Geolana Wijaya Kusumah Selamat datang di bumi Geo! Halo, aku Geo bisa juga dipanggil Geol. Ya benar sekali, sesuai dengan namaku, aku suka dengan hal-hal berbau Geografi dan hobiku bergeol alias Dance.

Rumah Adat Sulawesi Tenggara

3 min read

rumah adat sulawesi tenggara dan penjelasannya

Teembe bwobwono Selasares? Itu artinya apa kabar Selasares? He he, kali ini kami akan mengajak kamu untuk mengeksplorasi salah satu kaki di Pulau Sulawesi.

Ha ha, jangan diambil serius. Kaki yang dimaksud tidak lain adalah Provinsi Sulawesi Tenggara.

Provinsi yang akrab dipanggil Sultra (bukan sutra ya) ini memiliki dua suku etnis mayoritas, yaitu Suku Tolaki dan Wolio.

Keduanya memiliki rumah adat unik yang Selasares wajib lihat. Yuk, simak cerita rumah adat Sulawesi Tenggara berikut ini.

Berkenalan dengan rumah adat Sulawesi Tenggara

gambar rumah adat laikas khas sulawesi tenggara
Kita bisa berkunjung ke Sulawesi Tenggara untuk menikmati keindahan arsitektur Rumah Laika khas Suku Tolaki. Sumber: noldy90.blogspot.com

Tak kenal maka tak sayang, Suku Tolaki dan Suku Wolio yang menonjol di Sulawesi Tenggara menerapkan sistem nilai budaya ketika membangun sebuah bangunan untuk dihuni maupun untuk berkumpul.

Rumah-rumah dianalogikan sebagai tubuh manusia.

Rumah adat kedua suku ini sudah bercampur dengan unsur modern.

Perubahan zaman membuat interior dari suku Tolaki dan suku Wolio tidak lagi sepenuhnya mengandung makna adat yang di tanamkan leluhur.

Jadi jangan heran jika kamu sulit menemukan rumah kedua suku yang murni orisinil ketika berkunjung ke Sultra.

Jenis rumah adat Sulawesi Tenggara

1. Rumah adat Suku Tolaki

Laika atau raha

rumah adat suku wolio disebut banua tada
Rumah adat Suku Tolaki milik bangsawan atau raja dahulu. Sumber: id.wikipedia.org

Rumah adat khas Suku Tolaki umumnya disebut laika di daerah Konawe dan raha di daerah Mekongga.

Keduanya merupakan rumah panggung dengan tiang-tiang kayu atau o’tusa, lantai atau ohoro, dinding atau orini, pintu atau otombo, tangga atau lausa, jendela atau lomba-lomba, serta atap rumah.

Ukuran rumah ini luas dan berbentuk segi empat dengan tinggi sekitar 18 sampai 21 meter.

Baca juga:   Rumah Adat Toraja

Ia berdiri 5 meter di atas tanah. Dibangunnya di alam terbuka atau hutan yang memiliki lapangan dan dikelilingi alang-alang.

Cukup menjadi misteri kenapa dahulu dibangunnya di dalam hutan.

Rumah masyarakat Tolaki terbagi menjadi tiga bagian, yakni bagian bawah atau kolong bermakna sebagai aplikasi dari dunia bawah (puriwuta), yang dimaksud untuk menghindari banjir, tempat binatang ternak, tempat bersantai, tempat menjemur pakaian atau bahan makanan ketika hujan, tempat menyimpan alat pertanian, agar rumah menjadi dingin dan terhindar dari binatang buas; bagian atas yang merupakan ruang yang berfungsi sebagai tempat beraktivitas; dan bagian tengah mewakili dunia tengah sebagai pandangan falsafah perwujudan alam semesta.

rumah adat suku tolaki sulawesi tenggara
Rumah Laika, salah satu rumah adat khas Suku Tolaki dari Sulawesi Tenggara. Sumber: thecolourofindonesia.com

Keunikan dari laika maupun raha terletak pada macam-macam rumah adat yang diklasifikasikan berdasarkan fungsinya.

Ada laika mbu’u sebagai rumah utama atau rumah keluarga yang berukuran besar.

Sedangkan untuk raja bertempat disebut komali atau laika owose.

Rumah di tengah kebun atau di pinggirnya mereka juga ada yang bernama laika landa.

Ini dibangun untuk beristirahat sementara setelah lelah bercocok tanam.

Nah, yang versi lebih kecilnya dari laika landa serupa dengan gubuk kecil di sawah dinamakan laika patande.

Untuk menyimpan hasil tani khususnya padi, selain di kolong rumah mereka juga menggunakan o’ala, yaitu sejenis rumah penyimpanan.

foto rumah adat sulawesi tenggara
Sekilas interior rumah adat Suku Tolaki di Konawe. Rumah juga digunakan untuk tempat berdiskusi. Sumber: lintassultra.com

Ada juga rumah rahasia yang didirikan dengan menggunakan sandi atau kode tertentu.

Namanya laika kataba dan dibangun dari balok dan papan.

Selain rumah rahasia, Suku Tolaki juga mendirikan rumah kosong yang tidak dihuni siapapun untuk orang istirahat setelah mereka melaksanakan tugas mengayau atau penggal kepala, perjalanan jauh, dan lain-lain.

Namun, Rumah pengayauan atau laika mborasaa ini sering disalahgunakan oleh penjahat.

Baca juga:   Rumah Adat Karo

Mereka menunggu orang-orang yang ingin beristirahat di laika mborasaa dan menculik atau merampok harta orang-orang yang singgah.

Jika raja atau bangsawan meninggal, mereka memiliki rumah makam sendiri.

Disebut juga laika sorongga atau laika nggoburu, rumah penguburan ini diurus oleh beberapa budak kerajaan.

Terakhir, ketika zaman penjajahan Belanda, mereka meninggalkan pengaruh terhadap rumah Suku Tolaki yang bernama laika walanda.

Gaya arsitektur Belanda dibuat memanjang seperti asrama.

Ia digunakan oleh orang-orang Belanda untuk bersantai seperti berdansa ataupun pesta. Asyik juga jadi orang Belanda he he.

2. Rumah adat Suku Wolio

Banua tada

rumah adat banua tada sulawesi tenggara
Gambar Rumah Banua Tada dari Sulawesi Tenggara. Sumber: pariwisatakolaka.blogspot.com

Banua tada adalah sebutan rumah adat Suku Wolio.

Rumah Banua Tada merupakan rumah tempat tinggal Suku Wolio atau masyarakat Buton di Pulau Buton, Sulawesi Tenggara.

Kata banua dalam bahasa setempat berarti rumah sedangkan kata tada berarti siku-siku. Jadi, banua tada dapat diartikan sebagai rumah siku-siku.

rumah adat sulawesi tenggara dan keterangannya
Kerangka rumah adat Banua Tada Suku Wolio. Sumber: sintiaalatas-scnm.blogspot.com

Rumah Banua Tada terbagi menjadi tiga berdasarkan klasifikasi status sosial.

Untuk para raja dan keluarganya, mereka tinggal di kamali atau istana.

Ia berukuran cukup besar dan biasanya bertingkat tiga lantai.

Lantai pertama difungsikan sebagai tempat tinggal raja beserta permaisurinya.

Karena itu dilengkapi dengan ruang makan, ruang tidur dan ruang tamu yang terletak di depannya.

Lantai kedua untuk tempat keluarga, pada kiri dan kanan lantai dua terdapat ruangan tempat menenun kain yang bernama bane.

Lantai ketiga untuk tempat beribadah atau melakukan kegiatan adat

Untuk pejabat dan bangsawan, mereka tinggal di banua tada tare pata pale.

Dan untuk rakyat, mereka tinggal di banua tada tare talu pale.

Bagian-bagian rumah adat Suku Wolio secara universal terdiri dari atap rumah, kasolaki atau balok penghubung, tutumbu atau tiang pondasi rumah panggung, oda atau tangga, bamba atau pintu, lante atau lantai, rindi atau dinding, dan bala-bala bamba atau jendela.

desain arsitektur rumah adat sulawesi tenggara
Ilustrasi arsitektur Rumah Banua Tada. Sumber: issuu.com

Tidak lupa juga rumah adat ini dihiasi dengan pernak-pernik molek bermotif flora atau fauna.

Motif flora biasanya ada empat, yaitu nanasi atau hiasan berbentuk buah nanas, bosu-bosu atau buah pohon butun (baritongia asiatica), ake atau daun, dan kambang atau kelopak teratai atau bunga matahari.

Sedangkan motif fauna biasanya menunjukkan gambar atau ornamen bentuk naga di langit.

Motif-motifnya memiliki arti masing-masing. Nanas diartikan sebagai simbol keuletan orang Buton untuk mencari nafkah.

Buah pohon butun yang mirip buah delima menyiratkan tanda keselamatan, keteguhan, dan kebahagiaan.

Daun melambangkan kesempurnaan. Kelopak bunga teratai atau matahari manandakan kesucian.

Terakhir, naga melambangkan kekuasaan dan pemerintahan.

Naga juga dipercaya dapat menghindari pengisi rumah dari marabahaya, terutama dari angin kencang.

Mungkin itu saja cerita tentang rumah adat Sulawesi Tenggara.

Jika kesempatannya sudah datang untukmu pergi ke Sultra, sempatkanlah mengagumi karya arsitektur leluhur dari Suku Tolaki dan Suku Wolio.

Cerita tentang rumah adat di Pulau Sulawesi lainnya ada di Selasar.com. Terima kasih dan sampai jumpa.

Geolana Wijaya Kusumah Selamat datang di bumi Geo! Halo, aku Geo bisa juga dipanggil Geol. Ya benar sekali, sesuai dengan namaku, aku suka dengan hal-hal berbau Geografi dan hobiku bergeol alias Dance.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *