Laila Nur Fatimah Agriculture entusiast || Writer of Digital Journal || (newbie) Illustrator ❣

Rumah Adat Jambi

9 min read

Rumah Adat Jambi bernama rumah Lemo

Rumah adat Jambi adalah salah satu ciri khas bagi provinsi yang berada di tengah-tengah Pulau Sumatera ini.

Secara resmi, rumah adat Jambi dikenal dengan rumah Kajang Leko, walaupun realitanya masih ada beberapa rumah adat lain seperti Rumah Tuo Rantau Panjang dan Rumah Batu Pangeran Wirokusumo.

Jadi, jika ke Jambi jangan hanya mengunjungi Gunung Kerinci yang gagah tetapi sempatkan juga menilik warisan budayanya yang unik.

Jika belum kesampaian, berikut ini ada ulasan tentang sejarah, keunikan, gambar, beserta penjelasannya.

Disimak, ya!

Jenis Rumah Adat Jambi

Miniatur rumah panggung kajang Leko yang merupakan rumah adat Jambi
www.instagram.com/youon3/

Rumah adat provinsi Jambi yang diakui secara resmi adalah rumah panggung Kajang Leko.

Kajang Leko atau Kajang Lako ditetapkan sebagai rumah adat Jambi berdasarkan hasil sayembara “Sepucuk Jambi Sembilan Lurah” yang digelar oleh Gubernur setempat.

Konstruksi pemenang sayembara rumah adat tersebut sekarang berada di kompleks Kantor Gubernur yang berada di Kota Jambi.

Peresmian rumah Kajang Leko sebagai rumah adat Jambi ini semakin kuat ketika dibangunnya miniatur bangunan ini di anjungan Taman Mini Indonesia Indah (TMII) pada tahun 1970.

Rumah Kajang Leko diadaptasi dari rumah tradisional suku Batin.

Selain Kajang Leko, ada lagi macam-macam rumah adat yang berkembang di Jambi yaitu rumah Tuo Rantau Panjang dan rumah batu Pangeran Wirokusumo.

Setiap rumah adat ini memiliki ciri ciri yang berbeda walaupun beberapa ornamen mempunyai bentuk dan fungsinya sama.

A. Rumah Adat Panggung Kajang Leko

Rumah Kajang Lako sebagai rumah adat Jambi
https://seringjalan.com/

Suku Batin adalah suku bangsa yang melatar belakangi adanya rumah adat panggung Kajang Leko di Jambi.

Secara harfiah, kajang memiliki arti atap, sementara leko bersinonim dengan lako dan lela yang dalam bahasa Melayu berarti gagah, gembira dan kuat.

Jadi rumah adat Kajang Leko adalah suatu konstruksi bangunan bertipologi rumah panggung dengan atap yang gagah.

Perkampungan suku Batin yang masih mempertahankan entitas sukunya berada di Kampung Lamo, Rantau Panjang, Jambi.

Berdasarkan hal tersebut, rumah adat Kajang Leko juga dikenal dengan nama rumah Lamo.

Filosofi, Keunikan dan Ciri Khas

Rumah Lamo atau Kajang Leko adalah rumah adat jambi
https://smkn1muarojambi.wordpress.com/

Pengejawantahan seni yang unik terlihat pada atap yang melengkung ke atas di bagian ujung menyerupai perahu sebagai salah satu ciri khas rumah Kajang Leko.

Atap ini populer dengan nama Gajah Mabuk, yang berasal dari nama pemilik rumahnya yang sedang mabuk cinta tetapi terhalang restu orang tua.

Model yang demikian juga kerap dikenal dengan nama lipat kajang atau potong jerambah.

Keunikan lain terlihat dari tangga rumahnya yang terdiri dari dua jenis, yaitu tangga utama di bagian kanan pelamban dan tangga tambahan yang dipakai sebagai perantara ke ruang penteh (loteng).

Rumah Kajang Leko pun memiliki tiga jenis pintu.

Pintu tegak merupakan pintu utama yang didesain dengan ukuran rendah.

Filosofi dari desain ini adalah penghormatan tamu kepada pemilik hunian yang divisualkan melalui sikap menunduk ketika masuk rumah.

Pintu masinding ini adalah sebuah pintu yang lebih difungsikan sebagai jendela ataupun ventilasi udara.

Penempatannya berada di ruang tamu dan lazim dipakai untuk orang-orang melihat keadaan di dalam rumah dari bawah bangunan.

Fungsi ini biasanya diterapkan ketika diadakannya upacara adat.

Pintu balik melintang juga merupakan pintu yang lebih mengarah ke fungsi jendela.

Penempatannya berada di ruangan yang disebut balik melintang .

Ornamen Hias

Seni ukir sebagai ragam hias di rumah adat jambi
www.goodnewsfromindonesia.id

Dekorasi megah adalah salah satu hal yang terlintas ketika melihat rumah adat Kajang Leko.

Dinding rumahnya dipenuhi ukiran dengan berbagai motif dan makna tersendiri.

Umumnya ragam hias tersebut dikelompokkan menjadi motif flora (tumbuhan) dan fauna (binatang).

Ukiran tentang bunga, daun dan buah-buahan merupakan salah satu motif penting karena dipercaya sebagai

visualisasi kekayaan hutan di lingkungan masyarakat Jambi.

Penempatan motifnya pun tidak sembarangan.

Sebagai contoh, motif tampuk manggis biasa diukir di depan ruangan masinding.

Khusus di ruang masinding ornamen ini diukir kemudian dilukis menggunakan warna yang menawan.

Baca juga:   Rumah Adat Papua
 ornamen hias bercorak tumbuhan di rumah adat jambi
https://cokpra1994.wordpress.com/

Sementara motif bungo jeruk ditempatkan di kerangka blandar bagian luar dan di atas pintu utama.

Motif ukiran ikan di rumah adat jambi
Motif modifikasi ikan. Sumber: https://cokpra1994.wordpress.com/

Ruangan gaho dan balik melintang biasanya dipenuhi dengan ukiran motif ikan.

Modifikasinya sekarang motif ini justru lebih menyerupai daun yang memiliki sisik.

Arsitektur Rumah dan Keterangannya

Ruumah adat Jambi Kajang Leko di Anjungan Jambi di TMII
Rumah Kajang Leko di Anjungan TMII. Sumber: https://steemit.com/

Rumah adat Kajang Leko berbentuk persegi panjang berukuran 12 x 9 meter.

Bentuk persegi panjang ini akan memudahkan penyusunan ruangan yang ditempatkan di dalamnya.

Sebagai rumah panggung, Kajang Leko disokong dengan tiang penyangga berjumlah total 30 buah dengan ukuran yang besar.

Tiang utama berjumlah 24 buah yang disusun menjadi enam bagian dan ditempatkan di kolong rumah setinggi 4,25 meter dan difungsikan sebagai kerangka.

Sementara 6 sisanya digunakan sebagai tiang pelamban.

Lantai rumah Kajang Leko ini dibuat bertingkat.

Lantai utama berada di tingkatan pertama dan hanya diterapkan di ruang balik melintang, sebuah ruangan yang biasa dipakai untuk melakukan ritual adat.

Lantai utama ini berbahan anyaman bambu yang disatukan dengan rotan.

Lantai tingkatan kedua merupakan lantai biasa dan diterapkan ruang tamu, balik menalam, ruang gaho, dan juga ruang pelamban.

Atap rumah terbuat dari anyaman ijuk yang dipasang dengan cara dilipat menjadi dua lapis.

Penampakan atapnya dari samping berbentuk segitiga dengan permukaan miring.

Atap yang miring ini disebut kasau bentuk, dan berfungsi untuk memudahkan air hujan langsung mengalir ke bawah sehingga tidak masuk ke rumah.

Fungsi lainnya adalah untuk melancarkan sirkulasi udara di dalam rumah serta mendukung fungsi penteh (loteng) yang diapit di tengah dua sisi atap ini.

Langit-langit rumah di Kajang Leko dipasang pembatas (plafon) dengan nama tebar layar agar kotoran dan rembesan air tidak jatuh ke bawah.

Penteh sendiri merupakan ruangan di atas sekat tebar layar.

Susunan Ruangan beserta Penjelasannya

Lantai di rumah adat jambi menggunakan kayu
Anra dan Asyhadi, 2018

Susunan ruangan yang ada di rumah adat Kajang Lako terbagi menjadi delapan ruangan.

Keterangan dan fungsinya masing-masing ruangan adalah sebagai berikut:

1. Ruang Pelamban

Pelamban merupakan bagian rumah yang berada di ujung depan bagian kiri.

Memiliki fungsi seperti teras pada umumnya, yaitu tempat menunggu tamu ketika tuan rumah belum ada atau belum menerima kedatangan tamu tersebut.

2. Gaho

Ruang gaho terletak di bersebelahan atau tepatnya berada di sisi dalam pelamban dan konstruksinya memanjang ke belakang mengikuti panjang rumah.

Gaho biasa dipakai sebagai gudang umum atau tempat menyimpan barang-barang.

Beberapa rumah juga membuat gaho dengan fungsi sebagai tempat penyimpanan air yang diambil dari sumur, tempat mencuci piring, dan sebagainya.

3. Ruang Masinding

Ruang masinding ini bisa juga disebut sebagai ruang tamu di susunan rumah Kajang Leko.

Ruangan ini biasanya didesain dengan ukuran paling besar dan satu-satunya ruang yang dihias dengan ukiran berwarna.

Ruang ini selain untuk menerima tamu, biasa juga dipakai sebagai tempat melakukan musyawarah, perkumpulan ataupun syukuran (kenduri) yang mengundang banyak orang.

Uniknya, ruang tamu masinding ini khusus untuk menjamu laki-laki.

Sehingga jika tamu adalah perempuan, maka tidak diperkenankan berada di ruangan ini.

4. Ruang Tengah

Ruang tengah berposisi di belakang ruang masinding.

Ruangan inilah yang digunakan untuk menjamu tamu yang berjenis kelamin perempuan.

Ruang tengah dibangun dengan ukuran yang lebih luas daripada ruang masinding.

Hal ini karena ruang tengah lebih sering dipakai jika ada kumpul keluarga besar.

5. Ruang Menalam

Ruang menalam adalah ruangan inti di rumah Kajang Leko karena aktivitas keluarga dipusatkan di ruangan ini.

Di dalamnya terdapat sekat pemisah yang disebut serambi untuk membedakan kamar tidur orang tua, ruang tidur anak, tempat makan dan bilik dengan fungsi lainnya.

Ruang menalam ini merupakan ruangan yang tidak diperbolehkan ada orang selain anggota keluarga masuk.

Hal ini berkaitan dengan privasi pemilik rumah.

6. Ruang Bauman

Ruang bauman merupakan ruangan terbuka yang berada di sayap kanan bangunan rumah.

Struktur ruangannya dibuat menghadap ke ruang masinding dan ruang tengah.

Ruangan ini biasa dimanfaatkan sebagai tempat memasak dan menyimpan peralatan dapur ketika diadakan upacara adat seperti pesat pernikahan, khitan, kelahiran, dll.

7. Ruang Balik Melintang

Ruang balik melintang adalah ruangan yeng memiliki lantai dengan tingkatan lebih tinggi daripada ruangan lainnya.

Ruangan ini biasa dipakai oleh pemuka adat untuk melakukan ritual dan upacara adat.

Sehingga ruangan ini tidak bisa dimasuki oleh sembarang orang

8. Ruang Panteh

Panteh ini merupakan loteng di atap rumah yang digunakan oleh masyarakat Jambi untuk menyimpan barang penting.

Ruangannya diapit oleh kasau bentuk di sisi kiri dan kanan, serta dibatasi tebar layar di bagian bawah.

Untuk mencapai panteh dibuat tangga khusus, oleh karenanya rumah Kajang Leko dikenal memiliki dua tangga.

B. Rumah Adat Tuo Rantau Panjang

Rumah Masinding sebagai salah satu rumah adat jambi
https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/

Rumah adat di Jambi selain Kajang Leko yang sudah didaulat secara resmi, terdapat jenis lain yang biasa disebut rumah adat Tuo Rantau Panjang.

Rumah adat ini juga kerap disebut sebagai rumah Merangin merujuk pada lokasi eksistensinya saat ini yang berada di Kabupaten Merangin, Jambi.

Perkampungan yang masih mengejawantahkan adat istiadat suku Batin secara baik, bahkan masih ada sekitar 60 rumah adat yang masih digunakan sampai saat ini.

Bagi masyarakat Merangin, rumah Tuo Rantau Pajang bukan sekedar tempat tinggal.

Lebih dalam, rumah ini juga difungsikan sebagai museum mini yang menyimpan berbagai benda-benda adat peninggalan leluhur seperti kain kuno dan mushaf Al Quran yang ditulis tangan.

Ada pula perkakas jaman dulu berupa guci keramik peninggalan Dinasti Ming dan Ching, gong perunggu, dan cetakan bandul jala.

Struktur bangunan rumahnya dibuat memanjang ke samping sejajar dengan jalan.

Karena masih menggunakan tipe rumah panggung seperti sebagian besar rumah adat di Sumatera, rumah Tuo Rantau Panjang ini dilengkapi pula dengan tangga utama yang ditempatkan di tengah untuk mengakses bagian badan rumah.

Pintu dan jendela yang ada di rumah adat ini dibuat dengan ukuran yang besar dan berjumlah banyak.

Rumah ini juga memiliki dekorasi dinding dan tiang penyangga berupa ukiran dengan berbagai motif yang cantik.

Arsitektur Rumah dan Keterangannya

Ruang tengah di rumah adat Jambi Merangin
https://jambi.tribunnews.com/

Rumah Tuo Rantau Panjang memiliki denah bangunan persegi panjang yang lebih menyerupai bentuk segi enam dengan panjang 11,5 meter dan lebarnya sekitar 6,7 meter.

Bahan pembuatnya masih menggunakan kayu termasuk pada dinding dan lantai rumah.

Salah satu rahasia masyarakat Rantau Panjang untuk menjaga keawetan konstruksi bangunan kayu adalah adanya prosesi “poles ulang” setiap lima tahun memanfaatkan getah pohon ipuh yang diencerkan menggunakan air.

Tiang penyokong rumah memiliki jumlah yang lebih sedikit dibandingkan dengan susunan tiang di rumah Kajang Leko.

Tiang-tiang ini kemudian disusun membentuk 4 baris yang terbagi menjadi 6 kolom ruangan terbuka.

Atap rumah Tuo Rantau Panjang berbentuk pelana yang ditopang kerangka yang disusun secara menyilang.

Bahan atapnya sudah mulai bergeser dari ijuk berganti dengan seng akibat faktor susahnya bahan baku.

Berbagai jenis pintu di rumah adat Jambi Merangin
Anra dan Asyhadi, 2018

Jumlah pintu di rumah Tuo Rantau Panjang ini tidak main-main banyaknya.

Secara umum, ada kurang lebih 11 pintu yang melekat di rumah tradisional ini.

Empat pintu berada di bagunan rumah sebelah selatan yang terdiri dari pintu gedang, pintu balik mendalam, pintu kamar dan pintu dapur.

Pintu kamar memiliki ukuran 82 x 150 cm, pintu gedang berukuran 147 x 79 cm, dan pintu dapur 77 x 47 cm.

Di bagian utara rumah juga terdapa empat pintu yang melengkapi ruangan gendang dan satu pintu utama.

Pintu utama berukuran 136 x 89 cm, berbeda dengan pintu gedang yang memiliki ukuran 227 x 106 cm.

Pintu-pintu ini ditancapkan menggunakan pasak sehingga tetap tidak menggunakan paku.

Kemudian dua pintu lainnya berada di dapur sebelah barat dan timur.

Filosofi, Keunikan dan Ciri-ciri

Desain anti gempa di rumah adat Jambi
Umpak, desain anti gempa. Sumber: https://dananwahyu.com/

Rumah Tuo Rantau Panjang memiliki beberapa keunikan yang menjadi daya tarik.

Beberapa diantaranya adalah memiliki desain anti gempa karena Jambi berada di jalur gempa pulau Sumatera dan kepulauan di sekitarnya.

Desain anti gempa ini diimplementasikan pada tiang penyangganya yang diberi umpak atau bantalan dari kayu Sendi.

Umpak ini memiliki bentuk persegi panjang berukuran 56 x 7 cm.

Uniknya lagi, konstruksi bangunan rumah Tuo Rantau Panjang menggunakan konsep nir paku atau tidak menggunakan paku sama sekali.

Filosofi yang coba diterapkan oleh masyarakat di rumah adat Jambi ini adalah pintu yang dibangun dengan ukuran rendah, hanya sekitar satu meter.

Baca juga:   Rumah Bolon

Hal ini bertujuan untuk memberikan makna bahwa seseorang harus menghormati sang pemilik rumah dan tetap rendah hati dengan visualisasi berupa menunduknya seseorang yang akan masuk rumah.

Ornamen Hias

Dekorasi hias di rumah Tuo Rantau Panjang ini dipilah menjadi dua sub bagian yaitu ornamen konstruktif dan dekoratif.

Ornamen konstruktif terdiri dari ukiran yang dihiaskan pada ujung kuda-kuda konsol yang ada di bawah atap, ujung gelagar dan dinding yang berada di rumah bagian depan.

Motif yang digunakan merupakan perpaduan dari bentuk dedaunan, bunga dan sulur tanaman.

Ornamen hias juga ditemukan pada tiang bagian dalam, khususnya tiang yang ada di kamar dan baliak mendalam berupa lilitan rotan yang dikeringkan dan diberi nama cangok.

Cangok sebenarnya lebih ditujukan sebagai sistem kepercayaan masyarakat sebagai penangkal roh jahat.

Sedangkan pola dekoratif lebih banyak diukirkan di dinding kamar, bagian atas pintu dan jendela, serta ujung bubungan atap.

Motif yang digunakan masih menggunakan dedaunan, bunga dan sulur.

Ornamen hias penting yang ada di rumah Tuo Rantau Panjang adalah tali bapilin tigo yang diikatkan di tiang peyangga sebagai simbolis kerukunan antar umat beragama, kaum adat serta para ninik mamak.

Susunan Ruangan dan Fungsinya

Sketsa rumah adat Jambi
Sketsa Bentuk Rumah Tuo Rantau Panjang. Sumber: Anra dan Asyhadi, 2018

Rumah Tuo Rantau Panjang dibagi menjadi tiga ruangan utama.

Ruang pertama berada di bagian depan dan manfaatnya adalah sebagai ruangan pertemuan, musyawarah.

Di ruangan pertama ini lantainya diberi sekat menggunakan kayu yang berukuran sekitar 10 cm untuk membedakan tinggi rendahnya.

Lantai yang paling tinggi disebut balai melintang yang dikhususkan untuk Ninik Mamak, tetua adat, pemuka agama dan lain-lain ketika dilaksanakan upacara adat.

Lantai di bawahnya diperuntukkan untuk keluarga pemilik rumah.

Lantai paling bawah atau dikenal dengan lantai lorong digunakan oleh para pekerja.

Ruangan kedua berisi kamar tidur utama dan bilik anak-anak.

Ruangan ketiga merupakan bagian belakang yang berisi dapur untuk keperluan memasak.

C. Rumah Batu Pangeran Wirokusumo

Sejarah Pembangunan

Cagar budaya salah satu rumah adat jambi bernama rumah batu pengeran wirokusumo
www.indonesiakaya.com

Rumah batu Olak Kemang berlokasi di Olak Kemang, Danau Teluk, Kota Jambi.

Rumah batu Olak Kemang atau lebih dikenal rumah batu Pangeran Wirokusumo adalah bangunan tradisional peninggalan Said Idrus bin Siad Hasan Aljufri yang mendapat gelar Pangeran Wirokusumo.

Mulanya Pangeran Wirokusumo membangun rumah batu ini karena sering mendapat kunjungan keluarga besar.

Kemudian dalam perkembangannya, rumah batu Olak Kemang tidak hanya digunakan sebagai tempat tinggal, lebih luas lagi berfungsi sebagai tempat berkumpul para ulama di Jambi saat membahas syiar islam.

Rumah batu ini pun menjadi pusat pendidikan islam dan rumah transit bagi para pedagang asing di masa itu karena berada di aliran sungai Batanghari.

Arsitektur Bangunan

Rumah adat Jambi bernama rumah batu pangeran wirokusumo
www.indonesiakaya.com

Rumah batu Olak Kemang merupakan bangunan dua lantai dengan ukuran 13,5 x 17 meter yang didesain oleh seorang arsitek Cina bernama Datuk Shintai.

Terdapat masing-masing empat kamar di setiap lantai.

Atap rumah memiliki lambang naga dan barongsai yang banyak dipakai di rumah raja bangsa Cina.

Di sisi kanan dan kiri bangunan utama dibangun kolam renang untuk mandi.

Kolam renang kiri diperuntukkan untuk kaum perempuan sedangkan yang sebelah kanan biasa dipakai oleh laki-laki.

Keunikan dan Ciri Khas

Rumah adat Jambi yang bernama rumah batu pangeran wirokusumo
www.indonesiakaya.com

Rumah Olak Kemang memadukan tiga arsitektur dalam satu bangunan yakni budaya lokal, Eropa dan Cina.

Sentuhan budaya lokal terlihat dari bentuk rumahnya yang bertipologi rumah panggung dan beratap limas.

Tiang penyangga yang menggunakan batu bata dan semen, serta lantai ubin merupakan visualisasi pengaruh budaya Eropa pada bangunan ini.

Pengaruh Eropa lain diwujudkan dari bentuk pintu rumah yang melengkung di bagian atas.

Sedangkan unsur Cina berwujud pada ornamen naga dan barongsai yang diletakkan di ujung atap rumah.

Saat ini rumah Olak Kemang sudah didaftarkan sebagai salah satu cagar budaya di wilayah Jambi meskipun

beberapa bagian terjadi kerusakan yang cukup parah.

Nah!

Berbagai rumah adat di Jambi ini sekarang dijadikan cagar budaya dan dibuka sebagai tempat wisata.

Hal ini tentu sangat menarik untuk dijadikan lokasi hunting foto bersejarah mengacu pada keunikan masing-masing rumah adat.

Namun demikian harus diingat bahwa warisan budaya ini asset yang sepatutnya kita jaga bersama supaya tetap lestari.

Laila Nur Fatimah Agriculture entusiast || Writer of Digital Journal || (newbie) Illustrator ❣

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *