selasar-loader

Siapakah Ibu Anda? Dapatkah Anda mengisahkan perjalanan hidup Ibu yang Anda ketahui?

Last Updated Mar 30, 2017

eoAoLpjaJJT-XqbTpqN7KIKNQn0OvXyM.jpg

5 answers

Sort by Date | Votes
Luna Maya
Aktris dan model

tbw8O1IHbETlF1kgd_2kINbhDlelc7cm.jpg

 

Ibu ya panggilan dia. Dia adalah perempuan Austria. Lahir saat sedang terjadi Perang dunia ke 2. Tepat ketika bom Hiroshima dan Nagasaki dijatuhkan. She have seen the war. 

Kakek saya adalah tentara Austria yang memang saat itu dikuasai oleh Nazi. Nenek saya kalau saya tidak salah adalah orang Ceko (Austria dulu menjelajahi hampir sebagian Eropa). 

So, ibu anak dari kedua dari tiga bersaudara, tetapi kakak lelakinya meninggal di usia enam tahun karena sakit, hanya dia dengan adik perempuannya yang bernama Pia.  

Jujur saya bukan anak ibu, saya lebih anak bapak, jadi waktu bapak meninggal dan hanya ada aku dan ibu, rasanya sangat berat, terlebih lagi mengetahui betapa kerasnya dia. Hehe. Semua orangtua pasti ada yang bentrok dengan anaknya, tapi itu wajar. 

Kembali lagi ke siapa dan bagaimana ibu saya. Dia, saya jujur tidak banyak bertanya masa mudanya, tapi mendengar ceritanya mungkin memang saya semakin bangga punya ibu seperti dia. 

Di usia 21 tahun, dia sudah pergi dari Austria untuk menjelajahi dunia (Orang Eropa biasa seperti itu, tapi di tahun 60-an mungkin baru dimulai). 

Dia sempat menjadi guru TK dan menjadi pembalap mobil (jujur saya nggak tau mobil apa). 

Di usia 21 tahun, dia pergi dari rumah menjelajahi Eropa dulu, keliling dan mencari teman baru dan juga pengalaman. 

Ok kita mulai cerita adventure gila ibu saya. Btw namanya Waltraud Maria Theresia. Sejak tinggal di Bali menjadi Desa Maya. 

So, setelah menjelajah Eropa, ibu mulai bosan dan merasa lebih banyak lagi yang harus dia lihat.

Dia dan temannya berdua naik VW Combi menjelajahi Eropa dan Eropa Timur dan sampailah ibu di Afghanistan, ya dengan mobil.

Road trip itu harus berhenti karena setelah itu tidak diperbolehkan lagi naik mobil hingga ke perbatasan dan sebagainya. 

Setelah itu dia melanjutkan perjalanan dengan pesawat menuju Singapura dan dari Singapura ibu ingin ke Bali. 

Di mana ibu tahu Bali? Dia mendengar dari pedagang di Swiss (flea market). Di sana ada pedagang pakai kebaya Indonesia. Ibu saya terpesona dan lalu bertanya dan mengatakan bahwa baju yang dipakainya bagus. Sang pedagang dengan antusias memberikan jawaban, ini dari Bali, Indonesia. 

Dengan keindahan budaya dan busana pedagang tersebut, yang juga menceritakan begitu indahnya Indonesia dengan budaya dan alamnya, ibu saya begitu terpesona dengan cerita itu. Dia bertekad harus ke sana.

Sesampainya di Singapura, di sana beberapa hari lalu, dia pergi ke Jakarta, Indonesia, dengan Ferry, karena keterbatasan dana.

Sesampainya di Tanjung Priuk, ibu saya cerita dia harus naik boat kecil turun dari Ferry menuju pelabuhan. Waktu itu tidak ada pelabuhan, jadi Ferry menurunkan penumpang di tengah laut. 

Sesampainya di Jakarta, di mana lagi dia tinggal kalau bukan di Jalan Daksa, tempat gaul jaman dulu untuk semua bule-bule yang tinggal di Jakarta, Hehehe, back then maybe bukan seperti sekarang. Hehe I dont know. 

Yes dan dia pun melanjutkan perjalanan melalui darat menjelajahi Jawa. Setelah jawa lalu sampai di Bali. Berapa lama di Bali aku kurang tahu, tapi setelah itu dia kembali lagi ke negaranya, pulang kampung. Rasanya tak lama, setelah itu dia menjelajahi Amerika. 

Di Amerika, dia pernah tinggal di California selama beberapa tahun, lalu tinggal di Meksiko selama beberapa tahun. 

Dia memiliki kekasih yang bernama Louis, kalau saja mereka menikah, mungkin aku tidak ada sekarang. Hehehe

Setelah tiga tahun di Meksiko mereka harus putus karena ternyata Louis suka judi ayam. Hahahha... (Sorry ibu, saya cerita ini, but this is so funny). 

Ya pasti bisa ditebak kalau tinggal di Meksiko pasti pernah ke negara-negara Amerika Latin, tetapi hanya sebagian. 

Lanjut setelah Amerika Dan Meksiko, ada hal yang menarik dia untuk kembali ke Bali. Alam, budaya, dan magisnya Bali membuat ibu merasa harus ke Bali. 

Ya kembalilah ibu ke Bali. Dan di sana bertemu lah dia dengan bapak.

Sementara sekian dulu karena harus lanjut meeting. Tapi episode ke 2 segera saya ceritakan karena masih panjang dan masih banyak lagi yang harus saya tulis tentang ibu saya.

Answered Mar 30, 2017
Hera Wati
Saya.. Ya, saya. Tak perlu menjadi oranglain, tak perlu meniru siapapun.

Srz2D6IYCz6nDX_ZYlCzgx2GlEZCDCCX.jpg

via bp.blogspot.com (FR)

Bagi saya, ibu adalah segalanya. Beliau adalah seorang motivator yang hebat. Ibu saya campuran Jawa dan Sunda. Beliau lahir dari keluarga yang pas-pasan. Ayahnya hanyalah seorang seniman keroncong, tetapi sangat mementingkan pendidikan. Beliau lahir dan besar di daerah Pagarsih, Bandung. Namun, sempat tinggal di Semarang karena kuliah di UNDIP, meski akhirya melanjutkan ke UNPAS.

Beliau cantik dan pintar. Sempat bekerja sebagai sekretaris di Bank NISP, tetapi setelah menikah, ayah  meminta ibu berhenti kerja. Kemudian, setelah anak-anak besar, ayah membolehkan ibu bekerja kembali. Oh,ya, Ibu menikah dengan ayah, putra seorang Kyai yang cukup ketat menanamkan nilai-nilai agama.  Tentu saja awalnya ada benturan nilai-nilai kehidupan. Tetapi ibu sangat dapat menyesuaikan diri.

Ada sesuatu hal yang mengharukan dan  tidak akan pernah saya lupakan. Saat ayah meninggal, di saku kemeja ayah saya temukan ada beberapa surat cinta mereka. Saya simpan surat cinta mereka. Bahasanya sangat santun dan indah.

Ibu selalu mengatakan, hanya akan ada satu pria di dalam hidupnya. Terbukti, ibuku tidak menikah lagi sepeninggalan ayah.

Answered Mar 31, 2017
Pepih Nugraha
Mengikuti perkembangan gaya hidup setelah membaca buku Jean Baudrillard

tfRCXhtrtUCoTzE6Cz49Ct0QTQZ4q9nW.jpg

Ibu adalah matahari. Tatkala ia tiada, kurasakan kegelapan total, tidak tahu ke mana kedua kakiku harus melangkah. Tak ada setitik cahayapun di lorong sana membimbingku untuk melangkah.

Ibu adalah sungai, tempat di mana seluruh kenakalan, kemarahan, dan kegeramanku selaku anaknya mengalir begitu saja sampai segenap asa itu hilang di muara ingatan.

Ibu adalah lautan, di mana layar kehidupan siap terkembang untuk menuju pelabuhan harapan...

Sebagai penulis dan orang yang mengongkosi separuh hidupnya dengan menulis, satu-satunya hal yang tidak bisa saya lakukan adalah menulis puisi. Ironi. Maka, sejumput kalimat di atas yang saya perlakukan sebagai mukadimah itu bukanlah puisi indah, melainkan lebih terlihat sebagai segerumbul kalimat biasa yang sederhana. Semoga cukup bermakna.

Menikmati foto-foto lama tatkala ibu remaja, aku seperti melihat sosok Dimple Kapadia. Kalau kau tidak kenal nama ini, dia lah bintang film Bharat (India) di awal tahun 1980-an, generasi setelah pudarnya Hema Malini. Karena ibu barwajah Hindi, maka saya pernah cari tahu siapa nenek moyangnya. 

Ibu yang kini sudah almarhumah berorangtuakan pasangan Maknun Iskandar dan Nyimas Enung. Nenekku dari pihak ibu itu berwajah Priangan tulen dengan kecakapan alamiah yang menjadi napas hidupnya. Dia pandai mengurut orang yang ototnya kaku dan pergal linu, dia menjadi dukun beranak bagi masyarakat miskin Tambora, Jakarta Barat, tempat pasangan kakek-nenek "terdampar" dan akhirnya kembali ke kampung halaman di Ciawi-Tasikmalaya ketika ajal semakin mendekat. 

Nyimas Enung, nenekku itu, juga pandai menjahit dan menyulam. Pernah aku saksikan sendiri, ia menyulam baju hangat selama tiga bulan dan ketika karyanya tuntas, dibeli orang dengan harga murah. Terpaksa, karena kebutuhan hidup yang mendesak. Nenekku mengembuskan napas di kampung halaman, 28 Mei 1982, setelah tak tahan dengan penyakit paru-paru akut dan asma yang menderanya sejak lama. Seperti memiliki naluri gajah, nenekku kembali ke tempat di mana dia dilahirkan hanya untuk mati.

Kakekku. Ini yang akan kuceritakan kemudian. Dia bernama Maknun Iskandar. Ibu kakekku, atau buyut nenekku, bernama Maleka. Semasa kecil, saya memanggilnya "Uyut Maleka", ia tinggal di Kampung Banjarsari, Ciawi-Tasikmalaya. Perhatikan nama "Maleka" itu, mirip nama Hindi, bukan? Yang sangat mencengangkan, Uyut Maleka yang bersuamikan panggede semasa kolonial bernama Raksapradja (ia mati di tiang gantungan dihukum Belanda), benar-benar berwajah India Utara, bukan India Selatan yang didominasi "Keling". 

Tubuh Maleka sudah membungkuk tatkala aku mengenalnya saat duduk di sekolah dasar. Tetapi, aku bisa membayangkan betapa cantiknya uyutku itu tatkala muda, tatkala dengan cintanya Raksapradja melahirkan Maknun Iskandar, kakekku. Dari cinta Maknun Iskandar lahirlah ibuku sebagai anak pertama yang kelak mempunya empat adik.

Ibuku cantik pada masanya. Seperti Dimple Kapadia yang kuceritakan itu. Tentu saja banyak kumbang yang mengelilinginya. Tetapi pilihan jatuh pada seorang anak petani bernama Lili Sumarli. Dua-duanya dipertemukan setelah dibenum menjadi guru sekolah dasar di tanah kelahiran masing-masing. Aku lahir bertepatan ketika revolusi komunis di Indonesia sudah matang, membengkak dan siap pecah. 

Tetapi setahun sebelumnya saat aku lahir, resesi melanda. Ibu bercerita, gaji guru SD saat itu hanya cukup dibelanjakan sebuah odol. Selebihnya, pasangan ibu dan Lili Sumarli bertahan hidup dengan apa yang tersedia di alam. Kebetulan kakek dari pihak ayah, Sobari, seorang cukup berada dengan sawah dan kebun yang tatkala dibagikan kepada 12 anaknya saat meninggal, mereka masih mendapatkan tanah dan sawah yang cukup untuk melanjutkan kehidupan. Buyut kakek dari pihak Ayah atau ayah Sobari, Eyang Haji Enur, adalah "tuan tanah" di Ciawi. 

Usai revolusi komunis yang gagal di Tanah Air, resesi semakin menjadi-jadi. Pada usia dua tahun, aku dititipkan di kakek-nenekku, pasangan Nyimas Enung-Maknun Iskandar yang sebelum hijrah ke perkampungan kumuh Tambora (lahan bekas kuburan cina), menempati rumah petak berlantai tanah berdindingkan bilik bambu dilapisi kertas semen dan jendela ram kawat. Aku sempat tertambat di Sukabumi. Di kota inilah kakek bekerja di pabrik literan. Saat akan masuk sekolah Taman Kanak-kanak BKOW Ciawi, barulah aku kembali ke pangkuan ibu, seiring dengan perekonomian yang membaik.

Apa yang kuingat untuk pertama kali perihal ibu? Banyak! Salah satunya saja tatkala di usiaku yang keempat, usai aku di bawah asuhan kakek-nenek, ibu menyuapiku dengan ikan gurame dari kolam yang disewa dari tetangga, Uwak Ulis. Ayah yang memancing menggunakan umpan daun talas. 

Aku juga teringat ketika dengan telenta seni yang dimilikinya, sering aku diajak ibu manggung bersama grup degung guru-guru Ciawi, sampai adikku lahir, nembang dan pegang saron masih ibu lakukan dan sempat dilarang ayah ketika adikku menangis ingin diajaknya pergi. "Sudah, jangan ikut-ikutan rombongan degung itu lagi!", ibu menangis ketika ayahku berkata keras seperti itu. 

Boleh jadi darah seni mengalir dari ibu kepadaku, sementara keterampilan menulis dan berbicara didapat dari ayahku yang kalau menulis bikin orang menangis atau tertawa saking menyentuh apa yang ditulisnya. Ayah pandai bercerita, khususnya cerita tentang "Si Boncel", anak durhaka dari Kandangwesi (Garut), cerita semacam "Malin Kundang"-nya Pasundan. 

Selebihnya, pasangan ini rukun-rukun saja, sampai suatu waktu pertengkaran hebat terjadi di tahun 1975, saat aku kelas 4 SD, tatkala ayah menaruh cemburu kepada seorang seniman yang membuat relief di rumahku berinteraksi dengan ibu, membicarakan karya seni yang tuntas dilakukannya. Saat itu ibu berusia 33 tahun, usia yang sangat matang bagi seorang perempuan dengan rambut ikal berjuntai menyentuh punggung.

Meski seorang pecemburu, toh ayah bisa mempertahankan mahligai rumah tangga sampai maut memisahkan salah satu di antaranya. Mana rela menceraikan seorang istri cantik macam ibuku!

Ibu mengajariku tentang masa depan. Ini yang...(more)

Answered Apr 2, 2017
Miftah Sabri
Pendiri dan CEO Selasar

Hasil gambar untuk KASIH SAYANG IBU

Sumber gambar: http://www.nafisaindonesia.com/ (via SUM)

Ibu (bagian 1 dari 4 tulisan).

Berbeda dengan anak-anak lelaki kebanyakan di muka bumi ini, aku ditakdirkan lahir ke dunia dengan memiliki banyak ibu. Aku punya tiga ibu. Ibu pertamaku adalah "ummiku", yang melahirkanku. Perempuan yang mengandungku sembilan bulan dan mengunjungi tapal batas maut saat melahirkanku. Mewarisiku sifat-sifat genetis. Mewarisiku darah dan juga ternyata mewarisiku penyakit turunan. Mewarisiku kemiripan akal serta keidentikan sifat.

Ummiku adalah seorang intelektual cum activist. Namanya, Darmiusma. Dar! panggilannya di kalangan teman sebaya. Adik-adiknya memanggilnya Ni Dar. Ummi adalah anak pertama dari sembilan orang bersaudara. Ummi adalah ketua Kohati Sumatera Barat.

Ayahnya Ummi, Suardiå Sutan Bandaro Panjang, adalah seorang pedagang. Mak Anjang, demikian pengusaha-pengusaha lokal di Bukittinggi memanggilnya secara hormat sesuai dengan kapatutan memanggil gelar di zamannya. Namun, kode operasinya di sesama pebisnis dan penguasa lokal adalah SBP. Jadi, jauh sebelum Indonesia punya presiden berinisial SBY, Bukittinggi sudah punya pengusaha lokal yang namanya SBP.

SBP membangun pabrik roti pertama untuk kota itu. SBP juga berhasil membangun armada ekspedisi Usaha Angkutan "Ekspedisi Anda". "Anda" adalah panggilan kesayangannya kepada puteri pertamanya yang ketika mulai bisa berkata-kata, kata kedua setelah "apa" yang bisa dia ucapkan adalah "ada". Ya, Darmiusma memanggil dirinya "Ada". Dan "ada" ini menjadi inspirasi dalam membangun merek ekspedisi Anda.

Saat ummiku kecil, usaha SBP berkembang pesat. Ia dipercaya penguasa Klitwr lokal menjadi pemasok satu-satunya sembako pada pemerintah di kota Bukittinggi. SBP mempunyai 12 truk kargo yang melayani Sumatera Tengah dan Timur, satu jeep Willy's, dan satu pabrik roti. Pada usia yang masih kepala tiga, SBP adalah sebuah prestasi untuk ukuran anak seorang pengusaha bendi.

Masa kecil Dar berkecukupan. Dar dan adiknya, Emi yang hanya berjarak setahun, berbeda dengan anak-anak kebanyakan di Bukittinggi yang hanya bisa berlibur menikmati Ngarai Sianok, Merapi, dan Singgalang saja. Mereka bisa berlibur ke Jakarta dengan pesawat Garuda. Sebuah masa kecil yang indah, yang kemudian rusak oleh takdir yang tak terduga. Oleh keputusan Sang Pembuat Takdir. Oleh suatu prahara.

Emi dan Dar sangat dekat. Mereka mirip sekali, bak pinang dibelah dua. Bedanya, Dar sedikit bongsor dan Emi lebih langsing. Dar dan Emi sama-sama supel, hanya Dar sedikit lebih manja daripada Emi. Emi anak kedua yang lebih tomboy dan easy going. Meskipun berenergi lebih dan tidak bisa diam, Dar perasa dan sensitif. Mereka adalah dua "dara" kesayangan Suardi Sutan Bandaro Panjang. Ya, Emi dan Dar adalah dua puteri kesayangan Sutan Panjang. Sebaliknya, Sutan Bandaro Panjang bagi Emi dan Dar adalah cinta pertama mereka.

Setelah menamatkan sekolah PGA di Koto Baru, Dar lantas melanjutkan ke Diniah Puteri Padangpanjang. Selepas tamat dari Padangpanjang, Dar melanjutkan pendidikan ke jurusan Sasta Arab di IKIP Padang. Oleh karena di Padang cuma selesai sampai jejang D3, ummi akhirnya merantau ke Jawa. Menuju ibukota. Melangkah ke Jakarta. Melanjutkan jenjang sarjana strata satu di IKIP Jakarta jurusan Sastra Arab.

Dar adalah junior Prof. Arief Rahman Hakiem (Labschool) yang sekarang adalah guru besar di Universitas Negeri Jakarta. Saat Prof. Arief muda ditahan oleh pemerintah Orde Baru karena aktivismenya, Ummiku rutin mengantarkan makanan ke penjara mewakili adik-adik pergerakan mahasiswa.

Sebagaimana aku singgung sedikit di atas, Dar dan Emi mengalamai masa kecil yang indah. Namun, tiba-tiba hidup berkelok karena suatu prahara.

Sutan Bandaro Panjang a.k.a. SBP, kakekku, berkonflik dengan komandan kodim setempat. Pergantian komandan distrik Militer Bukittinggi tidak diantisipasi dengan baik oleh SBP. Suksesi lazim itu berbuah petaka panjang yang mengubah keseluruhan hidup keluarga mudanya.

Komandan kodim yang merupakan teman Sutan Bandaro Panjang, Letkol Sumarjo Sumpeno, pindah penugasan ke Pangdam Bukit Barisan di Medan. Ia diganti dengan salah seorang letkol lain yang lebih muda, namun sedikit agak jenggo. Ada pesaing bisnis SBP, namanya Zhu Kwan Zhi dikenal juga sebagai Eksas. Cino Padangpanjang blasteran Jawa. Meskipun Cino karena bapaknya memang Cino totok, ibunya orang Solo. Orang Jawa. Tumbuh di Padangpanjang. Keluarga Eksas sudah memeluk Islam dari generasi kedua mereka di kota ini. Keluarganya sudah empat generasi di Padangpanjang, sejak zaman gubernur jenderal Belanda masih berkuasa.

Eksas adalah akronim dari nama Jawanya, Eko Sasmito. Eksas, biasa disebut di antara teman-temannya. Eksas sebenarnya adalah teman baik SBP. Mereka akrab sejak remaja. Mereka pernah sama-sama berkongsi, berbisnis sembako. Mengambil bahan sembako bersama ke Jawa atau Medan, membagi teritorial Sumatera Barat menjadi dua bagian.

Waku itu, SBP dan Eksas membuat kesepakatan sembako. Wilayah Bukittinggi, Agam, Limapuluh Kota, dan Tanah Datar Pasaman adalah wilayahnya, sementara Eksas memegang Padangpanjang, Padang, Pariaman, Painan, Solok, dan Pesisir.

SBP dan Eksas bertemu di Padangpanjang. Saat itu, SBP muda dikirim ayahnya yang seorang juragan bendi bernama Haji Salin Sutan Mudo dari Lukok Kubang Putiah Agam sekolah ke Thawalib Padangpanjang. Namun, karena memang minatnya bukan di ilmu agama tapi berdagang, SBP suka bolos di hari Jumat selepas shalat Jumat di Masjid Jembatan Besi dan mencatut tiket bioskop di pasar. Jumat adalah hari balai di Padangpanjang. Jika Jumat tiba, penduduk di kota itu akan membengkak tiga kali lipat. Padangpanjang hari Jumat adalah pasar bagi orang Padangpanjang, Batipuah, dan Sepuluh Koto. Berkat mencatut karcis bioskop, SBP muda adalah siswa Thawalib paling banyak uang di asramanya.

Hanya ada satu-satunya bioskop sebagai sarana hiburan di Padangpanjang saat itu. Bioskop Karya namanya. SBP berkenalan dengan Eksas sebagai sesama anak muda tengil pencatut karcis bioskop.

Duo legenda ini adalah juara...(more)

Answered Apr 3, 2017
Mugniar
Blogger www.mugniar.com | Freelance writer

Hasil gambar untuk IBU

Sumber gambar: http://d2ka0dvx23yu8q.cloudfront.net/(via SUM)

Ibu saya bernama Mientje Usman, perempuan berdarah Gorontalo, kelahiran 27 Januari 1943. Beliau merantau ke Makasar untuk melanjutkan kuliah di Fakultas Teknik UNHAS pada tahun 1960-an tetapi tidak selesai kuliahnya karena ketiadaan biaya.

Beliau bertekad ketiga anaknya harus sarjana walaupun ibu dan ayah adalah orang-orang sederhana. Alhamdulillah, saya dan kedua adik saya menuntaskan pendidikan kami di Fakultas Teknik. Saya dan adik perempuan saya dari Fakultas Teknik UNHAS, sedangkan adik laki-laki saya yang bungsu, lulus di Teknik Informatika ITS. Bagi Ibu, pencapaian itu adalah kebanggaannya.

Answered Apr 3, 2017
Sponsored

Question Overview


5 Followers
1206 Views
Last Asked 1 year ago

Related Questions


Kram perut pada ibu yang sedang mengandung, gejala apa itu?

Bagaimana cara menyembuhkan flu pada anak?

Apa yang harus dilakukan ketika seorang balita mengalami pilek dan batuk lebih dari 3 hari?

Apa yang harus dilakukan ketika air ketuban pecah sebelum seorang ibu sampai ke rumah sakit?

Apa yang harus dilakukan ketika anak balita kita mengalami keterlambatan perkembangan motorik?

Nutrisi apa yang paling direkomendasikan untuk memaksimalkan pertumbuhan otak pada anak? Mengapa?

Nutrisi apa yang paling direkomendasikan untuk balita umur 0-1 tahun?

Nutrisi apa yang paling direkomendasikan untuk balita umur 1-2 tahun? Mengapa?

Nutrisi apa yang paling direkomendasikan untuk balita umur 2-5 tahun? Mengapa?

Bagaimana cara yang paling efektif untuk mengatasi kejang pada balita setelah panas tinggi?

Bila ibu Anda ada di depan Anda, apakah kata-kata yang ingin Anda ucapkan sekarang?

Seberapa besar arti sosok Ibu Kandung di mata Anda? Peristiwa apa yang paling menyentuh perasaan dengan Ibu Kandung Anda?

Mana yang harus lebih didahulukan; kepentingan istri atau kepentingan Ibu sendiri?

Beranikah Anda mengatakan "aku sayang ibu" kepada ibu Anda?

Apa yang membedakan ibu, mama, mami, bunda, dan umi?

Apa alasan kamu membenci Ibumu sendiri? Sudah tepatkah tindakanmu itu?

Ungkapkan perasaan atau rasa sesalmu setelah memarahi dan membentak Ibumu?

Apa yang unik, menarik, menyenangkan sekaligus membanggakan dari ibumu?

Apa menu masakan ibumu yang paling Anda sukai?

Apa nasihat terbaik yang pernah Anda dapatkan?

Bagaimana menjelaskan bahwa ada kemungkinan kehidupan lain selain di Bumi ini?

Apa motto hidup paling keren?

Apakah seseorang mempunyai karakter bawaan yang tidak bisa diubah?

Apa ketakutan terbesar dalam hidupmu? Mengapa?

Siapakah cinta pertama Anda?

Seberapa pentingkah olahraga bagi Anda ?

Apa yang Anda lakukan ketika mengalami kesulitan dalam menentukan pilihan?

Apa pengalaman paling bermakna dalam kehidupan Anda?

Siapakah orang yang paling berpengaruh dalam kehidupan Anda?

Buku biografi siapa yang paling mengesankan yang pernah Anda baca?

Siapa itu Jose Rizal?

Siapa Mar'ie Muhammad?

Apa keunggulan karakter Letjen (purn) Prabowo Subianto?

Siapa Arifki Chaniago?

Menurut Anda, apakah yang menarik dari seorang Malcolm-X ?

Siapakah Anda? Bisakah Anda berbagi inspirasi dengan menceritakan perjalanan hidup Anda?

Siapakah Anda? Dapatkah Anda menceritakan kisah hidup Anda yang bisa menginspirasi orang lain?

Siapakah Ayah Anda? Dapatkah Anda mengisahkan perjalanan hidup Ayah yang Anda ketahui?

Apa yang membuat Larry Page (pendiri Google) berbeda dengan kebanyakan orang?

Apa yang membuat Sergey Brin (pendiri Google) spesial dibandingkan dengan kebanyakan orang?

Apa yang membuat Steve Jobs (pendiri Apple) spesial dibandingkan dengan kebanyakan orang?

Apa yang membuat Steve Wozniak (pendiri Apple) spesial dibandingkan dengan kebanyakan orang?

Apa yang membuat Elon Musk (pendiri Tesla Motors dan SpaceX) spesial dibandingkan dengan kebanyakan orang?

Mengapa menteri ekonomi di Indonesia banyak yang berasal dari FE Universitas Indonesia?

Siapa lebih baik: Karen Agustiawan (Mantan CEO Pertamina) atau Sri Mulyani (Menteri Keuangan)?

Siapa Jakob Oetama dalam dunia jurnalistik dan media Indonesia?

Bagaimana peran orang-orang terdekat di balik kesuksesan seorang tokoh?

Siapakah orang yang paling berpengaruh dalam hidup Anda?

Apakah merek parfum yang paling cocok untuk wanita?

Apakah perbedaan antara parfum dan cologne?

Apa yang membuat harga parfum begitu mahal?

Apakah wanita mengenakan parfum untuk menarik perhatian pria atau ada alasan lainnya?

Apa tujuan laki-laki memakai parfum?

Bagaimana cara memakai parfum yang benar?

Bagaimana cara memakai cologne yang benar?

Apakah parfum yang aromanya paling maskulin?

Apakah parfum yang aromanya paling feminin?

Parfum pria apa yang aromanya bisa diterima oleh semua orang?