selasar-loader

Apa yang menyebabkan turunnya pamor Kaskus?

Last Updated Nov 20, 2016

Bagaimana cara menyelamatkan Kaskus?

3 answers

Sort by Date | Votes
Pepih Nugraha
COO Selasar.com dan Techpreneur, yakin dengan masa depan bisnis rintisan digital

H8-xgoG4fbEyinRwB9sykfjGkj6cSu5G.jpg

Sebenarnya tidak ada parameter yang pasti sebuah web seperti Kaskus turun pamornya. Sebab, Kaskus punya kekhasan dan keunikannya sendiri. Bermula dari media tempat semua orang bisa berkasak-kusuk (kaskus), media ini besar sebelum ada situs pertemanan dan forum konvensional masih berbentuk mailing list. Karena Kaskus menjadi wadah forum komunikasi dan diskusi di mana penggunanya bisa berbagi tautan berita untuk kemudian mendikusikannya di web, maka popularitasnya cepat melejit.

Pada mulanya, konten Kaskus cenderung vulgar untuk tidak mengatakan berbau pornografi. Namun lama kealamaan, Kaskus berhasil me-rebranding dirinya sebagai sebuah forum bermartabat antaranak bangsa dengan konten berbagi pengalaman. Hingga saat ini, Kaskus adalah forum web terbesar di Indonesia dengan jutaan anggota.

Di Kaskus pulalah Forum Jual Beli (FJB) pertama kali muncul dan sempat digemari para penggunanya. Namun sejauh itu, Kaskus tidak berupaya mengubah dirinya sebagai situs e-dagang, tetap lebih memilihara ujudnya sebagai forum. Padahal, bisa jadi situs BukaLapak atau situs e-dagang lainnya mengambil ide dari FJB ini. Hanya saja, mereka yang melakukan ATM (Amati Tiru Modifikasi) terhadap FJB Kaskus lebih berkonsentrasi pada "modifikasi"-nya sehingga tampil sebagai situs e-dagang yang kita kenal sekarang ini. 

Terlebih lagi, sistem keamanan FJB dalam bertransaksi saat itu belum begitu dioptimalkan, sehingga beberapa kali users FJB diramaikan oleh "penipuan online" yang sempat menjadi pembicaraan hangat. Padahal, kalau saja Kaskus bisa mengubah dirinya menjadi situs e-dagang, hal itu akan mudah dilakukan karena memiliki users yang banyak dan telah pula tumbuh bisnis online dari FJB itu.

Namun demikian, sebagai situs komunitas terbesar di Indonesia, posisi Kaskus tidak tergoyahkan.

Ilustrasi via blogspot.com

Answered Dec 22, 2016
Zulfian Prasetyo
yang mencintai budaya startup

91w3ZGCR_HSMgyCvazubEXI9-EpgtYP1.jpg

Saya sepakat dengan Rifan dan Kang Pepih soal turunnya pamor Kaskus. Btw, sumber gambar di atas dari Kaskus ya. Disclaimer.

Saya melihat Kaskus sebagai situs yang solid, namun terbuai dan melakukan banyak perubahan yang berbahaya. Forum Jual Beli (FJB) dibiarkan terlalu alamiah, tidak dirapikan sistemnya sedemikian rupa sehingga keamanannya relatif terjamin (mudah-mudahan saya salah). Ini penting sekali karena konsep e-commerce saat itu masih merupakan sesuatu yang baru bagi kebanyakan masyarakat Indonesia dan Kaskus adalah pemain awalnya! Kalau Kaskus "niat" bermain di pasar e-commerce dengan jumlah user yang mereka miliki, dia bisa jadi pemain utama dan terbesar hingga saat ini, seperti Amazon atau Alibaba.

Kedua, ini yang paling berbahaya, adalah perubahan besar-besaran di bidang konten. Kaskus terlalu berani memasukkan konten-konten politik tanpa memperhatikan demografi Kaskuser. Padahal, kekuatan utama Kaskus adalah fanatisme Kaskuser, sampai-sampai kalau ada user baru (newbie) yang kurang memahami budaya Kaskus, dia akan mendapat labeling sebagai nubitol (newbie tol*l). Budaya informal Kaskus yang memopulerkan istilah-istilah seperti ane, pejwan, agan, cekidot, dll juga sebenarnya cukup jadi pertanda bahwa Kaskuser bukanlah tipikal user yang menyukai hal-hal serius semacam politik (mereka lebih serius untuk tampil di page one dan dapat cendol daripada membicarakan sesuatu yang serius. Serius!). Orang yang membuat kebijakan memasukkan konten politik ini barangkali menganggap Kaskuser sebagai sekumpulan angka yang mudah dikapitalisasi ketimbang manusia yang membangun ekosistem budaya baru di ranah internet Indonesia.

Agak prihatin juga melihat aktivis-aktivis Kaskus hengkang. Namun dengan segala hormat, saya melihat Kaskus di Indonesia sebagai tempat nongkrong online pertama di Indonesia. Jadi kalau kamu bosan nongkrongin MTV, ya main di Kaskus aja. Puncak popularitas Kaskus terjadi saat Saykoji bikin lagu untuk mereka. Sehabis itu, yah, you know lah.

Terus, bagaimana cara menyelamatkannya?

Menurut saya, cara paling pas untuk menyelamatkan Kaskus adalah "kembali ke fitrah". Artinya, Kaskus harus melihat kembali masa-masa kejayaan mereka dan melihat strength mereka kala itu. Kembalikan konten-konten yang sesuai dengan minat Kaskuser. Rangkul lagi dedengkot-dedengkot Kaskus mulai dari aktivis sampai Made In Kaskus. Ajak kopdar, lalu buka obrolan tentang kemungkinan mereka kembali demi menghidupkan Kaskus. Kalau perlu, kasih insentif tertentu. Mudah-mudahan dengan cara itu, Kaskus masih bisa diselamatkan.

Oke deh, sekian dulu dari ane...

 

 

...cendol dong, gan!

Answered Jan 9, 2018
Ray Fikry
Seorang generalis yang mengamati Jakarta dan Indonesia

Saya dulu sempat mengobrol dengan teman soal Kaskus. Kata dia, Kaskus itu satu grup dengan Blibli di bawah Djarum. Sepengatan dia, Djarum seperti sengaja membiarkan FJB liar, sementara konten di Blibli terus diperbaiki sampai akhirnya mendapatkan gelar ecommerce terbaik (emang Blibli sempat dapat penghargaan ini, ya? Ada yang punya info?)

Mereka (FJB Kaskus dan Blibli) seperti ingin membuat segmennya sendiri untuk masing-masing pasar. Berat jika harus bersaing satu sama lain di pasar yang sama, yaitu Indonesia. Karena itulah FJB dibiarkan begitu saja sementara Blibli terus diperbaiki. Toh Kaskus masih bisa fokus ke komunitas dan bisa diarahkan ke media, sementara Blibli murni ecommerce.

Teman saya setuju saat bahwa Kaskus mengalami kemunduran akibat perubahan kiblat pada konten. Konten-konten yang tadinya informatif dan unik kini semacam disesuaikan dengan social currency alias isu yang ada, terutama isu-isu politik. Namun, mengembalikan Kaskus ke budaya lamanya juga tidak bisa dibilang sebagai langkah yang 100% jaminan mutu, meski punya kemungkinan untuk berhasil. Alasannya, Kaskus lama pun cenderung terlupakan.

Solusinya, Kaskus benar-benar harus cari ide baru, orang baru, tangan baru. Pilihan lain, Kaskus ditutup sekalian. Semacam Koprol dulu sebelum akhirnya malah mati tidak terhormat (jelas bukan ide bagus soal penutupan).

Ada beberapa hal yang saya sepakat dengan pendapat teman saya ini, terutama soal penyebab kemunduran Kaskus. Alasannya, baik Rifan, Zulfian, dan teman saya memberikan pendapat yang kurang lebih sama. Rifan yang mengaku kaskuser aktif 2011-2013 merasa bahwa Kaskus mundur akibat konten-konten yang berbau politik, terutama karena kampanye Jokowi sebagai calon gubernur DKI Jakarta. Konten-konten unik dan informatif digantikan oleh konten-konten politik.

Bukan berarti cara itu salah. Hanya saja, Kaskus seperti tidak melihat dulu demografi penggunanya. Mencekoki anak muda dengan konten politik dengan dosis berlebihan adalah tindakan yang terlalu spekulatif. Orang tidak kenal (dan mungkin tidak terlalu mau kenal) politik dicekoki terus, ya lama-lama gumoh juga. Apa mungkin manajemen baru Kaskus melihat pengguna hanya sebatas angka, bukan manusia? Atau mungkin mereka beranggapan bahwa “pasar bisa diciptakan” melalui komunitas yang sudah lebih dulu tercipta keunikannya? Saya tidak tahu. Padahal, memahami selera pengguna adalah sesuatu yang penting sekali.

Selain itu, maraknya kasus penipuan yang mungkin sengaja dibiarkan tanpa perbaikan juga menjadi salah satu alasan kemunduran Kaskus. Bagaimanapun, tidak dapat dipungkiri bahwa FJB adalah daya tarik Kaskus. Dengan FJB, orang-orang yang tidak tertarik konten Kaskus bisa terakuisisi dengan baik. Ini artinya, FJB adalah senjata lain Kaskus, tangan lain yang menjangkau segmentasi pengguna yang lebih luas. Integritas adalah hal yang seharusnya bisa membuat FJB ini semakin populer. Saking kuatnya legacy FJB ini, teman saya lebih menyarankan untuk menggunakan FJB daripada ecommerce-ecommerce lainnya.

Keunikan FJB menurut saya adalah terbangun secara alamiah, bukan hasil engineering para developer yang berkiprah di bidang front end. Artinya, dengan UI yang biasa saja, aktivitas jual-beli ini berjalan dengan baik (UX bagus). Bayangkan jika Kaskus serius menggarap FJB dengan meningkatkan UI-nya.

Saya masih menunggu kejutan apa yang Kaskus berikan di masa depan. Kaskus ini ikon digital Indonesia, menurut saya. Sama kuatnya dengan Go-Jek, bahkan lebih punya legacy. Mari kita lihat, terobosan apa yang manajemen Kaskus hendak deliver kepada kita.

Answered Apr 12, 2018
Sponsored

Question Overview


6 Followers
1786 Views
Last Asked 2 years ago

Related Questions


Bagaimana Kaskus mendapatkan momentum pertumbuhan awalnya (traction)?

Apa perbedaan antara Selasar dan Kaskus?

Apa beda antara startup dan perusahaan lainnya? Mengapa istilah startup begitu naik daun?

Bagaimana cara membangun tim awal startup/perusahaan?

Bagaimana proses mendirikan Bukalapak?

Siapa pengusaha paling top di Indonesia menurut Anda?

Apa yang menyebabkan sebuah startup digital mengalami kegagalan pada tahun pertamanya?

Apakah nama perusahaan startup terbaik di Indonesia?

Apa yang menyebabkan jumlah venture capital di Indonesia tidak sebanyak di Amerika?

Apa rahasia membangun sebuah startup digital yang sukses?

Apa yang dimaksud dengan design thinking?

Apa yang dimaksud dengan design sprint?

Mengapa design sprint digunakan untuk membuat produk digital?

Apa yang membuat Steve Jobs sukses membangun Apple?

Benarkah peran media mainstream semakin terdesak oleh media sosial yang kontennya diisi para netizen?

Benarkah peran media arus utama atau media mainstream semakin terdesak oleh media sosial yang kontennya diisi para netizen?

Apa yang membuat Anda kecanduan media sosial seperti Facebook, Twitter, atau Instagram?

Bagaimana cara mengatasi kecanduan media sosial?

Apa yang membuat orang betah berlama-lama di suatu situs/web?

Mengapa rakyat Tiongkok bisa hidup tanpa media sosial buatan AS seperti Facebook dan Google?

Siapakah orang Indonesia yang pertama sekali memiliki akun di Facebook?

Ada berapa grup WhatsApp yang Anda ikuti? Sesungguhnya di grup WA apa sajakah Anda aktif? Mengapa?

Apakah Kompasiana itu?

Negara mana di Afrika yang paling maju dari sisi industri teknologi informasi dan internet?

Apa yang Anda rasakan jika hidup tanpa gawai (gadget) seperti ponsel, tablet, atau komputer berinternet barang seminggu saja?

Bagaimana pendapat Anda tentang fenomena menjamurnya vlogger di Indonesia?

Apa yang Anda pikirkan ketika mendengar istilah 'Youtube lebih dari TV' ?

Apakah konsep kedaulatan negara masih relevan dalam konteks internet?

Seperti apa pedoman perlindungan HAM yang paling ideal di masa derasnya arus informasi internet seperti ini?

Seperti apakah batasan kebebasan berekspresi di Internet yang tidak melanggar peraturan?