Perang Khaibar: Sejarah, Latar Belakang & Tokoh yg Terlibat

Perang Khaibar adalah perang yang terjadi antara umat Islam dan umat Yahudi pada tahun 629 Masehi di Oasis Khaibar. Perang tersebut terjadi karena umat Yahudi melanggar perjanjian damai. Setelah diusir, umat Yahudi menyusun rencana untuk menyerang umat Islam. Hal dilakukan oleh umat Yahudi karena dendam mereka terhadap umat Islam sudah sangat menumpuk.

Ingin tahu kelanjutan dari kisah Perang Khaibar? Yuk, simak di bawah ini!

Peta Perang Khaibar

foto peta perang khaibar
Sumber: wattpad.com

Berikut adalah peta wilayah pertempuran Perang Khaibar.

Sejarah dan Latar Belakang

foto dan sejarah perang khaibar
Sumber: panjimasyarakat.com

Perang ini terjadi antara umat Islam dan umat Yahudi. Tempat terjadinya perang ini adalah Oasis Khaybar. Perang yang berlangsung selama 2 minggu dimenangkan oleh umat Islam.

Latar belakang terjadinya perang ini adalah umat Yahudi yang sengaja memusuhi umat Islam. Penyebab perang ini disampaikan oleh William Montgomery Watt. Nabi Muhammad berangkat menuju medan perang dengan membawa 1400 pasukan.

Pasukan Nabi Muhammad berangkat tanpa mengenal takut karena mereka percaya dengan janji Allah. Sebelum Perang Khaibar terjadi, Allah menjanjikan kemenangan dan harta yang melimpah bagi umat Islam. Umat Islam tak kenal takut meskipun mereka mengetahui bahwa Khaibar adalah wilayah umat Yahudi yang paling kuat.

Namun, umat Yahudi sendiri juga cukup cerdas. Karena mereka kekurangan jumlah pasukan, maka mereka mengumpulkan musuh Nabi Muhammad dari berbagai kabilah sehingga memiliki banyak sekutu.

Jalannya Perang

foto ali membobol pintu benteng yahudi dalam perang khaibar
Sumber: jernih.co

Umat Islam sampai di Khaibar pada dini hari. Mereka melakukan serangan secara tiba-tiba ketika umat Yahudi berangkat bekerja. Umat Yahudi kaget dengan serangan tersebut.

Pada serangan pertama, para sahabat Nabi Muhammad belum berhasil menguasai benteng pertahanan Yahudi. Mereka kembali lagi pada keesokan harinya. Keesokan harinya pasukan Nabi Muhammad menyerbu ke jantung pertahanan musuh. Hal tersebut bukan sesuatu yang mudah dilakukan.

Baca juga:   Perang Hunain

Sebelumnya, Yahudi pernah diserang oleh bangsa Romawi tetapi kemenangan masih mereka pegang. Benteng Yahudi di Khaibar sangat sulit ditembus karena pertahanannya yang berlapis-lapis. Meskipun beberapa pemimpin Yahudi telah berhasil dikalahkan, tetapi umat Islam belum mampu menembus benteng pertahanan tersebut.

Abu Bakar dan Umar ditugaskan oleh Nabi Muhammad untuk menjadi panglima dalam perlawanan ini tapi mereka berdua belum berhasil. Akhirnya Ali datang menggantikan peran sebagai panglima perang.

Dalam Perang Khaibar ini, nama Ali menjadi terkenal. Ia berhasil membobol pintu benteng dan menjadikannya perisai. Kisah ini diceritakan hingga ke seluruh penjuru dunia. Akhirnya semua benteng pertahanan milik Yahudi bisa jatuh ke tangan umat Islam satu per satu.

Akhir Pertempuran

perang khaibar berakhir
Sumber: youtube.com

Umat Yahudi akhirnya menyerah, semua benteng diberikan kepada uat Islam. Namun, Nabi Muhammad tetap memerintahkan pasukannya untuk melindungi umat Yahudi dan harta mereka. Hanya ada satu yang tidak ilindungi karena ia terbukti berbohong kepada Nabi Muhammad, yaitu Kinana bin Rabi’.

Nabi Muhammad ingin menunjukkan bahwa Islam memiliki perlakuan yang berbeda terhadap musuhnya. Umat Kristen pada masa itu akan menghancurkan musuh yang telah mereka kalahkan. Namun, Islam tetap memberi kemerdekaan bagi Yahudi asal mereka mau mengikuti aturan Nabi Muhammad.

Nabi Muhammad tinggal beberapa hari Khaibar setelah peperangan. Ia hampir meninggal karena diracuni oleh istri salah satu pasukan Yahudi yang meninggal ketika perang. Salah satu sahabatnya yang bernama Bisyri bin Bara meninggal karena ia terlanjur memakan makanan pemberian istri pasukan Yahudi tersebut.

Akhirnya pasukan umat Islam kembali ke Madinah. Di tengah perjalanan mereka sempat dicegat oleh salah satu kelompok Yahudi. Namun, Islam berhasil mengalahkannya. Setelah berhasil menaklukkan Yahudi, itu berarti kekuatan Islam di Madinah menjadi yang terkuat.

Baca juga:   Perang Sampit

Nabi Muhammad bisa melanjutkan dakwahnya dan masyarakat hidup lebih tenang. Umat Yahudi kemudian menyerah dengan syarat membayar pajak dan menyerahkan tanah mereka kepada umat Islam.

Tokoh yang Terlibat

1. Nabi Muhamad

Peran Nabi Muhammad sebagai pemimpin perang sudah tidak diragukan lagi. Hampir semua perang yang ia pimpin membawa kemenangan bagi umat Islam. Namun, hal ini tidak akan terjadi tanpa izin Allah. Nabi Muhammad selalu mengingatkan pasukannya untuk mentaati aturan perang yang mereka buat. Meskipun berperang, kita juga harus memperlakukan manusia dengan baik.

2. al-Harits bin Abu Zainab

Ia adalah pemimpin kaum Yahudi. Al-Harits menjadi salah satu pemimpin yang menjaga pertahanan di dalam benteng Yahudi.

Strategi

foto benteng yahudi dalam perang khaibar
Sumber: umroh.com

Nabi Muhammad menggunakan beberapa taktik dalam Perang Khaibar. Pertama, ia menggunakan taktik Urban Warfare. Khaibar sendri selama ini dibangun di antara benteng-benteng kokoh yang menjaganya. Hal tersebut merupakan ciri khas pertahanan kaum Yahudi.

Tak jarang Nabi Muhammad juga menggunakan taktik Jungle Warfare karena sumber mata air Yahudi kebanyakan berada di luar benteng. Beberapa sumber mata air tersebut berhasil dikuasai oleh kaum muslimin. Kemenangan Jungle Warfare adalah pihak yang lebih dulu menguasai sumber air.

Namun, hal ini tidak menjadi masalah besar bagi kaum Yahudi. Sejak dahulu memang sumber air dan logistik mereka berada tersebar di luar benteng sehingga mereka sudah memiliki pertimbangan akan kekalahan Jungle Warfare. Nabi Muhammad juga mengetahui bahwa kaum Yahudi memiliki pertahanan benteng yang kuat.

Oleh karena itu, taktik yang digunakan adalah menguasai benteng satu per satu. Kaum Yahudi menyerang musuh dari atas benteng menggunakan anak panah beracun. Serangan tersebut dilakukan sambil berlindung di dalam benteng. Hal ini juga menjadi ciri khas peperangan kaum Yahudi.

Mereka merasa aman jika menyerang melalui perlindungan seperti benteng dan tank. Nabi Muhammad memiliki banyak panglima perang yang cerdik. Penyerangan terhadap benteng dilakukan dengan cara membuat pasukan kecil yang bertugas sebagai pengecoh.

Baca juga:   Perang Teluk 2

Sementara pengecoh memecah fokus penjagaan benteng kaum Yahudi, pasukan inti menyerang pertahanan benteng secara masif. Panglima perang pada zaman as-sabiqun al-awwalun memang sudah terkenal memiliki kesabaran dan keteguhan hati luar biasa. Terutama Ali, ia adalah panglima yang berhasil merebut benteng Yahudi di Khaibar.

Hikmah Perang Khaibar

foto reruntuhan benteng yahudi dalam perang khaibar
Sumber: krjogja.com

Ada beberapa pelajaran yang dapat diambil dari Perang Khaibar.

Pelajaran tersebut diantaranya adalah:

1. Perintah dari Nabi Muhammad untuk mengharamkan daging keledai piaraan.

2. Terdapat banyak mukjizat yang terjadi saat Perang Khaibar, diantaranya adalah mata Ali yang sembuh setelah diludahi Nabi Muhammad dan keracunan Nabi Muhammad yang gagal.

3. Dalam waktu yang telah ditentukan, umat Islam boleh berdamai dengan Yahudi dan memerangi orang kafir pada saat bulan haram.

Isi Perjanjian Damai

Setelah peperangan usai, Yahudi dan umat Islam membuat perjanjian damai. Perjanjian tersebut berisi kesepakatan antara kedua belah pihak.

Pertama, prajurit Yahudi yang ada di dalam benteng bisa dipastikan akan selamat. Para wanita dan anak-anak harus segera keluar dari Khaibar dan menyerahkan harta benda kepada Nabi Muhammad. Hal-hal di atas biasanya selalu dilakukan oleh Nabi Muhammad dalam setiap kemenangan perang.

Nah, itu tadi adalah penjelasan mengenai Perang Khaibar. Dalam perang ini tidak terlalu banyak korban yang berjatuhan. Taktik perang Nabi Muhammad untuk menembus pertahanan benteng Yahudi bisa dijadikan pelajaran bahwa jika ingin mendapatkan sesuatu harus perlahan, tidak perlu terburu-buru.

Selalu ada pihak yang akan memusuhi Islam, tetapi kita sebagai umat Islam tidak boleh menyerang mereka terlebih dahulu. Islam baru boleh bergerak jika diserang terlebih dahulu. Itulah cara Islam menghargai sesama manusia. Jika perundingan masih bisa dilakukan, peperangan tidak perlu dilancarkan.

Tinggalkan komentar