Perang Puputan Margarana: Sejarah, Tokoh & Dampaknya

Perang Puputan di Bali dikenal dengan Pertempuran Puputan Margarana adalah salah satu peristiwa sejarah yang pernah terjadi di tanah air, jauh sebelum Indonesia merdeka. Perang yang terjadi di daerah Pulau Bali ini mempunyai tujuan untuk mengusir Belanda dari bumi Pulau Dewata meskipun harus mengorbankan nyawa dan materi. Rakyat Bali pada saat itu tidak ingin Belanda menduduki Kerajaan Klungkung yang sudah didirikan sejak abad ke-9.

Lebih jelasnya,  disini Kami akan membahas secara lengkap apa yang dimaksud Perang Puputan hingga tokoh pahlawan yang terlibat di dalamnya.

Latar Belakang Perang Puputan Margarana

kronologi Perang Puputan
minews.id

Penyebab awal mula terjadinya perang Puputan Margarana karena lahirnya perjanjian Linggarjati antara pemerintah Indonesia dengan Belanda pada 10 November 1946. Dalam negosiasi tersebut, ternyata dinilai lebih menguntungkan pihak Belanda karena territorial de Facto Indonesia yang diakui hanya Belanda, Madura dan Jawa saja, tidak termasuk Pulau Bali.

Belanda diharuskan meninggalkan wilayah de facto pada 1 Januari 1949. Kemudian di tanggal 2-3 Maret 1949, Belanda mendaratkan lebih dari 2000 tentara di Bali untuk mendukung Belanda. Namun ketika itu, Letnan Kolonel I Gusti Ngurah Rai sebagai komandan Resiman Nusa Tenggara tidak  mengetahui pendaratan Belanda karena sedang melakukan perjalanan dinas ke Yogyakarta.

Belanda punya maksud untuk menjadikan Pulau Dewata sebagai negara bagian timur Indonesia sehingga mereka meningkatkan kekuatan militernya di Bali. Tidak hanya itu saja, Belanda juga mendaratkan kapal di pelabuhan lepas pantai Baling. Perjanjian Linggarjati dianggap dapat membahayakan Republik Indonesia dan mengecewakan masyarakat Bali yang masih ingin menjadi bagian tanah air, alih alih harus dikuasai pihak asing.

Bahkan Letnan Kolonel I Gusti Ngurah Rai pada saat itu ditawarkan banyak hal agar berpihak pada Belanda, tapi I Gusti Ngurah Rai lebih memilih membela dan mempertahankan Indonesia. Letnan Kolonel I Gusti Ngurah Rai secara tegas menolak negosiasi dari Belanda yang menginginkan pendirian Negara Indonesia Timur. Bahkan I Gusti Ngurah Rai melakukan perlawanan bersenjata pada 18 November 1946. Belanda merasa tidak terima dan mengerahkan pasukan tentara militer mereka untuk menghadapi perlawanan orang-orang Bali dan I Gusti Ngurah Rai.

Kronologi Perang

sejarah Perang Puputan yang terjadi di Bali
blogspot.com

Jauh sebelum perang puputan terjadi, ada kronologi yang menjelaskan mengapa kawasan di Bali bisa diambil oleh Belanda. Dulunya di Bali berdiri sebuah kerajaan bernama Kerajaan Klungkung, tapi kerajaan ini kalah dalam perang melawan Belanda sehingga Bali dikuasai oleh Belanda. Untuk lebih jelasnya, Kamu bisa memperhatikan beberapa tanggal penting berikut ini sebagai bagian jalannya peristiwa puputan:

Baca juga:   Perang Batak

a. Tanggal 16 April 1908

Pada tanggal 13 hingga 16 April 1908, tim keamanan Belanda melakukan patroli di daerah Klungkung tapi tindakan tersebut dianggap telah mengganggu dan melanggar kedaulatan Kerajaan. Belanda berdalih bahwa patroli tersebut bertujuan untuk mengamankan dan memeriksa tempat penjualan opium karena pihak Belanda-lah yang memegang monopoli komersial opium.

Cokorda Gelgel selaku kerabat dari pihak Kerajaan bersiap-siap untuk memberikan serangan terhadap tim patroli Belanda. Serang tersebut dilakukan secara dadakan hingga membuat Belanda kalah dan 10 tentara diantaranya terbunuh, termasuk Letnan Haremaker. Sementara Gelgel kehilangan 12 tentara, salah satunya adalah I Putu Gledeg.

b. Tanggal 17 April 1908

Pada tanggal ini Belanda melakukan serangan balik kepada Gelgel dengan melibatkan pasukan dari Karangasem untuk memasuki kawasan penyerangan pada 16 April 1908 malam hari. Memasuki tanggal 17 April 1908 pagi, pasukan Belanda menyerang Gelgel. Raja Klungkung berusaha untuk menghentikan pertumpahan darah dengan mencoba mengajukan perdamaian dengan pihak Belanda melalui Cokorda Raka Pugog.

Namun Belanda menolak dan peperangan pun tetap terjadi, pertempuran berakhir dengan kekalahan Gelgel. Padahal Cokorda Raga Pugog juga ikut serta dalam pertempuran tersebut bersama pasukan kemanusiaan yang dikirimkan oleh Raja Klungkung, tapi tidak mampu menghadapi serangan dari pihak Belanda.

c. Tanggal 21 April 1908

Pada tanggal ini menunjukkan perang antara Belanda dengan Kerajaan Klungkung semakin nyata. Belanda bahkan telah mendatangkan ekspedisi khusus dari Batavia dan memberikan ultimatum kepada rakya klungkung untuk menyerang maksimal tanggal 22 April 1908. Wilayah istana dibom selama 6 hari berturut-turut yang sebelumnya telah memberikan beberapa pesan untuk Buleleng, diantaranya:

  • Melindungi perdagangan Belanda
  • Kenali pemerintahan Belanda
  • Hak tawanan terumbu harus dihapuskan

d. Tanggal 27 April 1908

Pada tanggal 27 april 1909 malam, ekspedisi khusus dari Batavia tiba lengkap dengan kapal dan senjata perang. Belanda bahkan memberikan ultimatum kembali sebelum memulai aksi penyerangan mereka. Hingga menjelang siang hari, Raja Klungkung menyerah tanpa syarat dan kerajaan jatuh ke tangan Belanda. Raja menerima ultimatum dan meminta waktu 5 hari untuk mencoba bernegosiasi dengan pejabat-pejabat senior di Kerajaan. Namun permintaan tersebut ditolak oleh Belanda dan kerajaan ditembakkan meriam dari kapal.

e. Tanggal 28 April 1908

Perang di wilayah Kerajaan Klungkung dimulai pada tanggal 28 April 1908, penduduk desa menentang keras semua ultimatum dari Belanda. Pasukan Belanda semakin mendekati istana Smarapura, Cokorda Gelgel dan Dewa Besar Gde Semarabawa meninggal tepat di depan tentara musuh. Hal itu membuat putra mahkota harus turun ke medan perang untuk mempertaruhkan nyawanya demi mempertahankan istana, pada akhirnya Putra Mahkota juga gugur.

Baca juga:   Perang Tabuk

Meskipun kematian Permaisuri dan Putra Mahkota sudah terdengar, tapi tidak membuat Kaki Dewa Besar tunduk dan menyerah. Dewa Agung Jambe beserta sebagian keluarga kerajaan yang masih tersisa bersedia untuk perang hingga titik darah terakhir. 28 April 1908 jam 3 sore, Kerajaan Klungkung jatuh di tangan Belanda yang artinya seluruh wilayah di Bali adalah milih pemerintah Belanda.

Puncak dan Masa Akhir Pertempuran

puncak Perang Puputan
tribunnewswiki.net

I Gusti Ngurah Rai dan para pasukannya  berjalan-jalan ke Gunung Agung pada 20 November 1946, lokasinya di ujung timur Pulau Bali. Di tengah perjalanan, mereka dicegat oleh pasukan Belanda dan pertempuran pun tidak bisa dihindarkan. Suara tembak-tembakkan seketika menyelimuti ladang jagung wilayah Marga yang semula sangat tenang.

Ladang jagung tersebut berada kurang lebih 40 kilometer dari Denpasar. Pasukan pemuda Ciung Wanara tidak membawa persenjataan yang lengkap, tapi mereka tidak buru-buru membalas serangan. Mereka menunggu perintah I Gusti Ngurah Rai untuk membalas. Setelah mendapatkan perintah, puluhan pemuda menanggapi serangan dari NICA (Administrasi Sipil Indische Belanda).

Para pemuda berhasil mengusir tentara Belanda dan mendapatkan beberapa barang rampasan dari hasil pertempuran. Namun ternyata pertempuran masih belum berakhir karena NICA semakin brutal dengan melakukan serangan melalui pesawat. Perang hingga akhir inilah yang membuat I Gusti Ngurah Rai gugur dalam medan perang dan tanggal 20 November menjadi salah satu peringatan bersejarah atas peristiwa melawan Penjajahan Belanda.

Tokoh yang Terlibat (I Gusti Ngurah Rai)

tokoh Perang Puputan
wikimedia.org

Pahlawan yang gugur pada perang puputan di Bali adalah I Gusti Ngurah Rai. Kolonel Anumerta I Gusti Ngurah Rai meninggal pada 20 November 1946 di Marga, Tabanan Bali. Beliau mempunyai pasukan yang bernama “Tokring Garing Box” dengan pertempuran terakhirnya dinamakan Puputan Margarana. Dalam Bahasa Bali, Puputan mempunyai pengertian “serba”, dan margarana mempunyai makna “pertempuran di Marga”.

Marga merupakan sebuah desa kecil yang ada di kecamatan Tabanan Bali. Pemerintah Indonesia memberikan penghargaan kehormatan Bintang Mahaputra dan dipromosikan sebagai brigadier jenderal secara anumerta. Kemudian namanya juga digunakan sebagai bama Bandara di Bali, Bandara Ngurah Rai.

Dampak Perang Puputan

dampak ekonomi Perang Puputan
photobucket.com

Salah satu dampak besar terjadinya perang puputan yaitu banyaknya korban yang meninggal, sebagian besar dari masyarakat Bali sendiri. Rakyat bersama I Gusti Ngurah Rai berjuang mati-matian mempertaruhkan nyawa mereka untuk mempertahankan Pulau Bali. Dalam pertempuran tersebut bahkan I Gusti Ngurah Rai harus mengorbankan dirinya sendiri.

Museum Margarana

Peninggalan Perang Puputan
tripadvisor.com

Sebagai salah satu pengingat pernah terjadinya perang pertumpahan darah di Marga, kemudian didirikan Monumen Nasional Taman Pujaan Bangsa Margarana. Monumen ini berada di Kec. Marga, Kab. Tabanan, sekitar 25 km dari Denpasar ke arah Barat Laut. Monumen Nasional Taman Pujaan Bangsa Margarana dibangun menjadi tiga bagian, yakni bagian hulu, tengah dan hilir dengan luas mencapai 9 hektar. Berikut ini penjelasan masing-masing bagiannya:

Baca juga:   Perang Mu'tah

a. Hulu (di utara)

Monumen Nasional Margarana Perang Puputan
pinterest.com

Di bagian ini mempunyai luas sekitar 4 hektar sebagai tempat suci atau disebut Taman Pujaan Bangsa yang terdiri atas:

  • Candi Pahlawan Margaran setinggi 17 meter. Dalam candi ini juga terpahat isi surat jawaban dari Gusti Ngurah Rai yang menggambarkan perjuangan dan patriotisme bangsa Indonesia secara umum dan masyarakat Bali secara khusus.
  • Taman Bahagia yang letaknya ada di utara dan timur laut Candi Pahlawan Margarana. Disini terdapat sekitar 1372 nisan sebagai simbolis jumlah pejuang yang gugur dalam medan perang.
  • Patung Panca Bakti yang berada di selatan pelataran upacara, menggambarkan kesatuan rakyat dalam berjuang mendapatkan kemerdekaan.
  • Gedung Sejarah berada di sebelah timur candi Pahlawan Margarana, gedung ini merupakan tempat penyimpanan benda-benda peninggalan sejarah perjuangan
  • Taman Suci yang berlokasi di sebelah selatan gedung sejarah sebagai ziarah para pengunjung museum

b. Bagian Tengah

Museum Margarana Bali dari Perang Puputan
gustibali.com

Bagian ini disebut juga Taman Seni Budaya yang berada di sebelah Selatan Taman Pujaan Bangsa dengan luas sekitar 1 hektar. Disini ada beberapa bangunan diantaranya warung kopi, wantilan dan rencananya akan didirikan toko souvernir.

c. Hilir (di Selatan)

Bagian ini memiliki luas wilayah sekitar empat hektar yang rencananya akan dibangun Bumi Perkemahan Remaja.

Nilai-nilai yang Dapat Diteladani

Makna Perang Puputan
bertuahpos.com

Alasan mengapa rakyat mengadakan perlawanan dengan Belanda karena ingin mempertahankan wilayah Bali yang semula dikuasai oleh NICA. Ada beberapa nilai yang dapt diteladani dari perang Puputan, diantaranya:

  • Sikap rela berkorban dan berani mempertaruhkan nyawa demi membela tanah air untuk kepentingan bersama
  • Sikap I Gusti Ngurah Rai sebagai pemimpin yang pantang menyerah dan tidak mudah tergoda dengan segala rayuan dari Belanda, beliau tetap dengan pendiriannya untuk mempertahankan tanah air.
  • Menghargai setiap upaya dan mau mencoba untuk berusaha memperjuangkan kemerdekaan meskipun harus mempertaruhkan nyawa.

Akhir Kata

Demikianlah ringkasan tentang Perang Puputan yang pernah terjadi di wilayah Pulau Bali, Indonesia. Fyi, perang puputan sebenarnya terjadi di beberapa wilayah, termasuk puputan Badung, Jagaraga, Klungkung hingga di masa perjuangan kemerdekaan. Sebagai bagian dari bangsa Indonesia, setidaknya kita tidak melupakan sejarah dan menghargai jasa-jasa para pahlawan yang sudah mempertaruhkan nyawa mereka di medan perang. Semoga sedikit pembahasan bisa menambah wawasan tentang sejarah lengkap Perang Puputan.

Tinggalkan komentar