Muhammad Malik Al Zahir, putra dari Sultan Malikussaleh dan Putri Ganggang berhasil menyatukan Kerajaan Perlak menjadi bagian kekuasaannya tahun 1292 M.

Kerajaan Samudra Pasai terus berkembang menjadi kerajaan besar dan memonopoli perdagangan di kawasan selat Malaka.

Lokasi, Letak Geografis dan Peta Wilayah

Peta wilayah kekuasaan Kerajaan Samudra Pasai di Aceh Sumatera
Sumber: Kurnia, A., 2007

Kerajaan Samudra Pasai secara geografis terletak di pesisir utara pulau Sumatera, berada di wilayah administratif Aceh Utara, atau tepatnya sekitar 20 km dari pusat kota Lhokseumawe.

Lokasi pusat pemerintahan Kerajaan Samudera Pasai diperkirakan berada di hulu Krueng (sungai) Peusangan, diantara Krueng Jambo Aye dan Krueng Pase.

Krueng Peusangan adalah salah satu sungai air tawar besar yang menjadi nadi perdagangan di kawasan Aceh karena langsung bermuara ke laut.

Sebagai Kerajaan Islam di Sumatera, Kerajaan Samudra Pasai berdiri di tanah yang subur sehingga dapat digunakan untuk mengusahakan produk pertanian seperti padi dan lada.

Tidak seperti kerajaan zaman itu yang membuat benteng tanah dan batu sebagai pelindung, Kerajaan Samudra Pasai justru membuat pagar dari kayu mengelilingi ibukota kerajaanya yang terletak beberapa kilometer menjorok ke dalam dari pelabuhan.

Silsilah Raja

Kerajaan Samudra Pasai memiliki eksistensi dari tahun 1267-1524.

Ada 20 sultan yang pernah menduduki singgasana sebagai raja di Kerajaan Samudra Pasai.

Raja-raja tersebut adalah:

    1. Sultan Malik as-Saleh (Meurah Silu) memerintah tahun 1267–1297
    2. Sultan Al-Malik az Zahir I (Muhammad I) bertakhta tahun 1297–1326
    3. Sultan Ahmad I mengambil pemerintahaan kerajaan tahun 1326–133?
    4. Sultan Al-Malik az Zahir II berkuasa tahun 133? –1349
    5. Sultan Zainal Abidin I memimpin tahun 1349–1406
    6. Ratu Nahrasyiyah berkedudukan sebagai ratu tahun 1406–1428
    7. Sultan Zainal Abidin II berdaulat sebagai raja tahun 1428–1438
    8. Sultan Shalahuddin memerintah kerajaan tahun 1438–1462
    9. Sultan Ahmad II bertakhta tahun 1462–1464
    10. Sultan Abu Zaid Ahmad III memimpin Pasai tahun 1464–1466
    11. Sultan Ahmad IV berkuasa menjadi raja tahun 1466–1466
    12. Sultan Mahmud menjadi raja tahun 1466–1468
    13. Sultan Zainal Abidin III menguasai Kerajaan Pasai tahun 1468–1474
    14. Sultan Muhammad Syah II memerintah tahun 1474–1495
    15. Sultan Al-Kamil berkedudukan sebagai sultan tahun 1495–1495
    16. Sultan Adlullah memimpin kerajaan tahun 1495–1506
    17. Sultan Muhammad Syah III memegang kekuasaan tahun 1506–1507
    18. Sultan Abdullah menjabat raja tahun 1507–1509
    19. Sultan Ahmad V berperan sultan tahun 1509–1514
    20. Sultan Zainal Abidin IV memegang tampuk pemerintahan tahun 1514–1524

Mengacu pada Hikayat Raja-Raja Pasai, bisa ditarik kesimpulan bahwa Kerajaan Samudra Pasai didirikan oleh Sultan Malikussaleh yang kemudian memperkuat eksistensi kerajaan dengan menikahi Putri Ganggang Sari dari Kerajaan Perlak.

Selain sebagai pendiri kerajaan, Raja Malikussaleh juga sekaligus raja terkenal di Kerajaan Samudra Pasai dengan kekuatannya mengembangkan kerajaan baru tersebut.

