Geolana Wijaya Kusumah Selamat datang di bumi Geo! Halo, aku Geo bisa juga dipanggil Geol. Ya benar sekali, sesuai dengan namaku, aku suka dengan hal-hal berbau Geografi dan hobiku bergeol alias Dance.

Rumah Adat Sulawesi Selatan

5 min read

foto rumah adat sulawesi selatan

Tabe ji, kali ini kami akan membawakan cerita tentang salah satu rumah adat di provinsi asal pahlawan dengan julukan ‘Ayam Jantan dari Timur’ alias Sultan Hasanuddin.

Yuk kita mengintip seperti apa rumah adat Sulawesi Selatan.

Daftar rumah adat Sulawesi Selatan

Eits, sebelum memulai perjalanan cerita kita perlu mengetahui bahwa di Sulawesi Selatan sendiri terdapat banyak suku-suku dan kami akan menceritakan tentang suku-suku yang menjadi mayoritas di Sulawesi Selatan.

1. Rumah adat Suku Makassar

rumah adat provinsi sulawesi selatan
Museum Balla Lampoa yang memajangkan rumah adat Suku Makassar. Sumber: tripadvisor.com

Rumah adat dari Suku Makassar berbentuk rumah panggung.

Biasa disebut dengan balla, rumah ini berdiri sekitar dua sampai tiga meter di atas tanah.

Ditopang dengan pondasi kayu yang terdiri dari lima kayu penyangga ke belakang dan lima kayu penyangga ke samping membentuk persegi panjang.

Atapnya yang berbentuk pelana bersudut lancip menghadap ke bawah, terbuat dari daun rumbia, nipah, alang-alang, bambu, atau ijuk.

Atap rumah menjadi simbol status sosial pemiliknya.

Dilihat dari jumlah tingkat timbaksela-nya atau puncak atap yang berbatasan dengan dinding berbentuk segitiga.

Semakin tinggi susunan timbaksela atap maka semakin tinggi status sosialnya.

Umumnya bangsawan memiliki tiga sampai lima tingkatan dan untuk raja atau pemimpin daerah bisa lebih dari lima.

Untuk memasuki rumahnya kita harus menaiki tangga kayu.

Nah, ternyata jumlah anak tangganya juga memengaruhi status sosial pemiliknya.

Rumah bangsawan memiliki tangga yang disebut sapana dengan coccorang atau pegangan tangan serta terdiri dari tiga sampai empat anak tangga pertama yang terbuat dari bambu. Anak tangganya berjumlah genap.

Sedangkan tangga untuk rakyat biasa atau tukak berjumlah ganjil dan tidak ber-coccorang.

Bagian bawah atau kolong rumah yang disebut siring tidak dibiarkan begitu saja Selasares.

Biasanya dijadikan kandang ternak atau tempat penyimpanan barang.

Bahkan bangsawan saja memelihara ternaknya di kolong rumah mereka.

Suara kambing, sapi, atau kuda terdengar dari dalam rumah.

Mari kita masuk ke dalam rumah. Interior rumah terdiri dari dego-dego atau teras, kale balla atau badan rumah, paddaserang dallekang atau ruang tamu, paddaserang tangnga atau ruang tengah untuk kegiatan yang lebih menjaga privasi, paddaserang riboko atau ruang belakang untuk kamar-kamar, balla pallu atau dapur, dan pammakkang atau loteng untuk tempat penyimpanan barang selain siring.

2. Rumah adat Suku Bugis

rumah adat dari sulawesi selatan
Gambar rumah adat Suku Bugis. Sumber: timur-angin.com

Serupa dengan rumah adat suku Makassar, rumah adat Suku Bugis juga berbentuk rumah panggung dengan kolong rumah.

Baca juga:   Rumah Adat

Bagian-bagian rumah meliputi rakkaeng atau atap dan langit-langit untuk menyimpan benda pusaka, alebola (ale = dalam dan bola = rumah) yang berarti badan rumah (termasuk kamar, ruang tengah, dapur, dan sebagainya), dan awabola (awa = bawah dan bola = rumah) atau kolong rumah untuk tempat hewan ternak dan penyimpanan alat-alat tani.

Rumah adat Suku Bugis juga dipengaruhi oleh status sosial pemiliknya.

Rumah saoraja adalah hunian milik seorang raja atau bangsawan. Rumah berbentuk empat persegi panjang dan berukuran cukup luas.

Atapnya juga berbentuk prisma tersusun tingkat demi tingkat sesuai dengan gelar seperti karaeng atau daeng atau status sosial.

Tingkatan atap tersebut dinamakan timpak laja. Untuk karaeng biasanya mulai dari tiga tingkat ke atas dan daeng dua tingkat.

Sedangkan untuk masyarakat biasa dan tanpa gelar ukuran rumahnya lebih kecil dan tidak terlalu tinggi. Rumah ini disebut bola.

Alebola dihiasi dengan ornamen corak alam baik flora maupun fauna.

Ia merepresentasikan doa untuk keberuntungan dan kekuatan bagi penghuni rumah.

3. Rumah adat Suku Toraja

rumah adat daerah sulawesi selatan
Rumah Tongkonan khas Suku Toraja. Sumber: nilaprawitasari.wordpress.com

Suku yang satu ini terkenal dengan cara memakamkan jenazah di gua.

Tak perlu khawatir, justru rumah adatnya memberikan nuansa kehidupan.

Ia dikenal juga dengan nama tongkonan, rumah adat Suku Toraja berbentuk rumah panggung dengan atap yang melengkung seperti perahu terbalik.

Bedanya, rumah panggung satu ini tidak setinggi saudara-saudaranya.

Rumah Tongkonan terdiri dari tiga bagian penting, yaitu ratting banua atau atap dan langit-langit; kale banua atau badan rumah; tengalok atau bagian utara rumah yang terdapat ruang tamu, kamar tidur anak, dan tempat sesajen; sali atau bagian utama rumah seperti dapur, tempat makan, berkumpul keluarga, dan meletakkan mayat; sambung atau bagian selatan rumah yang berisi kamar kepala keluarga.

Jenis rumah adat Suku Toraja terbagi menjadi tiga, yaitu tongkonan layuk sebagai pusat pemerintahan, tongkonan pekamberan sebagai rumah untuk penguasa adat dan keluarganya, dan tongkonan batu ariri sebagai rumah masyarakat biasa.

Tata letak kampung atau perumahan tongkonan sama seperti tata letak huta (kampung) di Suku Batak.

Masyarakat membangun rumah mereka secara berjajar dan di seberangnya terdapat lumbung padi.

Di antara kedua bangunan terdapat halaman yang cukup luas untuk berkegiatan di luar rumah.

4. Rumah adat Suku Luwu

rumah adat panggung sulawesi selatan
Rumah adat panggung khas Suku Luwu. Sumber: flickr.com

Suku Luwu memiliki rumah adat panggung beratap tiga sampai lima puncak.

Istilahnya adalah bubungan. Sejarahnya, rumah ini dulu ditempati oleh raja dan bangsawan.

Seiring berjalannya waktu rumah ini dapat dihuni oleh masyarakat biasa namun yang membedakan masing-masing kasta adalah dari tingkatan puncak atapnya.

Ruangan dalam rumah adat Suku Luwu terdiri dari tudang sipulung atau ruang tamu, ruang tengah untuk pertemuan keluarga, kamar-kamar, dapur, kolong rumah, dan loteng.

Tidak lupa juga rumah ini dihiasi dengan ornamen-ornamen cantik yang disebut ukiran prengreng.

Makna dari prengreng adalah simbol hidup yang panjang dan meski akhir hayat menjemput, kehidupan akan terus berlanjut karena anak cucu kita.

5. Rumah adat Suku Mandar

rumah adat sulawesi selatan dan penjelasannya
Rumah adat Suku Mandar dapat ditemukan di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat. Sumber: travel.detik.com

Perlu dipahami bahwa Suku Mandar adalah salah satu suku yang wilayah persebaran masyarakatnya beririsan dengan Sulawesi Barat.

Jadi, tidak heran lagi jika Selasares suatu saat menemukan rumah adat Suku Mandar berada di daftar salah satu rumah adat di Sulawesi Barat.

Sering juga dipanggil Rumah Boyang, rumah adat Suku Mandar adalah rumah panggung yang memiliki lego atau teras paling luas di antara rumah adat Sulawesi Selatan lainnya.

Warna rumahnya mayoritas berwarna gelap atau warna kayu asli (cokelat atau cokelat tua).

Jika lihat ke atas, atapnya sama seperti rumah adat Sulawesi Selatan lainnya di mana semakin banyak jumlah bubungan (puncak atap) maka akan semakin tinggi derajatnya di masyarakat.

Rumah untuk kaum bangsawan Suku Mandar disebut boyang adaq dan terdiri dari tiga hingga tujuh tumpukan bubungan.

Sedangkan untuk rumah warga biasa disebut boyang beasa.

Uniknya, walaupun rumah berwarna gelap, ia tetap menyejukkan isi rumah dan membuat nyaman penghuninya.

Ciri khas dan kesamaan

Rumah adat di Sulawesi Tenggara tentu memiliki ciri khasnya masing-masing karena budayanya dipengaruhi dari leluhur suku-suku.

Namun, ada persamaan di antara rumah-rumah yang mungkin Selasares dapat temukan ketika melihat gambar-gambar di atas. Apakah kalian bisa menemukannya?

Baca juga:   Rumah Adat Bengkulu

1. Rumah panggung

Ciri khas rumah-rumah adat di Sulawesi Selatan yang mudah sekali untuk dilihat adalah bentuk rumahnya, yakni rumah panggung.

Rumah tinggi, berpondasi kayu, atap bertingkat-tingkat, dan masuk dengan cara menaiki tangga terlebih dahulu adalah ciri-ciri umum rumah adat Sulawesi Selatan.

Kita juga masih bisa menemukan banyak rumah panggung di Sulawesi Selatan karena banyak masyarakat dari berbagai suku tinggal di rumah panggung.

Penulis sendiri pernah tinggal di rumah panggung Suku Bugis di daerah Jeneponto.

2. Terbuat dari bahan lokal dan alami

kayu untuk rumah adat panggung sulawesi selatan
Kayu ulin adalah kayu yang baik untuk membangun rumah panggung. Sumber: tokopedia.com

Jika kita lihat lagi foto atau gambar rumah-rumah adat Sulawesi Selatan, jelas kita bisa mengetahui bahwa bagian rumah seperti dinding, tangga, tiang, dan pintu menggunakan kayu.

Selain itu, atapnya mayoritas terbuat dari daun rumbia, ijuk, alang-alang, bambu atau nipah.

3. Terbagi sesuai status sosial

Ya benar, semua rumah adat suku-suku di Sulawesi Selatan yang sudah diceritakan sebelumnya memiliki ‘pembeda kasta’ dilihat dari jumlah tingkat puncak atap atau bubungan.

Tidak hanya itu, semakin luas dan mewah hiasan rumah semakin tinggi juga derajat sosialnya.

4. Terdapat gudang/tempat penyimpanan

Gudang di rumah-rumah adat Sulawesi Selatan terdapat di bawah atau kolong rumah serta di loteng.

Selain untuk menyimpan barang, ia juga berfungsi sebagai tempat memelihara hewan ternak dan tempat menjemur pakaian atau bahan makanan (cengkih, kopi, ikan asin, dan lain-lain) jika hujan turun.

5. Mampu bertahan hingga ratusan tahun

rumah adat bugis sulawesi selatan
Museum Nekara menampilkan salah satu rumah adat Sulawesi Selatan yang sudah bertahan lama. Sumber: trepelin.com

Meski terlihat tidak aman dari luar karena hanya ditopang oleh tiang-tiang kayu, rumah panggung sebenarnya kuat bertahan dalam jangka waktu yang panjang dengan perawatan yang baik.

Ia tidak akan berkarat karena biasanya tidak menggunakan paku atau besi sama sekali.

Untuk menghindari pelapukan dan rayap tentu rumah harus rutin dicek.

Nah, jika kalian tertarik untuk melihat langsung rumah adat di atas, jadwalkan segera liburanmu ke Sulawesi Selatan karena banyak sekali yang atraksi wisata seperti pantai-pantai di Bulukumba, situs-situs sejarah di Makassar, dan lain-lain.

Kami meminta maaf karena tidak bisa membahas semua rumah adat suku-suku lain di Sulawesi Selatan.

Jika tulisan ini bermanfaat, jangan lupa sebarkan ke yang lain ya. Terima kasih dan jangan lupa bahagia.

Geolana Wijaya Kusumah Selamat datang di bumi Geo! Halo, aku Geo bisa juga dipanggil Geol. Ya benar sekali, sesuai dengan namaku, aku suka dengan hal-hal berbau Geografi dan hobiku bergeol alias Dance.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *