selasar-loader

Apa yang menyebabkan Anda suka menulis?

Last Updated Apr 4, 2017

Hasil gambar untuk menulis

via http://www.si-pedia.com/ (SUM)

3 answers

Sort by Date | Votes
Amril Taufik Gobel
Smiling Blogger (www.daengbattala.com) , lovely husband, restless father

QkTMSndeZtdF0-b9yfXozUbiM9V6CKE4.jpg

Karena menulis itu adalah mengabadikan eksistensi.

“Ilmu pengetahuan, Tuan-tuan, betapa pun tingginya, dia tidak berpribadi. Sehebat-hebatnya mesin, dibikin oleh sehebat-hebat manusia dia pun tidak berpribadi. Tetapi sesederhana-sederhana cerita yang ditulis, dia mewakili pribadi individu atau malahan bisa juga bangsanya. (Alm.Pramoedya Ananta Toer dalam buku “Jejak Langkah” , Von Kollewijn, 32)

Apa yang membuat saya untuk tetap konsisten menulis hingga saat ini? Untaian kalimat inspiratif karya penulis novel terkenal sekaligus kontraversial di Indonesia, alm. Pramoedya Ananta Toer seperti yang saya kutip di atas menjadi salah satu alasannya. “Pribadi individu” yang saya sampaikan lewat cerita-cerita, lewat tulisan-tulisan di blog tidak akan bisa tergantikan. Ia tidak hanya sekadar representasi atas eksistensi buah karya olah pikir seseorang namun lebih dari itu. Menulis adalah bagian dari merangkai kenangan, memadukan mozaik-mozaik yang terserak di sepanjang jejak perjalanan dan menjadikannya abadi sepanjang masa.

Sudah beberapa kali saya menceritakan pengalaman dan motivasi saya nge-blog namun dorongan terpenting buat saya untuk terus menulis adalah bagaimana agar otak saya bisa terus bekerja, menganalisis, mencatat berbagai hal yang menarik, dan membaginya lewat tulisan di blog. Secara kritis dan jernih. Saya masih ingat betul, pertama kali merintis karier di bidang penulisan justru diawali oleh kegemaran saya membaca.

Sejak masih SD, ayah saya berlangganan majalah anak-anak seperti Bobo, Ananda, dll. Saya “melahap” semua bacaan yang tersedia itu dengan antusias. “Virus” membaca itu tumbuh kian subur ketika saya memasuki jenjang SMP dan SMA. Ada sebuah lapak penyewaan buku komik dan novel tak jauh dari rumah saya yang menjadi langganan. Kerap kali uang jajan yang diberikan orang tua saya tabung untuk biaya menyewa komik atau novel.

Memasuki jenjang mahasiswa, perpustakaan UNHAS selalu menjadi tempat saya nongkrong. Betah rasanya berlama-lama di sana membaca, membiarkan imajinasi saya melayang, berkelana jauh bersama jalinan kisah atau informasi yang tersaji di buku. Kadang-kadang, lantaran keasyikan petugas perpustakaan datang mengingatkan bahwa akan tutup sebentar lagi karena jam kerja sudah selesai. Saya menjadi salah satu tukang pinjam buku yang aktif di perpustakaan kampus.

Saya mulai aktif menulis sejak duduk di bangku SMA (1986-1989). Bersama kawan, Andi Kurniawan, kami membuat buletin sekolah SMA. Saya masih ingat betul kami membuat empat halaman buletin stensilan di sekolah dengan dibantu oleh petugas administrasi serta restu dari Kepala Sekolah, alm. M.Samud Panondo. Saya masih ingat beberapa kali baju saya kena percikan noda stensil atau betapa letihnya lengan saya mengayuh engkel mesin stensilan yang masih manual. Penulis buletin tersebut mayoritas adalah saya dan Wawan –nama panggilan Andi Kurniawan. Melalui buletin yang terbit sebulan sekali ini, saya melatih kebiasaan menulis dan juga menjaga konsistensi. Menjelang terbit selalu menjadi masa-masa paling deg-deg-an buat saya dan Wawan. Bila tidak ada kontribusi tulisan, maka, apa boleh buat, kamilah yang menulis.

Saya akhirnya berhasil menembus media lokal di Makassar, Pedoman Rakyat di masa awal memasuki jenjang kuliah di Fakultas Teknik Jurusan Mesin UNHAS dengan tulisan resensi film (sayangnya kliping tulisan bersejarah itu rusak dan hanyut bersama banjir yang melanda tempat kos saya dulu di Cawang, tahun 1997). Itulah yang kemudian menjadi pemicu awal menjadi penulis aktif di sana serta menulis fiksi (cerpen dan puisi) di Harian Fajar, Makassar serta sejumlah media cetak nasional.

Saya kemudian bergabung dengan penerbitan Kampus Identitas UNHAS dan mendirikan Surat Kabar Mahasiswa Fakultas Teknik Channel 9 yang justru kian menggairahkan minat menulis saya. Pada kurun waktu 1991-1994 merupakan masa-masa aktif saya untuk menuangkan pikiran dan perasaan saya lewat tulisan. Saya seperti mendapatkan apa yang selama ini saya cari lewat menulis. Dan tentu saja, hobi saya membaca menjadi pilar utama hingga saya bisa memperoleh dan memperkaya rujukan untuk menulis dengan baik dan memikat.

Akhir tahun 2002 saya pertama kali nge-blog. Bagai menemukan media berekspresi melalui tulisan, saya pun mengisi blog dengan antusias, termasuk kemudian memakai domain sendiri dengan nama “Daeng Battala”. Berbagai “keajaiban” saya temui tidak hanya blog saya bisa dibukukan, menang berbagai lomba penulisan di dunia maya, mendapatkan penghasilan tambahan sampai berkesempatan mengunjungi Hongkong Disneyland tahun lalu berkat aktivitas blogging. Semuanya berkah dari menulis.

Akhirnya, di sinilah saya saat ini. Ekspektasi saya dengan ngeblog dan menulis sesungguhnya sederhana saja, yaitu saya ingin berbagi dan mengabadikan eksistensi. Menjelmakan tulisan-tulisan yang saya buat membuat tetap hidup bahkan ketika saya sudah tak berada di dunia fana ini. Saya berharap jejak-jejak ini tak sekadar sebagai kenangan yang tak pernah sirna di benak orang-orang yang mengenal serta mencintai saya namun juga menjadi hikmah, manfaat bahkan hiburan bagi yang membacanya.

Dan saya akan tetap eksis, hadir, dan mengalir.

Melalui tulisan. Hingga akhir waktu.

Gambar via dokumentasi pribadi

Answered Apr 14, 2017
Pepih Nugraha
Kecanduan menulis sejak usia dini, sejak saat umur 10 tahun sampai sekarang

Dz21PbhkR13qh5v4mvL6TxSjs-x3zLcv.jpg

Keresahan. Ya, bagi saya menulis itu karenanya adanya keresahan dalam diri sendiri. Resah mengapa perekonomian rakyat tak kunjung baik, resah mengapa sampah masih menggunung di lingkungan saya tinggal, resah mengapa anak tidak mau sekolah, dan sejumlah keresahan lainnya. Kersehan inilah menghasilkan sejumlah tulisan.

Pada masa lalu, keresahan ini kerap saya ungkapkan dalam tulisan di catatan harian. Dalam beberapa seri buku catatan harian yang saya punya, ada varian buku yang menggunakan kunci, sehingga tidak setiap orang bisa membaca catatan saya. Hanya saya si empunya buku dan tulisan yang berhak membacanya, sehingga kunci catatan harian itupun saya simpan secara rahasia. 

Berbeda dengan zaman sekarang di mana setiap tulisan diumbar di media sosial atau blog. Setiap orang boleh membacanya, tidak ada lagi hal yang dirahasiakan. Bahkan keresahan hati akibat diputuskan pacar pun bisa diungkap dan disebarkan. Kini tidak ada lagi kunci di mana tulisan kita tidak boleh dibaca orang lain. Semuanya serba "openbaar", serba terbuka.

Selain motivasi ekonomi (karena menulis menghasilkan uang) dan kehidupan, motivasi menulis sekarang ternyata agar tulisan bisa dibaca orang, tidak peduli dibayar atau tidak. Media sosial dan blog membuka peluang itu. 

Answered Aug 29, 2017
Sucia Ramadhani
Jawabanku November 2017

Pertanyaan yang sering ditanyakan, "Kamu nggak bosen nulis terus?" atau "Kenapa kamu senang menulis?" Maka, untuk menjawab pertanyaan tersebut, kita harus menelisik lebih dalam hati kita. Ada dua hal yang bagiku menulis itu adalah hal yang menyenangkan. Pertama, bagi orang dengan tipe introvert menulis menjadi salah satu media paling ampuh yang ia gunakan. Dengan menulis, kita dapat mengungkapkan segala kekesalan, kebahagiaan, keresahan, yang sejujurnya tidak dapat kita ungkapkan secara lisan. Media menulis dapat mengungkapkan semuanya, semua yang yang ada di dalam hati seseorang yang introvert. Menjadi media curhat, refleksi diri, dan teman terbaik. Dengan menulis, tidak hanya dapat mengungkapkan sesuatu melalui tulisan, namun dengan menulis, kita dapat mengarispkan dokumentasi perjalanan hidup kita. Kedua, alasannya adalah karena dengan menulis aku dapat merasakan proses perjuangan. Menjadi penulis adalah keinginan terbesar, apalagi jika dapat menjadi penulis yang bermanfaa tbagi orang lain. Hal tersebut menjadi satu hal yang harus diperjuangkan. Dengan menulis, kita dapat melatih terus-menerus kemampuan. Dapat pula merasakan perasaan pantang menyerah karena berjuang dalam proses menulis. Jadi, selain menjadikan abadi, hal yang menyenangkan dalam menulis adalah menikmati setiap prosesnya. Proses yang membuat kita bertahan dalam keadaan gagal atau menang. 

Answered Nov 30, 2017