Setelah Sultan Malikussaleh wafat, kepemimpinan dijalankan oleh putranya Sultan Al Malik Az Zahir.

Pada masa kekuasaannya, Samudra Pasai mengalami perkembangan yang ditandai mulai digunakannya mata uang kerajaan sebagai alat tukar yang sah.

Sultan Ahmad I naik takhta tahun 1326 menggantikan Sultan Al Malik Az Zahir.

Sultan Ahmad I berhasil melakukan ekspansi dengan menundukkan Kerajaan Karang Baru di Tamiang.

Setelah periode kepemimpinan Sultan Ahmad I habis, estafet kepemimpinan jatuh ke tangan Sultan Al Malik Az Zahir II.

Catatan Ibnu Batutah memberikan gambaran kunjungannya di Kerajaan Samudra Pasai pada masa pemerintahan Sultan Al Malik Az Zahir II.

Pada masa ini, Kerajaan Majapahit melakukan penyerangan ke Samudra Pasai dan menyebabkan raja merangsek ke ibukota kerajaan dan sebagian penduduk dijadikan tawanan perang lalu dibawa ke tanah Jawa.

Kerajaan Samudra Pasai mulai bangkit di bawah Kekuasaan Sultan Zainal Abidin I yang mulai berdaulat tahun 1549.

Sultan Zainal Abidin I memajukan perniagaan rempah-rempah lada hingga menjadi basis ekspor di kawasan itu.

Kronik Cina menyebut nama Sultan Zainal Abidin I sebagai Tsai-nu-li-a-pi-ting-ki dan diceritakan gugur dalam peperangan melawan Raja Nakur dari Kerajaan Padir tahun 1406.

Sultanah Nahrasyiyah, istri Sultan Zainal Abidin I melanjutkan kekuasaan dan menjadi raja perempuan pertama di Kerajaan Samudra Pasai.

Sultanah Nahrasyiyah digantikan berturut-turut oleh Sultan Zainal Abidin II, Sultan Shalahuddin, Sultan Ahmad II, Sultan Abu Zaid Ahmad III, Sultan Ahmad IV, Sultan Mahmud, Sultan Zainal Abidin III, Sultan Muhammad Syah II, Sultan Al-Kamil, Sultan Adlullah, Sultan Muhammad Syah III, Sultan Abdullah dan Sultan Ahmad V.

Pada pemerintahan Sultan Ahmad V, kawasan Malaka sudah berhasil dikuasai oleh Portugis.

Keadaan ini semakin mendesak kedudukan Kerajaan Samudra Pasai yang sudah goyah akibat konflik perebutan kekuasaan di internal kerajaan.

Puncaknya, pada masa pemerintahan Sultan Zainal Abidin IV, Portugis melancarkan serangan ke Kerajaan Samudra Pasai.

Tahun 1521 kerajaan ini runtuh, dan kemudian diambil alih Kerajaan Aceh di bawah kekuasaan Sultan Ali Mughayat Syah untuk menjadi daerah kekuasaannya.

Kehidupan di Kerajaan Samudra Pasai

A. Kehidupan Ekonomi

Ilustrasi Kehidupan ekonomi Kerajaan Samudra Pasai Aceh
Ilustrasi perdagangan di Kerajaan Samudra Pasai. Sumber: https://ganaislamika.com/

Sumber utama perekonomian di Kerajaan Samudra Pasai berasal dari kegiatan perdagangan, pertanian dan peternakan.

Kongsi dagang Kerajaan Samudra Pasai tidak hanya diakui oleh kerajaan-kerajaan di Nusantara, tetapi juga dikenal secara internasioanal berkat afiliasi dengan negara-negara yang singgah di Pasai.

Sistem pembayaran di Kerajaan Samudra Pasai sudah menggunakan mata uang yang dikeluarkan oleh kerajaan berupa koin emas.

Produk dagang utama yang dihasilkan Kerajaan Samudra Pasai meliputi rempah-rempah lada, kain sutra, emas serta kapur barus.

Pada abad 13 sampai awal abad 16, Kerajaan Samudra Pasai mampu menjadi pengekspor lada dengan jumlah produksi mencapai 8 ribu hingga 10 ribu bahara (muatan).

Kerajaan Samudra Pasai juga menjadi pemasok barang-barang dari Cina untuk dijual kepada daerah lain yang tidak memiliki akses dengan Cina.

Uniknya, Kerajaan Samudra Pasai sudah menetapkan sistem ‘promosi dagang’ dengan saudagar dagang dari Jawa berupa kebebasan pajak terhadap barang yang diperjual belikan.

Para saudagar ini biasanya menjual beras ke Samudra Pasai, dan membeli lada untuk dibawa kembali ke Jawa.

Di bidang pertanian, masyarakat di Kerajaan Samudra Pasai memproduksi lada sebagai komoditas utama dan padi yang umum dilakukan penanaman setahun dua kali.

Lebih modern, penduduk Kerajaan Samudra Pasai sudah mengenal proses pengolahan keju yang diperdagangkan ke Eropa.

Oleh karenanya, masyarakat di Kerajaan Samudra Pasai banyak mengusahakan peternakan sapi perah untuk menghasilkan susu.

B. Kehidupan Sosial Budaya

Kehidupan sosial budaya Kerajaan Samudra Pasai islam
Ilustrasi kehidupan sosial dan budaya Kerajaan Samudra Pasai. Sumber: www.boombastis.com

Kehidupan sosial dan budaya masayarakat di Kerajaan Samudra Pasai ditegakkan dengan syariat agama islam.

Hal ini karena Samudra Pasai menjadi basis penyebaran islam pada awal perkembangannya di Indonesia.

Selama berdirnya kerajaan, para pedagang Arab, Gujarat, Persia dan Tamil (India) yang singgah di wilayah ini banyak melakukan perkawinan campuran dengan penduduk lokal.

Pengaruh bangsa Arab menghasilkan penggunaan huruf Arab yang disandingkan dengan bahasa Melayu dalam kehidupan sehari-hari.

Kebiasaan ini kemudian melahirkan hasil kebudayaan berupa huruf arab jawi.

Interaksi sosial dengan bangsa Tamil diketahui dari catatan pada makam di Kuta Makmur, Aceh Utara yang memaparkan bahwa Nana, biro dagang di Pasai telah mengirimkan hadiah untuk kuil Hindu di Tamil, India Selatan.

Penyebutan Nana sebagai agen dagang di wilayah Aceh dikuatkan dengan inskripsi Prasasti Neusu (berbahasa Tamil) yang berisikan aturan dalam jual beli emas bagi Nana (perkumpulan pedagang) untuk menegakkan syariat islam termasuk larangan menerapkan riba.

Hubungan masyarakat di Kerajaan Samudra Pasai juga didukung dengan adanya infrastruktur masjid dan pasar yang banyak digunakan oleh penduduk sebagai pusat perkumpulan.

C. Kehidupan Politik

Kehidupan politik di Samudra Pasai digerakkan dengan model kesultanan islam.

Struktur pemerintahan tertinggi dipegang oleh sultan, yang dibantu oleh para menteri, kadi (hakim kerajaan), dan syahbandar.

Putra dan putri keturunan sultan Kerajaan Samudra Pasai bergelar tun.

Kerajaan Samudra Pasai menjalin hubungan politik dengan kerajaan lain, termasuk dari negara Arab, Vina, Iran dan beberapa negara di Timur Tengah.

Hubungan diplomatik ini kemudian menghasilkan kerja sama di beberapa bidang seperti tafsir, teologi, militer dll.

D. Kehidupan Agama

Kehidupan Agama Islam di Kerajaan
Ilustrasi penyebaran agama oleh Kerajaan Samudra Pasai. Sumber: www.smktarunabangsa.sch.id

Kerajaan Samudra Pasai mempunyai peranan vital dalam penyebaran agama islam di Indonesia dan Asia Tenggara.

Hal ini didukung jaringan dagang antar negara Kerajaan Samudra Pasai, dimana beberapa pedagang juga membawa misi islamisasi.

