selasar-loader

Seberapa menyenangkan bekerja sesuai hobi?

Last Updated Mar 31, 2017

2 answers

Sort by Date | Votes
Annisa Sri Aulia Mutiara
Pecinta sepakbola. Penikmat sastra.

z0xZXj2CbBFSYuGlqPk-W5MhiQNCdcNl.jpg

Gambar via ASAM

Sangat menyenangkan!

Mengutip kalimat dari Pak Ridwan Kamil, "pekerjaan paling menyenangkan di dunia adalah hobi yang dibayar."

Sejak SMA, saya seringkali membayangkan betapa bahagianya memiliki pekerjaan yang sesuai dengan hobi saya, menonton bola, misalnya.

Sejauh ini, saya masih terus bermimpi kelak bisa menjadi bagian dari manajemen suatu klub bola atau bahkan manajemen Timnas Indonesia. Dengan begitu, tentu saya tidak akan jauh-jauh dari lapangan bola. Saya bisa menonton pertandingan sepuasnya bahkan selalu ada menemani setiap pertandingan mereka, dan kemudian mendapat imbalan. Menyenangkan, bukan?

Ah, one day, please.

Answered Apr 3, 2017
Shendy Adam
Birokrat, pemerhati politik, pencinta sepak bola.

T2NoPPAODTvzET1jngCRIG7G92z1BCtg.jpg

via blogspot.com (FR)

Sangat menyenangkan. Saya pernah menjalaninya saat masih jadi jurnalis di Harian Merdeka. Seperti pernah saya ceritakan di sini, cita-cita saya sangat spesifik yaitu wartawan olahraga.

Saat ada panggilan kerja dari Harian Merdeka, saya girang bukan kepalang. Awalnya saya tidak ditempatkan di desk olahraga. Sejak awal wawancara, (Alm.) Mulyana Kusumah, pimpinan redaksi kami saat itu sudah bilang kalau saya diplot di desk khusus investigatif. Topiknya tentu saja tak jauh dari politik. Mungkin latar belakang pendidikan saya jadi pertimbangan Mas Mul saat itu.

Karena bergabung sejak Merdeka belum mulai terbit (lagi), situasi redaksi saat itu masih sangat fleksibel. Kami belum dikejar deadline karena masih pengembangan konsep produk dan membuat edisi simulasi. Saya memanfaatkannya untuk minta pindah ke desk olahraga (yang saat itu digabung dengan lifestyle). Untungnya permintaan saya dikabulkan. Namun, awalnya saya hanya ditugasi mengerjakan artikel lifestyle.

Kesabaran saya membuahkan hasil ketika akhirnya mulai diberi tugas membuat berita olahraga. Saat Merdeka sudah mulai terbit, saya resmi menjadi jurnalis olahraga khususnya sepak bola. Saya mengalami sendiri yang disebut 'mengerjakan hobi tapi dibayar'. Sulit menggambarkan dengan kata-kata bagaimana rasanya.

Bahkan, ketika Merdeka mulai mengalami krisis pascakasus yang menimpa owner kami, saya tetap setia bertahan di redaksi. Sebagian teman ada yang di-PHK maupun resign. Otomatis beban kerja saya bertambah. Sebagai wartawan 'bau kencur' yang baru bekerja seumur jagung, saya menjalankan peran seorang reporter merangkap redaktur. Setiap hari saya bertanggung jawab mengisi setidaknya dua halaman dalam (antara Liga Italia dan Inggris atau Liga Jerman dan Liga Spanyol). Kalau headline suplemen Merdeka Sports edisi hari itu pas memuat salah satu liga yang sedang saya pegang, maka artinya saya memegang tiga halaman.

Tantangan yang saya hadapi berbeda dengan wartawan-wartawan desk lain yang setiap hari ke lapangan mencari berita. Kelihatannya memang mudah, nggak harus panas-panasan, bahan berita datang sendiri di internet. Akan tetapi, tidak sesederhana itu juga karena kami dituntut mengemas berita-berita tersebut dalam angle yang menarik. Kalau cuma copy paste atau translate berita, sudah pasti artikel kami tidak dilirik karena pembaca juga sudah bisa membacanya melalui media online. Membuat preview dan review pertandingan jauh lebih ribet lagi, karena kami harus kuat dalam data dan analisis.

Jumlah artikel yang harus saya buat relatif lebih banyak ketimbang kawan-kawan reporter lain. Minimal saya menulis 8 artikel, dengan dua di antaranya adalah berita utama halaman. Kalau ada rekan yang tidak masuk, jumlahnya bisa meningkat hingga dua kali lipat. Saya juga harus mengompilasi data hasil pertandingan, klasemen dan bursa taruhan setiap sebelum atau sesudah ada pertandingan. Dengan tugas seperti itu, saya biasa datang ke kantor lebih awal dari para redaktur. Saya baru bisa pulang kalau dua (atau tiga) halaman tanggung jawab saya selesai di-layout.

Sayangnya, reinkarnasi jilid kedua Merdeka itu tidak bertahan lama. Merdeka harus mati lagi pada 31 Agustus 2009. Sejak beberapa bulan sebelum itu, gaji wartawan dan karyawan mulai tersendat. Bahkan, gaji terakhir kami dibayarkan tanggal 1 September dinihari setelah kami menyelesaikan deadline edisi terakhir.

Sekarang saya bisa mengenang semua kisah 'tragis' itu dengan senyuman. Beban kerja yang berat, gaji yang tidak lancar, dan berbagai kesulitan lain tidak mengalahkan rasa senang saya bisa bekerja sesuai hobi. Ada kepuasan batin yang saya dapat melebihi nilai materi. Melihat koran tercetak setiap pagi membayar lunas kelelahan di hari sebelumnya. Kualitas produk kami pun berani diadu. Terbukti dua harian nasional lain yang juga memiliki suplemen olahraga terpisah selalu mengekor inovasi kami di Merdeka Sports.

ulOCDAo38dBvJ0EtHuknq1FKRchGi0-g.jpg

via blogspot.com (FR)

FF_yr8G6TgGFiQmiL9plttrNToptTuY4.jpg

via blogspot.com (FR)

Answered Apr 5, 2017