selasar-loader

3 answers

Sort by Date | Votes
Andika Gies
Psychology University of Indonesia | Rumah Kepemimpinan Regional 1 Jakarta

ZcjH8MMhkhji5MA2oWRvb0LEhQKVHGs1.jpg

Menurut saya, semua jurusan memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Prinsipnya adalah tergantung orang yang menekuni jurusan tersebut, suka atau tidak dengan jurusan yang ia pilih. Namun jika ditanya kelebihan Psikologi, saya akan mencoba menjawab berdasarkan subjektif pengalaman saya. Psikologi adalah ilmu yang dinamis sehingga ia akan mengalami pertumbuhan sesuai dengan perkembangan mausia, sehingga ilmu ini sangat cocok untuk orang yang suka tantangan dan hal-hal baru. Selain itu, dari segi lapangan pekerjaannya, menurut saya, psikologi adalah ilmu yang fleksibel yang bisa punya tempat di berbagai sektor pekerjaan. Seperti di perusahaan, instansi pemerintah, dll.

Kelebihan lain yang dimiliki psikologi adalah ilmu ini sangat terapan, sehinggan bisa kita gunakan untuk memahami diri kita sendiri dan keluarga, maka ilmu ini sangat bermanfaat bagi kita dan keluarga.

gambar via zenius.net

Answered Jul 18, 2017
Dian Fhaatma Thaib
Core Lead Team Psychological First Aid (PFA) F. Psikologi Universitas Indonesia

"Pasangan idaman itu anak Psikologi, ngadepin orang stres aja sabar, apalagi ngadepin kamu". Haha, yaa, ini adalah salah satu quotes nyeleneh yang paling sering ditemukan kalau kita mencari sesuatu tentang psikologi, di mesin pencarian ternama Google. Terlepas dari benar atau tidaknya ungkapan tersebut, kiranya memang ada hal yang dapat dikategorikan sebagai kelebihan dari menjadi seseorang yang berkuliah di jurusan psikologi, kelebihan yang tentu juga dimiliki oleh jurusan-jurusan lain dengan keunikannya masing-masing.

Dua tahun menjalani masa perkuliahan di jurusan Psikologi, agaknya memberikan saya banyak pemahaman baru, tentang psikologi dan kehidupan itu sendiri, ya, karena tujuan utama ilmu psikologi sesungguhnya memang untuk menjadi salah satu cara menciptakan kehidupan yang lebih baik, menurut saya. Hal utama yang saya pelajari di jurusan ini, dan jadi pelajaran yang mungkin belum akan berakhir bahkan saat setelah menjadi pakar di bidang psikologi sekalipun, pelajaran itu bernama "Do Not Judge".

kx2fLNLDh6geRBuuTaRB7acfJDLzOze6.jpg
Sejak awal memulai masa perkuliahan, terutama saat masa orientasi, berbagai hal terkait karakter apa saja yang dibutuhkan untuk menjadi seorang mahasiswa psikologi yang ideal mulai ditanamkan, sebut saja respect (kepedulian), trustworthiness (kemampuan untuk dapat dipercaya), open mindedness (pikiran yang terbuka), tidak ketinggalan kejujuran (baik kejujuran secara personal dengan mengetahui batasan diri, maupun kejujuran dalam akademik).
Semua karakter itu terus diasah sepanjang perkuliahan berlangsung, di dalam kelas, maupun di luar kelas (di lingkungan perkuliahan itu sendiri). Hal menarik yang saya rasakan ialah, semua karakter ini ditanamkan agar setiap mahasiswa mampu dan siap menjadi seseorang yang tidak dengan mudah memberikan seseorang/sesuatu penilaian negatif, atau lazim disebut judgment.

Pasalnya, ketidaktahuan manusia terhadap banyak hal haruslah membuatnya lebih berhati-hati dalam memberi penilaian. Iceberg Theory adalah salah satu teori yang paling ampuh untuk membuat mahasiswa psikologi, khususnya saya agar tidak terburu-buru dalam menilai seseorang. Dalam teori itu ditekankan bahwa "apa yang terlihat di permukaan hanyalah sebagian kecil, dari sesuatu yang sangat besar yang berada jauh di dalamnya, tersembunyi dan tidak terlihat oleh mata". Seperti gunung es, yang terihat di permukaan laut hanyalah sebagian kecil dari bongkahan es yang berada di dalam laut yang berkali-kali lipat besarnya. Sehingga, ketika misalkan seseorang melakukan tindakan secara universal dinilai buruk di masyarakat, saya dan sebagian besar teman-teman saya mahasiswa jurusan psikologi lainnya, yang saya amati, akan memilih menahan penilaian pertama itu, untuk lebih dulu mencari alasan lebih lanjut, mengapa dan apa motif seseorang melakukan hal tersebut.

Anggaplah seorang lelaki melakukan kekerasan terhadap istri dan anak-anaknya, secara kasat mata, siapa yang menyangkal bahwa apa yang di lakukan oleh laki-laki tersebut salah. Tapi, di psikologi saya diajari untuk tidak menutup mata dari semua alasan yang mungkin jadi penyebab, bisa saja laki-laki tersebut berada dalam mekanisme korban yang secara tidak sadar berubah menjadi pelaku, di mana pengalaman buruknya di masa kecil merasakan hal tersebut mendorong ia untuk turut melakukan itu pada orang lain saat ini, atau bisa saja ia melakukannya saat tidak dalam kesadaran penuh, boleh jadi itu disebabkan oleh gangguan mentalnya yang sering mengambil alih kepribadian aslinya, dan banyak alasan lainnya. Walaupun contoh-contoh tersebut terbilang ekstrim, namun sederhananya, dengan belajar psikologi saya mulai mengerti betapa pentingnya untuk tidak terburu-buru dalam mengambil keputusan, pun juga betapa pentingnya untuk menghindarkan diri dari logical fallacy (sesat pikir) dari membuat sebuah kesimpulan.

Meskipun sikap tidak mudah men-judge membuat lebih berhati-hati dan mengembangkan sikap toleransi, namun di sisi lain hal ini pula lah yang menyebabkan saya dan mungkin mahasiswa psikologi lainnya menjadi sulit sekali mengambil keputusan dengan cepat, menyatakan standing posision terhadap suatu hal, dan dalam banyak kesempatan menjadi pihak yang netral akibat terlalu banyaknya pertimbangan akan suatu tersebut.

Di lingkungan perkuliahan sendiri pun, saya jarang sekali mendapati teman-teman yang senang mencampuri kehidupan orang lain, saya dan teman-teman terbiasa untuk mengurusi kehidupan masing-masing ketimbang membicakan seseorang yang kita tidak benar-benar tau bagaimana dia yang sebenarnya, apa hal besar yang ia sembunyikan, dan kita tidak tau, jika berada di posisinya apakah kita bisa bersikap lebih baik atau tidak.

Meskipun menghindari diri dari judge dan kesimpulan yang terburu-buru merupakan hal yang tidak mudah dilakukan, namun akibat dari pribadi yang pasti dimiliki setiap orang, saya melihat teman-teman saya di psikologi berusaha keras melakukannya dengan baik, walaupun tidak mungkin ideal dan sempurna seratus persen.

Di samping pelajaran utama "Do not judge" tersebut, beberapa mata kuliah di psikologi memungkinkan kita untuk bisa menelaah diri sendiri, keluarga, dan apa-apa yang terjadi di lingkungan sosial yang saya rasa sangat bisa digunakan untuk kehidupan sehari-hari. Seperti mata kuliah Psikologi Perkembangan, di sana akan dipelajari perkembangan manusia secara fisik dan psikososial sejak ia lahir hingga tua dan bahkan meninggal, dari sana kita dapat mengetahui apa yang menjadi fokus perhatian utama pada anak kecil dan bisa menerapkannya pada keponakan dan anak kecil yang ada di sekitar, mengetahui apa saja yang dihadapi saat masa dewasa ataupun tua sehingga dapat mengantisipasinya sejak kini, maupun dapat menerapkan pengetahuan tersebut pada ayah ibu atau keluarga terdekat lainnya. Mata kuliah Psikologi Sosial juga salah satu yang paling saya suka, di sana saya mengenal beberapa istilah yang menerangkan beberapa gejala sosial yang terlihat tidak mungkin tapi benar-benar terjadi, salah satunya ialah "bystandar effect" (sebuah keadaan di mana...(more)

Answered Jul 22, 2017
Ahmad Salim
Aktivis Anti Pornografi. Ketua BEM Psikologi UI 2017. Rumah Kepemimpinan R1 JKT.

KM4_LP0Z9JggfGGqmW66cE26-_T5U7bd.jpg

Saya akan menjawab ini dengan perspektif yang sesuai dengan latar belakang saya selama ini, yaitu dalam konteks berorganisasi. Seperti yang selalu digaung-gaungkan oleh mahasiswa jurusan Psikologi, "Di mana ada manusia, di sana psikologi akan selalu ada."

Hal ini terjadi pula dalam kehidupan berorganisasi di Psikologi. Berbicara tentang organisasi, tentunya berbicara mengenai sumber daya manusia yang menggerakkannya. Rekruitmen, upgrading kompetensi, komitmen, sampai kepuasan kerja semuanya dipelajari di Psikologi. Bahkan, ada mata kuliah tersendiri yang membahas ini, yang bernama PIO (Psikologi Industri dan Organisasi).

Seperti yang telah disebutkan pula oleh seorang teman dalam jawaban atas pertanyaan ini, ilmu Psikologi adalah ilmu yang applicable, dapat langsung diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam konteks berorganisasi ini. Oleh karena itu, ilmu yang dipelajari di dalam kelas sering kali diaplikasikan langsung oleh mahasiswanya dalam mengelola organisasinya. Organisasi telah menjadi laboratorium para mahasiswa Psikologi untuk bereksperimen.

Tidak sampai di situ saja, kelebihan ini ternyata juga dilihat oleh teman-teman mahasiswa dari fakultas lain. Selama pengalaman saya beorganisasi di Psikologi, banyak organisasi lain yang akhirnya menjadikan organisasi di Psikologi sebagai benchmark. Mereka sering kali bertanya, meminta pendapat, dan saran kepada kami mengenai apa yang sebaiknya dilakukan untuk meningkatkan kualitas organisasi mereka. Bukan hanya tentang organisasi, bahkan sampai bagaimana cara merancang masa orientasi dan pembinaan mahasiswa baru sering kali mahasiswa psikologi yang dijadikan rujukan.

So, buat kamu yang ingin expert di bidang organisasi, Psikologi-lah jawabannya!

 

Ilustrasi via baptistnews.com

Answered Aug 2, 2017

Question Overview


5 Followers
1138 Views
Last Asked 2 years ago

Related Questions


Bagaimana sistem pendidikan di Jerman berlangsung selama Perang Dunia II?

Adakah kajian ilmiah tentang parfum?

Bagaimanakah cara yang tepat untuk menanggulangi kenakalan remaja?

Bagaimana cara yang tepat untuk menanggulangi kenakalan remaja, khususnya seks bebas?

Apa saja faktor yang menginspirasi bagi remaja untuk melakukan kenakalannya?

Apakah rehabilitasi sudah cukup untuk menghentikan pengguna narkoba yang sudah terjerumus?

Apa yang mempengaruhi kaum remaja untuk melakukan seks bebas?

Apakah bisa kita menghilangkan seks bebas di kalangan remaja?

Apa itu sistem pendidikan anak Montessori?

Pada usia berapakah anak akan mampu menyerap pendidikan seks usia dini dengan baik?

Bagaimana Anda mendapatkan IPK tertinggi sewaktu kuliah?

Apa manfaat aktif organisasi selama masa kuliah yang Anda rasakan?

Apa nasihat Anda untuk remaja kuliahan sebagai bekal menghadapi masa depannya?

Bagaimana cara masuk UI (Universitas Indonesia)?

Bagaimana cara kuliah tanpa merepotkan orang tua?

Keisengan apa yang paling kamu ingat sebagai mahasiswa?

Apa yang paling kamu sesali dari masa-masa kuliah?

Bila kamu diberikan kehidupan kedua sebagai mahasiswa, apa yang akan kamu lakukan?

Bagaimana cara mendapatkan keringanan biaya kuliah?

Bila kamu ditakdirkan bebas finansial sebelum lulus kuliah, masihkah kamu kuliah?

Menurut Anda, apa pentingnya ikut berorganisasi?

Apa tugas dari USAID (United States Agency for International Development)?

Bagaimana cara agar mahasiswa dapat lulus tepat waktu?

Apa itu Rumah Kepemimpinan? Apa saja program dan kegiatannya?

Kenapa Selasar akhir-akhir ini mengunggah tulisan para peserta Rumah Kepemimpinan?

Mengapa anda memilih Rumah Kepemimpinan sebagai tempat menimba ilmu, berproses, dan menginfakkan diri dalam lingkaran yang disebut keluarga?

Bagaimana Anda memaknai tujuan kehidupan?

Siapa orang yang selalu menyemangati hidup Anda?

Apa saja hukum-hukum fisika yang penting tapi tidak banyak diketahui orang lain?

Bagaimana cara yang masih dapat dilakukan manusia untuk memanfaatkan energi yang dikeluarkan oleh matahari?

Siapa Drs. Musholli, pendiri Nurul Fikri?

Bagaimana cara kamu mengatasi kesedihan?

Apakah mengkonsumsi makanan dengan gizi seimbang lebih baik dengan memakan makanan 4 sehat 5 sempurna?

Apa yang kurang dari dunia kesehatan di Indonesia?

Apa yang membuat Steve Jobs sukses membangun Apple?

Apa rahasia kehebatan pasangan bulutangkis Tontowi Ahmad - Liliyana Natsir?

Apakah Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) penting untuk memperoleh pekerjaan?

Apakah pendidikan anti korupsi sejak dini itu penting? Mengapa?

Apakah Anda tahu bahaya dari korupsi?

Apa yang membuat seseorang kurang disukai?

Apakah seseorang yang mempunyai kepribadian introvert bisa berubah menjadi seseorang yang berkepribadian ekstrovert?

Peristiwa besar apa yang dimulai dari kehidupan di kampus?