Rumah Adat Sumba

Setiap wilayah di Indonesia pasti memiliki rumah adat yang memiliki keunikan tersendiri, termasuk Sumba. Rumah adat Sumba memiliki keunikan berupa atapnya yang menjulang tinggi. Bagian atap yang menjulang tinggi ini biasa disebut dengan menara. Selain menara, masih banyak lagi keunikan yang dimiliki oleh rumah adat Sumba.

Penasaran dengan keunikan rumah adat Sumba lainnya? Yuk, simak dalam artikel berikut ini!

Sejarah Rumah Adat Sumba

gambar sejarah rumah adat sumba dan sejarahnya
Sumber: https://i.pinimg.com

Kampung Prai Ijing terletak di Desa Tebara, Kabupaten Sumba Barat. Pemandangan yang penuh dengan warna hijau menghiasi sepanjang perjalanan menuju Kampung Prai Ijing. Prai Ijing sendiri terletak di atas bukit sehingga kita bisa menikmati pemandangan Waikabubak dari ketinggian.

Masyarakat setempat memiliki kepercayaan Marapu, yaitu keyakinan yang telag dianut sejak nenek moyang mereka. Leluhur nenek moyang adalah roh-roh yang dimuliakan oleh warga setempat. Oleh karena itu, kepercayaan yang dianut adalah memulikan roh-roh leluhur dari zaman dahulu kala.

Filosofi Rumah Adat Sumba

rumah adat sumba dan filosofinya
Sumber: https://pbs.twimg.com/

Kampung Prai Ijing dibangun berdasarkan kepercayaan masyarakat Sumba, yaitu Marapu. “Ma” memiliki arti “Yang”, sedangkan “rapu” memiliki arti jiwa yang sudah pergi. Masyarakat setempat berkomunikasi dengan Tuhan melalui roh-roh leluhur yang telah tiada.

Menurut mereka, arwah leluhur memiliki kedekatan yang spesial dengan Sang Pencipta. Keyakinan masyarakat Sumba atas Marapu terlihat jelas di berbagai persembahyangan adat yang dilakukan di Rumah Adat Sumba.

Di bagian depan Rumah Adat Sumba, terdapat kubur batu tempat persemayaman terakhir anggota keluarga yang telah meninggal. Setiap orang yang meninggal, dikuburkan sesuai dengan kabisu atau klan mereka. Setiap bagian Rumah Adat Sumba memiliki makna filosofis.

Satu rumah dibagi menjadi 3 bagian, yaitu menara rumah, bangunan utama, dan bagian bawah. Menara, tempat yang paling tinggi digunakan sebagai simbol bagi para arwah yang memiliki kedudukan tertinggi. Bangunan utama atau pada bagian tengah merupakan tempat tinggal pemiliknya. Bagian bawah rumah menjadi tempat penyimpanan hewan ternak dan simbol roh jahat. Pada bagian depan rumah digantungkan tulang babi dan tanduk kerbau sebagai penanda status sosial pemilik rumah.

Masyarakat NTT percaya bahwa semakin banyak pemotongan hewan ternak dilakukan, maka semakin tinggi status sosial keluarga tersebut. Di dalam Rumah Adat Sumba, terdapat rak yang terbuat dari rotan dan kayu yang digunakan sebagai altar persembahan. Selain itu, di dalam Uma Bokulu juga terdapat 4 pilar utama yang masing-masing memiliki folosofi yang mendalam.

Pilar pertama merupakan Rato, tempat imam animisme melakukan ramalam untuk melihat masa depan kehidupan masyarakat setempat. Pilar kedua yang ada di depan melambangkan nenek moyang perempuan. Sedangkan dua pilar yang ada di belakang melambangkan nenek moyang laki-laki dan perempuan serta roh kesuburan. Keempat pilat tersebut dihias dengan bentuk ukiran yang sama dengan monumen batu yang ada di sekitar desa.

Fungsi Rumah Adat Sumba

Menara adalah salah satu bagian dari Rumah Adat Sumba. Tempat ini mendapatkan perlakuan khusus karena masyarakat percaya bahwa Marapu mengawasi masyarakat dari menara tersebut. Menara ini disangga oleh 4 tiang yang sekaligus digunakan sebagai penyangga rumah. Di tengah-tengah antara 4 tiang tersebut terdapat ruangan kosong yang digunakan untuk dapur.

Di dalam Rumah Adat Sumba terdapat perapian yang digunakan untuk mengawetkan bahan makanan yang diletakkan di atasnya.

Struktur Bangunan

struktur lantai bangunan rumah adat sumba
Sumber: https://jendelakecildunia.com/

Selain disebut dengan nama Uma Bokulu, Rumah Adat Sumba juga disebut dengan nama Uma Mbatangu. Umah Mbatangu memiliki arti rumah menara. Rumah ini ketinggiannya mencapai 30 meter. Tidak ada ketentuan arah mata angin untuk membangun rumah ini sehingga pemiliknya bisa memilih untuk menghadapkan rumah ke utara, selatan, barat, maupun timur.

Namun, rumah ini memiliki ketentuan untuk dibangun mengelilingi kubur batu peninggalan zaman megalitikum. Setiap rumah dibagi menjadi 3 bagian, yaitu menara rumah, bangunan utama, dan bagian bawah.

Ada 3 buah pembagian tingkatan di Rumah Adat Sumba ini. Pertama, tingkat paling bawah disebut Sari Kabungah, tempat menyimpan hewan ternak. Kedua, bagian tengah yang digunakan sebagai tempat tinggal manusia. Bagian ini diberi perapian pada tengahnya.

Menara adalah bagian paling tinggi dari rumah ini. Bagian paling tinggi ini disebut dengan Madalo. Malado digunakan sebagai tempat penyimpanan bahan makanan dan pusaka. Selain itu, bagian paling tinggi ini juga digunakan sebagai simbol pemujaan kepada Tuhan. Terdapat 2 buah tanduk di bagian atasnya yang merupakan simbol dari laki-laki dan perempuan.

(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Makna Bagian Rumah

makna bagian rumah adat sumba
Sumber: https://riyanthisianturi.com/

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa Rumah Adat Sumba dibagi menjadi 3 bagian. Bagian bawah tempat hewan ternak dipelihara memiliki nama lain, ayitu Lei Bangun. Bagian tengah tempat tinggal pemilik rumah memiliki nama lain Ronga Uma. Sedangkan bagian paling atas, yaitu menara, memiliki nama lain Uma Dakulu.

Pada bagian atap Rumah Adat Sumba terdapat tiang yang diukir. Tiang ini berfungsi sebagai pintu pembeda antara pintu laki-laki dan pintu perempuan. Ukiran pada tiang tersebut membentuk gambar khas masyarakat Sumba.

Dalam kebudayaan Sumba, biasanya seorang kepala keluarga atau ayah masuk ke rumah melalui pintu yang berbeda (pintu laki-laki). Sedangkan pintu perempuan biasanya digunakan oleh ibu yang akan pergi ke pasar.

Rumah Adat Sumba ditopang oleh 4 tiang yang sekaligus menjadi penopang menara. Tiap tiang memiliki maknanya masing-masing. Makna tiang ini disesuaikan dengan denah Rumah Adat Sumba. Tiang laki-laki biasanya berada dekat dengan ruang tamu dan ruang diskusi. Sedangkan tiang perempuan biasanya diletakkan berdekatan dengan dapur.

Pada setiap tiang penopang tersebut diberi detail bundar. Detail bundar ini merupakan arsitektur khas Rumah Adat Sumba yang dipercaya menjadi tempat bersemayamnya para arwah nenek moyang.

Keunikan

1. Kepercayaan Marapu

fungsi atap rumah adat sumba
Sumber: https://3.bp.blogspot.com/

Masyarakat Sumba memiliki kepercayaan bahwa arwah nenek moyang mereka memiliki hubungan yang dekat dengan Sang Pencipta. Kepercayaan ini disebut dengan kepercayaan Marapu. “Ma” memiliki arti “Yang”, sedangkan “rapu” memiliki arti “jiwa yang sudah pergi. Masyarakat Sumba percaya bahwa mereka bisa berkomunikasi dengan Tuhan melalui arwah nenek moyang sebagai perantara.

Arwah nenek moyang ini disebut sering terlihat pada upacara-upacara adat dan kegiatan persembahyangan. Bahkan, nenek moyang hingga keturunan ke 7 masih sering terlihat. Keturutan ke 7 ini merupakan nenek moyang yang hidup 180 tahun yang lalu.

Kuburan keluarga yang telah meninggal biasanya diletakkan di kubur batu depan rumah. Penguburan dilakukan sesuai dengan kabisu atau klan yang dimiliki seseorang. Kabisu mempengaruhi kehidupan seseorang dalam adat Sumba mulai dari membangun rumah, pernikahan, upacara adat, hingga kedudukannya dalam bermasyarakat.

2. Tengkorak Kerbau

tanduk kerbau rumah adat sumba
Sumber: https://fotodedi.files.wordpress.com

Di bagian depan Rumah Adat Sumba terdapat tulang dan rahang babi serta tanduk kerbau dan tengkorak kerbau yang dipajang.Hal tersebut untuk mengingatkan penanggalan adat masyarakat Sumba dan peringatan kematian anggota keluarga. Kerbau merupakan hewan ternak yang dijadikan hewan adat oleh masyarakat setempat.

Mereka percaya bahwa seseorang yang meninggal membutuhkan bekal untuk menjalani kehidupan di alam selanjutnya. Oleh karena itu, tengkorak kerbau ini dijadikan sebagai bekal arwah-arwah yang telah meninggal dunia.

Daging kerbau yang dipotong bukan merupakan persoalan yang utama. Namun, kerbau dipotong dengan tujuan arwahnya akan menemani arwah orang yang meninggal tersebut. Jiwa-jiwa hewan ternak itu pergi bersama Marapu ke dunia tempat arwah merek tinggal untuk menunggu hari penghakiman.

3. Kehidupan Masyarakat yang Sederhana

tenun rumah adat sumba
Sumber: https://www.aidatenunjepara.com/

Mayoritas masyarakat Sumba bekerja dengan membuat kerajinan. Masyarakat Sumba terkenal dengan kerajinan kain tenun yang dibuat secara manual. Biasanya yang membuat kain tenun adalah ibu-ibu. Kain tenun ini dijual kepada wisatawan.

Meskipun sering didatangi wisatawan, tapi masyarakat tetap hidup sederhana secara natural. Nenek-nenek terlihat duduk di depan rumah sambil menumbuk daun sirih dan anak-anak bermain di sekitar rumah. Masyarakat Sumba menjalani kehidupan sederhana dengan tetap melestarikan adat yang telah diajarkan oleh para nenek moyang.

Nah, itu tadi adalah penjelasan mengenai Rumah Adat Sumba. Setiap rumah adat di Indonesia memiliki keunikannya masing-masing, tak terkecuali rumah adat milik masyarakat Sumba ini. Gotong royong dan bersama-sama melestarikan adat istiadat membuat kebudayaan tradisional setempat masih tetap terjaga hingga saat ini.

Nirwana Pradana Maharani

Aktif dalam organisasi dan event mahasiswa semasa berkuliah di jurusan Ilmu Komunikasi. Sedang tertarik mendalami dunia fotografi. Saya juga tertarik mengikuti artikel-artikel terkait fashion dan kuliner.

Update : [modified_date] - Published : [publish_date]

Tinggalkan komentar