Penyebaran agama islam melalui Kerajaan Samudra Pasai juga meninggalkan jejak di Trengganu, Malaysia, dilihat dari temuan batu bertuliskan surat menggunakan bahasa melayu yang ditulis dengan huruf arab.

Pengaruh islamisasi yang dilakukan oleh Kerajaan Samudra Pasai bahkan sampai di Jawa, Lombok, Kalimantan Selatan dan Sulawesi Selatan.

Hal ini dibuktikan dengan temuan artefak makam dan nisan di daerah tersebut memiliki kemiripan bentuk dengan makam-makam raja Kerajaan Samudra Pasai.

Masa Kejayaan

Masa kejayaan Kerajaan Samudra Pasai dimulai dari masa pemerintahan Sultan Zainal Abidin Malik Az-zahir dan terus dipertahankan pada masa kekuasaan Sultanah Nasrasyiyah.

Pada masa ini Kerajaan Samudra Pasai bahkan dikatakan memegang peranan sebagai penguasa maritim di Selat Malaka menggantikan Kerajaan Sriwijaya.

Kerajaan Samudra Pasai didukung dengan armada Angkatan laut yang kuat untuk menjamin keamanan pedagang yang transit di Pasai.

Penyebab Runtuhnya Kerajaan

a. Serangan Portugis

Ilustrasi Penyebab runtuhnya Kerajaan Samudra Pasai akibat serangan Portugis
Ilustrasi serangan Portugis ke Kerajaan Samudra Pasai. Sumber: https://kekunoan.com/

Kejayaan Samudra Pasai dianggap menghalangi Portugis untuk menguasai perdagangan rempah-rempah di blok timur.

Hal ini menyebabkan Portugis mengatur serangan untuk menghancurkan kekuatan maritim di Kerajaan Samudra Pasai tahun 1521.

Saat ini kepemimpinan Kerajaan Samudra berada di tangan Sultan Zainal Abidin VI.

Meskipun Kerajaan Samudra Pasai memiliki armada Angkatan perang dalam jumlah besar, namun kecanggihan militer yang dimiliki Portugis dapat melemahkan kekuatan tersebut.

b. Penyatuan dengan Kerajaan Aceh

Kondisi Kerajaan Samudra Pasai yang berada pada posisi lemah kemudian dimanfaatkan oleh Sultan Ali Mughayat Syah untuk menundukkan kekuasaannya.

Serangan dari Kerajaan Aceh ahun 1524 membuat Kerajaan Samudra Pasai akhirnya runtuh dan dijadikan satu dengan Kerajaan Aceh.

Penyatuan ini juga merupakan intrik politik untuk memperkuat kekuatan Kerajaan Aceh untuk menguasai perdagangan di Malaka dengan memerangi Johor dan Portugis.

Bukti penyatuan kerajaan ini terlihat dari diboyongnya Lonceng Cakra Donya ke wilayah kekuasaan Kerajaan Aceh di Banda Aceh.

Sumber Sejarah

A. Hikayat Raja-raja Pasai

Buku Hikayat Raja raja Pasai sumber sejarah Kerajaan Samudra Pasai Aceh
https://id.wikipedia.org/

Hikayat Raja-raja Pasai merupakan salah satu sumber sejarah Kerajaan Samudra Pasai.

Naskah aslinya tidak diketahui pengarangnya karena budaya pada masa itu penulisan teks tidak menyertakan nama penulis.

Hikayat Raja-raja Pasai ditulis menggunakan huruf Arab Jawi dalam bahasa Melayu.

Selain menceritakan tentang raja yng berkuasa di Kerajaan Samudra Pasai, hikayat ini juga memberikan bukti bahwa Kerajaan Samudra Pasai juga menjalin hubungan dengan kerajaan Mataram, Majapahit, dan kerajaan-kerjaan lain di Jawa..

B. Silalatus Salatin

Kitab Sulalatus Salatin sumber sejarah Kerajaan Samudra Pasai di Aceh
https://id.wikipedia.org/

Sulalatus Salatin atau Sulalatu’l-Salatin yang menjadi sumber sejarah Kerajaan Samudra Pasai adalah pemaparan tentang kedatangan islam di wilayah Pasai yang menjadi permulaan dakwah.

Sulalatus Salatin juga menceritakan tentang pernikahan putri Kerajaan Samudra Pasai dengan Raja Kerajaan Malaka yang menjadi titik mula perkembangan islam di Malaka.

C. Kronik China

Kronik Cina menceritakan gugurnya Sultan Zainal Abidin Malik Az-Zahir, atau dalam nama cinanya disebut Tsai-nu-li-a-pi-ting-ki akibat serangan dari Raja Nakur.

Kepemimpinan kemudian dilanjutkan oleh istrinya, Sultanah Nahrasyiyah yang menjadi raja perempuan pertana dalam susunan silsilah raja Kerajaan Samudra Pasai.

D. Laporan Perjalanan Cheng Ho

Laporan Cheng Ho dari Tiongkok Cina tentang Kerajaan Samudra Pasai di Aceh
http://enjab.blogspot.com/

Laksamana Cheng ho bertandang ke Samudra Pasai pada masa pemerintahan Sultanah Nahrasyiyah.

Laporan dari Laksamana Cheng Ho yang dibuat oleh Ma Huan dan Fei Xin menyebutkan bahwa Kerajaan Samudra Pasai berbatasan dengan pegunungan tinggi di bagian selatan.

Bagian timur kerajaan berbatasan dengan wilayah kekuasaan Kerajaan Aru dan pegunungan.

Di bagian utara, Kerajaan Samudra Pasai dibatasi laut serta Kerajaan Nakur dan Kerajaan Lide.

Sementara itu, bagian barat wilayah Kerajaan Samudra Pasai berbatasan langsung dengan Kerajaan Lamuri.

Selain membahas batas wilayah, laporan Laksamana Cheng Ho juga memaparkan soal kesamaan adat antara Kerajaan Samudra Pasai dengan Malaka dalam hal perkawinan, kelahiran dan kematian.

E. Kitab Rihlah ila I-Masyriq

Rihlah Ibnu Batutah di Kerajaan Samudra Pasai
pustakaunduh.blogspot.com/

Kitab Rihlah ila I-Masyriq atau dalam bahasa Indonesia diartikan “pengembaraan ke timur” adalah karangan Abu Abdullah ibn Batuthah (Ibnu Batutah).

Di dalam kitab ini Ibnu Batutah menceritakan singgahnya di Kerajaan Samudra Pasai pada tahun 1345.

Ibnu Batutah menuliskan bahwa raja Kerajaan Samudra Pasai adalah muslim shaleh bernama Sultan Al-Malikul Zahir Jamaludin.

Sultan diriwayatkan adalah pejuang islam dengan memerangi orang-orang yang menyembah berhala.

Islam yang berkembang di Kerajaan Samudra Pasai adalah mahzab Imam Syafi‘i yang amalannya mirip dengan muslim di kawasan Mappila, India.

Ibnu Batutah menegaskan bahwa pada masa itu, belum ada kerajaan bercorak islam di timur kekuasaan Kerajaan Samudra Pasai.

F. Naskah Surat Sultan Zainal Abidin

Manuskrip Surat Sultan Zainal Abidin dari Kerajaan Samudra Pasai ke Portugis
https://id.wikipedia.org/

Manuskrip yang ada menunjukkan surat Sultan Zainal Abidin ditujukan kepada Kapten Moran sebagai Wakil Raja Posrtugis yang sedang berada di India pada tahun 1518.

Sultan Zainal Abidin menuliskan tentang Samudra Pasai setelah kemenangan Portugis atas Malaka tahun 1511.

Di dalam surat yang ditulis menggunakan huruf arab ini, Sultan Zainal Abidin juga menyebut beberapa kerajaan yang berhubungan dengan Samudra Pasai seperti Mulaqat yang merujuk ke Malaka, dan Fariyaman atau Pariyaman.

Bukti Peninggalan

1. Makam Raja

Nisan makam Sultan Malik AL Saleh pendiri Kerajaan Samudra Pasai
www.mapesaaceh.com/
Papan nama makam Sultan Malik AL Saleh Kerajaan Samudra Pasai Aceh
http://gifarigraphy.blogspot.com/

Komplek makam raja Kerajaan Samudra Pasai ini berada di Beuringin, Samudra, Aceh Utara, Aceh.

Terdapat beberapa raja yang dimakamkan disini, antara lain Sultan Malikussaleh (Sultan Malik Al Saleh) pendiri Kerajaan Samudra Pasai.

Nisan dan kijing di makam Sultan Malikussaleh diukir dengan huruf arab.

Di dalam komplek makam dikebumikan juga sultan Kerajaan Samudra Pasai yang lain, Sultan Muhammad Malik Al Zahir, yang merupakan putra dari Sultan Malikussaleh.

Makam Ratu Sultanah Nahrasiyah raja perempuan pertama Kerajaan Samudra Pasai ke-6
http://gifarigraphy.blogspot.com/

Selain itu, Ratu Nahrasyiyah, raja Kerajaan Samudra Pasai ke-6 juga dimakamkan di komplek pemakaman ini.

2. Stempel Kerajaan Samudra Pasai

Stempel yang digunakan di Kerajaan Samudra Pasai Aceh
acehkita.com

Stempel Kerajaan Samudra Pasai diperkirakan mulai dibuat sejak pemerintahan raja kedua, Sultan Muhammad Malikul Zahir.

Stempel ini didapati di Kuta Krueng, Samudra, Aceh Utara, Aceh dalam keadaan patah.

Ukuran dari stempel ini sangat mini yaitu sekitar 2 cm untuk panjangnya sedangkan lebarnya hanya 1 cm.

3. Mata Uang

Jenis-jenis Mata Uang Emas Dirham Kerajaan Samudra Pasai
Cisah, 2004

Mata uang yang ditemukan dari Kerajaan Samudra Pasai terdiri dari tiga jenis yaitu dirham, dinar dan mata uang timah.

Mata uang dirham Kerajaan Samudra Pasai berbentuk koin dengan bahan pembuatan emas 18 karat (kandungan emas sekita 70-75%) berdiameter satu cm dan berat 0,57 gram.

Uang dinar peninggalan Kerajaan Pasai terbuat dari emas dengan kadar kemurniannya 7/10.

Diameter uang dinar ini lebih besar daripada dirham, yaitu 1,6 cm dengan berat sekitar sembilan gram.

Sementara uang timah yang ditemukan memiliki ukuran yang hampir sama dengan dirham hanya bahan pembuatannya saja yang berbeda.

Di masing-masing sisi mata uangnya terukir tulisan Muhammad Malik AL-Zahir dan Al-sultan Al-Adil menggunakan huruf arab.

Mata uang ini terpengaruh dari para pedagang Arab dan garis keturunan sultan Kerajaan Samudra Pasai.

4. Lonceng Cakra Donya

Lonceng Cakra Donya Peninggalan Kerajaan Samudra Pasai hadiah dari raja Tiongkok
https://pesonaalamaceh2000.wordpress.com/

Cakra Donya adalah lonceng raksasa sebagai salah satu bukti peninggalan Kerajaan Samudra Pasai.

Cakra Donya merupakan simbolis hubungan persahabatan antara Tiongkok dan Kerajaan Samudra Pasai.

Laksamana Cheng Ho atas perintah Kaisar Yongle membawa lonceng Cakra Donya ke Aceh tahun 1414.

Lonceng Cakra Donya berbentuk stupa dengan ukuran tinggi 125 cm dan lebarnya 75 cm.

Lonceng ini memiliki ukiran menggunakan huruf arab dan china.

Huruf arab yang tertera sudah tidak jelas dan tidak bisa dideskripsikan, sementara tulisan dari huruf china berbunyi Sing Fang Niat Tong Juut Kat Yat Tjo.

Nah, sudah jelas belum uraian di atas?

Uraian tentang Kerajaan Samudra Pasai ini semoga dapat meningkatkan pemahaman tentang sejarah di masa lalu, dan mengambil hikmahnya sebagai pelajaran.

Semangat, ya, pejuang pengisi kemerdekaan!

Laila Nur Fatimah

Agriculture entusiast || Writer of Digital Journal || (newbie) Illustrator ❣

Update : [modified_date] - Published : [publish_date]

Tinggalkan komentar