Siva Nur Ikhsani Halo, aku Siva. Selain suka nulis apa saja, aku juga hobi makan dan main game, hehe :)

Kerajaan Bima

9 min read

raja kerajaan bima

Kerajaan Bima lebih sering disebut Kesultanan Bima, adalah kerajaan Islam yang telah didirikan sejak tahun 1621 Masehi di Pulau Sumbawa.

Sepanjang sejarahnya, Kesultanan Bima telah dipimpin oleh 14 Sultan, Muhammad Salahuddin menjadi Sultan Bima yang terakhir.

Jika dibandingkan kesultanan lainnya yang pernah ada di Indonesia, mungkin masih banyak yang kurang familiar dengan nama Kerajaan Bima.

Untuk itu, disini Kami akan memberikan ulasan lengkap tentang sejarah Kerajaan Bima, masa pemerintahan, kehidupan masyarakat, dll. Bagi yang belum tahu, yuk simak!

Sejarah Kerajaan Bima

asal usul kerajaan bima
wikimedia.org

Membahas tentang asal usul Kerajaan Bima sebenarnya cukup kompleks.

Hal itu karena masih sulit untuk memisahkan antara kisah nyata dengan legenda yang hingga saat ini masih sangat diyakini kebenarannya oleh masyarakat setempat.

Apalagi, tidak banyak sumber sejarah dalam versi tertulis, karena dulunya sebelum memeluk agama Islam, rakyat Kerajaan ini belum mengenal dunia menulis.

Simak berikut ini sedikit ringkasan sejarah Kerajaan Bima:

a. Awal Pendirian

Sebelum memeluk agama Islam, Kesultanan Bima awalnya adalah kelompok suku yang menganut paham dinamisme dan animisme.

Konon sebelum terbentuknya kerajaan Bima, dulunya kerajaan ini bermula dari lima kelompok yang masing-masing dipimpin oleh seseorang yang disebut Ncuhi.

Ncuhi Dara menjadi pemimpin di Bima Tengah, Ncuhi Parewa menjadi pemimpin di Bima Selatan, Ncuhi Padolo menjadi pempin di Bima Barat, Ncuhi Banggapura menjadi pemimpin di Bima Utara dan Ncuhi Dorowani menjadi pemimpin di Bima Timur.

Selain itu asal usul tersebut, ada juga yang menyebutkan bahwa Kerajaan Bima bermula dari putra-putra Maharaja Pandu Dewata, yakni Darmawangsa, Sang Bima, Sang Arjuna, Sang Kula dan Sang Dewa.

Kemudian, masyarakat Kerajaan Bima disatukan dengan suku-suku lainnya yang ada disekitar mereka, penyatuan ini dilakukan oleh Sang Bima yang membawa ajaran Hindu dari Jawa.

Dari sinilah awal berdirinya kerajaan, dan Sang Bima menjadi raja pertama yang diberikan gelar Sangaji sebagai pendiri kerajaan.

Pada awal berdirinya di abad ke 11 Masehi ada dua nama kerajaan, yakni Kerajaan Bima dan Kerajaan Mojo.

Nama Kerajaan Bima diberikan oleh pendudukan setempat, sementara untuk nama Kerajaan Mojo diberikan oleh pemangku adat (disebut Ncuhi).

Sang Bima memutuskan untuk datang ke Kerajaan Medang setelah ia mendidikan Kerajaan tersebut.

Untuk mengisi kekosongan di Kerajaan Bima, ia mengutus kedua putranya untuk menjadi Sangaji Kerajaan.

Putranya yang bernama Indra Zamrud diangkat sebagai Sangaji di Kerajaan Bima, sementara Indra Kumala diangkat sebagai Sangaji di Dompu.

b. Awal Kesultanan

Penyebaran Islam pertama kali dimulai sejak tahun 1540, saat itu banyak pedagang dan mubalig dari Kesultanan Demak datang ke Kesultanan Bima.

Sunan Prapen berpengaruh dalam menyiarkan Islam di Kerajaan Bima, kemudian terhenti karena wafatnya Sultan Trenggono di tahun yang sama.

Penyebaran Islam dilanjutkan kembali oleh para pedagang dan mubalig  yang diutus oleh Sultan Baabullah dari Kesultanan Ternate pada tahun 1580.

Kemudian tahun 1619, penyiaran Islam diteruskan kembali oleh Sultan Alauddin dengan mengutus para mubalig dari Kesultanan Luwu, Kerajaan Bone dan Kerajaan Tallo untuk datang ke Kerajaan Bima.

Pada awal tahun 1030 Hijriyah, Raja La Kai memutuskan untuk menjadi seorang mualaf dengan memeluk agama Islam.

Disaat yang sama, Kerajaan Bima diganti menjadi Kesultanan Bima dan Islam menjadi agama resmi yang diyakini oleh masyarakat dan bangsawan di Bima.

Peta Lokasi dan Letak Wilayah Kekuasaan

Letak Kerajaan Bima berbatasan secara langsung dengan Samudera Hindia dan Laut Jawa di selatan.

Di bagian barat, Kerajaan ini berbatasan dengan Dompun.Sementara di bagian timur berbatasan dengan Manggarai.

Kerajaan juga mendapatkan kekuasaan di pantai barat Semenanjung Gunung Tamboram, yakni wilayah Kerajaan Sanggar di tahun 1928.

Baca juga:   Kerajaan Korea

Secara geografis, Kamu bisa melihat peta lokasi Kesultanan Bima pada gambar berikut ini:

peta kerajaan bima
akamaized.net

Wilayah kekuasaan Bima pada abad ke 19 Masehi mencakup pulau pulau kecil di Selat Alas, Manggarai dan Pulau Sumbawa bagian timur.

Daerah Reo dan daerah Pota adalah daerah kekuasaan Kerajaan Bima di Manggarai.

Sedangkan di Pulau Sumbawa, kekuasaan Kesultanan Bima dibagi menjadi beberapa daerah yaitu Bolo, Sape dan Belo.Setiap daerah tersebut dipimpin oleh seseorang, oleh masyarakat disebut galarang.

Distrik Bolo, Sape dan Belo masing-masing dibagi lagi menjadi daerah perkampungan-perkampungan yang dikepalai kepala kampung.

Namun, memasuki tahun 1938, wilayah kekuasaan Kesultanan ini harus berkurang setelah mengadakan perjanjian dengan Gubernur Hindia Belanda.

Silsilah Raja & Masa Pemerintahan

kejayaan kerajaan bima
blogspot.com

Menurut silsilah di Kesultanan Bima, para raja diberikan gelar Ruma yang melambangkan wakill Allah di Bumi dan Khalifah.

Seorang pemimpin diberikan amanah dari penduduk untuk menjadi seorang pemerintah sehingga dalam tugasnya harus mengutamakan kepentingan masyarakat, diatas kepentingan pribadinya.

Sistem pemerintahan di kesultanan dilaksanakan berdasarkan syariat dan ajaran Islam.

Nilai-nilai budaya yang dipelajari oleh masyarakat pun jika tidak boleh bertentangan dengan Islam dan hal ini sudah menjadi tradisi di pemerintahan Kerajaan Bima.

Pada tahun 1908, Kesultanan Bima masih dikuasai oleh Hindia Belanda yang pada saat itu menerapakan sistem pemerintahan terpusat.

Selama periode tersebut, Kesultanan Bima dibagi menjadi lima distrik dengan masing-masing pemimpinnya. Berikut ini:

  • Distrik Bolo dipimpin Rato Parado
  • Distrik Belodipimpin Raja Sakuru
  • Distrik Sape dipimpin Raja Bicara
  • Distrik Donggo dipimpin Sultan Muda
  • Distrik Rasanae dipimpin Sultan

Memasuki tahun 1909, sistem pemerintahan Kerajaan Bima pindah ke Makassar setelah bergabung dengan Keresidenan Timur Hindia-Belanda.

Karena adanya perpindahan sistem pemerintahan ini membuat segala urusan kesultanan di Bima harus berdasarkan persetujuan colonial Belanda, termasuk dalam kehidupan politik.

Berikut ini silsilah raja yang pernah menjadi pemimpin di Kesultanan Bima:

1. Sultan Abdul Kahir (1601 – 1640)

Sultan Abdul Kahir sebagai raja di Kesultanan Bima mendapatkan gelar Rumata Ma Bata Wadu, beliau memeluk Islam saat usianya masih 20 tahun.

Setelah menjadi seorang mualaf, Sultan Abdul Kahir memutuskan untuk hijrah ke Makassar selama 19 tahun.

Beliau menjadi sultan di Kesultanan Bima dan dikarunia 4 putra dari pernikahannya dengan adik permaisuri Sultan Alaudding Makassar.

Selama masa pemerintahannya, Sultan Abdul Kahir memiliki tekad untuk membentuk sistem pemeritahan di Bima berdasarkan syariat Islam hingga dikenal dengan sumpahnya “Sumpah Parapi”.

Isi dalam sumpah tersebut menyatakan bahwa ia rela berkorban jiwa dan raga untuk menjunjung Islam, Negeri dan Rakyat.

Sultan Abdul Kahir wafat pada 22 Desember 1640 dan kepemimpinan digantikan oleh putranya yang bernama Sultan Abdul Khair Sirajuddin.

2. Sultan Abdul Khair Sirajuddin (1640 – 1682)

Sultan Abdul Khair Sirajuddin adalah putra dari Sultan Abdul Kahir I dan Daeng Sikontu yang melanjutkan pemerintahan di Kesultanan Bima setelah ayahnya wafat.

Abdul Khair menjadi sasaran penangkapan VOC karena pada saat pemerintahannya, beliau memberikan pernyataan menolak atas perjanjian Bongaya.

Meneruskan cita-cita ayahnya, Abdul Khair mendirikan lembaga Sara hukum yang beranggotakan para tokoh agama dan ulama.

Sehingga semasa sistem pemerintahan Sultan Abdul Khair Sirajuddin dijalankan dengan hukum Islam.

3. Sultan Nuruddin (1682 – 1687)

Nuruddin adalah putra dari Sultan Abdul Khair Sirajuddin dengan Bonot Je’ne yang dinobatkan untuk melanjutkan tahta ayahnya.

Masa kepemimpinan Sultan Nuruddin dikenal dengan Paju Monca, beliau mendirikan perkampungan tambora, membentuk perang Turnojoyo hingga membangun masjid-masjid di Jakarta Barat.

4. Sultan Jamaluddin (1687 – 1696)

Sultan Jamaluddin adalah putra sulung dari pernikahan Sultan Nuruddin dengan Daeng Tamemang yang menjadi Sultan di Kerajaan Bima ke-4.

Beliau dengan tegas menyatakan penolakan kerja sama dengan Belanda.

Hal itu ternyata membuat Sultan Jamaluddin dijebak dan dituduh telah membunuh bibi Permaisuri Sultan Dompu.

Sultan Jamaluddin di penjara atas tuduhan tersebut hingga meninggal di Penjara Batavia.

5. Sultan Hasanuddin (1689 – 1731)

Setelah Sultan Jamaluddin, Sultan di Kerajaan Bima digantikan oleh putra sulungnya dengan Karaeng Tana-tana yang bernama Hasanuddin.

Selama pemerintahannya, beliau mampu memperluas ajaran Islam di kerajaan dan mengadakan berbagai pembaruan struktur organisasi Pemerintahan ke arah yang lebih baik serta maju.

Tidak hanya itu saja, melalui seni budaya, Sultan Hasanuddin juga memperluas syiar Islam.

6. Sultan Alauddin Syah (1731 – 1742)

Melanjutkan kepemimpinan ayahnya, Sultan Alauddin Syah yang bergelar Manuru Daha mencoba untuk menjalin kerja sama ekonomi, politik dan ekonomi dengan Makassar.

Baca juga:   Kerajaan Demak

7. Sultan Ismail (1819 – 1854)

Sultan Ismail sebenarnya merupakan Sultan Kesultanan Bima yang ke-10.

Sebelumnya ada beberapa nama lain yang pernah menjadi pemimpin diantaranya Sultan Abdul Qadim (1742 – 1773), Sultanah Kumalasyah (1773 – 1795) dan Sultan Abdul Hamid (1795 – 1819).

Namun tidak banyak catatan sejarah yang membahas tentang masa kepemimpinan dari nama-nama Sultan tersebut.

Sultan Ismail sendiri merupakan anak dari Sultan Abdul Hamid yang diangkat sebagai Sultan di Kerajaan Bima pada November 1819.

Pada awal-awal pemerintahannya, masyarakat Bima sangat menderita pasca letusan Gunung Tambora yang membuat banyak orang miskin dan kelaparan.

Belum lagi dengan banyaknya serangan bajak laut serta bencana kemarau panjang yang semakin memperburuk keadaan di masyarakat Bima.

Sultan Ismail memutuskan untuk patuh kepada Inggris agar dapat memperbaiki kehidupan ekonomi rakyatnya.

8. Sultan Muhammad Salahuddin (1915 – 1951)

sultan muhammad salahuddin dari kerajaan bima
kahaba.net

Setelah berakhirnya masa pemerintahan Sultan Ismail, kemudian dilanjutkan oleh Sultan Abdullan (1854 – 1868), Sultan Abdul Aziz (1868 – 1881) dan Sultan Ibrahim (1881 – 1915).

Periode kepemimpinan Kerajaan Bima pada tahun 1915 – 1951 dilanjutkan olehSultan Muhammad Salahuddin, putra Sultan Ibrahim.

Sultan Muhammad Salahuddin selama periode pemerintahannya banyak melakukan perubahan sistem pemerintahan dan keadaan politik.

Beliau juga mendirikan sekolah islam di Kampo Suntu dan di Raba serta membangun masjid-masjid di setiap desa.

Tidak hanya itu saja, Sultan juga membangun Badan Hukum Syara, yakni lembaga peradilan urusan agama.

Sultan Muhammad Salahuddin turut andil dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dengan mendirikan berbagai organisasi penjuang kemerdekaan.

Kehidupan Masyarakat

kehidupan ekonomi kerajaan bima
blogspot.com

Menurut catatan sejarah, masyarakat Bima pada awal-awal berdirinya kerajaan memiliki beberapa sifat yakni takut, malu dan sabar.

Sifat-sifat tersebut diwarikan dari Sang Bima kepada anak-anaknya, Indra Zamrud dan Indra Kumala.

Melalui keduanya, masyarakat di Bima juga diajarkan ilmu melaut dari Indra Zamrud dan ilmu bertani dari Indra Kumala.

Sejak itu jugalah, pada abad ke-11 masehi wilayah Kerajaan Bima sudah menjadi daerah perdagangan dan menjadi kawasan penghubung antara Kerajaan Medang di Jawa dan di Kep.Maluku.

a. Kehidupan Sosial dan Budaya

Kehidupan sosial di wilayah Kerajaan Bima terdiri dari beberapa suku, sementara untuk penduduk aslinya berasal dari suku Donggo yang menghuni wilayah pegunungan.

Sedangkan untuk penduduk lainnya berasal dari suku Bima yang merupakan pendatang dari suku Bugis dan suku Makassar di wilayah pesisir Bima.

Para pendatang tersebut menikah dengan penduduk asli dan menetap sebagai masyarakat suku Bima pada abad ke-14.

Pendatang lainnya ada juga yang berasal dari suku Minangkabau dan suku Melayu yang menetap di daerah Benteng, Kampung Melayu dan Teluk Bima.

Meskipun berasal dari beberapa suku yang berbeda, kehidupan sosial di lingkungan masyarakat Kesultanan Bima hidup dengan rukun dan berdampingan sebagai pedagang maupun pelayar.

Menariknya lagi, di wilayah kerajaan juga terdapat pemukiman Arab, mereka datang sebagai mubaligh dan pedagang.

Sementara jika diperhatikan dari kehidupan budaya, masyarakat di Kesultanan Bima hampir sebagian besar berpegangan teguh pada budaya-budaya islami.

Namun budaya Islam tersebut baru berkembang sejak Kerajaan Bima berubah menjadi Kesultanan Bima.

b. Kehidupan Keagamaan

Seperti yang kita tahu bahwa Kerajaan Bima merupakan kerajaan Islam sejak pemimpinnya, Raja La Kai l, memutuskan untuk menjadi seorang mualaf dan memeluk agama Islam pada awal tahun 1030 Hijriyah.

Agama Islam diperkenalkan pertama kali oleh Sayyid Murtolo dari Gresik, seorang putra Syekh Maulana Ibrahim Asmara.

Penyiaran agama Islam sendiri di kehidupan Kesultanan Bima dilakukan bersamaan dengan kegiatan perdagangan.

Awalnya Islam hanya diterima oleh kelompok-kelompok kecil serta masyarakat yang tinggal di daerah pesisir.

Penyebaran agama Islam juga dipengaruhi oleh Kesultanan Gowa yang memperluas penyiaran ke Kepulauan Nusa Tenggara, khususnya di Pulau Sumbawa.

Kemudian penyebaran Islam dilanjutkan oleh para pedagang dari kesultanan Ternate, Kesultanan Bone, Kesultanan Luwu dan kerajaan Tallo.

Sejak menjadi Kesultanan Bima yang mayoritas penduduknya beragama Islam, sehingga Sultan Bima menerapkan hukum Islam dan hukum adat secara bersamaan.

Pada tahun 1788, Kerajaan Bima telah mendirikan peradilan Islam yang bernama mahkamah Syariah yang mempunyai fungsi utama untuk mengadili urusan syariat keagamaan.

Mulai dari sini juga-lah mayoritas masyarakat yang tinggal di Kesultanan Bima hidup dengan aturan dan ajaran agama Islam.

Selain melalui perdagangan, penyiaran agama Islam juga dilakukan melalui syair-syair dalam sastra dan sejarah.

Baca juga:   Kerajaan Kediri

c. Kehidupan Ekonomi

Kehidupan ekonomi Kesultanan Bima cukup baik karena secara geografis wilayah kekuasaannya berada di ujung timur Pulau Sumbawa.

Berdasarkan lokasinya tersebut, kerajaan ini mempunyai teluk yang dimanfaatkan sebagai titik pelayaran.

Masyarakat menggunakan lokasi tersebut sebagai pusat pelayaran dan perdagangan untuk meningkatkan kehidupan ekonomi mereka.

Interaksi antara masyarakat Bima dengan pedagang pendatang yang mayoritas beragama Islam menjadi awal banyaknya penduduk yang kemudian memeluk agama Islam.

Apalagi pada awal berdirinya kerajaan ini, masyarakat Bima masih menganut kepercayaan animisme dan dinamisme.

Para pedagang banyak yang menjual beberapa barang seperti rotan, selapang dan soga.

Masa Kejayaan

Dalam catatan sejarah tidak dijelaskan secara pasti kapan dan tahun berapa Kesultanan Bima mencapai puncak kejayaannya.

Karena periode kepemimpinan para sultan sultan di Kerajaan Bima selalu diwarnai dengan perlawanan terhadap pasukan VOC atau Belanda.

Hal tersebut bahkan membuat salah satu sultan pernah ditangkap dan diasingkan hingga akhirnya meninggal dunia dalam penjara.

Namun pada awal berdirinya Kerajaan, dijelaskan bahwa kehidupan masyarakat kerajaan Bima cukup makmur karena mereka menjalin kerjasama dengan berbagai Kesultanan daerah lainnya.

Dalam bidang ekonomi pada, perdagangan, keagamaan maupun sosial-budaya cukup maju pada awal berdirinya kerajaan.

Masa Keruntuhan dan Penyebabnya

Kesultanan Bima berakhir pada tahun 1951 saat Sultan Muhammad Salahuddin wafat, dan dinyatakan sebagai pimpinan terakhir di kesultanan ini.

Sebelum Kesultanan Bima berakhir, Bima telah mengakui kedaulatan Republik Indonesia dan menjadi bagian dari wilayah tanah air.

Sehingga saat ini secara administratif, Bima berada dalam wilayah provinsi Nusa Tenggara Barat.

Sayangnya tidak ada penjelasan secara rinci mengenai penyebab runtuhnya Kesultanan Bima.

Padahal pada masa periode kepemimpinan Muhammad Salahuddin, kehidupan masyarakat di Bima cukup makmur dan maju dalam berbagai bidang.

Peninggalan Sejarah

Ada beberapa peninggalan sejarah yang menjadi jejak keberadaan Kesultanan Bima, diantaranya sebagai berikut:

a. Istana Asi Mbojo

istana asi mbojo peninggalan kerajaan bima
indonesiakaya.com

Peninggalan ini dibangun pada tahun 1888 saat masa kepemimpinan Sultan Ibrahim dan digunakan pada masa kepemimpinan Sultan Muhammad Salahuddin.

Arsitektur pembangunan Istana Asi Mbojo dirancang oleh arsitek Obzicter Rahatta dengan memadukan gaya Belanda dan Bima.

Pada masa Kesultanan Bima, istana ini digunakan sebagai kediaman keluarga Sultan dan sebagai pusat penyiaran agama.

Setelah kerajaan berakhir, saat ini Istana Asi Mbojo menjadi museum peninggalan sejarah dan bisa dikunjungi oleh wisatawan.

b. Istana Asi Bou

Peninggalan lainnya adalah Istana ASI Bou yang dibangun pada tahun 1927, dulunya juga digunakan sebagai kediaman Sultan dan keluarganya.

Istana ini dibangun sebagai kediaman sementara karena istana Asi Mbojo sedang dilakukan renovasi.

Desain arsitekturnya berupa rumah panggung tradisional yang terbuat dari kayu jati.

Pembangunannya menggunakan dana pribadi Sultan Muhammad Salahuddin dan sebagian disokong dari kas keuangan Kesultanan Bima.

c. Masjid Sultan Muhammad Salahuddin

masjid peninggalan kerajaan bima
blogspot.com

Pada masa kepemimpinan Sultan Abdul Kadim, dibangun Masjid Sultan Muhammad Salahuddin tahun 1737 Masehi.

Pembangunan masjid sempat terhenti, kemudian diteruskan kembali oleh Sultan Abdul Hamid.

Desain masjid dibuat bersusun tiga, hampir mirip seperti arsitektur masjid Kudus.

Namun, masjid ini hancur setelah di bom oleh pasukan sekutu dalam perang dunia ke-2.

Sultan Muhammad Salahuddin kemudian memerintahkan pasukannya untuk pembangunan ulang masjid.

d. Masjid Al-Muwahiddin

masjid al muwahiddin peninggalan kerajaan bima
iwaninspirasinet.blogspot.com

Ada juga peninggalan berupa masjid Al-Muwahhidin yang didirikan pada 1947 saat kepemimpinan Sultan Muhammad Salahuddin.

Pembangunan masjid ini bertujuan sebagai tempat ibadah sementara karena masjid Muhammad Salahuddin hancur.

Di sini menjadi tempat kegiatan studi Islam, dakwah dan ibadah.

e. Rimpu

rimpu adalah peninggalan kerajaan bima
tumblr.com

Rimpu diketahui merupakan pakaian wanita muslimah pada masa Kesultanan Bima.

Busana ini digunakan sebagai penutup tubuh dan penutup kepala yang terdiri dari 2 lembar kain sarung.

Satu kain sarung untuk menutupi kepala, dan satu sarung lainnya diikat pada perut untuk pengganti rok.

Rimpu pertama kali dikenalkan di Bima pada abad ke-17 Masehi dan saat ini menjadi salah satu peninggalan Kesultanan Bima.

Akhir Kata

Sekarang sudah paham ya mengenai sejarah Kerajaan Bima yang pernah berdiri di Indonesia?

Dari pembahasan di atas, diharapkan bisa memberikan pengetahuan kepada pembaca mengenai asal usul Kesultanan Bima.

Meskipun sebenarnya hingga saat ini masih ada simpang siur sejarah Bima karena sulitnya menggabungkan fakta dan legenda yang diyakini oleh masyarakat setempat.

Kamu juga bisa mampir ke beberapa tempat situs peninggalan Kerajaan Bima lho, jika kebetulan berkunjung ke Kota Bima Nusa Tenggara Barat. Semoga bermanfaat.

 

Siva Nur Ikhsani Halo, aku Siva. Selain suka nulis apa saja, aku juga hobi makan dan main game, hehe :)

Kerajaan Malaka

Anas Fauzi
6 min read

Kerajaan Banjar

Anas Fauzi
7 min read

Kerajaan Gowa Tallo

Anas Fauzi
9 min read

Kerajaan Mughal

Siva Nur Ikhsani
9 min read

Kerajaan Pagaruyung

Siva Nur Ikhsani
9 min read

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *