selasar-loader

Apa pendapat Anda tentang netizen journalism?

Last Updated Apr 4, 2017

4 answers

Sort by Date | Votes
Agaton Kenshanahan
Penstudi Hubungan Internasional, Universitas Padjadjaran

netizen-678x381.jpg

MENARIK.  Istilah yang dikenal dari kata network dan citizen (masyarakat dalam jaringan) merupakan sebuah transformasi jurnalisme yang memberikan ruang pengguna internet untuk berbagi informasi. Misalkan ketika seseorang sedang ikut seminar umum atau konferensi ilmiah. Dengan gawai di tangan, orang tersebut bisa dengan sekejap memberikan laporan bagaimana jalannya seminar dan esensi dari konferensi tersebut secara langsung dari tempat jalannya acara dilangsungkan melalui media sosial atau blog yang dimiliki.

Dalam jurnalisme masa lampau, kebanyakan informasi sifatnya satu arah yang dihasilkan dari produksi berita oleh perusahaan pers melalui corong media yang dimiliki seperti televisi, surat kabar, majalah, dsb. Akibatnya para pembaca memiliki peran yang pasif dalam sirkulasi informasi dan pembentukan wacana publik. Dengan adanya netizen journalism, para pembaca bisa berinteraksi secara luwes di ruang-ruang komentar tentang suatu isu yang sedang menjadi hirauan. Ini berbeda dengan model hak jawab atau pertukaran opini pada surat kabar atau majalah konvensional yang cenderung lambat. Hal ini karena berita atau opini hari ini tidak akan bisa ditanggapi hari ini juga, pasti harus menunggu hari esoknya ketika surat kabar itu terbit lagi. Lagipula ruang-ruang berekspresi dalam surat kabar bisa dikatakan terbatas, sehingga masih memungkinkan adanya penolakan terhadap kiriman tulisan dari pembaca.

Nah di era internet saat ini, saluran informasi tersebar secara luas. Salah satu sebabnya barangkali adalah adanya fenomena netizen journalism ini. Warga saat ini memiliki peran yang aktif untuk menyebarkan informasi. Dengan demikian informasi tidak hanya dimonopoli oleh perusahaan pers saja.

Di satu sisi, netizen journalism bagus bila digalakkan sebagai wujud peran aktif masyarakat dalam membentuk wacana publik. Namun di sisi lain, netizen journalism pun belum dapat dibilang journalism ketika hal yang disampaikan tidak sesuai dengan kaidah-kaidah etik jurnalisme konvensional. Belum lagi bilamana suatu laporan sudah dibumbui dengan sejumlah opini dan nilai-nilai sang netizen. Tentu laporan tersebut bukanlah suatu berita sebagaimana produk utama jurnalisme konvensional, melainkan opini. Memang betul, opini (view) adalah salah satu produk jurnalisme. Namun dari sudut pandang etik jurnalisme secara umum, perlu diperbedakan antarmana yang merupakan berita (news), mana yang merupakan opini (view), dan mana yang merupakan iklan (advertisement) agar tidak mengelabui pembaca. Dalam jurnalisme konvensional pada surat kabar atau majalah, pembatas-pembatas produk tersebut ialah rubrik.

Pentingnya pembedaan di atas adalah bagaimana pembaca bisa membedakan mana yang berisi laporan fakta-fakta dan mana yang bukan. Salah-salah, jika pembaca menganggap opini sebagai fakta, bisa berbahaya, karena opini bukanlah kebenaran. Bisa saja opini merupakan persepsi, keyakinan, atau suatu asumsi belaka. Seorang editor kenamaan Inggris, CP. Scoot, pernah berkata, "Comment is free, but facts are sacred." Artinya, dalam jurnalisme fakta-fakta merupakan hal yang sakral dan tidak boleh lewat dalam pemberitaan. Komentar boleh dilayangkan, namun yang tetap harus disampaikan adalah fakta.

Contoh bahwa pembaca pun bisa terperosok adalah ketika kita mengkaji mengenai fenomena situs seword.com. Di situs tanya jawab berbahasa Inggris seperti Selasar, yaitu Quora, ada pembaca yang bertanya, "Apakah seword.com merupakan situs berita yang kredibel?" Dari sini kita bisa memahami bahwa tidak sedikit mungkin pembaca yang belum tahu bahwa Seword bukanlah portal berita. Seword hanyalah situs opini yang menampung tulisan-tulisan kontributor secara bebas. Bahkan ada kalanya saya melihat fenomena teman-teman di media sosial dengan gagahnya membagikan tulisan-tulisan Seword, menganggapnya seolah-olah tulisan tersebut adalah kebenaran yang hakiki.

Dengan ini, sebagai bagian dari masyarakat informasi kita perlu membedakan mana yang benar-benar netizen journalism dan mana yang bukan. Meskipun terbukanya saluran informasi membuat kita lebih banyak sumber bacaan, kita juga perlu skeptis dengan informasi yang tidak jelas asal-usulnya. Apalagi informasi tersebut nirverifikasi -yang biasanya mengandalkan 'katanya'. Selain itu, kita juga perlu tahu mana informasi yang isinya fakta dan mana yang sudah dibubuhi opini. Karena bisa-bisa dalam informasi yang disampaikan ada tujuan tersembunyi untuk menggiring publik ke dalam wacana yang menyesatkan. Yuk, jadi netizen yang cerdas!

Ilustrasi: kabarblitar.com

Answered Jul 27, 2017
Mutsla Qanitah
Jurnalis Amatir

Bedasarkan hasil perbincangan saya dengan Bambang Harymurti (mantan pimred Tempo), jawabannya terletak pada asas dasar dari ilmu jurnalisme itu sendiri, yakni verifikasi. Di era teknologi informasi, fenomena yang terjadi adalah flood of information atau banjir informasi. Kemudahan mendapatkan informasi membuat orang bingung akan mana informasi yang bisa dipercaya. Muncullah informasi-informasi hoax yang jika konsumsinya dijadikan kebiasaan dapat menyebabkan terbentuknya pola pikir yang mudah percaya dan tidak mendasarkan pandangan terhadapa sesuatu pada fakta dan data.

 

Disinilah letak perbedaan antara jurnalis professional dengan jurnalis warga atau netizen. Ketika seseorang memproduksi konten berita secara mandiri, selama konten tersebut bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya melalui proses verifikasi, maka orang tersebut dapat disebut sebagai jurnalis.

 

Answered Dec 2, 2017

I enjoy reading your blog. It's inspriring. Hope that you release more blog like this basketball legends

Answered Apr 26, 2019
Anonymous

The information you share is very useful. It closely relates to my work and helps me grow. Thank you!
2 player games

Answered Jul 30, 2019