Joanda Kevin consultant and content writer

Rumah Adat Sumatera Utara

7 min read

ilustrasi bangunan rumah adat sumatera utara

Apa, sih, yang akan terlintas pertama kali ketika menyebut provinsi Sumatera Utara?

Mungkin ada yang terpikirkan dengan keindahan alam danau vulkanik terbesar di dunia, Toba.

Namun, mungkin ada pula yang langsung merujuk pada Suku Batak sebagai mayoritas penduduk di provinsi yang beribukota di Medan tersebut, bukan?

Nah, berbicara tentang Suku Batak, suku ini memiliki banyak keunikan.

Termasuk salah satunya adalah rumah adat yang ternyata sangat beragam sesuai dengan sub suku yang ada.

Pengertian Rumah Adat Sumatera Utara dan Penjelasannya

ilustrasi rumah adat sumatera utara bolon
Sumber: http://budayaadatdaerah.blogspot.com

Rumah Bolon adalah rumah adat khas Sumatera Utara.

Nama bolon sendiri memiliki arti besar.

Dimana asal usul penamaan ini tidak lepas dari ukuran rumah yang besar serta pernah difungsikannya sebagai rumah bagi 14 raja purba yang memimpin Simalungun.

ilustrasi daftar raja purba rumah adat sumatera utara bolon
Sumber: https://trisuci.com

Raja-raja yang pernah mendiami Rumah Bolon tersebut adalah:

· Tuan Pangultop Ultop (1624-1648)

· Tuan Ranjimman (1648-1669)

· Tuan Nanggaraja (1670-1692)

· Tuan Batiran (1692-1717)

· Tuan Bakkaraja (1718-1738)

· Tuan Baringin (1738-1769)

· Tuan Bona Batu (1769-1780)

· Tuan Raja Ulan (1781-1796)

· Tuan Atian (1800-1825)

· Tuan Horma Bulan (1826-1856)

· Tuan Raondop (1856-1886)

· Tuan Rahalim (1886-1921)

· Tuan Karel Tanjung (1921-1931)

· Tuan Mogang (1933-1947)

Secara fisik, banguan rumah Bolon ini memiliki berbentuk segi empat dan merupakan jenis rumah panggung.

Bangunan ini ditopang oleh banyak tiang setinggi 1,75 meter dari permukaan tanah.

Keunikan yang menjadi ciri khas dari rumah ini adalah mempunyai atap melengkung pada bagian depan dan belakang yang mirip dengan pelana kuda yang terbuat dari daun rumbia atau ijuk.

Masyarakat percaya bahwa bentuk atap ini dapat membawa kesuksesan bagi para keturunan pemilik rumah.

Selain itu, karena dikeramatkan, bagian atap rumah juga sering digunakan sebagai tempat menyimpan benda pusaka.

Lantainya yang terbuat dari papan yang ditopang oleh kayu-kayu gelondong yang disusun menyilang.

Rumah ini juga dibangun menggunakan kayu yang setiap bagiannya saling dihubungkan menggunakan pasak dan tali.

Untuk memasuki Rumah Bolon harus melalui tangga dengan jumlah anak tangga ganjil yang dipercaya masyarakat dapat membawa berkah bagi pemilik rumah.

Rumah adat ini juga memiliki beragam ornamen yang merefleksikan atau menggambarkan nilai kehidupan dari masyarakat Batak.

Berikut contoh ornamen yang bisa ditemukan di Rumah Bolon dan keterangannya:

· Pinar Barospati, yaitu hiasan motif cicak yang menggambarkan bahwa masyarakat Batak mudah beradaptasi.

Melalui hiasan ini, masyarakat Suku Batak diharapkan bisa saling menjaga persaudaraan dimanapun berada, meskipun jauh dari daerah asal.

· Pinar appul-appul, yaitu hiasan motif kupu-kupu yang melambangkan rencana yang matang dan nyata.

· Pinar pahu-pahu, yaitu hiasan motif tumbuhan yang melambangkan persatuan untuk mencapai suatu tujuan.

· Tukkot matua, yaitu hiasan motif tongkat orang tua sebagai simbol usaha dalam menjaga kesehatan.

· Porkis marodor, yaitu hiasan motif semut beriringan yang memiliki arti gotong royong dan rajin bekerja.

Selain bangunannya yang unik, Rumah Bolon ini juga memiliki filosofi yang menarik untuk diketahui.

Bahwa keberadaan rumah ini diyakini sebagai pedoman pergaulan antar individu dan simbol pelestarian budaya Suku Batak.

Bangunan rumah Bolon terbagi menjadi lima bagian.

Pertama, yaitu jabu bona yang terletak di bagian sudut kanan belakang bangunan.

Ruangan ini biasanya digunakan oleh kepala keluarga pemilik rumah.

Kedua, yaitu jabu soding yang terletak di sudut kiri belakang bangunan dan berhadapan dengan ruangan jabu bona.

Ruangan ini memiliki fungsi sebagai tempat bagi anak perempuan pemilik rumah, istri para tamu, serta sebagai tempat dilakukannya upacara adat.

Ketiga, yaitu ruangan jabu suhat yang letaknya berada di sudut kiri depan bangunan.

Bagian ini diperuntukkan bagi anak laki-laki paling tua yang telah menikah.

Keempat, yaitu ruangan tampar piring yang berada di sebelah jabu suhat dan biasanya digunakan oleh para tamu.

Kelima, yaitu jabu tongatonga ni jabu bona yang diperuntukkan bagi keluarga besar.

Rumah Bolon ini dapat ditemukan di Desa Pematang Purba, yang berjarak sekitar 176 km dari Kota Medan.

Bangunan rumah tradisional ini juga menjadi bangunan dasar bagi jenis-jenis bangunan Rumah Bolon lain dengan ciri khas masing-masing, yaitu Rumah Bolon Karo, Pakpak, Mandailing, Simalungun, Angkola, dan Toba.

Jenis-Jenis Rumah Adat Sumatera Barat

Lebih lengkapnya, berikut contoh jenis-jenis rumah adat Sumatera Utara beserta gambar, foto, dan penjelasannya.

1. Rumah Karo

ilustrasi rumah adat sumatera utara karo
Sumber: http://nanginndubrebarus.blogspot.com

Rumah adat khas Suku Batak Karo ini juga dikenal dengan nama Siwaluh Jambu.

Dimana nama ini bermakna bahwa rumah itu dihuni oleh delapan keluarga dengan masing-masing perannya dalam kehidupan rumah tangga.

Keberadaan Rumah Karo ini juga tidak lepas dari sejarah pembentukan kuta atau kampung di Tanah Karo yang secara bertahap berawal dari Barung (satu rumah), Talun (tiga rumah), dan Kuta (lebih dari lima rumah).

Ciri khas dari rumah tradisional ini adalah atapnya yang berbentuk trapesium dan segitiga serta menggunakan bahan utama bambu yang disusun secara menyilang dan simetris.

Di setiap ujung atap juga biasanya dapat ditemukan kepala kerbau yang berfungsi sebagai ornamen dan penolak bala.

Bangunan ini juga ditopang dengan pondasi kayu dengan sistem ikat dan tidak ditanam ke dalam tanah.

Bangunan rumah ini juga dibangun dengan mengikuti letak hilir (kenjahe) dan hulu (kenjulu) aliran air di suatu kampung.

Sesuai makna nama rumah ini, Rumah Karo dihuni oleh delapan keluarga dan bangunan ini tidak memiliki sekat, namun tetap ada pembagian ruang tiap keluarga.

Selain itu, di dalam rumah ini juga ditemukan empat perapian yang sering disebut para-para.

Rumah tradisional Karo ini memiliki beberapa jenis yang terbagi berdasarkan atap dan dindingnya.

Berdasarkan atapnya, rumah ini terbagi menjadi dua.

Pertama yaitu Rumah Sianjung-Anjung yang memiliki empat atau lebih muka.

Kedua yaitu Rumah Mecu yang mempunyai dua muka dan bentuknya lebih sederhana.

Berdasarkan dindingnya, rumah ini juga dapat terbagi menjadi dua.

Pertama, yaitu Rumah Sangka Manuk dengan dinding terbuat dari balok yang saling tindih.

Kedua, yaitu Rumah Sendi dengan tiang yang diposisikan berdiri dan saling dihubungkan dengan balok-balok.

Meskipun jumlahnya sudah berkurang, rumah tradisional Karo masih dapat banyak ditemukan di Desa Dokan yang berada di daerah Kabupaten Karo, Sumatera Utara.

2. Rumah Pakpak

ilustrasi rumah adat sumatera utara pakpak
Sumber: http://kamisukubatak.blogspot.com

Rumah adat ini dapat ditemukan di beberapa daerah di Provinsi Sumatera Utara, seperti Kabupaten Pakpak Bharat, Kabupaten Humbang Husundutan, dan Kabupaten Tapanuli Tengah.

Bahan utama dari bangunan khas Suku Batak Pakpak ini yaitu kayu dengan atap berupa ijuk.

Berikut beberapa ciri khas yang bisa ditemukan di rumah adat dan keterangannya:

· Rumah Pakpak memiliki bubungan atap melengkung yang berbentuk seperempat lingkaran.

Bentuk ini menyimbolkan “petarik-tarik mparas igongken ndegol” atau memikul resiko dalam mempertahankan adat Kebudayaan Pakpak yang telah lama dimiliki masyarakat Pakpak.

· Bagian atas rumah dapat ditemukan sebuah cawan sebagai sebuah simbol kepercayaan masa lampau masyarakat kepada Debata Kase-kase.

· Pada segitiga bagian muka rumah dapat ditemukan tiga ukiran, yaitu perbunga kupkup, perbunga pencur, dan perbunga kembang.

· Anak tangga rumah tradisional ini ada yang berjumlah ganjil, yang menandakan bahwa penghuni merupakan keturunan raja.

Sedangkan rumah dengan tangga berjumlah genap menandakan bahwa penghuni rumah bukan keturunan raja atau masyarakat biasa.

· Pintu masuknya yang terletak di kolong rumah bermakna kerendahan hati dan kesiagaan.

· Terdapat dua buah tiang pada bagian depan rumah yang bermakna kerukunan rumah tangga antara suami-istri.

· Terdapat tanduk kerbau yang menyimbolkan semangat kepahlawanan.

· Atap Rumah Pakpak berbentuk segitiga yang menggambarkan sebuah susunan adat dalam masyarakat Suku Pakpak, yaitu senina (saudara kandung laki-laki), berru (saudara kandung perempuan), serta puang (kemenakan)

3. Rumah Mandailing

ilustrasi rumah adat sumatera utara mandailing
Sumber: https://seringjalan.com

Rumah tradisional ini merupakan tempat tinggal dari Raja marga Nasution.

Contoh cerita yang berkembang tentang marga Nasution sendiri yaitu tentang Si Baroar, anak dari Raja Iskandar Muda yang dipungut oleh Sutan Pulungan, yang yang dianggap sebagai anak orang sakti.

Sehingga keturunannya diberi nama nasution yang berasal dari kata “nasaktion” yang bermakna sakti.

Bahan utama bangunan yang bernama lain Bagas Godang ini berupa kayu, ijuk, dan batu alam.

Konsep rumah ini adalah rumah panggung yang ditopang dengan tiang kayu yang berjumlah ganjil.

Tiang-tiang kayu ini pun tidak tertanam ke tanah, tetapi diletakkan di atas permukaan batu pipih.

Tujuan dari struktur pondasi ini yaitu agar rumah dapat tahan terhadap gempa bumi dan mencegah percikan air tanah merusak struktur kayu dengan menaruh batu pada bagian bawah.

Untuk bagian dinding terdiri dari bilah-bilah papan yang saling disambungkan dengan sistem lidah.

Sedangkan untuk bagian pintu dan jendela rumah ini memiliki bentuk panel.

Rumah ini juga memiliki bagian yang bernama Tutup Ari yang dihiasi dengan berbagai ornamen, seperti Bona Bulu (bambu), Bindu (rebung), Sirih, Raga-raga, Sipatomu-tomu, Sancang Duri, Jagar-jagar, Bulan, Empat Bandul, Matahari, dan Tempurung.

Tutup Ari pun dibuat dari tiga jenis material, yaitu:

· Tumbuh-tumbuhan, contohnya seperti batang bambu, burangir atau aropik, dan pusuk ni robung.

· Hewan, contohnya seperti kalajengking, lipan, ulok, dan tanduk ni orbo.

· Peralatan sehari-hari, contohnya seperti timbangan, tempurung, loting, dan pedang.

4. Rumah Simalungun

ilustrasi rumah adat sumatera utara simalungun
Sumber: https://belajar.kemdikbud.go.id

Rumah adat yang bisa ditemukan di Kabupaten Simalungun ini mempunyai konsep rumah panggung.

Konon, rumah adat ini digunakan oleh raja Batak Simalungun yang berada di daerah Pematang Purba.

Struktur lantai rumah ini terbuat dari papan kayu dan atapnya terbuat dari ijuk.

Rumah ini juga memiliki kolong setinggi dua meter yang biasanya difungsikan untuk memelihara hewan.

Secara fisik, rumah adat ini memiliki beberapa keunikan, diantaranya adalah:

· Bangunan ini disokong oleh dua jenis tiang.

Pertama, yaitu tiang utama sebagai tiang yang menopang bangunan keseluruhan bangunan dari bawah ke atap.

Kedua, yaitu tiang tongkat atau sokong yang hanya menopang dari bawah ke lantai.

· Rumah tradisional Simalungun hanya memiliki satu akses tangga yang terletak pada bagian depan rumah dan memiliki pegangan dari bahan rotan.

· Rumah Simalungun dihiasi dengan ornamen atau hias yang terdiri dari tiga warna.

Pertama adalah warna merah yang bermakna kekuasaan dunia yang penuh perjuangan manusia dan terjadinya pertarungan antara hak batil dan hal baik.

Kedua adalah warna putih yang punya makna roh dan kesucian.

Ketiga adalah warna hitam yang bermakna kematian dan simbol iblis.

5. Rumah Nias

Rumah tradisional khas Suku Nias ini terdiri dari dua jenis.

Pertama adalah Omo Hada yang pemiliknya merupakan masyarakat biasa atau umum dan ditopang sebanyak enam tiang utama.

ilustrasi rumah adat sumatera utara omo hada
Sumber: https://www.denaiguna.com

Empat dari enam tiang ini berada di tengah rumah dan terdiri dari dua tiang simalambuo dan dua tiang manaba.

Sedangkan dua tiang sisanya tertutup oleh dinding kamar utama.

Kedua yaitu Omo Sebua yang biasanya berada di tengah desa dan pemilik atau penghuni rumah merupakan para bangsawan, kepala desa (salawa), atau kepala negeri (tuhenori).

ilustrasi rumah adat sumatera utara omo sebua
Sumber: https://zonadollar.com/

Ciri khas dari rumah ini adalah atap curam yang menjulang hingga setinggi 16 meter.

Selain dari segi pemilik, rumah nias ini dapat terbagi juga berdasarkan letak geografisnya, yaitu:

· Rumah Nias Selatan, yaitu rumah-rumah yang terletak di ujung Selatan Kabupaten Nias Selatan.

· Rumah Nias Tengah, yaitu rumah-rumah yang terletak di bagian Timur dan pedalaman Kabupaten Nias Selatan.

· Rumah Nias Utara, yaitu rumah-rumah yang letaknya di Kabupaten Nias, Nias Utara, Nias Barat, dan Kota Gunungsitoli.

Ciri khas dari rumah adat ini adalah bangunannya yang dibangun beralaskan rumbia dan ditopang menggunakan kayu nibung.

Pondasi rumah ini tidak tertanam ke dalam tanah dan kerangka bangunan tidak menggunakan paku.

Di samping itu, rumah ini juga ditopang dengan Ndriwa.

Yaitu tiang-tiang yang menyokong rumah ke empat arah dan diletakkan secara diagonal di antara tiang-tiang vertikal.

Rumah ini juga terdiri dari dua bagian, yaitu bagian depan yang digunakan untuk para tamu dan bagian belakang yang digunakan oleh pemilik rumah.

Selain itu, di bagian dalam dan luar Rumah Nias juga dapat ditemukan ukiran kayu yang cukup rumit.

6. Rumah Melayu

ilustrasi rumah adat sumatera utara melayu
Sumber: https://www.bramblefurniture.com

Rumah adat ini adalah hasil dari refleksi cara hidup masyarakat Melayu di Sumatera Utara yang memegang teguh nilai-nilai masyarakat, agama, adat, dan keluarga.

Rumah ini memiliki ciri khas berupa cat bangunan berwarna hijau dan kuning.

Selain itu, hampir seluruh bagian rumah ini seperti tangga, lantai, dan tiang terbuat dari kayu.

Beberapa motif yang bisa ditemukan dalam ornamen yang ada di Rumah Melayu adalah pola flora, fauna, geometris, dan kosmos.

Saat ini, Rumah Melayu banyak ditemukan di Kabupaten Labuhan, Kota Medan, Kabupaten Deli Serdang, Kabupaten Langkat, Kabupaten Batu Bara, Kabupaten Serdang Begadai, dan Kabupaten Tebing Tinggi.

7. Rumah Balai Batak Toba

ilustrasi rumah adat sumatera utara balai batak toba
Sumber: https://interaktif.kompas.id

Rumah ini terdiri dari dua bagian.

Pertama yaitu jabu parsakitan yang memiliki fungsi sebagai tempat penyimpanan barang dan tempat pembicaraan hal-hal yang berkaitan dengan adat.

Kedua yaitu jabu bolon dengan ciri rumah yang tidak memiliki sekat dan dipergunakan sebagai tempat tinggal keluarga besar.

Bagi masyarakat setempat, bangunan ini memiliki filosofi tersendiri.

Bagian atap menggambarkan dunia para dewa, bagian lantai menggambarkan dunia manusia, dan bagian kolong menggambarkan dunia kematian.

8. Rumah Angkola

ilustrasi rumah adat sumatera utara angkola
Sumber: https://www.nesabamedia.com

Rumah ini merupakan rumah khas dari Suku Batak Angkola.

Rumah ini juga menggunakan konsep panggung dan terdiri dari dinding dan lantai berbahan kayu.

Ciri khas yang paling menonjol dari bangunan ini adalah penggunaan warna hitam yang dominan.

Dapat disimpulkan bahwa Rumah Bolon merupakan rumah adat khas Sumatera Utara.

Namun Rumah Bolon ini terdiri dari berbagai jenis yang dibedakan sesuai dengan sub Suku Batak dan bahkan letak geografisnya.

Secara umum, rumah adat Bolon ini menggunakan konsep panggung yang ditopang dengan tiang dan setiap bagian dari bangunan rumah tradisional ini memiliki arti atau filosofi tersendiri bagi masyarakat setempat, khususnya Suku Batak.

Harapannya artikel ini dapat menambah wawasan pembaca tentang Rumah adat di Provinsi Sumatera Utara.

Semoga bermanfaat!

Joanda Kevin consultant and content writer

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *