Joanda Kevin consultant and content writer

Rumah Adat Batak

7 min read

ilustrasi bangunan rumah adat batak

Apa itu Batak? Batak merupakan nama dari salah satu kelompok suku di Indonesia yang tepatnya berada di wilayah Pantai Barat dan Pantai Timur Provinsi Sumatera Utara.

Seperti suku-suku lain di Indonesia, Suku Batak memiliki rumah tradisional yang menjadi menjadi ciri khas dan memiliki makna filosofi serta sejarah.

Rumah Adat Suku Batak dan Penjelasannya

ilustrasi rumah adat batak bolon
Sumber: https://id.pinterest.com

Rumah Bolon adalah rumah yang berasal dari Suku Batak.

Bagi masyarakat Batak, rumah ini dijadikan sebagai pedoman kehidupan bermasyarakat serta berperan sebagai simbol pelestarian budaya Suku Batak.

Menurut sejarah, rumah adat Bolon dahulu digunakan sebagai tempat tinggal 14 raja purba sebagai pemimpin wilayah Simalungun.

Raja-raja ini memerintah Simalungun selama kurang lebih 300 tahun, yang tepatnya mulai dari tahun 1624 hingga 1947 Masehi.

Seperti rumah adat pada umumnya, Rumah Bolon juga memiliki ciri khas.

Keunikan yang pertama terletak pada bentuk atapnya yang seperti pelana kuda.

Sehingga, bagian depan dan belakang atap rumah memiliki struktur melengkung yang menjadi khas dari rumah ini. Bentuk atap yang aerodinamis ini juga sebagai bentuk adaptasi untuk menghadapi angin kencang.

Di samping itu, masyarakat juga mempercayai bahwa bentuk atap yang terbuat dari ijuk atau daun rumbia tersebut bisa membawa berkah dan kesuksesan bagi para keturunan pemilik rumah.

Oleh karena itu, atap ini sering dikeramatkan oleh masyarakat dan dipergunakan sebagai tempat menyimpan benda-benda pusaka.

Keunikan kedua yaitu pada struktur penopang bangunan.

Rumah tradisional ini ditopang dengan kayu-kayu gelondong berdiameter 42-50 sentimeter yang tersusun saling menyilang.

Ketiga adalah struktur rangka bangunan yang tidak disambung menggunakan paku ataupun besi, namun hanya dengan tali dan pasak.

Keempat, Rumah Bolon biasanya hanya memiliki satu akses tangga masuk yang terletak di bagian tengah bangunan.

Selain itu, tangga ini juga memiliki keunikan berupa jumlah anak tangga yang jumlahnya ganjil.

Bukan tanpa alasan, karena masyarakat setempat percaya bahwa anak tangga yang berjumlah ganjil dapat membawa berkah bagi pemilik rumah.

Kelima, yaitu dinding bangunan yang miring yang dibuat agar air hujan tidak mudah masuk ke dalam rumah.

Dinding ini pun diikat dengan tali dari rotan dan ijuk dengan pola cicak yang disebut juga ret-ret.

Keenam, rumah tradisional ini dihiasi dengan banyak ornamen yang merefleksikan nilai kehidupan dari masyarakat Suku Batak.

Berikut beberapa contoh ornamen yang biasa ditemukan di bangunan adat Rumah Bolon dan keterangannya:

Gorga Iran-Iran. Merupakan sebuah ornamen yang bentuknya terinspirasi dari tumbuhan merambat.

Sehingga, bentuk dari hiasan ini berupa corak berulang yang terlihat bagai satu kesatuan.

Simbol ini dimaknai sebagai nasihat agar setiap orang dapat bersikap baik dan manis dan dapat menyenangkan orang lain.

Simbol ini dapat ditemukan di bagian depan rumah dengan warna putih, merah, dan hitam.

Gorga Simeol-eol. Merupakan simbol yang terinspirasi dari tumbuhan lumut yang kehidupannya terombang-ambing namun tetap memiliki akar yang kuat merekat.

Simbol ini dapat dimaknai sebagai sebuah dinamisme kehidupan manusia dan kebahagiaan dengan komposisi warna putih, merah, dan hitam.

Gorga Silintong. Simbol yang berbentuk spiral memuusat ini terinspirasi dari pusaran air.

Hiasan ini dimaknai oleh masyarakat sebagai kekuatan gaib yang memperkuat iman dan menambah kekuatan baru bagi manusia.

Gorga Sitagan. Simbol yang berbentuk garis saling menyilang dengan ujung melingkar ini terinspirasi dari simpul tali temali.

Gorga ini bermakna sebagai pengingat untuk saling tolong menolong dan saling peduli sesama manusia.

Simbol ini pun juga dibuat dengan komposisi warna putih, merah, dan hitam.

Secara umum, ornamen-ornamen di rumah khas Batak ini memang menggunakan warna merah, putih, dan hitam.

Hal ini karena warna-warna tersebut memiliki makna tersendiri.

Untuk warna merah bermakna kekuasaan dunia, perjuangan manusia, dan pertarungan antara yang baik dengan yang buruk.

Warna putih menyimbolkan kesucian dan roh.

Sedangkan warna hitam menyimbolkan iblis dan kematian.

Selain itu, secara arsitektur, bangunan ini terbagi menjadi lima ruangan, yaitu:

Jabu bona. Merupakan ruangan yang berada di sudut kanan belakang rumah yang digunakan oleh kepala keluarga pemilik rumah.

Jabu soding. Merupakan ruangan yang terletak di sudut kiri belakang rumah (saling berhadapan dengan jabu bona) yang diperuntukkan bagi istri para tamu, anak perempuan pemilik rumah, dan sebagai tempat dilaksanakannya berbagai upacara adat.

Jabu suhat. Merupakan ruangan yang ada di sudut kiri depan bangunan dan diperuntukkan bagi anak laki-laki paling tua yang telah menikah.

Hal ini dikarenakann pada zaman dahulu belum ada sistem kontrak.

Sehingga anak laki-laki yang belum memiliki tempat tinggal sendiri akan menempati ruangan ini.

Jabu tampar piring. Ruangan yang juga disebut Jabu jolo-jolo ini terletak di bagian depan bangunan dekat pintu masuk dan bersebelahan dengan jabu suhat.

Biasanya ruangan ini dipergunakan untuk menjamu para tamu.

Jabu tongatonga ni jabu bona. Merupakan ruangan yang berada di tengah bangunan yang diperuntukkan sebagai tempat berkumpulnya keluarga besar pemilik rumah.

Jenis-Jenis Rumah Adat Suku Batak

Rumah Bolon ternyata memiliki beragam jenis yang dibedakan berdasarkan sub sukunya.

Apa saja itu? Nah, untuk lebih lengkapnya, berikut jenis-jenis rumah adat Suku Batak serta gambar, foto, penjelasan, dan keunikannya.

1. Rumah Adat Balai Batak Toba

ilustrasi rumah adat batak balai batak toba
Sumber: https://interaktif.kompas.id

Rumah adat ini dimiliki oleh masyarakat Suku Batak Toba.

Biasanya, mereka bermukin di sekitar wilayah Danau Toba, Dataran Tinggi Toba, sekitar wilayah Barus dan Sibolga hingga ke daerah Pegunungan Bukit Barisan, serta Pulau Samosir.

Di samping itu, rumah adat ini dibangun dengan material kayu dan dibangun secara gotong royong.

Secara struktur, rumah ini terdiri dari dua bagian.

Bagian pertama yaitu jabu parsakitan yang berfungsi sebagai tempat untuk menyimpan barang sekaligus tempat untuk membicarakan berbagai hal yang berkaitan dengan ada.

Bagian kedua yaitu jabu bolon yang digunakan sebagai tempat tinggal bagi keluarga besar.

Bagi masyarakat Batak Toba, atap rumah adat ini menggambarkan dunia para dewa.

Sedangkan bagian lantai rumah merupakan perwujudan dunia manusia dan bagian kolong rumah menggambarkan dunia kematian.

2. Rumah Adat Batak Karo

ilustrasi rumah adat batak karo
Sumber: http://planetbatak.blogspot.com

Rumah tradisional ini dimiliki oleh masyarakat Suku Batak Karo yang berdiam di Dataran Tinggi Karo, Deli Hulu, dan Langkat Hulu.

Arsitektur bangunan ini sendiri disuaikan dengan kondisi iklim tropis yang lembab.

Hal ini dibuktikan dengan bentuk tritisan yang cukup lebar, lantai bangunan yang berada cukup tinggi dari permukaan tanah, dan sudut kemiringan atap yang besar.

Selain itu, atap rumah ini juga memiliki bentuk yang menonjol agar asap dari tungku dapat mudah keluar.

Pada bagian depan dan belakang rumah adat ini juga terdapat panggung kecil bernama ture yang terbuat dari bambu.

Fungsi dari ture ini adalah sebagai akses masuk utama, tempat menyiapkan makanan, mencuci, dan pembuangan kotoran hewan.

Seluruh bagian rangka bangunan rumah adat ini saling disambung dengan tali dan pasak.

Selain itu, balok-balok kayu penopang rumah ditempatkan di atas batu kali pipih yang telah ditanam sedalam satu setengah meter dengan alas beberapa kembar sirih dan sebuah benda sejenis besi.

Rumah adat ini berbentuk memanjang sekitar 10-20 meter dengan akses pintu yang ada di bagian Timur dan Barat bagian muka bangunan.

Di tahap perencanaannya, biasanya masyarakat akan saling bermusyawarah.

Setelah itu, masyarakat mulai mencari kayu yang akan menjadi material bangunan di hutan pada hari-hari baik saja setelah berkonsultasi dengan tetua adat.

Saat akan memulai proses pembangunan, akan dilaksanakan sebuah ritual agar pembangunan bisa berjalan dengan lancar dan dapat membawa berkah.

Demikian pula saat rumah selesai dibangun, sebuah ritual akan dilakukan sebagai bentuk syukur sekaligus dalam rangka mengusir hal-hal jahat di dalam rumah.

Rumah tradisional ini juga memiliki ukuran yang besar, yaitu dengan luas 17 x 12 meter persegi.

Oleh karena itu, bangunan ini biasa ditempati antara empat hingga dua belas keluarga dengan asumsi masing-masing keluarga terdiri dari lima anggota keluarga.

Hal ini pula yang menjadikan Rumah Batak Karo memiliki empat hingga enam tungku, yang setiap tungkunya digunakan oleh dua keluarga.

3. Rumah Adat Batak Simalungun

miniatur rumah adat batak simalungun
Sumber: https://djangki.files.wordpress.com

Rumah adat ini dimiliki oleh Suku Batak Simalungun yang bertempat tinggal di daerah Simalungun, Pematang Siantar, Provinsi Sumatera Utara.

Seperti Rumah Bolon, rumah ini juga mengusung konsep rumah panggung.

Berdasar sejarah, rumah ini dahulu digunakan sebagai tempat tinggal dari raja Batak Simalungun di daerah Pematang Purba.

Secara struktur, rumah ini tidak jauh berbeda dengan jenis Rumah Bolon lain.

Yaitu lantai rumah yang terbuat dari papan kayu, atap yang terbuat dari ijuk, serta mempunyai kolong setinggi kurang lebih dua meter yang biasanya digunakan untuk memelihara hewan.

Selain itu, pemilik rumah ini juga biasanya mengecat permukaan balok-balok kayu penopang rumah yang terletak secara horizontal.

Satu hal yang tidak kalah penting adalah bahwa rumah Adat Batak Simalungin ini memiliki pesan atau filosofi tentang pertemuan sekelompok masyarakat yang tergambarkan melalui ornamennya.

4. Rumah Adat Batak Pakpak Dairi

ilustrasi rumah adat batak pakpak dairi
Sumber: https://steemit.com

Rumah adat Suku Batak Pakpak ini dapat ditemukan di beberapa daerah di Kabupaten Tapanuli Tengah, Kabupaten Humbang Husundutan, dan Pakpak Bharat.

Material utama dari bangunan khas Suku Batak Pakpak ini yaitu kayu dengan atap berupa ijuk.

Untuk mengenali rumah tradisional ini dapat melalui beberapa keunikan fisik yang dimiliki.

Pertama yaitu bentuk bubungan atapnya yang melengkung dan berbentuk seperempat lingkaran.

Bentuk atap ini memiliki filosofi memikul beban resiko dalam mempertahankan kebudayaan Suku Batak Pakpak atau dalam bahasa setempat disebut juga “petarik-tarik mparas igongken ndegol”.

Kedua, yaitu terdapat pilo-pilo yang digantung.

Dimana simbol ini menggambarkan hubungan baik dan harmonis antara pemimpin dengan rakyat, serta simbol kebijaksanaan seorang pemimpin dalam mengayomi masyarakat.

Ketiga yaitu dapat ditemukannya tiga jenis ornamen atau motif hiasan pada bagian segitiga muka rumah, yaitu perbungan kembang, perbunga pencur, serta perbunga kupkup.

Keempat yaitu memiliki jumlah anak tangga ganjil ketika pemilik rumah merupakan keturunan raja dan jumlah anak tangga genap saat pemilik rumah merupakan masyarakat biasa.

Kelima yaitu terdapat gambar lidah payung yang menyimbolkan kepercayaan masyarakat terhadap seorang pemimpin yang sudah memberikan kesejahteraan dan kesentosaan.

Keenam yaitu terdapat dua buah tiang pada bagian depan rumah yang menyimbolkan kerukunan rumah tangga antara suami dan istri.

Ketujuh yaitu Rumah Pakpak memiliki atap berbentuk segitiga yang menggambarkan susunan adat dalam masyarakat Suku Batak Pakpak, yaitu senina (saudara kandung laki-laki), berru (saudara kandung perempuan), serta puang (kemenakan).

5. Rumah Adat Batak Angkola

ilustrasi rumah adat batak angkola
Sumber: https://www.nesabamedia.com

Rumah adat ini merupakan rumah khas dari Suku Batak Angkola.

Suku Batak Angkola sendiri banyak bermukim di daerah Tapanuli bagian Selatan, yaitu Kota Padangsidipuan, Kabupaten Padang Lawas, Kabupaten Padang Lawas Utara, Kabupaten Tapanuli Selatan, serta sebagian Kabupaten Mandailing Natal.

Suku Batak Angkola ini pun memiliki kekerabatan yang cukup dekat dengan Batak Toba dan Batak Mandailing karena adanya persamaan agama, budaya, dan bahasa antar masyarakatnya.

Secara fisik, arsitektur rumah tradisional Suku Batak Angkola ini mirip dengan Batak Mandailng.

Keduanya memiliki ornamen yang mirip dan sama-sama menggunakan konsep rumah panggung.

Bangunan ini juga dibangun dengan bahan utama kayu, khususnya bagian dinding dan lantai.

Namun ciri khas yang membedakan dengan Rumah Bolon lain, terutama rumah adat Batak Mandailing adalah penggunaan warna hitam yang sangat dominan.

6. Rumah Adat Batak Mandailing

ilustrasi rumah adat batak mandailing
Sumber: https://seringjalan.com

Rumah adat ini merupakan rumah khas dari Suku Batak Mandailing.

Suku ini lebih banyak ditemui di bagian Utara Provinsi Sumatera Utara dan banyak dipengaruhi oleh budaya Islam.

Nama Suku Batak Mandailing ini sebenarnya berasal dari peristiwa peleburan dengan Suku Batak Toba oleh misionaris Belanda.

Dimana pada mulanya nama suku ini hanya Suku Mandailing tanpa kata “Batak”.

Konon, bangunan adat ini dulunya adalah tempat tinggal raja marga Nasution.

Menurut cerita yang berkembang, nama marga nasution ini berasal dari kata “nasuktion” yang berarti sakti.

Nama ini muncul setelah Si Baroar, anak dari Raja Iskandar Muda yang dianggap anak orang sakti.

Sehingga keturunan dari Si Baroar diberi nama marga nasution.

Bangunan ini dibangun dengan tiga material utama, yaitu kayu, ijuk, dan batu alam.

Rumah ini mengusung konsep rumah panggung dan ditopang dengan balok-balok kayu yang jumlah ganjil serta diletakkan di atas permukaan batu pipih.

Hal ini dipercaya sebagai bentuk adaptasi dari curah hujan yang tinggi, agar air tidak meresap ke kayu penopang dan merusak struktur pondasi.

Di samping itu, struktur ini juga dinilai membuat bangunan aman dari guncangan gempa bumi.

Selain itu, bilah-bilah papan yang saling tersambung dengan sistem lidah digunakan sebagai material utama dinding rumah.

Sedangkan bagian jendela dan pintu rumah memiliki bentuk seperti panel.

Rumah khas Mandailing ini juga terdapat dua macam, yaitu bagas godang dan sopo godang.

ilustrasi rumah adat batak bagas godang
Sumber: https://www.flickr.com

Bagas godang berfungsi sebagai tempat tinggal seorang raja, untuk penyelenggaraan berbagai upacara adat, dan tempat perlindungan bagi masyarakat.

miniatur rumah adat batak sopo godang
Sumber: https://djangki.wordpress.com

Sedangkan sopo godang adalah sebuah bangunan yang berbentuk persegi panjang, tidak memiliki dinding, dan memiliki ukuran yang lebih kecil dari bagas godang.

Biasanya bangunan ini difungsikan untuk tempat musyawarah, menyelenggarakan kesenian, tempat belajar hukum, seni, adat, dan berbagai macam ilmu pengetahuan lain, serta tempat bermalam bagi para musafir.

Nah, dapat disimpulkan bahwa Rumah adat khas Suku Batak berupa Rumah Bolon.

Sehingga Rumah Bolon ini juga sering dianggap sebagai rumah adat yang berasal dari Provinsi Sumatera Selatan.

Sesuai dengan macam Suku Batak yang beragam, rumah adat Suku Batak juga ada berbagai jenis, seperti rumah Adat Batak Angkola, Karo, dan Mandailing.

Meskipun masing-masing rumah adat tersebut memiliki ciri khas, namun rumah-rumah tersebut memiliki kesamaan.

Beberapa persamaan itu adalah mengusung konsep rumah panggung, dibangun dengan material kayu dan ijuk, dan ditopang dengan tiang-tiang dari kayu.

Selain itu, masing-masing rumah ini juga memiliki filosofi dan arti mendalam bagi masyarakat setempat.

Harapannya artikel ini dapat menambah wawasan pembaca tentang Rumah adat Suku Batak.

Semoga bermanfaat!

Joanda Kevin consultant and content writer

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *