Miftachul Arifin Peminat genre fantasi dalam perbukuan, penulisan, dan perfilman yang ingin terus belajar berkarya. Saya pun penggemar musik-musik orkestra, terutama dari biola, cello, dan piano.

Rumah Adat Riau dan Kepulauan Riau

9 min read

Indonesia terkenal di mata dunia karena keanekaragamannya.

Rumah Adat di Kepulauan Riau salah satu di antaranya.

Bentuk rumah adat di kepulauan ini dan Provinsi Riau pada dasarnya mirip.

Faktor penyebabnya tak lain adalah penghuni mayoritas merupakan masyarakat beretnis Melayu.

Namun tentunya rumah adat KEPRI ini memiliki ciri-ciri yang sangat identik dengan adat setempat.

Sayangnya, belum banyak masyarakat yang mengenal dengan baik rumah adat ini.

Dari struktur bangunan hingga motif hiasan serta corak yang diberikan pada tiap-tiap ruangan mengandung nilai filosofi.

Untuk mencari tahu lebih jauh, seluk-beluk keindahan Rumah Adat Riau dan Kepulauan Riau, simak pembahasan beserta gambarnya berikut ini:

Rumah Adat Riau

1. Balai Salaso Jatuh

rumah adat kepulauan riau bernama salaso jatuh
Sumber: https://gambarmewarnaihd.blogspot.com

Rumah ini disebut “Salaso Jatuh”, karena keberadaan selasar pada bangunannya.

Karakteristik yang paling kentara dari bangunan ini adalah selasar yang mengelilingi keseluruhan rumah.

Lantai selaras keliling ini lebih rendah dari ruang tengah.

Penggunaan tempat dalam Rumah Adat Balai Salaso Jatuh hanya untuk rapat adat atau musyawarah.

Kendati demikian, keberagaman fungsi rumah adat ini membuatnya punya berbagai peran yang sesuai.

Misalnya, Balai Kerapatan dan/atau Pengobatan, Balairung Sari, maupun semacamnya.

Balai Selaso Jatuh memiliki bermacam ukiran yang berbentuk hewan dan tumbuhan.

Beragam filosofi dimiliki oleh setiap jenis ukiran pada bangunan ini.

Setiap ukiran di bangunan ini memiliki nama sendiri-sendiri, antara lain:

Ombak-ombak atau lebah bergantung, motif ukiran yang ada pada tangga.

Lambai-lambai, nama untuk motif ukiran yang terletak di atas pintu dan jendela.

Kisi-kisi, semut, beringin, dan itik pulang petang yang berada di samping pintu dan jendela.

Tiang gantung yang diukir di tiang.

Kalok paku, sebutan untuk motif ukiran pada bidang memanjang dan melengkung.

Pucuk rebung, nama bagi ukiran di pucuk (ujung) atas dan bawah tiang.

Sayap layang-layang, di cucupan atap.

Melur, bunga cina, bunga manggis, dan lainnya di langit-langit rumah atau ventilasi.

2. Rumah Melayu Atap Lontik atau Lancang (Kampar)

rumah adat kepulauan riau melayu atap lancang
Sumber: https://celticstown.com

Rumah adat ini sering pula dikenal dengan nama Rumah Lancang atau Pencalang.

Melayu Atap Lontik menjadi salah satu rumah tradisional di Kabupaten Kampar, Provinsi Riau, Indonesia.

Pengertian asal usul sebutan Lancang atau Pencalang adalah kemiripan bentuk hiasan kaki dinding depan dengan perahu.

Memang manakala dipandang dari kejauhan, ada kemiripan antara bentuk bangunan dengan Magon (rumah-rumah perahu) buatan penduduk.

Miringnya bentuk dinding rumah yang menjorok ke luar memang menyerupai dinding perahu layar mereka.

Sedangkan penyebutan Lontik disebabkan oleh perabung (bubungan) atap yang melentik agak runcing ke atas, mirip tanduk kerbau.

Ini melambangkan penghormatan kepada Tuhan dan sesama, serta manusia akan kembali kepada pencipta pada awal dan akhir hidupnya.

Keberadaan mayoritas bangunan yang berdiri di daerah perbatasan Sumatra Barat, menyebabkan kebudayaan Minangkabau turut memengaruhi gaya arsitektur rumah adat ini.

Sementara itu, “Pencalang” diketahui merupakan kapal dagang Nusantara buatan orang-orang Melayu.

Penyebutannya disebabkan oleh letak rumah yang berdiri di tepi sungai, dengan bentuk yang menyesuaikan kondisi geografis.

Dengan kata lain, perancangan rumah panggung terhadap Rumah Pencalang dimaksudkan untuk menghindarkan para penghuninya dari serangan hewan liar maupun banjir.

jumlah anak tangga pada rumah adat kepulauan riau
Sumber: https://renovasi-rumah.net

Ciri khasnya yang lain adalah jumlah ganjil pada tangga-tangganya, seperti lima, tujuh, dan seterusnya.

Kendati sebagian besar masyarakat memilih angka lima, sebagai perlambang untuk Rukun Islam.

Bagian-bagian lain pada rumah ini juga sarat akan nilai filosofis.

Misalnya bentuk segi empat pada tiang sebagai perlambang empat penjuru mata angin, segi enam yang menyimbolkan Rukun Iman, dan lain sebagainya.

Fungsi daripada Rumah Lontik ini adalah tempat tinggal dan rumah adat masyarakat etnis Melayu di Lima Koto, Riau.

3. Rumah Adat Salaso Jatuh Kembar

keunikan rumah adat kepulauan riau selaso jatuh kembar
Sumber: https://bangun.in

Provinsi Kepulauan Riau memiliki simbol dan ikon berupa rumah adat, yakni Salaso Jatuh Kembar.

Nama yang disandang oleh balai atau rumah ini bermakna dua selasar yang kembar atau mirip.

Sebagaimana namanya pula, bentuk Salaso Jatuh Kembar tak berbeda jauh bila dibandingkan dengan Salaso Jatuh.

Karakteristik keduanya sama, walau ada perbedaan di antara mereka, yakni pada luas dan ukuran bangunannya.

Ketinggian 1,5 meter yang dimiliki Salaso Jatuh Kembar melebihi Salaso Jatuh yang hanya berada di atas permukaan tanah.

Rancangan rumah panggung bangunan ini membentuk beberapa tingkatan.

Sementara fungsinya sebagaimana Salaso Jatuh, yakni bukan sebagai hunian.

Ruang-ruang dengan fungsi khusus yang dimiliki rumah adat ini adalah akibat dari peran pentingnya bagi masyarakat.

Misalnya sebagai ruang pertemuan untuk musyawarah, berkumpulnya banyak orang dalam suatu acara adat, dapur, hingga tempat penyimpanan alat-alat musik tradisional.

Beragam ornamen ukiran flora dan fauna dengan sebutan yang berbeda-beda ataupun hiasan, melengkapi tiap-tiap bangunan (mulai dari rumah sampai balai adat).

Salah satunya adalah hiasan kayu pada puncak atap yang mencuat ke atas bersilangan, dengan ukiran yang disebut Salembayung/Selembayung atau Sulobuyung.

Ukiran tersebut bermakna pengakuan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

Bangunannya sendiri hanya tersisa beberapa rumah saja saat ini.

Musyawarah di desa-desa lebih memilih dilaksanakan di rumah Penghulu.

Sementara perkara-perkara terkait keagamaan dibicarakan di masjid.

4. Rumah Melayu Atap Limas Potong

rumah adat kepulauan riau dan keunikannya
Sumber: https://borneochannel.com

Masyarakat Kepulauan Riau masih memiliki rumah tradisional lainnya, yakni Melayu Atap Limas Potong.

Mayoritas dari mereka paling sering menggunakan rumah adat ini.

Penamaan untuk rumah adat ini berdasarkan bentuk limas potong pada atapnya.

Bangunan ini menggunakan rumah panggung sebagai bentuknya, selazimnya rumah tradisional Sumatra.

Dengan memanfaatkan kayu sebagai material utama, rumah adat ini berada di ketinggian lebih-kurang 1,5 meter dari permukaan tanah.

Rumah beratapkan seng merah ini menjadikan susunan papan berwarna coklat untuk dindingnya.

Sementara cat minyak warna putih dioleskan pada pilar anjungan depan rumah, jendela, dan kusen pintu.

Rumah adat ini –setidak-tidaknya—memiliki lima bagian utama yang menyusunnya.

Teras dan ruang depan pada muka bangunan, ruang tengah yang mengisi badan rumah, dan dapur serta ruang belakang sebagai bagian terakhirnya.

Ruang belakang rumah ini difungsikan untuk kamar tidur keluarga.

Rumah-rumah adat jenis ini masih jamak dijumpai di daerah Kepulauan Riau.

5. Rumah Singgah Sultan Siak

asal usul rumah singgah sultan siak dalam adat kepulauan riau
Sumber: https://www.artisanalbistro.com

Penyebutannya disebabkan oleh sejarah persinggahan Sultan Siak, Sultan Syarif Qasim II di sana.

Pemerintah mempertahankan kombinasi warna yang menarik dari rumah ini sebagaimana bentuk asli atau awalnya, yakni biru, krem, dan emas.

Material kayu pada bangunannya sangat mendukung model rumah panggung yang digunakan, dengan pondasi berupa tiang penyangga sebagai antisipasi jikalau air sungai meluap.

6. Rumah Inap Sultan Syarif Qasim II

kabar terkini rumah inap sultan syarif qasim II rumah adat kepulauan riau
Sumber: http://www.riaumagz.com

Rumah Inap harus dibedakan dengan Rumah Singgah.

Bangunan ini digunakan oleh Sultan Syarif Qasyim II untuk bermalam, ketika Sultan Siak ke-12 tersebut bertandang ke Senapelan (Pekanbaru) pada masa lampau.

Sedikit sekali masyarakat di Kepulauan Riau bahkan warga setempat yang mengetahui tentang rumah tua ini.

Selama ini, ada dua rumah yang pernah menerima kunjungan dari Sultan Siak, yakni Rumah Singgah dan Rumah Inap.

Sayangnya, hanya keberadaan Rumah Singgah di Jalan Perdagangan, di tepi Sungai Siak yang diketahui sebagian besar masyarakat.

Bisa dibilang, bangunan ini merupakan salah satu rumah adat Riau yang tertutup dari catatan sejarah.

Banyak orang yang tidak tahu bahwa rumah ini pernah jadi tempat inap sang Raja.

7. Rumah Adat Riau Modern

perbedaan rumah adat riau dan kepulauan riau modern dan tradisional
Sumber: https://renovasi-rumah.net

Di luar seluruh rumah adat tradisional Kepulauan Riau di atas, masih ada sederet bangunan modern yang lahir dari sentuhan zaman terhadap rumah-rumah model lama.

Kendati nama-nama yang digunakan sama saja dengan versi tradisionalnya.

Hanya saja, pembedanya terletak pada modifikasi desainnya.

Berikut rincian contoh dan penjelasannya:

a. Rumah Balai Modern

arsitektur rumah adat kepulauan riau balai modern
Sumber: https://polarumah.com

Balai Modern adalah peningkatan fungsi Rumah Adat Selaso Jatuh Kembar menjadi lebih bersifat kebersamaan masyarakat.

Akibatnya, ukuran bangunan pun butuh diperbesar guna menampung masyarakat.

Konstruksinya sendiri adalah pengembangan desain dari Selaso Jatuh Kembar.

Balai yang sedemikian cerah, karena warna utamanya memadukan merah dan kuning.

Akses ukiran yang ditambahkan turut menaikkan kecantikan dekorasi eksteriornya.

b. Rumah Balai Megah

rumah adat kepulauan riau modern balai megah
Sumber: https://polarumah.com

Pembangunan rumah ini masih diinspirasi oleh desain Selaso Jatuh Kembar, dengan arsitektur yang lebih besar dan megah.

Baca juga:   Rumah Bolon

Ketinggian tiang-tiang ditambah, ukurannya pun diperbesar.

Atap dibiarkan menjulang tinggi untuk mendukung kesan megah yang ingin didapatkan.

Kemudian sentuhan akhirnya adalah warna utama rumah dari kayu alami, ditambah kuning cerah untuk melipatgandakan keindahannya.

c. Rumah Balai Cerah

ciri khas balai cerah rumah adat kepulauan riau
Sumber: https://zonadollar.com

Ukuran besar dan warna cerahnya sangat mengagumkan, walau masih mengadaptasi satu jenis rumah adat yang sama seperti sebelumnya.

Perbedaan dari versi tradisionalnya terletak pada tiang-tiang penyangga dan kolongnya.

Alih-alih kayu, bahan pembuatan tiang adalah beton.

Sementara kolongnya menjadi lantai dasar rumah dengan ruangan yang cukup besar.

Perpaduan biru cerah dan kuning, serta ornamen utama dari lukisan dan ukiran menjadi sentuhan akhir untuk menghias penampilan depan rumah.

Rumah Adat Kepulauan Riau

Sejarah dan Asal Usul Rumah Belah Bubung

keunikan rumah adat kepulauan riau belah bubung
Sumber: https://www.artisanalbistro.com

Rumah Adat Kepulauan Riau dikenal dengan nama Rumah Belah Bubung.

Rumah adat ini disebut bubung, karena penggunaan bubung atau bambunya.

Nama “belah”-nya adalah pemberian dari orang Melayu, karena bentuk atap yang terbelah.

Sebutan lain yang dikenal dari rumah ini adalah Bubung Melayu atau Rabung, karena beratapkan perabung.

Sedangkan Bubung Melayu berasal dari orang-orang asing (khususnya Belanda dan Cina), karena perbedaan dengan rumah asal mereka yang berbentuk Kelenting dan Limas.

Ketinggian bangunan bergaya rumah panggung ini lebih-kurang 2 meter dari atas tanah, dengan bahan-bahan alami dalam konstruksinya.

Misalnya tiang, gelagar, bendul, rasuk, dan tangga yang terbuat dari kayu.

Sementara papan sebagai dinding, dan daun nipah atau rumbia yang dibentuk mirip pelana kuda untuk atapnya.

Mengenai pembangunan rumah, satu hal utama yang patut dipertimbangkan masak-masak adalah keserasian bakal calon hunian dengan pemiliknya.

Sang pemilik mesti melakukan penghitungan ukuran rumah melalui hitungan hasta dari satu sampai lima.

Urutannya bermula dari ular berenang, meniti riak, riak meniti kumbang berteduh, habis utang berganti utang, diakhiri hutang lima belum berimbuh.

Apabila tepat pada hitungan riak meniti kumbang berteduh, berarti ukurannya adalah yang terbaik.

Jenis Rumah Belah Bubung

Rumah Belah Bubung dibagi lagi menjadi beberapa jenis menurut bentuk atapnya, yaitu:

a. Rumah Melayu Lipat Kajang

ciri khas rumah melayu lipat kajang kepulauan riau
sumber : https://id.wikipedia.org/

Lipat Kajang adalah nama salah satu daerah di Simpang Kanan, Aceh Singkil.

Nama rumah adat ini sendiri diambil berdasarkan bentuk atap bangunan yang menyerupai perahu, tetapi agak mendatar.

Pada bagian atap ini, ujung atasnya memiliki karakteristik yang cukup unik, karena terdapat lipatan bumbung yang melengkung dengan posisi yang cukup menukik ke atas.

Fungsi pembuatan lipatan tersebut agar memudahkan air hujan mengalir langsung ke arah bawah.

Pembangunan rumah ini memanfaatkan kayu sebagai bahan utama dikombinasikan dengan bahan-bahan lain.

Sayangnya, jangankan jarang ditemui, rumah adat ini bahkan sudah tidak digunakan lagi seiring perkembangan zaman.

Di perkampungan tempat tinggal warga pun bangunan ini sulit dijumpai.

Kita hanya bisa menemukannya ada pada perkantoran baru yang dibangun pemerintah.

Konsep bangunannya pun telah mendapat sentuhan arsitektur modern.

b. Rumah Adat Lipat Pandan

Lipat Pandan menjadi rumah adat berkonsep atap lipat selain Lipat Kajang.

Kendati sama-sama menggunakan atap lipat, tetapi keunikan atap Lipat Pandan adalah bentuknya menyerupai daun pandan yang curam.

Atap dengan model lipatan semacam ini cukup efektif untuk mengalirkan air hujan maupun badai.

Kesamaan lain dari rumah adat ini dengan Lipat Kajang adalah bentuk panggungnya.

Ruangan yang ada di dalam bangunannya sendiri terbagi atas tiga bagian.

Mulai dari ruang depan, ruang induk, dan ruang belakang sebagai tempat memasak.

c. Rumah Atap Layar (Ampar Labu)

Bentuk rumah adat ini tak jauh berbeda dari karakteristik Rumah Belah Bubung dengan segala ciri khasnya.

Hanya saja, pembeda yang paling kentara dari rumah ini adalah penambahan atap lain di bagian bawah atap utama.

Selain kedua sebutan di atas, atap rumah ini juga disebut Atap Bersayap atau Atap Bertinggam

d. Rumah Perabung Panjang

Ada pula rumah adat yang bernama Perabung.

Rumah Adat Perabung terbagi menjadi dua macam, yakni Panjang dan Melintang.

Perabung Panjang disebut demikian, karena atap panjangnya.

Selain itu, ketinggian Perabung atau bumbungannya sejajar jalan raya atau jalan-jalan depan rumah.

e. Rumah Perabung Melintang

Sementara Perabung Melintang adalah kebalikannya.

Alih-alih perabung atau bumbungan atapnya sejajar dengan ketinggian jalan, justru tampat agak menjorok ke depan atau samping.

Untuk membedakan arahnya, digunakanlah penyebutan Perabung Tunggal dan Ganda.

Struktur dan Bagian Bangunan Rumah Belah Bubung

Bagian utama yang dimiliki Belah Bubung terbagi atas 4 bagian, antara lain:

a. Selasar

Ada dua jenis yang dimiliki serambi atau beranda tempat menerima tamu ini.

Baca juga:   Rumah Adat Madura

Selasar Jatuh, dengan posisi lantai yang lebih rendah ketimbang lantai utama.

Selasar Dalam, yang lantai selasarnya sejajar lantai utama.

b. Rumah Induk

Ada tiga ruang yang terbagi dalam bagian utama ini.

Ruang Muka, ruangan khusus untuk ibu, keluarga perempuan, dan anak-anak berusia di bawah 7 tahun.

Ruang Tengah, yang hanya dihuni oleh laki-laki dalam keluarga saja.

Ruang Dalam, tempat bagi sang pemilik rumah atau orang tua.

c. Ruang Telo (Penghubung Dapur)

Sebagai penghubung Rumah Induk dan Dapur, ruangan ini dimanfaatkan untuk penyimpanan alat-alat pertanian atau nelayan dan air matang siap konsumsi.

d. Dapur

Fungsinya sama saja, berkumpulnya para ibu atau kaum perempuan untuk mengolah bahan makanan.

Sumber dekorasi rumah dan ornamen yang dimiliki Rumah Adat Belah Bubung adalah elemen alam.

Misalnya binatang atau tumbuhan, bisa pula kaligrafi dengan arti filosofi atau tujuan khusus.

Mengenyahkan gangguan roh jahat atau menolak bala adalah salah satu di antaranya.

Ragam Hias Rumah Belah Bubung

Ada tiga macam hiasan yang secara umum digunakan, yaitu flora, fauna, dan alam.

Kendati tak menutup kemungkinan ada motif-motif lain.

a. Flora

Rumah Adat Kepulauan Riau banyak menggunakan hiasan yang menstilisasi tumbuh-tumbunan.

Penggunaan stilisasi tumbuh-tumbuhan ini membentuk tiga kelompok induk, yaitu: kelompok kaluk pakis, bunga-bungaan, dan pucuk rebung.

Pewarna yang sering digunakan untuk motif ini adalah hijau, putih, kuning (cat emas), merah, dan biru.

b. Fauna

Tak banyak bentuk hewan yang menjadi ukiran dalam Rumah Belah Bubung.

Masyarakat hanya memilih hewan-hewan yang mereka anggap baik, seperti semut beriring, itik sekawan, dan lebah bergantung.

Kendati penggambaran detail dari hewan-hewan tersebut sebenarnya tidak jelas, sementara penentuan warnanya sesuai selera pribadi pemilik rumah.

c. Alam

Motif Bintang-Bintang dan Awan Larat merupakan bagian dari Motif Alam yang sering digunakan.

Warna-warnanya adalah putih, kuning, dan keemasan untuk Bintang-Bintang; sedangkan hijau, biru, merah, kuning, dan putih untuk Awan Larat.

d. Kaligrafi

Ayat-ayat Al-Qur’an juga tak ketinggalan menjadi sumber ukiran dalam motif bernama Kaligrafi, sebagai refleksi agama Islam di Kepulauan Riau.

Warna-warnanya meliputi putih, biru, hijau, kuning, dan keemasan atau perak.

e. Motif Lain

Deretak motif lain yang umum digunakan sebagai hiasan, yakni Selembayung di puncak atap, Sayap Layang-Layang pada ujung kaki cucuran, Pinang-Pinang atau Gasing-Gasing, Papan Tebuk; dan Balam Dua Selengek atau ukiran berbentuk Burung Balam.

Warna-warnanya terdiri dari putih, merah, kuning, biru, hijau, hitam dan keemasan.

Nilai Nilai

denah dan axonometri rumah adat kepulauan riau
Sumber: http://disbud.kepriprov.go.id

Masyarakat mengekspresikan nilai-nilai yang berkembang di antara mereka, melalui kecermatan dan ketelitian dalam mendirikan Rumah Belah Bubung.

Kondisi lingkungan membuat masyarakat Kepulauan Riau beradaptasi, melalui pemilihan kayu sebagai bahan dasar arsitektur rumah panggung mereka.

Upaya-upaya menumbuhkan kekeluargaan dan solidaritas antarsesama tanpa memandang status sosial, dilakukan lewat adanya musyawarah dan gotong royong.

Keunikan Rumah Adat Riau dan Kepulauan Riau

Rumah tradisional Riau mempunyai ciri khas dan keunikan berfilosofi, yakni:

Lantai dari bahan kayu nibung, jenis kayu yang dikhususkan memang untuk lantai.

Pintu utama yang dikhususkan untuk pemilik rumah serta keluarga.

Lubang ventilasi udara berbentuk lingkaran, simetris, segi enam, segi delapan, atau segi empat.

Memiliki dua loteng yang berada di atas dapur (panas) dan di depan (langsa), sebagai tempat pelaminan.

Sementara itu, Rumah Adat Kepulauan Riau memiliki keunikannya sendiri, yakni:

Terdiri atas 5 morfologi dengan nama yang berbeda-beda, berdasarkan variasi bentuk atapnya.

Tenaga untuk membangun rumah bahkan dibedakan juga menjadi dua macam, yaitu tukang dan tenaga umum.

Pemilihan tempat untuk didirikan rumah mesti dipilih secara cermat, untuk menjaga keamanan penghuninya dari hal-hal yang bersifat fisik atau mistis.

Filosofi Rumah Adat Riau dan Kepulauan Riau

Nilai-nilai filosofis pada Rumah Adat Riau sangat dipengaruhi oleh budaya Melayu dan agama Islam.

Gaya arsitekturnya dan ornamen dekorasinya memiliki keterkaitan yang kuat dengan budaya dan agama.

Salah satu di antaranya, seperti filosofi pada anak tangga yang berjumlah lima, yang secara signifikan mencerminkan Rukun Islam dalam ajaran agama Islam.

Tidak hanya berfilosofi, setiap motif dari ukiran pada rumah-rumah adat Riau bahkan memiliki nama masing-masing.

Tak terkecuali tetangganya, Kepulauan Riau, rumah adat di wilayah ini tidak dibangun dengan sembarang proses.

Butuh tahapan dan perlakuan terkhusus, serta adat istiadat yang dilibatkan.

Diawali musyawarah desa, berlanjut pemenuhan material, lalu mulai pembangunan, ditutup dengan syukuran atas berdirinya rumah adat.

Sebagaimana semboyan yang terkenal dari Kepulauan Riau, “Berpancang Amanah Bersuah Marwah”.

Miftachul Arifin Peminat genre fantasi dalam perbukuan, penulisan, dan perfilman yang ingin terus belajar berkarya. Saya pun penggemar musik-musik orkestra, terutama dari biola, cello, dan piano.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *