selasar-loader

Kenapa Islam mengalami kemunduran dalam hal ilmu pengetahuan sejak kemajuan di abad pertengahan?

Last Updated Nov 20, 2016

1 answer

Sort by Date | Votes

tbU8CVZsDfRE8SXs5Ets-N2jmB47MaOl.jpg

Dalam bukunya yang berjudul The House of Wisdom: How Arabic Science Saved Ancient Knowledge and Gave Us the Renaissance, Jim Al-Khalili menjelaskan tentang kemunduran tersebut.

Pertama-tama, dia menjelaskan tentang dua alasan yang paling umum digunakan untuk menjelaskan kemunduran tersebut. Yang pertama adalah konflik antara Islam ortodoks dan Mu'tazilah yang rasionalis, yang mencapai puncaknya pada karya dari al Ghazali. Al Ghazali menyerang para filsuf yang terpikat oleh Aristotle dan mengasimilasikan pemikirannya dengan karya-karya mereka. Hal ini menandai pergerakan interpretasi teologi Islam yang lebih konservatif, bahkan mistik.

Jim al Khalili lalu menuliskan bahwa al Ghazali tetaplah seorang pemikir yang dihormati di dunia Islam dan dampak dari pemikirannya terhadap Islam ortodoks tidak dapat dianggap kecil. Namun, pemikirannya itu juga membangkitkan aliran konservatif yang memberikan kerusakan yang berlangsung lama terhadap rasionalisme dan menjadi sebuah titik balik di dalam filosofi Islam. 

Banyak yang menganggap bahwa al Ghazali menjadi alasan dari kemunduran ilmu pengetahuan Islam melalui pemikirannya. Namun, sesungguhnya yang diserang oleh Al Ghazali adalah pandangan teologis dan metafisik yang bergantung pada logika Plato dan Aristoteles. Al Ghazali berargumen bahwa bergantung pada pemikiran filosofis Yunani itu tidak islami. Perdebatan itu lalu disederhanakan menjadi perdebatan antara agama yang irrasional dan ilmu pengetahuan yang rasional. Bagaimanapun, disiplin lain seperti matematika, astronomi, dan pengobatan, seharusnya tidak terpengaruh dengan perselisihan yang murni filosofis seperti ini - dan pada kenyataannya, sebagian besarnya tidak terpengaruh.

Argumen kedua adalah karena jatuhnya Baghdad dan dihancurkannya sebagian besar buku di Baitul Hikmah oleh pasukan Mongol. Hal ini terlalu memperbesar keagungan Baghdad sebagai pusat ilmu pengetahuan. Pada pertengahan abad ke-13, ada lusinan pusat ilmu pengetahuan di Afrika Utara dan Spanyol, Persia dan Asia Tengah. Ilmuwan seperti Ibnu Sina dan al Biruni bahkan mungkin tidak pernah menjejakkan kakinya di Baghdad.

Mongol dan al Ghazali bukanlah penyebab utama dari kemunduran ilmu pengetahuan di dunia Islam. Sejarawan moderen di dunia Isslim berargumen bahwa alasan utama dari kemunduran tersebut adalah kolonialisme dari dunia Barat, sementara yang lainnya berpendapat bahwa sebenarnya tidak terjadi kemunduran sama sekali. Argumen kedua muncul karena di belahan dunia lain, aktivitas penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan masih terjadi seperti di Maragha dan Damascus yang masih mengeluarkan karya-karya di bidang astronomi hingga abad ke-14. Jadi, argumen ini hanya menyatakan bahwa kemunduran terjadi lebih lambat dan lebih lama dari yang biasa diusulkan. Lalu, untuk kolonialisme, peran yang mereka mainkan tidak terlalu besar karena kolonialisme terjadi jauh setelah semangat untuk mengembangkan ilmu pengetahuan di dunia Islam sudah lama lewat.

Satu faktor penting yang memainkan peranan besar adalah keengganan dunia Islam, khususnya Kekaisaran Ottoman, untuk menggunakan mesin percetakan. Keengganan ini diperlihatkan jauh hingga abad ke-17. Alasan dari keengganan tersebut adalah karena huruf Arab yang meliuk dan struktur huruf yang dapat berubah tergantung pada penempatannya. Hal ini mempersulit pembuatan alat cetak yang akurat terhadap tulisan dalam bahasa Arab dan sering terjadi salah cetak. Salah satu buku yang pertama dicetak dalam bahasa arab adalah Alquran. Salah cetak yang tampaknya tidak penting dinilai sebagai perbuatan yang mencemarkan kesucian. Atas dasar itulah, Ottoman menolak mesin percetakan tersebut. Ketika akhirnya percetakan dalam bahasa Arab diperkenalkan di Turki pada tahun 1727, hanya buku geografi, sejarah, dan bahasa yang dicetak: semua buku agama dilarang untuk dicetak menggunakan alat tersebut.

Walaupun alat cetak mencegah penyebarluasan buku di dunia Islam, tetap muncul ilmuwan-ilmuwan dimana ilmu pengetahuan itu bisa disebarkan. Pada abad ke-13, muncul seorang ilmuwan fisika Suriah yang bernama Ibnu Nafis. Pada abad ke-14, muncul seorang sejarawan dan ilmuwan sosial terkenal asal Tunisia, yaitu Ibnu Khaldun. Lalu pada abad ke-15, muncul juga seorang matematikawan bernama Jamshid al-Kashi.

Answered Jul 17, 2017