selasar-loader

Bagaimana rasanya menjadi guru honorer?

Last Updated Mar 30, 2017

4 answers

Sort by Date | Votes
Firdaus Daus
Saya seorang guru yang suka membaca dan traveling.

Related image

Sumber gambar: http://batam.tribunnews.com/2015/08/01/biasanya-cari-juni-tahun-ini-insentif-guru-dari-pemprov-kepri-belum-cair

Menjadi guru memang sudah jadi panggilan hidup bagi saya. Tidak ada penyesalan sama sekali bagi saya sudah menjadi bagian dari orang yang ikut mencerdaskan bangsa. Namun, ada beberapa yang mesti diperhatikan oleh pemerintah terkait guru honorer. 

Pertama, terkait kesejahteraan guru honorer (swasta), masih harus ditingkatkan. Banyak guru honorer yang honor perbulan masih jauh dari UMP. Tentu saja ini mengganggu kinerja guru honorer. 

Kedua, terkait akses untuk pelatihan dan upgrade kompetensi guru honorer masih sulit. Guru honorer sangat jarang diikutkan pelatihan-pelatihan. 

Ketiga, terkait sulitnya mengurus masalah administrasi guru. Untuk mendapatkan nomor induk saja, guru harus menunggu beberapa lama. 

Terima kasih.

Answered Mar 30, 2017
Yuni Astuti
Ibu dari 4 anak, gurunya calon perawat, suka menjahit dan otak-atik masakan

Wkvr4Dkk3QhEvbiY0I07jZ3du8SiOG6N.jpg

Bagi saya, untuk bisa bertahan hidup kita membutuhkan 'sesuatu' yang bernama uang. Meskipun uang bukan segala-galanya. 

Profesi saya adalah guru. Gurunya calon perawat. Saya adalah salah satu staf pengajar di Politeknik Kesehatan di Jateng, khususnya jurusan keperawatan. Meskipun saya bukan guru honorer, akan tetapi saya juga pernah merasakan bagaimana rasanya menerima gaji yang 'kurang pantas', karena status kepegawaian saya masih CPNS (calon pegawai negeri sipil) . Secara hitungan matematis tentu saja gaji saya tidak mencukupi untuk semua kebutuhan hidup. Akan tetapi, di instansi tempat saya bekerja,  saya berkewajiban mendidik calon perawat yang kelak menjadi seseorang yang selalu bertemu dengan (mayoritas) orang sakit. 

Orang yang sedang dirawat di rumah sakit, tidak hanya sekedar sakit secara fisik, psikologis mereka ikut terganggu. Orang sakit biasanya lebih sensitif, emosinya labil dan menjadi ingin lebih diperhatikan.

Dan saya berharap, anak didik saya menjadi seorang perawat yang betul-betul profesional. Tidak hanya sekedar merawat orang sakit secara prosedural tetapi lebih dengan hati, merawat dengan kasih sayang dan tentu saja tidak melupakan juga etika.

Itu lah sebabnya mengapa saya lebih memilih jadi guru perawat ketimbang jadi perawat. Meski gaji yang saya terima justru lebih rendah dibanding gaji anak didik saya yang sudah menjadi perawat.

Ada beberapa alasan mengapa saya tetap menjalani profesi sebagai guru perawat.

Pertama, ilmu yang saya tularkan Insya Allah menjadi ilmu yang bermanfaat. Hal yang menurut keyakinan saya, ilmu  yang bermanfaat akan mengalir terus pahalanya kepada saya selama ilmu tersebut digunakan untuk kebaikan.

Kedua, saya punya mimpi ingin menghilangkan stigma masyarakat bahwa perawat adalah pembantu dokter, tetapi perawat adalah mitra kerja dokter. Saya sangat bermimpi bisa melahirkan perawat yang betul-petul profesional, sehingga selalu 'nyambung' jika diajak berdiskusi masalah pasien.

Ketiga, menjadi guru apapun baik guru SD, SMP, SMP ataupun dosen adalah sama kewajibannya yaitu sama-sama berusaha mencerdaskan anak didik. Tidak hanya cerdas secara intelegensi, tetapi cerdas juga emosinya bahkan jika kita mampu cerdaskan juga spiritualnya.

Guru tidak hanya sekedar memberikan atau membuat nilai. Bagi saya, memberikan nilai  tinggi itu gampang, akan tetapi apa hakekat nilai yang sebenarnya? Nilai bukanlah sekedar deretan angka ataupun deretan huruf yang bermakna sebuah prestasi. Apalah arti nilai tinggi jika anak didik kita tidak beretika? Apa arti IP (Indeks Prestasi) tinggi jika lulusannya tidak bermoral?

Jika kita mau menghayati tugas dan peran guru yang sebenarnya, tugas sebagai guru adalah tugas yang luar biasa berat. Menurut orang Jawa, guru itu adalah orang yang bisa digugu (dipercaya omongannya) dan ditiru ( jadi teladan). 

Keempat, selalu ada kesempatan belajar. Itu lah untungnya menjadi guru, selalu dituntut untuk selalu belajar dan belajar terus sesuai perkembangan zaman. Dengan tuntutan tersebut akan lebih meningkatkan kualitas pengetahuan dan wawasan kita sebagai guru. Untungnya lagi, pemerintah selalu menyediakan dana untuk peningkatan SDM guru. Jadi kita semakin pinter tanpa harus keluarkan dana sendiri. Tetapi sayangnya, hanya sebagian saja yang mau sekolah lagi dan lagi. Alasan yang klasik adalah sudah tua, malas berpikir. 

Kelima, sekaligus menjadi gurunya anak kita sendiri. Ilmu yang kita miliki bisa kita jadikan bekal untuk membantu anak-anak kita belajar. Sangat disayangkan jika ada orang tuanya guru Matematika, tetapi anaknya les matetika di tempat lain.

Guru honorer bukan berarti harus menjalani hidup secara horor. Banyak cara agar kita bisa lebih 'hidup' dalam menjalani kehidupan ini. Salah satunya dengan mencegah terjadinya moral-moral bocor, walau hanya dengan menjadi guru yang dihonor.

 

Answered Mar 30, 2017
Tyasti Aryandini
Pendidik AUD. Juara III Guru TK Berprestasi Tangsel 2016. Mahasiswi FIP UMJ

L32uhuJ4y5EMv-clRB8G1mgtzwa76NYz.jpg

"Sanggupkah aku, menjadi guru. Honor seminggu, hanya sampai rabu" (Padhayangan Project)

Lirik lagu Kuingin Jadi Guru yang pernah menjadi hits di era tahun 1996 tersebut agaknya tepat mewakili perasaan menjadi guru honorer. Bagaimana tidak, untuk menjadi guru tentu bukanlah hal yang mudah, menjadi guru dituntut memiliki sedikitnya empat kompetensi:

1.Kompetensi Pedagogik. Kompetensi Pedagogik adalah kemampuan pemahaman terhadap peserta didik, perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya.

Sub kompetensi dalam kompetensi Pedagogik adalah :

a.   Memahami peserta didik secara mendalam yang meliputi memahami peserta didik dengan memamfaatkan prinsip-prinsip perkembangan kognitif, prinsip-prinsip kepribadian, dan mengidentifikasi bekal ajar awal peserta didik.
b.   Merancang pembelajaran, termasuk memahami landasan pendidikan untuk kepentingan pembelajaran yang meliputi memahami landasan pendidikan, menerapkan teori belajar dan pembelajaran, menentukan strategi pembelajaran berdasarkan karakteristik peserta didik, kompetensi yang ingin dicapai, dan materi ajar, serta menyusun rancangan pembelajaran berdasarkan strategi yang dipilih.
c.   Melaksanakan pembelajaran yang meliputi menata latar (setting) pembelajaran dan melaksanakan pembelajaran yang kondusif.
d.   Merancang dan melaksanakan evaluasi pembelajaran yang meliputi merancang dan melaksanakan evaluasi (assessment) proses dan hasil belajar secara berkesinambungan dengan berbagai metode,menganalisis hasil evaluasi proses dan hasil belajar untuk menentukan tingkat ketuntasan belajar (mastery level), dan memanfaatkan hasil penilaian pembelajaran untuk perbaikan kualitas program pembelajaran secara umum.
e.   Mengembangkan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensinya meliputi memfasilitasi peserta didik untuk pengembangan berbagai potensi akademik, dan memfasilitasi peserta didik untuk mengembangkan berbagai potensi non akademik.

2. Kompetensi Kepribadian

Kompetensi Kepribadian adalah kemampuan personal yang mencerminkan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif dan berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik, dan berakhlak mulia.

Sub kompetensi dalam kompetensi kepribadian meliputi :

a.   Kepribadian yang mantap dan stabil meliputi bertindak sesuai dengan norma sosial, bangga menjadi guru, dan memiliki konsistensi dalam bertindak sesuai dengan norma.
b.   Kepribadian yang dewasa yaitu menampilkan kemandirian dalam bertindak sebagai pendidik dan memiliki etos kerja sebagai guru.
c.   Kepribadian yang arif adalah menampilkan tindakan yang didasarkan pada kemamfaatan peserta didik, sekolah dan masyarakat dan menunjukkan keterbukaan dalam berpikir dan bertindak.
d.   Kepribadian yang berwibawa meliputi memiliki perilaku yang berpengaruh positif terhadappeserta didik dan memiliki perilaku yangh disegani.
e.   Berakhlak mulia dan dapat menjadi teladan meliputibertindak sesuai dengan norma religius (imtaq, jujur, ikhlas, suka menolong) dan memiliki perilaku yang diteladani peserta didik.

3. Kompetensi Sosial

Kompetensi Sosial adalah kemampuan guru untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik, tenaga kependidikan, orang tua/wali peserta didik, dan masyarakat sekitar.

Sub kompetensi dalam kompetensi sosial meliputi :

a.   Bersikap inklusif, bertindak obyektif, serta tidak diskriminatif karena pertimbangan jenis kelamin, agara, ras, kondisi fisik, latar belakang keluarga, dan status sosial keluarga.
b.   Berkomunikasi secara efektif, empatik, dan santun dengan sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua dan masyarakat.
c.   Beradaptasi di tempat bertugas di seluruh wilayah NKRI yang memiliki keragaman sosial budaya.
d.   Berkomunikasi dengan lisan maupun tulisan.
e.   Mampu berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik memiliki indikator esensial: berkomunikasi secara efektif dengan peserta didik.
f.    Mampu berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan sesama pendidik dan tenaga kependidikan.
g.   Mampu berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan orang tua/wali peserta didik dan masyarakat sekitar.

4. Kompetensi Profesional

Kompetensi Profesional adalah penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam, yang mencakup penguasaan materi kurikulum mata pelajaran di sekolah dan substansi keilmuan yang menaungi materinya, serta penguasaan terhadap struktur dan metodologi keilmuannya.

Sub kompetensi dalam kompetensi Profesional meliputi :

a.   Menguasai materi, struktur, konsep, dan pola pikir keilmuan yang mendukung pelajaran yang diampu
b.   Mengusai standar kompentensi dan kompetensi dasar mata pelajaran/bidang pengembangan yang diampu
c.   Mengembangkan materi pembelajaran yang diampu secara kreatif.
d.   Mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan dengan melakukan tindakan reflektif
e.   Memanfaatkan TIK untuk berkomunikasi dan mengembangkan diri.

Keempat kompetensi tersebut di atas bersifat holistik dan integratif dalam kinerja guru. Oleh karena itu, secara utuh sosok kompetensi guru meliputi :

1.   pengenalan peserta didik secara mendalam;
2.   penguasaan bidang studi baik disiplin ilmu (disciplinary content) maupun bahan ajar dalam kurikulum sekolah
3.   penyelenggaraan pembelajaran yang mendidik yang meliputi perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi proses dan hasil belajar, serta tindak lanjut untuk perbaikan dan pengayaan; dan
4.   pengembangan kepribadian dan profesionalitas secara berkelanjutan. Guru yang memiliki kompetensi akan dapat melaksanakan tugasnya secara profesional.

Akan tetapi, dalam kenyataannya, guru tetap lah pahlawan tanpa tanda jasa, jika tanda jasanya dapat dikonversi menjadi nilai rupiah, maka berapa nilai rupiah yang harus diberikan kepada seorang guru yang memiliki empat kompetensi diatas?

Untuk menjadi guru profesional, diperlukan NUPTK, NUPTK adalah singkatan dari Nomor Unik Pendidik dan Tenaga...(more)

Answered Mar 30, 2017
Yati Haryati
Guru Honor Yayasan :-)

Tkd_M6zHapbPYMdQ471_6VnsnODhmSGJ.jpg

via konfrontasi.com (FR)

Rasanya nikmat sekali jadi guru honorer, awal mengajar semangat beli sepatu n seragam baru :-D

Pertama ngajar semangat 45.

Akan tetapi kaget setelah mengajar 1 bulan dapat honor jreng-jreng hanya Rp42.000,00 :-D

Dinikmati karena rejeki bukan hanya dari sekolah saja, alhamdulillah sekarang sudah hampir 12 tahun jadi guru honorer menikmati sekali ikhlasnya jadi guru apalagi mengajar anak-anak Gunung Ciremai :-)

Alhamdulillah honornya naik skrng jd Rp200.000,00 per-bulan :-D

Answered Apr 5, 2017
Sponsored

Question Overview


6 Followers
867 Views
Last Asked 2 years ago

Related Questions


Apa pekerjaan favorit generasi milenial?

Apa yang menyebabkan seseorang resign/pindah kerja ke tempat lain?

Mana yang lebih disukai anak muda zaman sekarang yang baru lulus, jadi PNS, kerja di salah satu BUMN, karyawan swasta, atau bikin startup/berwirausaha?

Bagaimana cara agar kita dapat memiliki capaian karier yang baik di perusahaan?

Mengapa durasi kerja harus delapan jam per hari?

Bagaimana sistem pembayaran driver Gojek? Apakah mereka menerima semua atau ada sistem komisi dengan perusahaan Gojek?

Apa rutinitas yang biasa anda lakukan ketika jenuh dengan pekerjaan?

Apa alasan terbaik untuk pindah tempat kerja?

Apakah menjadi orang kaya itu penting?

Apa yang seharusnya dicari perusahaan dalam merekrut tenaga kerja agar bertahan lama di perusahaan?

Siapa Guru SMA paling favorit Anda dan mengapa beliau begitu mengesankan Anda?

Siapa Guru SD Favorit Anda?

Apakah skill atau keahlian paling utama yang harus dimiliki seorang pemimpin guru?

Apakah skill atau keahlian paling utama yang harus dimiliki seorang guru taman kanak-kanak?

Apakah skill atau keahlian paling utama yang harus dimiliki seorang guru sekolah dasar?

Apakah skill atau keahlian paling utama yang harus dimiliki seorang guru agama?

Seberapa besar arti Guru di mata Anda? Peristiwa apa yang paling menyentuh perasaan dengan Guru Anda?

Apa cerita tak terlupakan dan mengesankan yang Anda alami dengan guru Anda?

Apa cerita tak terlupakan dan mengesankan yang Anda alami dengan kepala sekolah Anda?

Menurut pendapat Anda, apa kelebihan dan kelemahan kurikulum pendidikan kita saat ini?

Bagaimana sistem pendidikan di Jerman berlangsung selama Perang Dunia II?

Adakah kajian ilmiah tentang parfum?

Bagaimanakah cara yang tepat untuk menanggulangi kenakalan remaja?

Bagaimana cara yang tepat untuk menanggulangi kenakalan remaja, khususnya seks bebas?

Apa saja faktor yang menginspirasi bagi remaja untuk melakukan kenakalannya?

Apakah rehabilitasi sudah cukup untuk menghentikan pengguna narkoba yang sudah terjerumus?

Apa yang mempengaruhi kaum remaja untuk melakukan seks bebas?

Apakah bisa kita menghilangkan seks bebas di kalangan remaja?

Apa itu sistem pendidikan anak Montessori?

Pada usia berapakah anak akan mampu menyerap pendidikan seks usia dini dengan baik?