Geolana Wijaya Kusumah Selamat datang di bumi Geo! Halo, aku Geo bisa juga dipanggil Geol. Ya benar sekali, sesuai dengan namaku, aku suka dengan hal-hal berbau Geografi dan hobiku bergeol alias Dance.

Senjata Tradisional NTT

7 min read

sejarah senjata tradisional ntt

Halo Selasares, pada kesempatan yang bahagia ini kami akan berbagi informasi mengenai senjata tradisional dari teman-teman kita di Nusa Tenggara Timur.

Cerita yang disajikan bersumber dari penelitian dan pengkajian nilai-nilai budaya yang dilakukan oleh Departemen Pendidikan Kebudayaan RI.

Senjata tradisional NTT tidak hanya berputar pada fungsi pertahanan diri, melainkan lebih digunakan sebagai alat pembantu kehidupan terutama dalam berburu dan mencari makanan.

Hal ini dikarenakan minimnya konflik dan peperangan yang terjadi di NTT serta kebutuhan akan alat-alat tersebut bagi kehidupan sehari-hari.

Mari kita terjun langsung ke pembahasannya.

Nama-Nama Senjata Tradisional NTT (Nusa Tenggara Timur)

1. Surik / Sundu

senjata tradisional sundu ntt
Gambar surik yang sarungnya dihiasi dengan cincin-cincin kayu dan rumbai-rumbah pada gagangnya. Sumber: wikiwand.com

Surik atau sundu adalah pedang kecil tradisional dari negeri Timor.

Meski terlihat sederhana, pedang ini menyimpan kekuatan sakti.

Selasares pernah dengar istilah ‘pedang makan tuan’? Ya, tidak sembarang orang dapat memiliki dan menggunakan surik.

Karena jika sembarang, dapat membawa malapetaka.

Warga Belu di NTT berembuk untuk menentukan siapa yang akan meneruskan sang surik.

Selain kesaktiannya, surik juga terkenal dengan keindahannya.

Oleh karena itu, surik juga dijadikan atribut dalam tarian Surik Laleok yang menggambarkan kepahlawanan adat setempat.

Dari bentuknya, sundu memiliki pisau yang lurus memanjang dengan bagian ujung sempit dan bagian pangkal lebar.

Bagian gagangnya terbuat dari tanduk kambing atau kuda dan dihiasi dengan rumbai-rumbai bulu kambing atau kuda juga.

Nah, di tengah pedang, diberi ukiran mata yang dipercaya dapat menambahkan kekuatan magis.

Terakhir, sarung surik diukir seperti ada cincin-cincin dan ia terbuat dari kayu.

2. Kenube

senjata tradisional parang ntt
Parang tidak hanya dijadikan sebagai senjata, namun juga sebagai alat pembantu kehidupan masyarakat. Sumber: antikjadullangka.blogspot.com

Kenube dalam bahasa daerah Lamaholot di Kabupaten Flores Timur berarti parang.

Sebutan lain untuk parang adalah kenika atau kabalea di Desa Lamahala, kenube daruna di pedalaman Adonara, dan peda lamahala di Pulau Solor dan Lembeta.

Parang yang dibuat untuk perang jarang sekali diproduksi.

Pandai besi membuat kenube untuk membantu pekerjaan masyarakat.

Biasanya, ia membuatnya dari besi baja atau besi bekas kendaraan bermotor. Gagangnya terbuat dari kayu sekitar.

Bentuk kenube yang digunakan sebagai senjata untuk menyerang, biasanya bilah parang tersebut Iebar, bentuknya menyerupai trapesium dan gagang parang berbentuk bulat panjang.

Sedangkan kenube yang digunakan untuk alat bilahnya lebih kecil dan gagangnya tidak terlalu besar.

3. Tombak Lamaholot

senjata tradisional tombak lamaholot ntt
Tombak masih digunakan untuk menangkap binatang laut besar seperti paus. Sumber: vimallatour.wordpress.com

Suku Lamaholot di NTT memiliki tombak yang biasa digunakan untuk berburu binatang laut seperti ikan hiu dan paus.

Mata tombak terbuat dari besi beton atau besi batangan yang berbentuk pipih.

Sedangkan untuk tongkat tombak terbuat dari kukung atau balok lontar, sejenis kayu dari pohon yang batangnya lurus.

Tongkat tombak sangatlah panjang dan cara memakainya biasanya nelayan lompat dari kapal untuk menancapkan ke tubuh sasaran.

4. Panahan

Ada dua jenis panahan yang digunakan oleh masyarakat Flores, yakni wuhu amet dan rama.

Kedua panahan digunakan untuk berburu, menjaga ladang dari binatang hutan, dan untuk menjaga keamanan kampung ketika diserang.

a. Wuhu Amet

senjata tradisional panah ntt
Ilustrasi jenis-jenis wuhu amet NTT. Sumber: repositori.kemdikbud.go.id

Panahan yang pertama berasal dari masyarakat Lamaholot.

Wuhu berarti busur dan amet berarti anak panah.

Sama seperti mata tombak, mata anak panah terbuat dari besi beton karena dapat menancap dengan dalam ke badan sasaran namun tetap ringan untuk ditembakkan.

Tangkainya terbuat dari buluh bambu tamiang dan benang kapas untuk menyatukan seluruh bagian anak panah.

Jenis amet yang digunakan antara lain adalah:

  • Hupe : Berbentuk pipih, kedua sisinya tajam, berujung runcing.
  • Kehawek : Mata panah berbentuk tempuling dengan kaitan tunggal.
  • Longkalar : Berbentuk tempuling dengan kaitan ganda.
  • Numur : Berbentuk bulat panjang dengan ujung runcing.
  • Keweto : Berbentuk tempuling memiliki kaitan tiga susun.

Wuhu juga dibuat dari kukung sama seperti tombak sedangkan tali busur terbuat dari serat akar tunjang pohon beringin.

b. Rama

senjata tradisional panahan ntt
Ilustrasi jenis-jenis rama. Sumber: repositori.kemdikbud.go.id

Senjata panah satu ini berasal dari pedesaan di Belu, Pulau Timor.

Rama yang berarti panah menurut bahasa setempat masih populer digunakan oleh masyarakat setempat terutama kaum laki-laki.

Rama memiliki banyak jenis lo Selasares yang ditinjau dari sistem teknologi panahannya.

Ada rama biasa, rama moruk atau panah beracun, rama bele atau panah lebar, rama tafukuk atau panah tumpul, rama sura atau panah bermata banyak, dan rama kilat atau panah tembak.

Dari sekian ragam jenis rama, rama moruk dan rama kilat adalah yang paling populer di kalangan masyarakat.

Rama moruk sangat efektif untuk melumpuhkan binatang buruan karena racunnya sedangkan rama kilat adalah rama tercanggih.

Kenapa dikatakan tercanggih? Karena desainnya seperti pistol dan dapat menembakkan anak panah tercepat di antara rama lain sehingga cocok untuk berburu binatang gesit dan berburu di air.

5. Dopi

senjata tradisional perisai tameng ntt
Dopi dikenakan di tangan kiri untuk menangkis dan menahan serangan musuh. Sumber: dailyvoyagers.com

Pertarungan terasa tidak lengkap tanpa kehadiran alat proteksi diri.

Jadi Selasares, dopi adalah sebutan perisai atau tameng.

Tempat produksi dopi di Desa Lamahala, Flores Timur, memakai kayu kajo kederu.

Sedangkan di tempat produksi lain di daerah Lewokeluok, mereka menggunakan kayu kajo rita.

Kedua kayu tumbuh di sekitar daerah-daerah tersebut dan diambil dari pohon berserat liat namun ringan setelah kering.

Bidang perisai bagian luar untuk menangkis serangan lawan, dibuat berbentuk punggung kuda atau berbentuk trapesium.

Bagian belakang diberi pegangan untuk tangan.

6. Kelewang

senjata tradisional kelewang samara ntt
Senjata kelewang samara untuk berperang. Sumber: bukalapak.com

Kelewang adalah pedang pendek yang bilahnya makin ke ujung makin lebar.

Kelewang difungsikan sebagai senjata perang untuk membela diri dari serangan musuh.

Kelewang termasuk senjata yang cukup populer di seluruh daerah Nusa Tenggara Timur karena digunakan untuk bertarung melawan penjajahan. Ia terbuat dari besi baja.

Terdapat dua jenis Kelewang, yaitu samara dan naruk.

Samara adalah kelewang yang gagangnya dihiasi dengan buku kuda dan sarungnya terbuat dari kayu dengan ragam hiasan seperti motif ikal, spiral, belah ketupat, dan meander atau garis tepi dengan lengkungan siku-siku.

Sedangkan naruk adalah kelewang biasa tanpa hiasan pada gagang maupun sarungnya.

Kelewang ini dianggap keramat dan biasanya disimpan di rumah-rumah adat yaitu·rumah kepala suku sebagai lambang persatuan marga atau kelompoknya.

7. Perangkap

senjata tradisional jebakan ntt
Perangkap dan jebakan menjadi senjata utama dalam berburu di NTT. Sumber: mongabay.co.id

Masyarakat Provinsi Nusa Tenggara Timur menggunakan beragam jenis perangkap untuk berburu binatang.

Perangkap memiliki nilai plus karena dapat diletakkan di tempat-tempat berbeda dan bisa ditinggal untuk esok hari dilihat kembali jika tidak bisa ditunggu.

a. Witu

Witu adalah perangkap jerat yang dipergunakan untuk menangkap babi hutan.

Alat ini secara teknologi sangat praktis untuk menjerat.

Bahannya sederhana, yaitu kayu kukung atau bambu dan tali dari pelepah lontar.

Tali juga dilapisi dengan cincin bambu guna melindunginya dari gigitan babi hutan yang ingin melepaskan diri.

Setelah jadi, jerat dipasang pada tempat jalannya babi hutan yang akan memasuki ladang melewati lubang pagar yang biasanya dilalui.

b. Belebet

senjata tradisional belebet ntt
Contoh gambar jerat burung, belebet. Sumber: youtube.com

Belebet adalah alat jerat yang dikhususkan untuk menangkap burung seperti burung pipit, tekukur, puyuh, dan perkutut.

Jerat ini sama seperti witu yang hanya perlu dipasang dan bekerja secara otomatis.

Belebet terbuat dari belahan bambu dan dibentuk seperti kurungan atau kandang.

Di atasnya diikat batu sebagai alat pemberat dan di dalamnya dipasang alat kait atau umpan.

Jadi, ketika si burung datang ke umpan maka perangkap akan menjerat burung ke dalamnya.

c. Notu Munak

Jeratan otomatis lainnya adalah notu munak.

Ia digunakan untuk menjerat monyet atau kera.

Mengapa monyet juga? Karena mereka dianggap hama oleh masyarakat sekitar dan memakan tanaman di ladang.

Alat ini terbuat dari belahan bambu yang dianyam menyerupai kerucut panjang dan sebuah tali untuk menjerat leher monyet.

Untuk memancing monyet datang, notu munak dimasukkan umpan berupa buah-buahan atau biji-bijian yang masih segar.

Umpan diletakkan di senada, suatu alat berbentuk seperti kerucut.

Lalu kemirek atau alat bantu untuk melepaskan kaitan jerat dan boom monyet akan tercekik lehernya jika terlepas kaitannya.

d. Belawat Tutung

Kalau perangkap yang satu ini, ditakdirkan untuk menjerat babi landak.

Alat ini biasa dipasang pada mulut atau lubang gua batu yang diduga oleh kaum tani menjadi sarang atau tempat tinggalnya binatang tersebut.

Alat ini terbuat dari bambu yang dibelah-belah kemudian dianyam.

Fungsi dari penganyaman bambu adalah membentuknya menjadi kerucut.

Ketika dipasang, ia harus diberi umpan bulir sorgum di dalamnya dengan cara menggantungkannya pada tempat yang mudah terlihat oleh babi landak.

Setelah terpancing, kaitan akan lepas dan babi landak sulit keluar karena jika dalam bahaya babi landak akan menegangkan duri-durinya sehingga menyangkut pada kisi-kisi belawat tutung.

Nah, kalau sudah terperangkap, kita harus hati-hati saat mengambilnya.

Ingat durinya tajam dan berbahaya Selasares.

Oleh karena itu, petani biasanya memotong duri dengan kelewang atau langsung membunuhnya di tempat.

e. Hahuk

Senjata sumpit kalau di daerah NTT dikenal dengan nama hahuk atau kahuk.

Sumpit menurut masyarakat setempat merupakan alat yang ampuh untuk menangkap burung-burung yang menjadi hama di ladang pertanian.

Tidak hanya menyumpit burung, hahuk juga bisa menyumpit musang dan tupai, jika hebat ya Selasares ha ha.

Sumpit terbuat dari buluh bambu yang lurus dan buku-bukunya panjang.

Ini dimaksudkan supaya orang yang menggunakan hahuk mudah menentukan arah bidikan, karena buku yang jarang, memberikan peluang yang bagus untuk meniup atau menghembuskan napas mereka ke dalam rongga bambu dengan bebas tanpa halangan.

Kalau anak sumpitnya, terbuat dari lidi gewang atau, bambu yang halus buluhnya, bulu ayam serta tali dari serat gewang sebagai alat pengikat.

f. Dia

gambar senjata tradisional ntt
Ilustrasi perangkap dia. Sumber: repositori.kemdikbud.go.id

Jebakan satu ini digunakan untuk menjerat burung perkutut dan koak (gagak).

Alat ini akan bekerja secara otomatis dengan bantuan sebatang kayu dan tali sebagai alat bantu.

Nama-nama dia beragam di sekitar NTT.

Masyarakat ada yang menyebutnya dia fetik, dia tete, dia hanit, dia taka, dia kakehe, dan dia sura.

Jeratan dipasang di kayu yang melintang karena cocok untuk burung bertengger.

Lalu umpan diberikan dan jika tali jeratan terlepas kayu yang dipasang melintang terpental dan burung terjerat dalam tali.

Resep Racun Ala Masyarakat NTT

Tadi, kita sudah membahas soal rama moruk yang memiliki anak panah beracun.

Nah, sekarang kami akan berbagi cerita tentang bagaimana racun tersebut dibuat.

Namun, perlu diketahui bahwa tidak sembarang orang dapat meramu racun rama moruk.

Hanya masyarakat Desa Kateri, Belu, yang ditunjuk sebagai kelompok yang disahkan di dalam pembuatan panah beracun ini.

Sampai sekarang pun pengetahuan mengenai hal ini eksklusif menjadi milik mereka.

1. Bahan Racun

a. Binatang

senjata tradisional ntt dan penjelasannya
Kalajengking bisa dijadikan sebagai bahan baku pembuatan racun. Sumber: id.wikipedia.org

Sumber bahan baku racun yang pertama adalah dari ekstrak atau bagian binatang.

Biasanya diambil dari racun kalajengking, bisa ular hijau, kaki seribu, laba-laba, dan lipan.

Cara mengambilnya cukup sederhana. Untuk kalajengking dikumpulkan dalam jumlah besar oleh setiap orang. Sedangkan ular hijau, laba-laba, kaki seribu, lipan hanya beberapa ekor yang diambil.

Ular hijau ambil bagian kepalanya dan giginya yang terdapat bisa.

b. Tumbuhan

senjata tradisional getah beracun ntt
Getah juga bisa dimanfaatkan dalam pembuatan racun dan diambilnya dengan cara disadap. Sumber: alamy.com

Tumbuhan juga bisa dijadikan sumber bahan racun karena berdasarkan prinsip biologi, senjata utama tumbuhan untuk melindungi diri adalah dengan kandungan kimia yang menjadi racun bagi pemakannya.

Masyarakat Desa Kateri mengambil tumbuhan seperti kuan kurau yang umbinya beracun, amoro dan tanu tusi yang getahnya beracun, dan bubuk merah dan putih yang hanya diketahui oleh peramu racun (ini rahasia ya Selasares, kami juga tidak mengetahuinya).

Cara mengambilnya beragam Selasares, kalau kuan kurau diambil langsung umbinya tetapi tidak boleh tersentuh tangan langsung, sedang amoro diambil dengan cara disadap, dan tanu tusi getahnya disadap dengan sehati-hati mungkin serta harus menutup seluruh badan agar tidak terkena getahnya karena racunnya paling kuat di antara yang lain.

2. Teknik Pembuatan

senjata tradisional flores ntt
Penggunaan racun pada senjatanya tidak hanya dilakukan oleh masyarakat NTT, tetapi Suku Mentawai juga. Sumber: youtube.com

Ingat Selasares, tidak sembarang orang bisa meracik racun.

Bahkan si peramu dapat keracunan ketika membuat racunnya.

Proses peramuannya cukup sederhana lo tapi, yakni dicampur, direndam, dan dijemur.

Pertama-tama, semua bahan dicampur kemudian direndam dalam sebuah wadah besar.

Lalu ia diaduk lagi dengan kfeha yang terbuat dari pelepah lontar atau rumbia.

Setelah dibiarkan mencampur selama dua hingga tiga hari, terlihat reaksi gelembung-gelembung seperti mendidih.

Ia ditinggalkan kembali selama dua hingga tiga minggu sembari dibuang soe furin-nya atau buih-buih gelembung.

Ini sudah mencapai tahap uji racun. Biasanya sang koki racun menggunakan belalang untuk dites.

Seekor belalang diolesi dengan racun dan ditempatkan di sebuah tanaman atau rumput bagian bawah.

Jika belalang tersebut mati setelah melata setengah rumput, maka racun normal.

Jika langsung mati, kadar racun terlalu tinggi dan jika mati dalam waktu yang lama, maka racun kadar racun akan ditambah.

Percobaan kedua akan dilakukan pada monyet yang besar.

Jika seletah ditembakkan dan monyet langsung mati, maka racun kelewat tinggi dan akan dikurangi kadarnya.

Racun yang normal adalah apabila setelah dipanah, kera berlari melewati 2 pohon dan mati, ya kurang lebih sekitar 5-10 detik.

Setelah siap, tata kora akan dilakukan. Ini adalah acara puncak pembuatan rama moruk yang berisi kegiatan membagikan racun kepada mereka yang membantu mengumpulkan bahan baku dan meracik racun.

Racun dimasukkan ke dalam wadah kecil dari bambu bernama au kenu.

Jika ingin digunakan, mata anak panah direndam dalam racun dan dijemur hingga meresap dan kering.

Oke Selasares, sekian cerita tentang ragam jenis senjata tradisional dari NTT.

Sekali lagi, kami ingatkan untuk jangan mencoba membuat racun di rumah.

Jika ingin melihat langsung senjata-senjatanya, kalian bisa langsung bermain ke NTT ha ha.

Kalau tertarik dengan senjata-senjata tradisional lain di Indonesia, bisa langsung cek di Selasar.

Geolana Wijaya Kusumah Selamat datang di bumi Geo! Halo, aku Geo bisa juga dipanggil Geol. Ya benar sekali, sesuai dengan namaku, aku suka dengan hal-hal berbau Geografi dan hobiku bergeol alias Dance.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *