[Lengkap] Tari Cakalele: Asal, Sejarah, Fungsi, Gerakan, Properti + Video

Tari Cakalele merupakan tarian perang tradisional yang berasal dari tradisi masyarakat provinsi Maluku Utara dan ditampilkan pada upacara adat juga untuk menyambut tamu yang datang ke daerah mereka. Tarian ini biasanya dilakukan penari laki-laki yang dipimpin oleh seorang kapiten, tetapi tak jarang pula ada perempuan menarikannya.

Dibandingkan dengan tari tradisional Indonesia yang lain, tari Cakalele masih terdengar asing.

Oleh karena itu, di sini kami menyajikan informasi lengkap terkait dengan sejarah, pola gerakan, filosofi, hingga pertunjukan Tari Cakalele. Bagi yang belum tahu, simak artikel ini sampai habis!

Sejarah Tari Cakalele

asal usul tari cakalele
negerikuindonesia.com

Berdasarkan sejarah yang ditulis, tari cakalele lahir dari tradisi masyarakat Maluku Utara.

Dulu, tarian ini ditarikan masyarakat setempat pada saat prajurit akan berangkat menuju medan perang maupun setelah pulang dari medan perang. Selain itu tarian ini juga digunakan sebagai pertunjukan saat upacara adat masyarakat Maluku Utara berlangsung.

Menurut bahasa, nama cakalele berasal dari dua suku kata bahasa Ternate yaitu caka yang artinya roh atau setan dan lele yang artinya mengalir atau mengamuk.

Karena pengaruh kerajaan pada masa itu, tarian ini pun kemudian meluas hingga ke daerah-daerah sekitar Maluku Utara seperti Maluku Tengah (Seram dan Ambon), semenanjung Sulawesi bagian Utara yaitu Minahasa, dan bahkan di daerah sepanjang pesisir Timur Pulau Sulawesi.

Di Minahasa, masyarakat memasukkan tari cakalele ke dalam tarian perang mereka yang telah ada yaitu tari kabasaran.

Kamu juga bisa simak dan pelajari tarian perang dari Suku Dayak Kenyah, yaitu Tari Kancet Papatai.

Fungsi dan Filosofi

filosofi tari cakalele
abduloche.wordpress.com

Seperti yang telah dijelaskan dalam sejarah bahwa pada awalnya tari cakalele digunakan sebagai tarian tradisi sebelum dan sesudah prajurit terjun ke medan perang. Seiring berjalannya waktu, tari cakalele menjadi pertunjukan adat masyarakat Maluku Utara dan sekitarnya.

Tarian ini juga berfungsi sebagai bentuk hormat dan apresiasi masyarakat setempat terhadap nenek moyang mereka yang merupakan prajurit pemberani dan tangguh. Hal tersebut dapat dilihat dari gerakan-gerakan tari cakalele yang rancak, keras, juga ekspresi dan semangat penari saat menarikan tarian ini. Selain bercerita tentang suasana peperangan dan prajurit tangguh, tarian ini juga memiliki makna dan filosofi lain yang lebih dalam.

Beberapa catatan sejarah menyebutkan bahwa tari cakalele juga memiliki makna yang berkaitan dengan simbol keagamaan dan prosesi penyembuhan atau pengobatan, bahkan ada juga yang menyebutkan bahwa tari cakalele menceritakan tentang awal mula penciptaan manusia. Hal tersebut bukan tanpa alasan, karena pada saat menari biasanya penari akan bergerak sambil meneriakkan kata “aulee.. aulee..” yang artinya darah yang membanjir.

Biasanya terdapat ritual tertentu, jika mereka mencapai kemenangan maka harus meminum darah musuhnya sebagai persembahan dan imbalan kepada roh yang merasukinya. Sebagai gantinya, yang digunakan dalam ritual tersebut adalah darah ayam, karena masyarakat setempat yakin bahwa darah itu tidak haram selama ayamnya disembelih sambil membaca ayat-ayat Al-Qur’an, sehingga mereka tidak melakukan perbuatan syirik atau haram.

Secara garis besar, ritual pada tari cakalele mengandung tiga pesan dan makna yang ingin disampaikan, yaitu mengatur hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan manusia dengan alam, serta hubungan antar manusia dengan manusia lainnya. Tiga makna utama tersebut tidak bisa lepas dari nilai simbolik tari cakalele.

Selain terkenal sebagai tarian perang dan mengandung nilai ketuhanan, tari cakalele juga memiliki filosofi bagaimana manusia menjaga martabat keluarganya. Hal tersebut digambarkan dengan ritual meminum lahang bambu sebagai gambran air mani yang keluar pada saat proses suami istri melakukan hubungan. Setelah ritual tersebut, ritme tarian akan semakin pelan dan diikuti kalimat hamdalah seusainya.

Gambaran lain terdapat pada sembilan lintingan tembakau yang ada di dalam nasi kuning sebagai simbol usia kehamilan seorang ibu yaitu sembilan bulan. Simbol harga diri dan rumah tangga direpresentasikan dalam properti tari yang mereka gunakan yaitu salawaku dan samarang. Salawaku digambarkan sebagai ibu yang bertugas mengurus rumah tangga dan melindungi anak-anaknya, sedangkan ayah yang digambarkan sebagai samarang memiliki tanggung jawab untuk menjaga kehormatan rumah tangga secara keseluruhan.

Pola Gerakan

pola gerakan tari cakalele
candra-pinuyut. blogspot.com

Dalam pertunjukannya, penari cakalele sangat kompak bergerak mengikuti irama musik pengiring, namun terdapat perbedaan antara gerakan penari laki-laki dan penari perempuan.

Penari pria biasanya bergerak secara lincah sambil berjingkrak-jingkrak mengikuti alunan musik tradisional dan memainkan salawaku & parang yang ada di tangan mereka sehingga menciptakan suasana perang yang kental. Dalam tariannya, penari akan menari dengan semangat membara diikuti mata yang melotot, berlarian, melompat dan berteriak-teriak seperti orang yang sedang kesurupan. Aura perang dan gerakan penari yang seperti kesetanan ini didukung dengan iringan musik yang keras dan cepat.

(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Sedangkan penari perempuan yang berada di sekeliling mereka akan menghentakkan kaki dengan cepat sesuai irama musik dan tangan mereka bergerak dengan diayunkan ke depan secara bergantian.

Pertunjukan Tari Cakalele

1. Penari

kapiten tari cakalele
yoesrianto. blogspot.com

Tarian khas Maluku ini biasanya ditarikan secara berkelompok oleh penari laki-laki dan dipimpin seorang kapitan yang diibaratkan sebagai komandan perang, juga salah satu penari yang membawa tombak sebagai lawan duel sang kapitan. Sebagai pendukung, ada juga beberapa penari perempuan yang menari sambil membawa lenso atau sapu tangan sebagai properti tariannya.

2. Busana penari

busana tari cakalele
pinterest.com

Busana yang dipakai penari laki-laki adalah kostum perang yang dirancang secara khusus dan didominasi oleh warna kuning tua serta merah.

Biasanya penari laki-laki memakai baju perang yang dilengkapi dengan senjata seperti parang, tombak, dan salawaku.

Untuk kapitan perang, akan dilengkapi dengan properti di bagian kepala yang berupa hiasan mahkota berbahanbulu ayam, sedangkan penari lainnya hanya memakai ikat kepala berwarna merah.

Sementara penari perempuan biasanya memakai pakaian adat Maluku berwarna putih serta kain panjang yang menutup bagian bawah tubuhnya dan dilengkapi dengan properti seperti sapu tangan lenso yang digunakan selama tarian berlangsung.

3. Iringan Musik

musik yang mengiringi tari cakalele
aryadvanture. blogspot.com

Pertunjukan tari cakalele diiringi oleh beberapa alat musik tradisional seperti tifa, gong, dan bia (kerang yang ditiup) dan dimainkan dengan tempo yang cepat. Irama dan tempo yang cepat dimaksudkan agar mampu membakar semangat penari. Tak jarang penonton juga ikut terbawa suasana ketika melihat tarian dan mendengarkan iringan musik tersebut.

Gerakan-gerakan perang yang dilakukan oleh penari akan mengikuti irama musik karena terkadang dalam irama tersebut terdapat kode kapan penari harus berganti gerakan dan formasi.

4. Properti

tari cakalele menggunakan properti
irfanmahmud99. blogspot.com

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa tari cakalele merupakan tarian tradisional dengan tema perang, maka properti yang digunakan penari juga tidak jauh dari alat-alat perang.

Biasanya properti yang digunakan adalah tombak, parang atau pedang, dan salawaku atau tameng yang digunakan di sepanjang tarian berlangsung. Salawaku yang digunakan berhiaskan ukiran-ukiran berbentuk kerang dengan angka atau simbol-simbol kepercayaan dan dianggap masyarakat setempat mampu menangkis serangan musuh.

Untuk properti penari perempuan adalah sapu tangan atau lenso yang mereka pegang di tangan dan dikibaskan saat mereka mengayunkan tangan ke depan.

Perkembangan Tari Cakalele

pementasan tari cakalele
commons.wikimedia.org

Tari cakalele dulunya merupakan tradisi masyarakat Maluku Utara yang digunakan sebagai pembakar semangat prajurit sebelum dan setelah pulang dari peperangan. Namun, lambat laun berubah fungsi menjadi kesenian yang dipertunjukkan pada saat upacara adat maupun untuk menyambut tamu yang datang ke wilayah mereka. Berubahnya fungsi tersebut juga membuat tari cakalele makin meluas dan dikenal di daerah sekitar Maluku Utara seperti Maluku Tengah dan beberapa daerah di Sulawesi.

Hingga saat ini, tari cakalele menjadi bagian dari kesenian masyarakat Maluku yang digunakan sebagai promosi budaya Maluku dan ditampilkan di berbagai acara baik di dalam negeri maupun di luar negeri.

Perlu kamu tau juga, selain tari Cakalele, Maluku juga punya tari tradisional lainnya yang bisa kamu pelajari, yaitu Tari Lenso.

Tarian cakalele juga mengingatkan kita bahwa Indonesia menyimpan banyak sekali budaya dengan keunikan yang terkadang masyarakat Indonesia sendiri tidak tahu karena mulai terkikis  oleh budaya luar.

Maka dari itu sangat penting bagi putra putri Indonesia untuk mempelajari dan melestarikan budaya kita yang sangat kaya ini.

Farida Alviyani

Hi, I'm Alvi, who has an interest in writing, traveling and photography,

Update : 2 April 2021 - Published : 16 September 2020

Tinggalkan komentar