Nor Rahma Sukowati Indonesian/Content Writer - Selasar/ Spread positive things using our writing/ Reading & Traveling

Pakaian Adat Sulawesi Tengah

7 min read

ilustrasi pakaian adat sulawesi barat di mamasa

Provinsi Sulawesi Tengah beribukota di daerah Palu, merupakan salah satu provinsi dengan populasi penduduk dari berbagai suku.

Setidaknya, telah tercatat sebanyak 15 etnis besar bermukim di provinsi ini.

Etnis alias suku tersebut diantaranya adalah suku Ampana, Kaili, Mori, Lore, Saluan, Mamasa, Taa, Bare’em, Toli – Toli, Pamona, Dambelas dan lainnya.

Menurut catatan dari beberapa situs termasuk wikipedia sendiri menyebutkan bahwa terdapat 22 ragam bahasa yang ada di Sulawesi Tengah.

Hal ini menjadi sangat maklum, manakala Sulawesi Tengah terkenal karena keragaman budayanya, termasuk pakaian adat.

Nah, kali ini kita akan membahas pakaian adat Sulawesi Tengah yang berasal dari beberapa suku ya!

Jenis Pakaian Adat Sulawesi Tengah

1. Suku Mori

Salah satu suku yang mendiami provinsi Sulawesi Tengah adalah suku Mori.

Suku Mori sendiri menempati kabupaten Morowali dan mayoritas penduduknya ada di bagian utara.

Beberapa wilayah diantaranya adalah Kolonodale, Beteleme, Tiu, Lembobelala, Lembobaru, Tingkea’o, Wawopada, Tomata, Taliwan, Ensa, Tompira, dan lain-lain.

Pakaian adat suku Mori terdiri dari pakaian pria dan wanita.

Pakaian Pria

Ilustrasi pakaian adat sulawesi tengah
Sumber gambar : info-budaya.net

Seperti halnya pakaian modern, pakaian adat suku Mori juga memiliki ciri khas tertentu. Sehingga orang lain akan dengan mudah mengenali bagaimana rupa pakaian suku Mori.

Pakaian pria di suku Mori disebut dengan istilah Lambu, sejenis blus yang berwarna hitam atau merah. Blus tersebut juga tidak polosan, karena dihiasi dengan motif rantai berwarna kuning.

Blus ini juga dipadukan dengan celana panjang berwarna merah atau biasa disebut dengan saluara.

Aksesoris

Pakaian adat suku Mori memiliki berbagai tambahan aksesoris sebagai pelengkap.

Untuk menambah kesan elegan di bagian kepala, ditambahkanlah destar atau biasa disebut dengan melpa bate.

Sambengko

Sambengko alias selempang merupakan salah satu pelengkap di pakaian adat suku Mori. bentuk dari sambengko yakni seperti …

Metamponi Ponal

Pada pakaian pria, si pemakai harus menambahkan metamponi ponal alias sarung dan pedang.

Pemakaian sarung dan pedang pada Lambu akan menambah kesan si pemakai lebih menawan dan bijaksana.

Pakaian Wanita

gambar pakaian adat sulawesi tengah
Sumber gambar : morowaliindah.
wordpress.com

Sedangkan untuk pakaian wanita, pakaiannya berbentuk blus dan lengannya berukuran panjang.

Serupa dengan pakaian pria, terdapat hiasan bermotif rantai dan berwarna kuning.

Untuk bawahannya, pakaian wanita ini disandingkan dengan rok panjang dengan warna merah dengan rantai berwarna kuning juga.

Aksesoris

Seperti halnya pada pakaian pria, maka terdapat aksesoris pula pada pakaia wanita. Malah bisa dibilang jauh lebih beragam.

Mahkota

Sebagai hiasan di kepala si pemakai wanita juga menggunakan pasapu alias mahkota.

Selain memakai mahkota, aksesoris tambahan lainnya adalah konde, lansonggilo dan Tole – tole.

Sebagai tambahan, ada kalung, enu – enu, mala alias gelang tangan, pebo’o atau ban pinggang dan cincin alias sinsi.

2. Suku Saluan

Berbeda dengan suku Mori, masyarakat suku Saluan menempati Kabupaten Luwuk Banggai.

Masyarakat disana lebih sering dipanggil dengan Loinang.

Secara istilah, Loinang bisa dimaknai dengan orang gunung.

Hal ini disesuaikan dengan kondisi suku Saluan yang mayoritas tinggal di daerah pegunungan.

Biasanya, masyarakat Loinang hanya menggunakan pakaian adat di upacara Tumpe.

Pakaian adat ini terdiri dari pakaian adat pria dan wanita.

Tumpe adalah serangkaian upacara yang dikeramatkan oleh masyarakat Loinang dan hanya diadakan khusus bagi acara pernikahan, sambutan dan agenda dilepaskannya burung Maleo.

Agar lebih mudah memahami, yuk simak ulasan berikut ini!

Pakaian Pria

Gambar pakaian adat sulawesi tengah
Sumber gambar : blogspot.com

Pakaian pria yang dikenakan oleh pria Loinang dinamakan pakean nu’moane.

Pakean Nu’moane berbentuk seperti kemeja pria modern, hanya saja bentuknya disesuaikan dengan ciri khas daerah Saluan.

Kemeja pria ini dikombinasikan dengan penggunaan celana panjang alias koja dalam bahasa saluan.

Sebagai aksesoris di bagian kepala, ditambahkan juga penggunaan sungkup nu’ubak sebagai penutup kepala.

Kemudian ditambahkan sarung alias lipa sebagai pengganti bawahan yang berupa celana panjang.

Pakaian Wanita

Mengenal pakaian adat sulawesi tengah
Sumber gambar : blogspot.com

Pakaian wanita disebut juga dengan baju sungkup nu’ubak yang berwarna merah jambu dan dikombinasikan dengan penggunaan ikat pinggang berwarna hitam.

Sebagai bawahan, para wanita Loinang menggunakan rok mahantam dengan warna merah jambu dan berpola belang – belang.

Untuk mempercantik penampilan, ditambahkan pula aksesoris berupa kalong alias kalung , gelang alias potto, anting alias sunting, jaling, salandoeng atau selempang.

Selain berfungsi untuk mempercantik si pemakai, aksesoris ini juga bermaksud agar pakaian Saluan mudah dikenali khalayak luas.

3. Suku Toli – Toli

Ilustrasi pakaian adat sulawesi tengah
Sumber gambar : sejarah-negara.com

Setelah membahas suku Mori dan suku Saluan, kali ini kita akan membahas suku Toli – toli.

Selain dikenal karena seni tari dan musiknya, suku Toli – toli juga ternyata memiliki pakaian adat sendiri.

Pakaian adat Toli – toli terdiri dari pakaian pria dan wanita.

Pakaian Pria

Pakaian pria berbentuk seperti blus dengan ukuran panjang dengan leher yang tegak.

Untuk menambah nuansa elegan pada atasan blus, ditambahkanlah haisan berupa pita berwarna emas dan bermanik – manik kuning.

Sedangkan untuk bawahan, masyarakat Toli – toli lebih menggunakan celana panjang alias Puyuka dan sarung sebatas lutut.

Sebagai aksesoris di bagian kepala, digunakanlah Songgo, benda sejenis kopiah.

Hal ini dimaksudkan agar si pemakai pria dapat menampilkan sisi kebesaran dan kebijaksanaannya.

Pakaian Wanita

Pakaian Wanita suku Toli – toli disebut dengan pakaian Badu alias sejenis blus yang lengannya terdapat lipatan – lipatan kecil dan dikolaborasikan dengan hiasan manik – manik serta pita emas.

Sebagai bawahan, terdapat celana panjang alias Puyuka dan dihias dengan pita emas beserta hiasan manik – manik.

Selain itu, sebagai tambahan untuk mempercantik diri, si pemakai wanita perlu menggunakan lipa alias sarung sebatas lutut.

Agar lebih mudah dikenali, maka ditambahkanlah penggunaan Selendang alias Silempang Ban pada pinggang yang berwarna kuning.

Kemudian, ditambahkan penggunaan anting – anting panjang, gelang maupun kalung berukuran panjang.

4. Suku Kaili

Kalau suku Toli – toli hanya menempati 1 daerah kabupaten, maka suku Kaili ada di beberapa daerah.

Diantaranya adalah kabupaten Donggala, Moutong, Palu dan Sigi.

Pakaian adat suku Kaili biasa digunakan untuk menghadiri acara pernikahan, penyambutan dan pesta adat.

Pakaian adat ini terdiri dari pakaian pria dan pakaian wanita.

Pakaian Pria

gambar pakaian adat sulawesi tengah di kaili
Sumber gambar : blogspot.com

Pakaian pria Kaili terdiri dari atasan dan bawahan. Atasan pakaian pria dinamakan baju Koje.

Bentuk baju Koje atau biasa disebut dengan baju ceki berbentuk seperti kemeja yang kerahnya tegak dan pas dengan leher.

Kemudian, lengan baju Koje juga berukuran panjang sampai ke pinggul.

Sedangkan bagian bawahan alias Puruka Pajana berbentuk seperti celana dan ukurannya sebatas lutut.

Baca juga:   Pakaian Adat Jambi

Modelnya agak ketat di bagian atas celana, sementara pada bagian bawah agak lebar agav dapat memudahkan duduk dan berjalan.

Sebagai pelengkap, ditambahkanlah keris yang diselipkan di bagian pinggang.

Agar keris tidak kendor, maka digunakanlah sarung yang dililitkan ke pinggang. Untuk penutup kepala digunakan lah destar atau siga.

Pakaian adat yang dikenakan oleh kaum wanita dari suku kaili di kota palu dikenal dengan nama baju nggembe, semetara pakaian adat yang digunakan oleh kaum pria disebut baju koje/ puruka pajana.

Pakaian Wanita

ilustrasi pakaian adat sulawesi tengah
Sumber gambar : blogspot.com

Pakaian wanita pada suku Kaili disebut dengan baju Nggembe.

Bentuk dari baju Nggembe berupa atasan dengan bentuk segi empat yang panjangnya sampai sebatas pinggang dan kerahnya bulat.

Lengan baju Nggembe dihiasi dengan payet untuk dipadukan dengan bawahan sarung tenun Donggala.

5. Sarung Tenun Donggala

gambar pakaian adat sulawesi tengah
Sumber gambar : shopee.com

Pelengkap pada pakaian wanita lainnya adalah sarung tenun Donggala.

Sarung ini dikombinasikan dengan hiasan dari benang emas yang biasa disebut dengan Buye Sambe Kumbaja.

Seiring dengan adanya kemajuan teknologi, sarung ini mengalami improvisasi yakni tevdapat ikatan sarung dan bisa dilipat pada sisi kanan dan kiri.

Hal ini dimaksudkan agar memberikan kesan yang indah dan memberi ruang gerak yang luas pada si pemakai.

Warna

Warna Dominan pada baju Nggembe biasanay disesuaikan dengan warna dasar.

Beberapa warna dasar diantaranya adalah merah dan kuning dan dikolaborasikan dengan warna hitam.

Warna lain yang biasanya digunakan ialah hijau, putih dan ungu.

Sebenarnya corak warna pada baju Nggembe bisa disesuaikan dengan keinginan para pemakai.

Sehingga hal ini akan memudahkan si pemakai merasa nyaman menggunakan pakaian adat suku Kaili.

Aksesoris

Sama seperti dengan suku lainnya, pakaian adat suku Kaili juga memiliki aksesoris sebagai pelengkapnya. Beberapa diantaranya adalah :

Kalung beruntai atau gemo, gelang panjang alias ponto ndate. Kemudian ada anting panjang alias dali taroe, maupun pending alias pende.

Pending

Pending adalah sejenis ikat pinggang dan terbuat dari bahan emas atau perak. Secara umum dikenakan oleh para wanita dalam permainan pertunjukkan tarian Sulawesi Tengah.

Terdapat sebuah tempat dalam pending agar dapat dimasuki oleh tali pengikat kain yang berwarna kuning sebagai hiasan.

Dibagian dalam pending dibuat sebuah tempat untuk memasukkan tali pengikat kain berwarna kuning sebagai hiasannya.

6. Suku Pamona

ilustrasi pakaian adat sulawesi tengah
Sumber gambar : blogspot.com

Tak banyak yang mengetahui keberadaan suku Pamona yang terletak di kabupaten Poso.

Padahal baju adat suku Pamona ini sudah mulai merambah ke dunia mancanegara.

Pakaian adat suku Pamona bisa disebut dengan Tuana Mahile.

Tuana Mahile dibuat dari kulit kayu Kaliken. Kulit kayu Kaliken ini diambil dari pohon – pohon yang tumbuh di sekitar pengunungan yang alami.

Karena proses pembuatannya yang susah, semakin bertambahnya tahun, baju ini mulai punah.

Hanya saja, agar pakaian tersebut bisa tetap dilestarikan maka bahan dari pakaian adat ini diganti dengan kain khusus dan hiasan manik – manik yang berwarna – warni.

7. Suku Mamasa

Selain keenam suku diatas, terdapat suku Mamasa juga ingin ikut melestarikan budaya pakaian adatnya.

Di suku Mamasa sendir, jenis pakaian adat terbagi menjadi dua yakni, pakaian yang digunakan khusus oleh bangsawan (tana’ bulawan) dan kalangan masyarakat secara umum.

Simak ulasannya di bawah ini ya!

Baca juga:   Pakaian Adat Aceh

Tana’ Bulawan

Istilah dari Tana’ Bulawan sendiri dimaknai dengan kasta emas dimana diartikan sebagai bangsawan dengan tingkatan tinggi dan memiliki harta yang berlimpah, sehingga layak untuk dijadikan sebagai pemimpin.

Hal ini dimaksudkan untuk mencapai beberapa tujuan. Pertama, agar dapat mudah terdengar di masyarakat karena wibawa yang tinggi.

Kemudian, adanya penjaminan bahwa tana’ bulawan tidak akan melakukan korupsi karena kekayaannya.

Biasanya, pakaian adat untuk para tana’ bulawan digunakan pada saat menghadiri acara – acara yang bersifat resmi dan jumlah pengunjungnya lumayan besar.

Misalnya rapat pertemuan dengan dewan adat, sambutan untuk pejabat pemerintahan, peringatan hari kemerdekaan RI, maupun pernikahan.

Untuk acara non – resmi, biasanya digunakan untuk menghadiri pernikahan di masyarakat setempat, kumpul bersama tingkat kabupaten, sampai tingkatan kelurahan.

Biasanya juga dipakai untuk agenda syukuran.

Adapun jenisnya terdiri dari pakaian pria dan wanita.

Pakaian Pria

ilustrasi pakaian adat sulawesi tengah
Sumber gambar : blogspot.com

Pakaian golongan tana’ bulawan berbentuk kemeja alias baju pongko’. Sedangkan warnanya, bisa menggunakan warna kombinasi seperti mengkolaborasikan warna putih dan kuning.

kemudian, bentuk bajunya bundar leher dengan ukuran lengan yang memanjang atau bisa menggunakan ukuran lengan yang pendek.

Untuk aksesoris pada kepala, digunakanlah Passapu, sejenis kopiah berwarna putih maupun coklat tanpa adanya jumbai.

Kemudian menggunakan sarung khusus berwarna merah atau istilahnya biasa disebut samban lea.

Kemudian, untuk membuat elegan si pemakai, digunakanlah celana khas Mamasa yakni talana toraya Mamasa.

Pakaian Wanita

ilustrasi pakaian adat sulawesi tengah
Sumber gambar : goodnewsfromindonesia.id

Adapun Pakaian Wanita juga hampir serupa dengan pakaian pria yang berbentuk kemeja. dan warna yang digunakan bisa disesuaikan dengan warna lainnya.

kemudian untuk ukuran lengan dapat digunakan ukuran yang panjang atau bisa menggunakan ukuran lengan yang pendek.

Kemudian menggunakan sarung khusus berwarna merah atau istilahnya biasa disebut samban lea.

Pallembangan

Pallembangan adalah istilah pakaian adat mamasa yang dipakai oleh kalangan umum. Di daerah Mamasa, tingkatan golongan akan mempengaruhi jenis dan bentuk dari pakaian adat itu sendiri.

Makna Pallembangan berasal dari “kasta palem”, golongan masyarakat biasa dan sifatnya independen. Dalam artian, bukan sebagai pemimpin atau penguasa.

Serupa dengan pakaian adat untuk tana’ bulawan, bentuk bajunya beraneka ragam, tidak terikat. Untuk warnanya sendiri tidak boleh berwarna putih termasuk passapu yang dipakai.

Kemudian, sama halnya dengan tata cara di kalangan bangsawan, para masyarakat harus menggunakan sarung namun warnanya tidak mengikat. Pun, si pemakai juga menggunakan celana khas Talana Toraya Mamasa.

Sebenarnya tak banyak perbedaan antara pakaian adat yang dipakai oleh tana’ bulawan dan pallembangan. Perbedaannya hanya terletak pada dominasi warna pada passapu dan baju.

Penggunaan Pakaian Adat Sulawesi Tengah

Pakaian adat Sulawesi Tengah dengan segala ragam keunikaannya pasti akan membuat si pemakai menjadi terlihat mempesona.

Namun, lambat laun seiring dengan adanya kemajuan teknologi, penggunaan pakaian adat Sulawesi Tengah semakin mengalami penurunan.

Hal ini menjadikan pemerintah provinsi Sulawesi Tengah perlu untuk memberikan perhatian khusus.

Salah satu upaya yang sudah dilakukan oleh pemprov yakni dengan mewajibkan para ASN termasuk PNS menggunakan pakaian adat resmi saat perayaan tertentu.

Upaya lainnya juga ditunjukkan melalui ragam agenda lokal yang diadakan oleh para pihak sekolah dibantu sebagai projek bersama di bawah naungan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan.

Demikianlah ulasan tentang pakaian adat Sulawesi Tengah. Selamat membaca dan semoga harimu menyenangkan!

Nor Rahma Sukowati Indonesian/Content Writer - Selasar/ Spread positive things using our writing/ Reading & Traveling

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *