Abdullah Azzam Magister Manajemen UNS 47/ Praktisi Manajemen/ Pernah Baktinusa

Sebelum Kita ke Masyarakat  

3 min read

g_bJjYd0gcG13kV-xpKPWxZGKZAITICZ.jpg

Sumber Gambar : Kuliah Lapangan Magister Manajemen FEB UNS

Salah satu sifat generasional yang membuat millennial memiliki kekhasan tersendiri dibanding generasi sebelumnya, adalah bagaimana millennial memiliki kemampuan untuk menciptakan gelembung bagi diri mereka sendiri. Jika saya memandang sekelompok millennial, dalam kacamata saya mereka adalah kumpulan gelembung dengan ciri khas yang bisa jadi sangat bertolak belakang satu dengan yang lain. Contoh sederhana, sebelum millennial hadir, setelan seorang CEO selalu sama dan membosankan, jas, dasi, kemeja dan sepatu pantofel. Lalu hadirlah seorang Mark Zuckenberg dengan kaos abu-abunya.

Maka umum jika dalam struktur masyarakat yang jumlah millennial dan generasi sebelumnya masih berimbang, seperti struktur masyarakat di Indonesia misalkan, ada keluhan bagaimana millennial cukup susah untuk berbaur ditengah masyarakat. Generasi yang lebih tua pun mulai beranggapan, generasi semacam ini terlalu aneh, dan mungkin sombong, meskipun sebenarnya hal ini terjadi karena kecanggungan saja.

Masalah ini tidak hanya terjadi di wilayah perkotaan saja, dengan perkembangan teknologi se-pesat ini, wilayah pedesaan pun mulai menyaksikan generasi yang mungkin belum pernah mereka hadapi sebelumnya. Meskipun ya di wilayah pedesaan membangun interaksi dengan masyarakat cenderung lebih mudah karena banyak fasilitas yang mendukung. Namun bagi millennial perkotaan, termasuk saya, memang ada beberapa tahap tertentu untuk dapat terlibat dalam struktur masyarakat baik itu tempat kerja, tempat belajar, dan lingkungan tempat tinggal. Dan ini adalah 2 saran yang mungkin bisa kamu coba sebelum berinteraksi dengan masyarakat.

Oya sebelum masuk ke saran, cara tercepat untuk dapat masuk dan berbaur dengan masyarakat adalah menikah ya. Setelah menikah akan lebih mudah buat kita untuk ikut serta dalam insturmen kehidupan sosial bermasyarakat seperti misal komunitas PKK, rapat RT dan RW serta kegiatan-kegiatan di desa atau kelurahan. Jadi millennial yang jomblo seperti saya, mulai bersiap-siaplah, jangan kelamaan membusuk di rumah orang tua. Oke lanjut ke saran.

Tau Waktu Tau Kondisi

Sifat cuek yang umum dimiliki millennial sebenarnya sangat bermanfaat untuk satu dan lain hal. Kamu bisa sangat fokus kalau sudah berambisi dan inilah alasan kenapa bisnis startup sangat digandrungi oleh generasi ini. Namun dalam bermasyarakat, baiknya kemampuan kita menganalisis dan bersikap sesuai situasi yang berkembang harus ditambah didalam resume individu kita. Bagi orang-orang dengan bawaan psikologi tertentu mungkin akan susah untuk melaksanakan hal ini tapi percayalah, hal ini tidak serumit pikiran parno kita.

Kata kunci “lu ngga masalah main hape, asal lu tau waktu” adalah kata kunci sakti yang harus kita pegang. Tidak ada sebenarnya pihak yang mempermasalahkan kita bermain telepon genggam, yang dipermasalahkan adalah momen kita menggunakan jimat kita satu itu. Mau main PUBG, PES Mobile atau Mobile Legend sampai mokat di dalem kamar, ngga ada yang peduli. Tapi ketika ada tetangga meninggal dan lu asik dzikir dan kedengeran suara “Legendary” dan sejenisnya, itu baru kurang ajar.

Artinya bener-bener perhatikan momen dan sebenarnya ngga banyak kok momen masyarakat meminta kita mengangkat wajah sekilas dari hape kita. Momen-momen ini paling hanya ada di acara formal seperti rapat atau malam perayaan tujuh belas agustus, momen tetangga meninggal, dan momen-momen ibadah seperti sholat jumat dan ied, misa, dan agenda keagamaan yang lain. Momen pernikahan, lomba agustusan, kerja bakti, atau apapun selain itu, umumnya masyrakat ngga akan protes kalau kalian main hape. Syaratnya sederhana, kerjaan udah lu selesaikan.

Selama kita bisa menempatkan posisi terbaik pada event-event itu, akan lebih mudah kita berbaur dan diterima di tengah masyarakat. Kenapa fokus bahasan saya Cuma di hape? Sederhana, ini adalah godaan, candu dan alasan terbesar kita menjadi alien di tengah masyarakat. Padahal sebenarnya, tanpa benda satu ini bisa-bisa aja kok kita berbaur di tengah masyarakat. Dan ya, hape adalah pelarian nomor 1 orang berkepribadian introvert, so, bisa mengelola hape dan tau kapan momen yang pas buat memakai hape memudahkan bahkan introvert sekalipun buat memasyarakat.

Tau Siapa Tokohnya

Sedikit pengalaman dari saya, dulu saya pernah punya motor dan sedang parkir di teras rumah. Ketika itu saya sedang ada banyak masalah di kampus dan bener-bener dalam kondisi bad mood parah. Tiba-tiba, “BRAKKKKK!!!!!” terdengar suara sesuatu jatuh dan orang memanggil-manggil saya. F*ck, motor saya jatuh ditabrak mobil tetangga saya.

Ketika itu tetangga saya sudah meminta maaf dan ya saya maafkan dengan cara millennial, saya angkat motor saya, saya mengangguk sedikit dan bersegera masuk rumah. You know apa yang terjadi? Tetangga saya teriak-teriak dan marah-marah, bahkan bilang kalau saya sombong etc, etc, mengatakan siapa dia di wilayah itu dan apalah. Bahkan dengan songongnya dia bilang dia bisa membelikan saya motor semacam itu hingga puluhan.

Tau akhir ceritanya? Saya yang motornya ditabrak, yang mengalami kerugian, kudu minta maaf balik, dan bahkan harus terus memupuk hubungan saya dengan tetangga satu itu dengan berbagai cara. Mulai ngasih oleh-oleh khas daerah asal saya, mengunjungi ketika hari raya, dan lain sebagainya.

Inilah pentingnya, coba sebisa mungkin, sebisa mungkin bersikap wajar sesuai norma yang berlaku di wilayah sekitar mu, bukan bersikap wajar sesuai dengan nilai yang kamu pegang. Sederhananya, kalau waktu itu saya angkat motor saya, saya temui beliau dan saya sambut permintaan maafnya, mungkin saya bisa dapat Rp. 100.000 buat biaya perbaikan, inilah perilaku “wajar” ketika itu terjadi. Tetapi yang saya lakukan, adalah “wajar” menurut seorang millennial yang lagi badmood, cuman no, ini tidak wajar di dalam masyarakat.

Maka, ketahui betul siapa tokoh masyarakat dan bersikap wajar dihadapan mereka. Memetakan tokoh masyarakat mudah, cari yang rumahnya paling mewah, cari yang ada plang jabatan structural di wilayah itu, dan cari yang menjadi shaff terdepan di masjid, atau aktif di gereja. Ini adalah para tokoh masyarakat yang minimal harus kamu dapetin trust nya, dan kamu sapa entah dengan cara apa sesuai kustom yang berlaku di wilayah itu, karena dengan begini saya bisa minimal menggaransi, hidupmu akan lebih mudah dan ngga ngalamin yang aku alamin.

Ini aja tips nya! Semangat!

Abdullah Azzam Magister Manajemen UNS 47/ Praktisi Manajemen/ Pernah Baktinusa

Puisi: Semestinya, Engkaulah Semestaku

Semburat cahaya senja merah jingga menerpa sendu wajahmu ketika jemari lentikmu lemah menuding langit Pada sebuah titik yang engkau namakan “ujung penantian” dan tak...
Amril
39 sec read

Body Shaming dan Gangguan Citra Tubuh (Body Dysmorphic Disorder)…

Body shaming adalah bullying (perundungan) verbal yang berisi komentar dari pelaku terhadap bentuk fisik seseorang yang kemudian mengakibatkan stress pada individu korbannya. Sedangkan gangguan...

Ujung Tanduk Moral

 Sumber Gambar : Karya Penulis Jika kalimat moral diujung tanduk menjadi judul, maka semua orang bisa membayangkan apa isi tulisan ini, paling tidak jauh...
Abdullah Azzam
6 min read

All About Leadership

Ever wandering about leadership at its milcellaneous thing? this is several leadership question asked in my mid term test. I dont know but i...
Abdullah Azzam
9 min read

Antara Uang Tunai dan Visi Startup

Banyak para entrepreneur yang memulai bisnis menganggap bahwa cash/uang tunai adalah hal yang paling penting, setidaknya termasuk hal terpenting dalam jalannya bisnis mereka. Hal...
Andreas Senjaya
1 min read

Petral: Substansi, Temuan, dan Rekomendasi

Latar Belakang Pendirian Petral Pada 1969, Pertamina dan satu “interest group” Amerika Serikat mendirikan Petra Group dengan tujuan memasarkan minyak mentah dan produk minyak...
Faisal Basri
6 min read

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *