Geolana Wijaya Kusumah Selamat datang di bumi Geo! Halo, aku Geo bisa juga dipanggil Geol. Ya benar sekali, sesuai dengan namaku, aku suka dengan hal-hal berbau Geografi dan hobiku bergeol alias Dance.

Rumah Adat Sulawesi

7 min read

rumah adat gorontalo sulawesi

Pulau Celebes atau Pulau Sulawesi merupakan pulau terbesar keempat di Indonesia dengan enam provinsi di dalamnya.

Di pulau ini juga terdapat banyak sekali suku-suku adat yang memiliki kebudayaan khas masing-masing.

Mereka punya jejak leluhur yang masih dilestarikan hingga saat ini, yaitu rumah adat mereka sendiri.

Yuk, kita intip seperti apa rumah-rumah adat di Sulawesi.

Daftar rumah adat di Sulawesi:

1. Rumah adat Sulawesi Utara

Rumah adat Suku Minahasa

rumah adat silidan sulawesi utara
Rumah silidan untuk masyarakat biasa. Sumber: roragusdo.com

Provinsi yang beribu kota Manado ini merupakan tempat asal Suku Minahasa.

Diambil dari kata minaesa yang berarti persatuan, Suku Minahasa adalah kelompok etnis mayoritas di Sulawesi Utara.

Leluhurnya berasal dari Pulau Kalimantan. Mereka membangun rumah panggung dari kayu-kayu yang mereka bawa.

Kayu ulin dari Kalimantan dipercaya dapat membuat rumah yang kuat dan anti lapuk.

Rumah adat Sulawesi Utara ada dua Selasares, namanya Rumah Walewangko dan Rumah Bolaang Mongondow.

Rumah adat Walewangko lebih sering dijumpai dibandingkan Rumah Bolaang Mongondow, terutama di daerah Langowan Barat karena berasal namanya diambil dari Desa Walewangko.

Wale atau bale berarti rumah yang digunakan untuk beraktivitas dengan seluruh penghuni rumah atau anggota keluarga.

Kedua rumah panggung ini dulu ditempati oleh enam hingga sembilan keluarga.

Jika satu keluarga terdiri dari pasangan suami istri dengan dua anak, bayangkan keluarga tersebut dikali enam atau bahkan sembilan.

Ya, salah satu alasan penghuni rumah sebanyak itu adalah untuk menghemat biaya hidup.

Namun, mereka hidup dengan rukun karena rasa persaudaraan yang erat.

Perbedaan kedua rumah ini terletak pada atap dan tangganya.

Bentuk atap Rumah Bolaang Mongondow dibuat melintang dengan puncak atap atau bubungan cukup curam.

Sedangkan bentuk atap Rumah Walewangko dibuat segitiga dengan bubungan yang bertingkat sesuai status sosial.

atap rumah adat bolaang mongondow sulawesi utara
Bentuk atap yang unik dimiliki oleh Rumah Bolaang Mongondow. Sumber: olx.co.id

Tangga Rumah Walewangko terdapat dua jalur, yaitu kanan dan kiri.

Dua buah tangga tersebut dipercaya dapat mencegah roh jahat untuk masuk.

Ketika roh jahat menaiki tangga jalur kanan maka dia akan turun lagi lewat tangga jalur kiri dan sebaliknya.

Selain itu, pemasangan dua tangga juga berfungsi sebagai pengatur lalu lintas tamu-tamu yang datang jika sedang ada kegiatan besar di rumah.

Sedangkan tangga Rumah Bolaang Mongondow hanya ada satu jalur atau satu tangga saja. Biasanya di depan rumah atau salah satu sisi kanan atau kiri rumah.

2. Rumah adat Gorontalo

Rumah adat Dulohupa

rumah adat provinsi gorontalo sulawesi
Rumah Dulohupa milih bangsawan berukuran besar dan megah. Sumber: arcadiadesain.com

Rumah Dulohupa dengan nama lengkap yiladia dulohupa lo ulipu hulondhalo adalah rumah adat dari Provinsi Gorontalo.

Rumah ini berasal dari Desa Limba, Kota Selatan, Kota Gorontalo.

Ia juga merupakan rumah panggung dengan atap khas Gorontalo dan dua jalur tangga di kanan dan kiri yang disebut tolitihu.

Dulohupa dalam bahasa daerah Gorontalo berarti mufakat.

Baca juga:   Rumah Adat Lampung

Rumah adat ini juga dijadikan sebagai tempat bermusyawarah dan mengambil keputusan dalam urusan keluarga, kerukunan tetangga, hingga pemerintahan.

Filosofi rumah panggung oleh masyarakat Gorontalo diartikan sebagai penggambaran tubuh manusia.

Atap sebagai kepala, badan rumah sebagai badan, dan tiang penyangga panggung sebagai kaki.

Mereka harus lengkap untuk membuat tubuh yang kuat dan sempurna.

Mendirikan rumah bagi masyarakat Gorontalo tidak sekedar membangun, jadi, dan ditempati.

Ia dibangun berdasarkan nilai dan prinsip kepercayaan setempat.

Atap rumah dengan bentuk pelana dari jerami tersusun dua tingkat melambangkan syariat dan adat warga Gorontalo.

Tingkat pertama di atas menandakan Tuhan Yang Maha Esa dan menjadikannya sebagai kepentingan dasar manusia.

Tingkat kedua di bawahnya menandakan kebudayaan dan adat istiadat Gorontalo yang harus dijaga.

Penangkal roh jahat atau talapua dipasang di atap rumah yang berbentuk dua batang kayu saling bersilangan.

rumah adat dulohupa sulawesi
Gambar rumah adat Dulohupa khas Gorontalo. Sumber: twitter.com

Jumlah anak tangga dari salah satu tangganya adalah lima atau tujuh.

Angka 5 mengartikan rukun Islam dan lima filosofi hidup masyarakat Gorontalo, yaitu bangusa talalo atau menjaga keturunan, lipu poduluwalo atau mengabadikan diri untuk membela negeri, dan batanga pomaya, upango potombulu, nyawa podungalo atau mempertaruhkan nyawa untuk mengorbankan dan menyumbangkan harta.

Sedangkan angka 7 melambangkan tujuh nafsu manusia dalam Islam seperti amarah atau dorongan batin untuk berbuat yang kurang baik, lawamah atau dorongan batin untuk mengikuti jalan kebaikan dan kebenaran, mulhimah atau selalu mendapat ilham supaya berbuat menunaikan kebaikan, mutmainah atau dorongan batin untuk mempertahankan diri dari segala kejahatan karena selalu ingat kepada Tuhan, radiah atau dorongan batin yang diridai Tuhan, mardiah atau nafsu yang sudah mendapatkan keridaan dari Tuhan, kamilah atau nafsu yang yang sudah bersih dari semua karakter karakter tercela.

Selain Rumah Dulohupa, ada juga rumah adat lain yang masih belum dikenal banyak oleh masyarakat Indonesia, yaitu rumah adat Bandoyo Paboide dari Limboto, rumah adat Ma’lihe atau Potiwaluya dari Bone Balongo, dan rumah adat Gobel yang juga dari Bone Balongo.

3. Rumah adat Sulawesi Tengah

a. Rumah adat Tambi

rumah adat tambi sulawesi dan keterangannya
Pesona Rumah Tambi dengan atapnya yang juga dijadikan dinding rumah. Sumber: indonesiasejarahbangsa.wordpress.com

Rumah Tambi adalah rumah panggung yang atapnya juga dijadikan dinding karena saking panjangnya.

Rumah dengan atap dari daun rumbia ini merupakan rumah bagi Suku Kaili dan Suku Lore.

Di beberapa wilayah di Sulawesi Tengah, penduduk menjadikan rumah adat ini sebagai rumahnya.

Pondasi rumah terbuat dari batu alam yang ditumpuk dan untuk tangganya terbuat dari daun rumbia atau daun bambu.

Untuk rumah kepala adat, jumlah anak tangga harus ganjil sedangkan untuk rumah biasa berjumlah genap.

Ruangan di Rumah Tambi hanya ada satu dan semua kegiatan seperti masak, makan, tidur, berdiskusi, dan bermain dilakukan di dalam rumah juga hanya di satu ruangan itu.

Beberapa kantor di Sulawesi Tengah mengadaptasi arsitektur Rumah Tambi hanya saja menambah kapasitas dan jumlah ruangan di dalamnya.

b. Rumah adat Banua Oge

rumah adat souraja sulawesi tengah
Rumah adat Banua Oge atau Souraja. Sumber: gpswisataindonesia.info

Rumah Banua Oge juga sering disebut dengan Rumah Souraja.

Ia berasal dari Kelurahan Lere, Palu Barat. Ia termasuk rumah yang sejarahnya masih muda karena didirikan atas perintah Raja Yodjokodi sekitar abad 19.

Sang raja mengkombinasikan arsitektur Suku Bugis dan Kaili. Fungsi rumahnya adalah sebagai tempat tinggal keluarga kerajaan dan juga sebagai tempat pemerintahan.

Baca juga:   Rumah Adat Lombok

c. Rumah adat Lobo

rumah adat lobo sulawesi tengah
Rumah adat Lobo dari Sulawesi Tengah yang juga memiliki atap besar dari ijuk atau daun rumbia. Sumber: arhulagung.wordpress.com

Daerah Kulawi memiliki rumah adat yang bernama Rumah Lobo.

Rumah ini khas karena tujuan kebaikan yang diampunya, yaitu sebagai rumah inap apabila ada warga daerah lain yang tidak bisa pulang karena sudah larut malam.

Ia juga berfungsi sebagai balai rapat tetua adat, sidang adat, upacara, perayaan panen, dan rapat penentuan kapan membuka ladang.

Atapnya juga besar seperti Rumah Tambi, tetapi tidak dijadikan sebagai dinding rumah melainkan seperti kanopi.

4. Rumah adat Sulawesi Barat

Rumah adat Suku Mandar

rumah adat sulawesi selatan dan penjelasannya
Rumah adat Suku Mandar dapat ditemukan di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat. Sumber: travel.detik.com

Suku Mandar adalah salah satu suku yang berpopulasi tinggi di Sulawesi Barat.

Tidak hanya Sulawesi Barat, masyarakatnya juga ada yang tinggal di Sulawesi Selatan.

Mereka tinggal di Rumah Boyong. Bentuk rumahnya juga rumah panggung dengan atap berbentuk prisma dan memanjang dari bagian depan sampai bagian belakang rumah.

Umumnya terbuat dari seng tetapi versi orisinalnya dari daun rumbia.

Warna rumah-rumah adat Suku Mandar ini biasanya berwarna gelap atau warna kayu (cokelat atau cokelat tua).

Walau gelap, tidak membuat rumahnya panas lho, justru membuatnya adem dan nyaman.

Rumah untuk kaum bangsawan Suku Mandar disebut boyang adaq dan terdiri dari tiga hingga tujuh tumpukan bubungan.

Sedangkan untuk rumah warga biasa disebut boyang beasa.

5. Rumah adat Sulawesi Tenggara

a. Rumah adat Suku Tolaki

rumah adat suku tolaki sulawesi tenggara
Rumah Laika, salah satu rumah adat khas Suku Tolaki dari Sulawesi Tenggara. Sumber: thecolourofindonesia.com

Secara universal, rumah yang ditinggali oleh Suku Tolaki adalah laika dan raha.

Rumah di atas tiang-tiang kayu ini berbentuk segi empat dan berukuran cukup luas.

Membuat kedua rumah ini tidak boleh di tengah hutan belantara atau yang dipenuhi alang-alang dan pepohonan. Mereka dibangun di tempat terbuka dan datar.

Rumah Laika dibangun meningkat dan biasanya terdiri dari tiga lantai.

Lantai pertama dan kedua sebagai tempat tinggal dan lantai ketiga sebagai tempat penyimpanan barang pustaka.

Jika terdapat lantai keempat, maka digunakan untuk tempat ibadah atau kegiatan adat.

Kedua rumah memiliki kolong yang difungsikan sebagai tempat memelihara hewan ternak seperti ayam dan babi.

Karena rumahnya besar dan mewah, laika dan raha tidak dimiliki secara sembarang oleh seseorang.

Biasanya dihuni oleh bangsawan atau keluarga kerajaan.

Melihat ceritanya bahwa mereka pernah menjadi tempat tinggal untuk raja dan permaisuri dan juga melihat betapa mahalnya pasti untuk membangun kedua rumah tersebut.

b. Rumah adat Suku Wolio

rumah adat banua tada sulawesi tenggara
Gambar Rumah Banua Tada dari Sulawesi Tenggara. Sumber: pariwisatakolaka.blogspot.com

Suku Wolio atau orang Buton adalah kelompok etnis yang menghuni Pulau Buton di Sulawesi Tenggara.

Rumah mereka dinamakan banua tada yang berarti rumah (banua) siku-siku (tada).

Rumah Banua Tada terbagi menjadi tiga berdasarkan klasifikasi status sosial.

Untuk para raja dan keluarganya, mereka tinggal di kamali atau istana.

Untuk pejabat dan bangsawan, mereka tinggal di banua tada tare pata pale.

Dan untuk rakyat, mereka tinggal di banua tada tare talu pale.

6. Rumah adat Sulawesi Selatan

a. Rumah adat Suku Makassar

rumah adat provinsi sulawesi selatan
Museum Balla Lampoa yang memajangkan rumah adat Suku Makassar. Sumber: tripadvisor.com

Rumah adat panggung khas Suku Makassar biasa disebut dengan balla.

Ia berdiri sekitar dua sampai tiga meter di atas tanah dengan ditopang oleh tiang-tiang dari kayu.

Atapnya yang berbentuk pelana bersudut lancip menghadap ke bawah, terbuat dari daun rumbia, nipah, alang-alang, bambu, atau ijuk.

Nah, atap ini ternyata menjadi simbol status sosial pemiliknya Selasares.

Bubungan atau puncak atap membentuk susunan yang bertingkat.

Semakin banyak tingkatannya maka semakin tinggi derajat sosialnya di masyarakat, artinya seorang bangsawan bahkan keluarga kerajaan.

Rumah bangsawan ini memiliki tangga yang disebut sapana dengan coccorang atau pegangan tangan serta terdiri dari tiga sampai empat anak tangga pertama yang terbuat dari bambu.

Anak tangganya berjumlah genap. Sedangkan tangga untuk rakyat biasa atau tukak berjumlah ganjil dan tidak ber-coccorang.

Jadi, harus hati-hati ketika menaiki balla biasa.

Bagian kolong rumah biasanya dijadikan untuk tempat memelihara hewan ternak seperti sapi dan kuda.

Kalau sedang tidur, kita bisa mendengar suara mereka lho Selasares.

b. Rumah adat Suku Bugis

rumah adat dari sulawesi selatan
Gambar rumah adat Suku Bugis. Sumber: timur-angin.com

Rumah adat Suku Bugis diberi nama saoraja dan bola.

Saoraja adalah rumah untuk bangsawan, tokoh adat, atau keluarga kerajaan.

Sedangkan bola adalah rumah untuk rakyat biasa.

Perbedaan kedua rumah terlihat dari ukurannya dan bubungan atapnya yang disebut timpak laja.

Golongan bangsawan memiliki gelar karaeng dan daeng. Karaeng memiliki timpak laja mulai dari tiga tingkat ke atas dan daeng dua tingkat.

Bagian-bagian rumah meliputi rakkaeng atau atap dan langit-langit untuk menyimpan benda pusaka, alebola (ale = dalam dan bola = rumah) yang berarti badan rumah (termasuk kamar, ruang tengah, dapur, dan sebagainya), dan awabola (awa = bawah dan bola = rumah) atau kolong rumah untuk tempat hewan ternak dan penyimpanan alat-alat tani.

Tidak dibiarkan polos, alebola juga dihiasi dengan ornamen corak alam baik flora maupun fauna.

Ia merepresentasikan doa untuk keberuntungan dan kekuatan bagi penghuni rumah.

c. Rumah adat Suku Toraja

rumah adat daerah sulawesi selatan
Rumah Tongkonan khas Suku Toraja. Sumber: nilaprawitasari.wordpress.com

Pernah mendengar jenazah dimakamkan di gua? Itu adalah salah satu ritual adat yang dilakukan di Suku Toraja.

Suku Toraja juga terkenal dengan rumahnya yang khas bernama tongkonan.

Atapnya besar dan berbentuk seperti perahu terbalik.

Jenis rumah adat Suku Toraja terbagi menjadi tiga, yaitu tongkonan layuk sebagai pusat pemerintahan, tongkonan pekamberan sebagai rumah untuk penguasa adat dan keluarganya, dan tongkonan batu ariri sebagai rumah masyarakat biasa.

Rumah Tongkonan terdiri dari tiga bagian penting, yaitu ratting banua atau atap dan langit-langit; kale banua atau badan rumah; tengalok atau bagian utara rumah yang terdapat ruang tamu, kamar tidur anak, dan tempat sesajen; sali atau bagian utama rumah seperti dapur, tempat makan, berkumpul keluarga, dan meletakkan mayat; sambung atau bagian selatan rumah yang berisi kamar kepala keluarga.

d. Rumah adat Suku Luwu

rumah adat panggung sulawesi selatan
Rumah adat panggung khas Suku Luwu. Sumber: flickr.com

Lihatlah gambar di atas, atapnya bertingkat-tingkat dan pasti Selasares sudah paham maksud dari hal tersebut.

Ya, Suku Luwu juga melihatkan status sosial mereka dari rumahnya. Awalnya, hanya dihuni oleh raja-raja dan keluarganya.

Namun, seiring berjalannya waktu kalangan bangsawan bahkan rakyat biasa bisa membangun rumah adat ini.

Rumah ini dihiasi dengan ornamen-ornamen ciamik yang disebut ukiran prengreng.

Makna dari prengreng adalah simbol hidup yang panjang dan meski akhir hayat menjemput, kehidupan akan terus berlanjut karena anak cucu kita.

Ini adalah akhir cerita dari rumah adat Sulawesi. Eits, tenang saja, jika Selasares ingin tahu lebih lanjut soal rumah-rumah adat yang ada di masing-masing provinsi di Sulawesi, kamu bisa akses semua artikelnya di Selasar.com.

Jangan lupa ceritakan informasi ini dan tetaplah kepo dengan banyak hal.

Geolana Wijaya Kusumah Selamat datang di bumi Geo! Halo, aku Geo bisa juga dipanggil Geol. Ya benar sekali, sesuai dengan namaku, aku suka dengan hal-hal berbau Geografi dan hobiku bergeol alias Dance.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *