2+ Rumah Adat Sulawesi Barat (NAMA, GAMBAR, PENJELASAN)

Provinsi Sulawesi Barat adalah rumah bagi suku Mandar,suku Bugis, suku Toraja dan suku lainnya.

Dengan ibukota Mamuju yang terkenal dengan Tugu Perdamaiannya sebagai penanda simbol kermamonisan bagi seluruh golongan.

Provinsi dengan luas 16.937 km² dan jumlah penduduk sekitar 1,536 juta pada tahun 2019.

Provinsi ini baru diresmikan pada tahun 2004 yang telah diperjuangkan sejak tahun 1960.

Walaupun usianya masih muda, warisan nenek moyang di Sulbar menjadikan daerahnya sebagai potensi wisata yang tinggi.

Hal yang wajib dilestarikan mencerminkan sejarah suku Mandar yaitu rumah adatnya.

Berikut daftar dan penjelasannya dari rumah adat Sulawesi Barat:

Mengenal Rumah Adat Sulawesi Barat

Mengenal Rumah Adat Sulawesi Barat
sumber : https://guratgarut.com/

Sulawesi Barat yang dihuni notabene suku Mandar mendapat pengaruh budaya dari suku Bugis dan suku Makassar.

Terlebih dalam pembuatan rumah adatnya.

Akan terlihat adanya persamaan.

Namun, jika pengamat memperhatikan atau mengulik lebih dalam akan terlihat perbedaannya.

Karena itu suku Mandar sebagai mayoritas memberikan banyak pengaruh kebudayaan dalam pembuatan rumah adat di sana.

Rumah tradisional suku Mandar yaitu Rumah Boyang.

Hampir semua rumah adat di pulau Sulawesi mengatasi bentuk rumah panggung.

Sama halnya Rumah Boyang berbentuk rumah panggung.

Konsep rumah panggung bertujuan untuk keamanan, kenyamanan dan kondisi lingkungan penghuninya.

Material pembuatan Rumah Boyang terbuat dari kayu dengan dihiasi gambar atau ukiran yang mengandung filosofinya.

Rumah Boyang identik dengan atap dan terasnya yang luas.

Struktur dan Arsitektur Rumah Adat Boyang 

arsitektur Pada-Rumah-Adat-Sulawesi-Barat
sumber : https://www.celebes.co/

Dengan arsitektur rumah panggungnya maka tiang Rumah Boyang tidak ditancapkan secara langsung pada tanah.

Melainkan di tumpuh pada sebuah batu dengan permukaan yang datar.

Cara tersebut dilakukan agar melambatnya atau mengurangi pelapukan pada tiang rumah jika secara langsung bersentuhan dengan tanah.

Tinggi tiangnya cukup beragama mulai dari 2 meter bahkan lebih tergantng dari pemilik rumah.

Strata sosial pemilik rumah juga mempengaruhi tiang yang akan digunakan sebagai materialnya.

Tak hanya rumah adat suku Toraja yaitu Tongkonan dan rumah suku Mamasa yang disebut Banua Layuk yang identik dengan ornamen-ornamennya.

Rumah Boyang diketahui identik dengan ornamen yang menjelaskan adat istiadat suku Mandar.

Ornamen dengan penjelasan serta filosofi hidup yang telah dijalani, dijaga dan dilestarikan nenek moyang dari suku Mandar.

Bagi kalangan bangsawan ornamen atapnya menggunakan anjong (teppang/ butung-butung) khas Mandar.

Begitu pun dengan pintu, tangga dan jendela yang akan diukir dengan syarat tertentu untuk menunjukkan status sosial pemiliknya.

Dan bagi rakyat biasanya atapnya segitiga berbentuk pelana dengan kemiringan sekitar 45 derajat yang tersusun dari daun nipa atau alang-alang.

Konstruksi bangunan rumah tradisional ini dari tiang yang diikat atau simpul.

Pemasangan dinding dan lantainya juga diikat, tapi seiring perkembangan zaman masyarakat sudah memakai paku.

Material yang digunakan kayu atau bambu sebagai material utama terutama untuk penggunaan lantai dan dinding.

Sementara itu jumlah anak tangga harus terdiri dari 7-13 anak tangga.

Untuk mengakses rumah jumlah anak tangga harus ganjil tidak ketahui penggunaan jumlah ganjil tersebut.

Pada awal pembangunannya Rumah Boyang menghadap ke timur arah matahari terbit.

Atau ada juga yang menghadapkan rumahnya pada bukit-bukit yang katanya jika menghadap ke bukit pemilik rumah akan mendapat rezeki yang melimpah.

Namun,semenjak masyarakat mengenal ajaran agama Islam, orientasi pembangunan rumah sudah mulai berubah menghadap Kiblat atau ke barat dan timur sesuai kepercayaan pemiliknya.

Ciri-ciri struktur Rumah Boyang dan keterangannya :

1.Bentuk dari kolom rumah tradisional untuk bangsawam berbentuk bulat.

Sedangkan untuk rumah orang biasa bentuk kolomnya segi delapan atau segiempat.

2. Pusat rumah dari Rumah Boyang disebut possi arriang.

Layaknya seperti tiang inti penyangga rumah yang terbuat dari material kayu durian atau nangka.

Peletakan tiang biasanya di deretan kolom kedua dari samping dan kolom kedua dari depan.

3. Tangga (endeq) diletakkan di depan atau belakang, dengan ciri-ciri: dipasang diolo boyang atau dilego-lego

4. Arahnya ada yang sesuai dengan panjang rumah atau sesuai lebar rumah

5. Atap (ateq) berbentuk segitiga sama kaki yang digunakan untuk menutup bagian muka atau bagian belakang rumah

Pembagian Rumah Adat Boyang Sulawesi Barat

keunikan Dalam-Rumah-Adat sulawwesi barat
sumber :https://www.celebes.co/

Pola ruangannya hanya akan disekat pada bagian kamar tapi lama kelamaan sekat akan ditambah sesuai kebutuhan dan fungsi khusus.

Ruangan itu disebut lontang.

Lontang dibagi lagi menjadi dua yakni lontang utama dan lontang tambahan.

Masing-masing lontang akan dibagi lagi menurut manfaat dan kegunaannya.

(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Jadi total ada tujuh ruangan di Rumah Boyang. Berikut penjelasanya :

1. Lotang Utama

Lotang utama di bagi lagi menjadi tiga yaitu :

a. Samboyang

Samboyang terletak di bagian di bagian depan rumah atau istilah zaman sekarang yaitu teras.

Samboyang memiliki fungsi ganda sebagai area menerima tamu dan tempat para pria akan berkumpul jika ada acara adat yang diselenggarakan.

Rumah Boyang memang identik dengan samboyang atau terasnya yang luas

b. Tangnga Boyang

Untuk ruang tengah Rumah Boyang disebut tangnga boyang dengan ukuran yang cukup luas dari bagian dean rumah atau samboyang.

Tangnga Boyang berfungsi sebagai tempat berkumpulnya keluarga pemilik rumah.

c. Bui Boyang

Bagian terakhir dari lotang utama yaitu bui boyang yang terletak dibagian belakang.

Bui boyang terdiri dari beberapa kamar untuk tempat tidur dengan bentuk dan ukuran yang berbeda-beda satu dengan lainnya.

Kamar tradisonal di Rumah Boyang disebut songi.

2. Lotang Tambahan

Lotang tambahan terdiri dari empat ruangan yaitu :

a. Tapang

Tapang sebenarnya adalah loteng yang berada di atas.

Dulunya tapang digunakan bagi calon pengantin untuk dipingit dan berdiam diri, sebelum mengikuti adat istiadat yang ada di suku Mandar.

Karena letak tapang yang tersembunyi dapat memberi atau menyimbolkan kesucian bagi calon pengantin sebelum pernikahan.

Tapi sekarang, tapang dialih fungsikan sebagai tempat menyimpan barang atau gudang.

b. Paceko

Didalam paceko atau dapur terdapat ruangan lain yaitu kamar mandi.

Atau dalam bahasa Sulawesi Barat disebut pattetemenagang.

Keunikan dari paceko yaitu letaknya yang menyilang dari bagian utama rumah.

Sama seperti dapur lainnya yang berfungsi sebagai tempat memasak dan menyimpan makanan.

c. Lego-Lego

Rumah Boyang juga mempunyai beranda yang tidak berdinding yang disebut lego-lego oleh masyarakat sekitar.

Lego-lego di rumah ini seperti teras yang diberi atap agar pemilik rumah dapat bersantai dan berangin-angin di sore hari.

d. Naong Boyang

Ruangan terakhir dari bagian lotang tambahan yaitu naong boyang.

Sebenarnya ini bukanlah sebuah ruangan melainkan kolong rumah yang terletak tepat di bawah bangunan tanpa alas apapun kecuali tanah.

Naong boyang kadang digunakan sebagai tempat untuk menyimpan ternak.

Selain itu naong boyang juga digunakan oleh perempuan suku setempat untuk mengisi waktu luang seperti menenun kain.

Atau dalam bahasa Sulawesi Barat disebut sebagai tempat manette.

Filosofi Rumah Adat Boyang Sulawesi Barat

filosofi Mengintipi-Rumah-Adat-Sulawesi-Barat
sumber : https://www.celebes.co/

Setiap rumah adat mengandung filosofi yang melibatkan banyak unsur dalam pembangunannya.

Seperti unsur sosial budaya, unsur ekonomi dan unsur keagamaan.

Pembangunan Rumah Adat Boyang memiliki sejumlah aturan sebelum didirikan, yang harus dipatuhi oleh pendirinya.

Filosofi pada rumah tradisional suku Mandar ini dapat ditinjau dari bentuk ukiran dan ornamen yang berada di plafon, atap, jendela, pintu, tangga hingga dinding.

Melambankkan keselarasan dan harmonisasi dalam hidup bersama bersama sesama manusia dan Sang Pencipta.

Coraknya pun beragam ada yang bermotif tumbuhan, hewan,agama dan kepercayaan masyarakat setempat.

Tak hanya itu beberapa motif dan corak juga menunjukkan identitas sejati dari suku Mandar sebagai suku asli dari Sulawesi Barat.

Aturan Rumah Boyang yang dibangun menghadap ke arah matahari terbit atau ke arah timur dipercayai oleh masyarakat sebagai simbol keselarasan dalam hidup manusia.

Jenis Rumah Adat Boyang Sulawesi Barat

jenis-jenis rumah adat suawesi barat
sumber : https://guratgarut.com/

Diketahui Rumah Boyang suku Mandar ada dua jenis yaitu boyang ada dan boyang beasa.

Berikut macam-macam Rumah Boyang beserta penjelasannya :

1. Rumah Adat Boyang Adaq

Pembangunan rumah adat suku Mandar mempengaruhi status sosial pemiliknya.

Jika pemilik rumah berstatus sosial tinggi atau berasal dari keturunan bangsawan makan akan membuat dan menempati rumah boyang adaq.

Terlihat dari ornamen tumbang layar dengan susunan tiga sampai tujuh susun.

Tingkat susunannya tergantung dari si pemilik rumah boyang adaq.

Semakin tinggi susunannya maka semakin tinggi kasta, peran dan jabatan dalam masyarakat setempat.

2. Rumah Adat Boyang Beasa

Jika rumah adat boyang adag untuk kalangan bangsawan maka untuk kalangan orang biasa atau rakyat yang bukan bangsawan nama rumahnya yaitu rumah boyang beasa.

Berbeda dengan rumah orang bangsawan yang memiliki susunan tergantung perannya.

Rumah boyang beasa hanya memiliki satu susunan tangga.

Pada bagian depan penutup atap atau bubungan/tumbaq layar terdapat satu saja tidak diperkenankan menambah lebih dari satu.

Walau berbeda dari bentuk penutup bubungan tapi atapnya sama-sama terbuat dari rumbia atau ijuk.

Sulawesi Barat tak hanya dikenal sebagai tempat Gong Perdamaian tapi juga memiliki rumah tradisional yang khas.

Seperti yang telah dijelaskan di atas.

Walau penempatan tempat tinggal berbeda menurut keturunan tapi tidak pernah mengurangi jati diri suku Mandar.

Itulah contoh dari Bhineka Tunggal Ika di Indonesia.

Atlanditor Indiron Tana

Dia dhuit! Hallo dalam bahasa Indonesia. Saya senang menulis apa saja yang saya sukai. Serta membaca novel dengan berbagai genre

Update : 11 Desember 2020 - Published : 5 Agustus 2020

Tinggalkan komentar