[Lengkap] Tari Tanggai: Asal, Sejarah, Kostum, Gerakan, lagu + Video

Tari Tanggai adalah salah satu tarian tradisional dari Kota Palembang, Sumatra Selatan, yang dipertunjukkan untuk menyambut tamu.

Sambutan ini mencerminkan rasa hormat dan keramahan masyarakat Palembang kepada mereka yang sudah datang memenuhi undangan,

Tarian yang biasa ditampilkan dalam pernikahan adat ini mengombinasikan seni musik tradisional dan gerakan lemah lembut berbusana khas Palembang.

Ada banyak kesamaan antara tarian ini dengan Tari Gending Sriwijaya, karena sama-sama merupakan Tari Penyambutan dari Palembang.

Penasaran dengan fungsi-fungsi lain Tarian Tanggai?

Simak uraian selengkapnya di bawah ini, yuk!

Asal Usul dan Sejarah Tari Tanggai

Asal Usul dan Sejarah Tari Tanggai sebagai tari persembahan
Sumber: http://acosaner.pw

Sebenarnya tak ada yang mengetahui ini secara persis, mengenai kapan dan bagaimana sejarah Tari Tanggai bermula.

Namun jika didasarkan pada sumbernya, asal  muasal Tari Tanggai bermula dari adanya ritual persembahan dari masyarakat Buddha di Sumatra Selatan terhadap Dewa Siwa.

Lagipula, Palembang memang menjadi pusatnya kerajaan Buddha terbesar pada masa itu, yakni Kerajaan Sriwijaya di bawah kekuasaan Wangsa Syailendra.

Dengan para pemimpinnya adalah raja-raja yang mayoritas menganut Agama Budha Mahayana.

Apalagi dengan pengaruh budaya Tionghoa yang terasa begitu kental dalam tariannya menyebabkan terjadinya akulturasi budaya antara masyarakat asli dengan pembawa agama Buddha dari China, sehingga Tari Tanggai pun menyerupai tarian yang ada di sana.

Salah satu jenis tarian tradisional yang tergolong tua ini mulanya lebih disakralkan dan disucikan, karena memang berfungsi untuk mengantarkan sesembahan ke dewa-dewi para penganut Buddha.

Sebab bentuknya berupa Tari Persembahan, maka tidak boleh sembarangan ditarikan.

Kelengkapan persembahan ini termasuk sesajen yang isiannya meliputi beraneka macam bunga dan buah.

Itulah sebabnya Tarian Tanggai kemudian diajarkan secara turun-temurun, untuk melakukan pemujaan, dan persembahan tersebut.

Sayangnya, sebuah aturan yang tidak membolehkan perempuan untuk menari turun pada masa penjajahan Belanda.

Ketertarikan mereka untuk menarikannya muncul, karena hanya laki-laki saja yang dibolehkan membawakannya.

Tarian ini mulai dibawakan bersama properti berupa sekapur sirih dan tanggai kira-kira tahun 1920.

Namanya bahkan memiliki sedikit perbedaan, yaitu Tari Tanggai atau Tari Tepak.

Tari Tanggai kembali diangkat sebagai tarian penyambutan oleh kerja sama antara Elly Rudi dan Anna Kumari, karena Palembang tak punya tarian penyambutan tamu kehormatan negara sejak masa itu.

Sementara itu, penamaan Tari Tanggai sendiri berangkat dari aksesoris berupa kuku palsu (tanggai) yang dipasangkan di delapan jari (kecuali dua ibu jari) para penarinya.

Pakaian Penari

Setelan Pakaian Penari tari tanggai
Sumber: https://shopee.co.id

Salah satu poin yang dapat digunakan untuk membedakan kemiripan antara Tari Gending Sriwijaya dengan Tari Tanggai adalah busana para penarinya.

Penari Gending Sriwijaya berbusana baju aesan, mengenakan mahkota besar dengan warna emas, dengan ikatan selendang mantri pada bagian pinggang.

Pemakaian busana oleh para Penari tari tanggai
Sumber: www.phdisumsel.or.id

Sementara pakaian penari Tanggai meliputi bawahan berupa kain songket, dengan atasannya adalah dodot.

Kendati demikiam, ada empat macam sebenarnya penataan busana yang digunakan dalam pertunjukan Tari Tanggai, antara lain:

1. Aesan Dodot

Aesan Dodot saat dipakai penari tari tanggai
Sumber: sanggarnusantaradotcom. blogspot.com

a. Bunga urai

b. Cempako

c. Gelang gepeng

d. Gelang kano

e. Gelang sempuru

f. Gelung malang

g. Kalung kebo munggah

h. Kemben songket

i. Pending

j. Selempamg

k. Sewet songket

l. Sumping

m. Sundur

n. Teratai

2. Aesan Pak Sangkong

Aesan Pak Sangkong dalam pementasan tari tanggai
Sumber: winterfervent. blogspot.com

a. Baju kirung belutdru

b. Bunga uarai

c. Cempako

d. Gelang

e. Gelang gepeng

f. Gelang sempuru

g. Gelung malang

h. Kalung kebo mungga

i. Kelapo setandan

j. Pak sangkong

k. Selendang

l. Sewet songket

m. Sumping

n. Sundur

o. Suri / sisir

p. Teratai

3. Aesan Gede

Penampilan Aesan Gede untuk penari tari tanggai
Sumber: https://www.pinterest.ca

a. Cempako

b. Kalung kebo mungga

c. Kasuhun

d. Kecak bahu

e. Kembang urai

f. Kemben songket

g. Galang gepeng

h. Gelang kano

i. Gelang malang

j. Gelang sempuru

k. Pending

l. Selempang

m. Sewet songket

n. Sumoing

o. Sundur

p. Suri / sisir

q. Teratai

4. Selendang Mantri (Aesan Gandik)

Aesan Gandik tari tanggai
Sumber: https://shopee.co.id

a, Gandik

b. Gelang kano

c. Gelang malang

d. Gepeng sempuru

e. Kalung kebo mungga

f. Kembang sempuru

g. Kembang songket

h. Selendana

i. Sewet somgket

j. Sumping

k. Sundur

l. Suri / sisir

m. Teratai

Kostum-kostum tersebut di atas dikenakan sesuai tema acaranya pada saat ini.

Memerhatikan baik-baik situasi dan kondisi yang ada saat pementasan Tari Tanggai akan dilakukan.

Contohnya, penari tak boleh mengenakan Aesan Gede saat acara resepsi pernikahan, karena pengantinnya sudah memakai Aesan Gede.

Sedangkan penari pun mesti menggunakan Aesan Mantra, Dodot, dan Pak Sangkong, dengan motif berupa Songket Limar.

Tak heran bila kombinasi perpaduan antara busana tersebut dan gerakan tariannya menambah nilai estetika dalam tarian ini.

Properti

Properti yang dikenakan oleh penari tari tanggai
Sumber: selmaalambayni. blogspot.com

Pakaian yang dikenakan oleh para penari kemudian akan dilengkapi properti khas daerah Palembang, yakni pending, kalung, dadat, sanggul malang, kembang urat (ranai), kembang goyang, tajuk cempako dan tanggai yang terpasang di kedelapan jemari tangan penari.

Perlengkapan pada penari Tanggai pun umumnya lebih sederhana, bila dibandingkan dengan yang dikenakan oleh penari Gending Sriwijaya.

Sejumlah properti di antara kesemuanya ini cukup diutamakan dalam pertunjukannya, sehingga wajib dikenakan.

Penjelasan beberapa di antaranya seperti:

1. Kain Songket

Kain Songket Suku Dayak untuk tari tanggai
Sumber: www.tokopedia.com

Kain ini merupakan tenunan tradisional yang termasuk dalam golongan kain brokat dari masyarakat rumpun melayu, seperti Indonesia, Brunei, serta Malaysia.

Namanya tradisional, tentu cara pembuatannya adalah penenunan manual dengan tangan, yang bahannya adalah benang perak dan emas.

Benang berbahan dasar logam metalik tersebut jelas akan memberikan efek kilauan cemerlang nun mewah.

Tak cuma dikenakan oleh penari tanggai, Kain Songket pun dipakai oleh masyarakat Melayu saat menghadiri acara-acara yang bersifat resmi.

2. Kalung

Aksesoris berupa Kalung tari tanggai
Sumber: https://shopee.co.id

Perhiasan yang dikenakan oleh penari tanggai ini biasanya terbuat dari logam mulia, seperti platina, perak, atau bahkan emas.

Kadangkala juga ada yang membuatnya dengan bahan berupa intan, permata, atau serangkaian mutiara yang sangat cantik.

Kendati kian lama, bahan pembuatan kalung juga semakin bervariasi sesuai perkembangan zaman.

Contohnya seperti dari bahan tembaga, besi, keramik, perunggu, kerang, rotan, hingga plastik.

Bentuk umum kalung ini misalnya rantai, kadang ada tambahan liontin atau bandul sebagai pemanisnya.

3. Kembang Goyang

Kembang Goyang menghias kepala penari tari tanggai
Sumber: www.tokopedia.com

Pemakaian Kembang Goyang dalam bentuk sanggul adalah di kepala penari.

Perhiasan ini akan ikut bergerak-gerak saat penari membawakan tariannya, karena pegas di dalamnya.

Bahan untuk membuatnya adalah kuningan, tembaga, emas, atau perak.

Kadang juga ada tambahan berupa batu permata agar semakin mewah.

Selain itu, Kembang Goyang juga ada yang digunakan sebagai pelengkap pakaian adat Bali, Jawa, dan Sunda.

4. Kuku Palsu (Tanggai)

Tanggai adalah kuku palsu para penari tari tanggai
Sumber: indriwidiyanti. wordpress.com

Tanggai adalah semacam hiasan kuku palsu yang berbentuk panjang meruncing yang dipasangkan di ujung jari tangan.

Benda yang terbuat dari perak, kuningan, atau tembaga inilah yang menambah kesan lentik pada jari-jemari seorang penari, sehingga gemulai gerakannya tampak lebih indah.

Malahan, keindahan serta kekuatan tari ini sebenarnya berasal dari tanggai (kuku palsu) yang dipakai oleh para penarinya.

5. Tepak

Tepak tari tanggai diisi sirih, pinang, kapur, tembakau
Sumber: https://shopee.co.id

Tepak tentu adalah properti wajib yang harus dibawa oleh salah seorang penari dalam tarian ini.

Kendati keberadaan properti ini membuat Tari Tanggai sedikit-banyak menyerupai Tari Sekapur Sirih dari Jambi.

Benda ini sendiri merupakan kotak persegi panjang, yang diisi hidangan seperti daun sirih, tembakau, gambir, pinang, dan kapur.

Kesemuanya menjadi suguhan untuk para tamu yang datang pada masa lampau, karena memang sebagaimana kebiasaan masyarakatnya yang masih suka mengunyah sirih (nyirih).

Sirih ini menyimbolkan penghormatan kepada sang tamu, bahwa masyarakat Palembang siap menerimanya.

Kapur sirih yang dibawa oleh para penari sendiri terbagi menjadi dua macam, yakni sirih jadi dan sirih tak jadi.

Kini, isiannya telah diubah menjadi coklat, permen, atau camilan lain.

Bentuk dari beberapa properti tari tanggai yang disebutkan di atas sudah kian modern saat ini.

Setting Panggung

Perbedaan selanjutnya antara Tari Gending Sriwijaya dan Tari Tanggai dari aspek pengaturan panggung, terletak pada jumlah penarinya.

Pementasan Tari Gending Sriwijaya dibawakan oleh 9 penari, sedangkan Tari Tanggai malah hanya dilakukan oleh 5 penari saja.

Kendati pada umumnya dipentaskan oleh gadis-gadis remaja, tetapi anak-anak di Kota Palembang pun juga sudah banyak yang membawakannya sekarang.

Walau memang pada masa kini Tari Tanggai secara dasarnya merupakan tarian berkelompok, tapi pementasannya tetap perlu melihat kondisi di tempatnya.

Yang terpenting, jumlah penari harus selalu ganjil.

Ragam Gerakan

Ragam Gerakan dari para penari tari tanggai
Sumber: https://id.pinterest.com

Tarai Tanggai telah seringkali dipentaskan dalam beragam acara adat di Palembang selama ini.

Keindahannya bisa diperoleh dari melihat gerakan gemulai dengan busana daerah yang khas oleh penarinya.

Bahkan setiap gerakannya pun memiliki nama masing-masing berdasarkan pembagiannya, antara lain:

1. Nama-Nama Gerak

Nama Nama dalam setiap Gerakan tari tanggai
Sumber: https://wideazone.com

a) Gerak sembah, yang terbagi:

Sembah saat berdiri

Sembah saat duduk

b) Gerak Borobudur dibagi dalam:

Borobudur ketika berdiri

Borobudur ketika duduk

c) Gerak Kecubung, yang terdiri atas:

Kecubung dalam posisi berdiri kanan dan kiri

(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Kecubung dalam posisi duduk kanan dan kiri

d) Gerak Tabor atau Tabur dalam duduk kanan dan kiri.

e) Gerakan Siguntang Mahameru, dalam posisi duduk kanan dan kiri.

f) Gerakan Mendengar, yang dibagi atas:

Mendengar posisi berdiri kiri dan kanan

Mendengar posisi duduk kiri dan kanan

g) Gerak Tutur Sabda, yang hanya menampilkan satu gerakan dalam posisi tutur sabda, yakni saat duduk saja.

h) Gerakan Tolak Bala, dilakukan dalam posisi berdiri kiri dan kanan.

i) Elang Terbang, yang terdiri dari:

Elang Terbang dalam posisi berdiri

Elang Terbang dalam posisi duduk

j) Gerak Jalan Keset, hanya menampilkan satu gerakan pada posisi berdiri.

k) Gerak Jalan Jijit, juga hanya menunjukkan satu gerakan.

l) Gerak Duduk Momjong

m) Gerak Duduk Tafakur

n) Gerak Kaki Tunjang

o) Gerak Kaki Sambar

p) Gerak Memohon

q) Gerak Nyumping

r) Gerak Tumpang Tali

2. Struktur Penyajian Gerakan

Gerak Lenggang posisi rendah dalam struktur tari tanggai
Sumber: https://docplayer.info

Susunan Tari Tanggai lazimnya adalah pengembangan dari rangkaian atau motif gerakan, menjadi satu kesatuan yang utuh dalam bentuk sebuah struktur tarian yang solid.

Struktur Geraknya sendiri terbagi tiga, antara lain:

a. Gerakan Awal

Gerak Songsong dalam gerakan awal tari tanggai
Sumber: https://docplayer.info

Penari masuk dengan gerakan dalam posisi sembah,

Gerakan borobudur dalam posisi hormat,

Gerakan sembah saat berdiri.

Gerak Sembah Atas penari tari tanggai
Sumber: https://docplayer.info

Melakukan jalan keset,

Kecubung berdiri pada bawah kanan,

Kecubung pada bawah kiri,

Kecubung berdiri pada atas kanan,

Kecubung pada atas kiri,

Diakhiri dengan ukur benang.

b. Gerak Pokok

Gerak Tepuk Tanah dalam gerak pokok tari tanggai
Sumber: https://docplayer.info

Dimulai dari tutur sabda,

Sembah posisi duduk,

Gerak Sembah tari tanggai dalam posisi sujud
Sumber: https://docplayer.info

Tabur bunga saat duduk kanan dan kiri.

Memohon pada duduk kanan,

Kecubung saat posisi duduk kanan dan kiri,

Stupa pada kanan dan kiri,

Melakukan tutur sabda,

Gerakan borobudur lagi,

Ditutup dengan ulur benang.

c. Gerak Akhir

Gerak Tangan Tumpuk dalam gerak akhir tari tanggai
Sumber: https://docplayer.info

Berawal dari tolak bala dalam posisi berdiri pada kanan dan kiri,

Dilanjutkan dengan Nyimpang / nyumping posisi berdiri kanan dan kiri,

Kemudian gerakan mendengar berdiri kanan dan kiri,

Selanjutnya penari melakukan tumpang tali,

Berikutnya alur / ulur benang dalam posisi berdiri kanan dan kiri,

Lalu posisi sembah saat berdiri,

Gerakan borobudur lagi saat berdiri,

Diakhiri dengan borobudur dalam posisi hormat / terhormat.

Para penari Tanggai akan terlihat lebih anggun, saat gerakan-gerakan yang sedemikian gemulai di atas dipadukan dengan busana daerah yang khas.

Ketulusan tuan rumah yang memberikan penghormatan kepada tamu juga ditunjukkan melalui kelenturan atau keluwesan gerak dan lentiknya jari para penari.

Pola Lantai

Pola Lantai yang digunakan pada tari tanggai
Sumber: https://www.yandigsa.com

Tari Tanggai menerapkan pola lantai berupa horizontal, melingkar, serta huruf V.

Untuk pola lantai huruf V, kaitannya adalah dengan posisi melengkung (lebih tepatnya meruncing, karena merujuk huruf V) yang dibentuk oleh 5 orang penari.

Iringan Lagu dan Musik

Komponis penyaji musik iringan untuk tarian ini mengerjakan iringan musik yang menggabungkan sejumlah instrumen.

Ada dua elemen dalam jenis musik pengiringnya, yaitu bunyi alat musik yang dimainkan berkelompok hingga seolah membentuk orkestra, dan syair lagu daerah.

1. Lirik / Syair Lagu

Dendangan syair yang berasal dari lagu daerah bernuansa melayu dibawakan oleh seorang penyanyi (sinden) untuk mengiringi Tarian Tanggai.

Syair tersebut merupakan lagu yang berjudul “Enam Bersaudara”.

Kendati memang tak ada yang mengetahui siapa pengarangnya secara pasti, tapi sampai sekarang pun sudah begitu populer di kalangan penduduk Sumatra Selatan, terutama Palembang.

Lagu tersebut adalah perlambang bagi masyarakat Palembang yang hidupnya harmonis.

Kombinasi yang serasi antara “Enam Bersaudara” dan gerakan gemulai para penari menjadi gambaran hangatnya kehidupan penduduk Palembang.

Untuk itu, berikut adalah lirik daripada lagu tersebut:

Lemah lembut … lemah lembut,
Tangan gemulai … gemulai,
Jari-jari yang menari halus semampai

Lemah lembut … lemah lembut,
Tangan gemulai … gemulai,
Jari-jari yang menari halus semampai

Anak dara yang manis,
Bidadari rupawan sedang asyik manari tari tanggai

Anak dara yang manis,
Bidadari rupawan sedang asyik manari tari tanggai

Lirik versi lainnya:

Kami lah ini Sembilan
Putri dari Kota Palembang
Mewakili daerah Batanghari Sembilan

Sekapur sirih kami sembahkan
Sebagai penghantar kata
Adat-peradat leluhur kita Sriwijaya

Lengkap dengan peredongan
Lengkap dengan tepak

Dengan pakaian adatnya
Kebesaran Syailendra…

Lengkap dengan peredongan
Lengkap dengan tepak

Dengan pakaian adatnya
Kebesaran Syailendra…

Kami lah ini Sembilan
Putri dari Kota Palembang
Mewakili daerah Batanghari Sembilan

Sekapur sirih kami sembahkan
Sebagai penghantar kata
Adat-peradat leluhur kita Sriwijaya

Lengkap dengan peredongan
Lengkap dengan tepak

Dengan pakaian adatnya
Kebesaran Syailendra
Lengkap dengan peredongan
Lengkap dengan tepak

Dengan pakaian adatnya
Kebesaran Syailendra…

2. Alat Musik

Lagu yang menjadi pengiring Tari Tanggai tersebut diiringi oleh alat-alat musik tradisional Palembang seperti akordion, biola, gendang, dan gong, dan alat musik terbangan atau sejenis rebana.

Bunyi atau suara yang dihasilkan melalui alat-alat musik tersebut difungsikan untuk mengatur irama sekaligus menjadi identitas dalam kebudayaan Melayu.

Kendati begitu, tak jarang pula instrumen musik yang lebih modern seperti organ tunggal atau band sudah dimanfaatkan dalam pementasan tarian ini pada masa sekarang.

Karena kembali lagi, tetap tergantung pada yang punya hajat.

Makna Tarian

Makna yang terkandung dalam Tari Tanggai
Sumber: http://acosaner.pw

Ada makna tersembunyi terkait ungkapan selamat datang dari orang yang punya hajat dan mengadakan upacara kepada para tamu yang diwakilkan dalam kandungan setiap gerakan tarian ini.

Karena tamu diibaratkan raja yang memang harus diperlakukan sebaik mungkin bagi masyarakat Palembang.

Keramahan dan rasa hormatnya tergambarkan melalui pemberian sekapur sirih kepada tamu-tamu kehormatan yang terpilih, dalam salah satu bagian tarian oleh salah satu penari Tanggai.

Pemberiannya ini menyimbolkan, bahwa tamu tersebut sudah diterima dengan baik oleh masyarakat Palembang yang begitu terbuka.

Fungsi

Beragam fungsi tari tanggai pada masa kini
Sumber: sanggarputriseroja. blogspot.com

Secara garis besar, pementasan Tari Tanggai berfungsi untuk menyambut tamu yang telah memenuhi undangan, atau dipertontonkan dalam upacara pernikahan adat Palembang.

Kini seiring perkembangan zaman, tarian ini telah dipertontonkan pula dalam beragam acara resmi organisasi, festival budaya, acara kedinasan yang mendatangkan pejabat negara, serta pergelaran seni di berbagai sekolah.

Jasa pergelaran yang lengkap dengan kemewahan pakaian adat Sumatra Selatan juga sudah jamak disediakan oleh sanggar-sanggar seni di Palembang.

Berikut rincian beragam fungsi lain pementasan Tari Tanggai, hasil dari perkembangannya pada masa kini:

1. Sebagai Lambang / Simbol dalam Penyambutan Tamu Kehormatan

Tari Tanggai yang difungsikan Sebagai Lambang atau Simbol dalam Penyambutan Tamu Kehormatan
Sumber: https://twitter.com

Tari Tanggai Palembang selalu ditampilkan dalam perayaan hari-hari besar ataupun beragam acara lainnya.

Tariannya akan ditampilkan sebelum acara resmi dimulai, tepatnya usai tamu kehormatan yang hadir dalam suatu acara sudah duduk pada tempat yang disediakan.

Akan selalu ada seorang penari utama dalam Tarian Tanggai untuk keperluan fungsi ini.

Sembari membawa tepak, salah seorang penari didampingi dua penari dengan pridon (tempat mengeluarkan sirih) akan menyerahkan tepak berisi dua macam sebagai tanda menghormati tamu.

Pertama adalah Sirih Jadi atau sirih yang telah diramu.

Isinya akan meliputi pinang, kapur, dan ramuan gambir berbungkus daun sirih serta tembakau.

Kedua adalah Sirih Tak Jadi atau Sirih Mentah, yakni bahan-bahannya sama, hanya saja akan diramu oleh tamu itu sendiri.

Pemberian kapur sirih melalui tarian semacam ini memang telah lumrah, karena menjadi tanda hormat bagi tamu yang datang, bagi masyarakat Palembang pada masa lampau.

2. Sebagai Sarana Upacara dalam Adat Perkawinan

fungsi tari tanggai yang dipentaskan Dalam Upacara Adat Perkawinan
Sumber: deltaanugerah. wordpress.com

Fungsi Tari Tanggai dalam acara pesta perkawinan lebih-kurang memang sama, karena memang pada dasarnya merupakan tarian penyambutan tamu sebelum suatu acara utama resmi dimulai.

Tuan rumah beserta keluarga yang punya hajat-pesta, menyuguhkan Tarian Tanggai untuk memberikan rasa hormat dan ungkapan terima kasih atas kehadiran tersebut.

Pembedanya ada pada susunan penari.

Dalam upacara adat pesta perkawinan, penari akan diikuti oleh pengantin beserta keluarga mempelai memasuki gedung resepsi pernikahan.

Penari berada di barisan paling depan, diikuti sepasang pendamping penari yang sejajar dengannya, disusul dua pendamping pengantin (umumnya anak-anak 7-11 tahun), baru diikuti orang tua kedua pengantin beserta sanak famili.

Penari Tanggai terus berada di depan sambil mengantarkan pengantin sampai ke pelaminan.

Usai sepasang pengantin duduk di pelaminan, penari baru memulai tariannya sebagai rasa hormat terhadap kehadiran para tamu.

Sebuah acara pesta perkawinan lazimnya menampilkan Tari Tanggai sekitar pukul 11.00-20.00 WIB, tergantung keinginan keluarga yang punya hajat-pesta.

3. Sebagai Hiburan

fungsi tari tanggai Sebagai Hiburan
Sumber: http://thatsofarah.com

Fungsi Tari tanggai sebagai hiburan yang selalu dipentaskan di setiap penyelenggaraan acara adat, baik resmi maupun tidak, tak jauh berbeda dengan fungsinya sebagai tarian pertunjukan.

Di samping memberikan kesenangan kepada tamu yang hadir (penonton), tarian ini juga menawarkan kenikmatan tersendiri bagi para penari.

Tari Tanggai dapat menjadi penghibur bagi diri penari itu sendiri, karena kegiatan yang dilakukan memang mampu memberi perasaan senang dan kepuasan.

Tarian ini bahkan telah menjadi hiburan untuk rakyat, alih-alih sebatas dibawakan dalam sejumlah acara formal.

Rakyat tentu bisa tahu kemudian, bagaimana keindahan setiap gerakan yang ditarikan dengan kepiawaian sang penari dalam membawakan tarian ini.

4. Sebagai Legitimasi

Mementaskan tari tanggai sebagai sarana legitimasi dalam penyelenggaraan suatu upacara
Sumber: koarmada2.tnial.mil.id

Tari Tanggai sebagai fungsi legitimasi ada dalam upacara perkawinan masyarakat kota Palembang.

Dengan kata lain, syarat kelengkapan resepsi perkawinan akan dianggap kurang terpenuhi, bila tak mementaskan Tari Tanggai.

Nantinya, pengantin akan memasuki gedung –atau tempat resepsi manapun, diiringi penari yang berjalan sedemikian pelan dalam resepsi ini.

Dan pada waktu pengantin memasuki gedung, para tamu undangan akan berdiri untuk memberi hormat.

5. Sebagai Media Pendidikan

tari tanggai Sebagai Alat Pendidikan
Sumber: smpn6palembang. wordpress.com

Selain adanya unsur hiburan, Tari Tanggai tentunya menawarkan pula unsur pendidikan.

Setiap orang akan mengetahui betapa indahnya kebudayaan yang ada di Palembang dan mempelajari seluk-beluk tarian ini melalui apa yang mereka lihat pada tiap-tiap gerakannya.

Penari pun dapat mengembangkan kepekaan perasaannya terhadap nilai estetika melalui tarian ini, memperkaya jiwa, serta jelas secara langsung mengenal warisan budaya di tanah kelahiran sendiri.

Diharapkan pula, kehidupan harian mereka merupakan cerminan dari keluwesan dan kelembutan Tari Tanggai yang mereka bawakan.

Artinya, dampak positifnya akan terlihat dalam tindak-tanduk mereka.

Keterampilan yang ditampilkan melalui tarian semacam ini akan mempertebal pula kepercayaan terhadap diri sendiri.

Demikianlah sekelumit informasi tentang Tari Tradisional Tanggai sebagai tari penyambutan di Bumi Sriwijaya (Palembang), Sumatra Selatan, serta betapa masyarakatnya begitu memuliakan tamu.

Tarian tersebut rutin dipentaskan setiap ada penyelenggaraan acara adat, baik resmi maupun tidak.

Miftachul Arifin

Peminat genre fantasi dalam perbukuan, penulisan, dan perfilman yang ingin terus belajar berkarya. Saya pun penggemar musik-musik orkestra, terutama dari biola, cello, dan piano.

Update : 4 April 2021 - Published : 20 September 2020

Tinggalkan komentar