selasar-loader

Apa yang bisa Indonesia lakukan untuk meningkatkan kejayaan industri filmnya?

Last Updated Mar 29, 2017

mSw2b4_-MtBL0daoffsD9cjdJ29ydDrk.jpg

via saga.co.uk

5 answers

Sort by Date | Votes
Chairani Wulandari Hasibuan
Seorang mahasiswi Psikologi dari Universitas Diponegoro

2iLPGmB2TmehxhSAx5TTUjQUWR7kV68k.png

via racstoday.com

Pertama, hal yang penting banget dan jarang ada di dalam diri masyarakat Indonesia adalah apresiasi terhadap film itu sendiri. Sebagai contoh, banyak film-film Indonesia yang dibajak oleh oknum-oknum gak bertanggung jawab. Akan tetapi, ini juga jadi dilema. Memang, gak semua masyarakat Indonesia mampu untuk pergi ke bioskop demi menonton film-film anak bangsa. Di sisi lain, terdapat juga mindset "selagi masih ada yang gratis, ngapain milih yang berbayar?" Mindset ini sudah mengakar banget di masyarakat Indonesia pada umumnya.

Kedua, biarpun regulasi hukum sudah ada, tapi as usual, regulasi itu selalu tidak bisa ditegakkan dengan baik. Saran saya bukan untuk lebih menegakkan hukum yang ada, melainkan untuk mendidik masyarakat tentang konsekuensi pembajakan, bahwa "Ada lho, aturan yang bilang kalo lo ngebajak film, bisa dihukum begini, dipenjara selama sekian lama, atau didenda sekian rupiah". Upaya edukasi ini tidak bisa instan. Perlu ada upaya yang serius dan berkelanjutan. Bagaimanapun, yang kita hadapi di sini bukan cuma membuat orang jadi paham melainkan juga bagaimana masyarakat melakukan hal-hal yang sudah mereka pahami.

Ketiga, agar industri perfilman di Indonesia bisa jaya dan berkah, please, aturan umur dalam menonton film di bioskop ditaati. Saya cukup sedih melihat remaja yang menonton film dengan kategori umur 18+. Oke, itu seru banget filmnya, tapi ya kalau menonton itu, dia jadi dewasa sebelum waktunya, gimana? Impact-nya ke bangsa ini juga, kan?

Udah sih, gitu aja. Hehe.

Answered Mar 30, 2017
Muhammad Arief A.
Future bioengineer, Journalist, and Freelance Writer.


E6JhZ8HsOIaOoos97u0vAGkh8hb0hewe.jpg

Sebagai seorang awam dalam dunia perfilman saya cukup tidak setuju dengan mereka yang mengatakan kalau minat film orang Indonesia terhadap film buatan anak bangsanya sendiri cukup rendah. Sebab ketika ada pemutaran film pendek karya unit Liga Film Mahasiswa (LFM) di kampus saya sudah dapat dipastikan kalau acara tersebut ramai pengunjung. Bahkan jika pintu teaternya dibuka pukul 19.00, maka dapat dipastikan sudah ada orang yang mengantri mulai pukul 18.30. Meskipun sebagian penontonnya datang untuk mengapresiasi salah seorang temannya yang terlibat dalam pembuatan film tersebut, penonton yang sekadar datang untuk mencari hiburan juga sudah mampu memenuhi lebih dari setengah dari tempat yang disediakan.

Oleh karena itu salah satu cara yang bisa Indonesia lakukan untuk meningkatkan kejayaan industri perfilmannya ialah memperbanyak jumlah bioskop dan mempermudah penayangan film-film lokal. Lho mengapa tiba-tiba jadi begitu?

Begini. Di kota tempat saya menuntut ilmu, Jatinangor, jumlah bioskop hanya satu. Padahal potensi penontonnya cukup besar mengingat di kota tersebut terdapat lebih dari 5 universitas yang sehari-hari aktif menyelenggarakan perkuliahan. Nah usaha teman-teman saya di unit film mahasiswa tadi tentu tak hanya sekedar ajang unjuk karya yang telah mereka buat. Lebih dari itu, apa yang mereka lakukan sesungguhnya ialah menghadirkan bioskop ke depan para penontonnya.

Saya jadi teringat ketika salah satu unit kegiatan di masjid kampus saya merilis sebuah film dan akan diputar di twenty-one. Di antara broadcast message berisi ajakan yang mampir di smartphone saya, terselip satu dua kalimat jujur yang menyatakan kalau jumlah penontonnnya tidak mencapai angka sekian di minggu pertama pemutaran film, maka film tersebut akan diturunkan dari playlist bioskop tersebut. Sampai di sini saya cuman bisa geleng-geleng. Saya memang kurang optimistis kalau film tersebut bisa ditonton sekian penonton di minggu pertama pemutaran. Pesimisme saya bukan tak berdasar. Meskipun poster film tersebut dipajang di etalase terdepan, tentu pamornya cenderung kalah dengan film box office yang tengah mendunia. Apalagi jika bioskop tempat memajangnya ada di kota besar. Preferensi pengunjung yang datang tentu sudah bisa ditebak bukan?

Lain ceritanya kalau film itu ditayangkan di bioskop-bioskop daerah. Kalau dengan kondisi ini saya bisa benar-benar yakin kalau target jumlah penonton tersebut pasti terpenuhi. Sayangnya jumlah bioskop di daerah masih terbilang minim. Kalau pun ada, pengelolaannya cenderung kurang diperhatikan sehingga tak banyak yang ingin mampir. Lagipula bukannya masih ada sineas tanah air yang perlu merogok koceknya sendiri hanya demi menayangkan film besutannya kepada masyarakat? Hehe.

Hal yang terpenting mereka sudah berusaha keras dalam memajukan perfilman Indonesia. Tinggal pihak-pihak lain seperti penyedia bioskop, pemegang regulasi perfilman, industri alat-alat perfilman, dan juga kita sebagai para penonton yang mesti sedikit berkontribusi dalam menikmati suguhan para sineas tersebut. Maju terus industri film Indonesia!

Answered Mar 30, 2017

Gambar terkait

Sumber gambar via http://tabloidkabarfilm.com/ (SUM)

Untuk meningkatkan kejayaan industri film, kita perlu meningkatkan kemampuan penulis skenario film yang bermutu, pelatihan untuk sutradara dan awak film lainnya secara profesional. Perlu juga membangun suasana agar penggemar film itu menyukai film-film Indonesia. Acara semacam "Apresiasi Film Dalam Negeri" perlu ditingkatkan.Tema film yang bervariasi juga ikut memberikan daya tarik bagi penonton untuk menyaksikan film Indonesia. Temanya jangan itu-itu juga, atau latah meniru produksi yang dinyatakan laris (sekadar mengikuti selera pasar)

Answered Apr 8, 2017
Venusgazer E P
Medan - North Sumatra

Y0m14D8PNeCDo_vaObLXggc6qZXmbEFB.jpg

Film Indonesia bisa berjaya jika pemerintah tidak setengah hati dalam memajukan industri perfilman nasional. Saya melihat pemerintah dan kita sendiri sudah merasa puas dengan film-film nasional yang box office. Padahal, jika dibandingkan dengan film Korea atau Thailand, terlihat bahwa kita masih berada di bawah mereka.

Kebanyakan film Indonesia laris hanya karena pemain dan temanya saja. Jarang ada film Indonesia yang benar-benar dibuat dengan standar sinematografi yang berkualitas. Coba hitung, berapa banyak orang-orang film yang diberi beasiswa oleh pemerintah untuk belajar soal akting, editing, animasi, special fx, penyutradaraan, dan sebagainya ke luar negeri?

Maukah pemerintah mendanai 100% film yang diangkat dari karya sastra Indonesia? Banyak karya sastra Indonesia lama yang layak untuk diangkat ke layar lebar. Ini tentu akan menjadi trigger bagi Industri film nasional.

Mengapa pemerintah harus turun tangan? Karena industri film kita belum seperti Hollywood atau Bollywood. Harus ada rencana pencapaian jangka panjang. Jika tidak, industri perfilman nasional akan "begini-begini" terus.

Answered Apr 27, 2017
Isumi
Antusias tentang serba-serbi gaya hidup

HEVN95xpaR8izenWcD32jVekcyvPvtS9.jpg

"Kita tahu, pemerintahan Jokowi-JK menegaskan bahwa perfilman adalah industri yang menjadi prioritas karena perfilman yang menjadi andalan dalam menopang ekonomi dan mengembangkan kebudayaan nasional," papar Muhadjir Effendy dalam konferensi pers Hari Film Nasional di Jakarta (Liputan 6).

Oleh karena itu, saya setuju dengan rencana Kemdikbud yang akan memasukkan film sebagai bagian dari pendidikan karakter. Penghargaan terhadap karya seni memang perlu agar memperbesar animo masyarakat untuk mencintai film karya anak bangsa.

Namun, tidak hanya langkah itu saja yang bisa dilakukan agar perfilman Indonesia menjadi gemilang. "Yang mendasar adalah dibutuhkan permodalan, expertise, dan pengalaman untuk meningkatkan kapasitas praktisi perfilman di Indonesia," ujar Ketua Bekraf (Triawan Munaf) dilansir Tirto.id.

Berdasarkan informasi dari Beritagar, Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) pun menyatakan bahwa investor dari Korea Selatan menyiapkan dana USD200 juta untuk membangun 80-100 titik layar baru di Indonesia. Dengan demikian, potensi jumlah penonton akan semakin besar seiring jumlah bioskop yang semakin menyebar ke berbagai daerah.

Di era digital saat ini, kehadiran teknologi internet pun bisa membantu meningkatkan kejayaan film Indonesia. Sineas Indonesia bisa mempromosikan karyanya dengan trailer yang menarik di kanal daring seperti YouTube dan mempublikasikan filmnya melalui layanan streaming berlangganan seperti iflix, hooq, genflix. Upaya mengikuti festival di luar negeri juga sebagai cara untuk mempublikasikan film nasional kepada mata dunia sehingga bisa menarik perhatian investor asing.

Ada catatan menarik dari sutradara Garin Nugroho dalam sebuah artikel di Film Indonesia. Pemerintah hingga sektor swasta yang mengelola ruang tumbuh warga negara, senantiasa ikut bertanggung jawab atas kualitas tumbuhnya masyarakat sipil yang semakin kritis dan punya rasa krisis, yakni semakin produktif, berpengetahuan, berketerampilan, berselera, serta semakin beretika berbasis profesionalisme. Dasar pemikiran ini menjadi penting, mengingat produktivitas suatu bangsa dalam berbagai aspek kehidupan menjadi muara terbesar mengelola seluruh unsur keutamaan karakter bangsa, yakni keunggulan kualitas hidup, cara kerja, hingga cara menanggapi dan bereaksi terhadap perubahan global. Saatnya kerja konstruktif bersama dilakukan, namun juga orang film harus berani terus menuntut dan berkata ”tidak” pada diskriminasi produktivitas produk lokal. 

Jadi, saatnya mengubah mindset dengan tidak “menganakemaskan” Hollywood dan “menganaktirikan” film nasional agar warga tidak lagi sekadar diperlakukan sebagai warga konsumen, namun warga negara.

#SayembaraSELASAR (Saya pilih MacBookPro)

Gambar via indonesiakreatif.info 

Answered Apr 27, 2017

Question Overview


8 Followers
957 Views
Last Asked 2 years ago

Related Questions


Bagaimana implementasi growth hacking atau akuisisi user baru yang paling efektif untuk sebuah produk media digital?

Mengapa Indonesia merupakan negara yang miskin?

Bagaimana pendapat Anda terkait pernikahan beda agama?

Perubahan seperti apa yang Anda inginkan di Indonesia?

Mengapa teleskop tidak bisa melihat lebih jauh dari 13,8 miliar tahun cahaya?

Apa sebab munculnya ekstremisme di dunia ini?

Mengapa langit berwarna biru?

Bagaimana nasib perempuan-perempuan Jerman setelah Nazi kalah dalam Perang Dunia II?

Bagaimana cara Nazi mengenali orang Yahudi pada Perang Dunia II?

Apakah di masa yang akan datang, ada film yang menyaingi ranking The Shawshank Redemption dan The Godfather di IMDB?

Mengapa sebagian besar film yang masuk ke bioskop Indonesia berasal dari Amerika dan bukan dari India?

Apa nasihat terbaik yang pernah Anda dapat dari menonton film?

Apa judul film Indonesia terbaik sepanjang masa?

Mana yang lebih bagus; film yang berdasarkan kisah nyata atau yang 100% fiksi?

Apakah The Walking Dead serial TV yang bagus?

Film apakah yang dianggap paling berpengaruh dalam memperkenalkan budaya populer?

Pada film apakah kita bisa melihat pengaruh nilai-nilai post-modernisme?

Bila saya ingin melihat pengaruh nilai-nilai modernisme, film apa yang Anda rekomendasikan?

Menurut Anda, negara manakah yang menguasai industri populer saat ini?

Adakah keterlibatan Indonesia pada Perang Dunia II?

Bagaimana sebenarnya hubungan Jokowi dengan Ahok?

Pernahkah Anda bertemu Presiden Joko Widodo?

Hal-hal apa sajakah yang harus dipenuhi agar Indonesia menjadi pemimpin budaya populer dunia?

Foto apa saja yang bisa mengubah cara pandang kita tentang Indonesia?

Apa yang Anda banggakan dari Indonesia saat bertemu masyarakat internasional?

Masakan/makanan Indonesia apa yang menurut Anda paling mungkin go international?

Mengapa bangsa Indonesia dapat sebegitu lamanya dijajah oleh Belanda?

Makanan/masakan Indonesia apa yang paling memiliki nilai sejarah tinggi?

Apa yang membuat beberapa suku di Indonesia masih tetap bertahan dengan gaya hidup tradisionalnya, misalnya Suku Badui?

Berapa pendapatan selebriti Indonesia per bulan?

Berapa pendapatan penyanyi group band Indonesia setiap bulan?

Apakah Michael Jackson benar-benar memiliki dampak positif bagi industri musik?

Apa humor paling cerdas yang pernah Anda dengar atau baca?

Siapa humoris paling cerdas di Indonesia menurut Anda?

Apa cerita paling lucu yang pernah Anda dengar?

Mengapa lagu-lagu zaman sekarang memiliki umur popularitas yang singkat?

Siapakah YouTuber Indonesia yang Anda anggap paling sukses?

Apakah merek parfum yang paling cocok untuk wanita?

Apakah perbedaan antara parfum dan cologne?

Apa yang membuat harga parfum begitu mahal?

Apakah wanita mengenakan parfum untuk menarik perhatian pria atau ada alasan lainnya?

Apa tujuan laki-laki memakai parfum?

Bagaimana cara memakai parfum yang benar?

Bagaimana cara memakai cologne yang benar?

Apakah parfum yang aromanya paling maskulin?

Apakah parfum yang aromanya paling feminin?

Parfum pria apa yang aromanya bisa diterima oleh semua orang?