selasar-loader

Pengalaman apa yang membuat Anda mengubah total cara berpikir hingga menjadi seperti sekarang ini?

Last Updated Mar 24, 2017

2 answers

Sort by Date | Votes
Hari Nugroho
Medical Doctor with Addiction Medicine training

73mqZPFn8kKydBvalTzHe7UCX6U4nZ3u.jpg

Tentu ada banyak kejadian yang membuat saya berpikir ulang mengenai mindset yang saya punya. Kejadian-kejadian itu adalah sebagai berikut.

1. Ketika saya mengalami gejala yang mengarah kepada depresi karena patah hati. Untungnya, hal tersebut tak sampai mengganggu saya secara signifikan serta kembali pulih dan punya insight yang baru.

2. Ketika saya mulai serius belajar agama. Secara jujur, critical thinking saya mulai terbangun justru saat memperdalam agama, bukan saat pendidikan formal. Pada saat itu, saya mulai belajar bahwa untuk melakukan sesuatu itu harus berdasar dan tidak asal, sebagaimana ditulis oleh Imam Bukhari dalam shahih-nya, yaitu memberi judul bab Ilmu Sebelum Berkata dan Beramal. Konsep ini memberi saya pengaruh yang besar untuk lebih banyak membaca dan belajar. Pada saat-saat ini pulalah, saya belajar untuk melihat berbagai pendapat dan menilai pendapat yang akan saya ikuti serta cara bersikap terhadap pendapat yang berbeda, atau dalam bahasa keren para santri adalah tidak jumud.

3. Ketika mulai bekerja dalam bidang adiksi, yang membuat saya melihat berbagai karakter dan perilaku orang-orang. Saat inilah yang juga turut membentuk saya untuk menilai dan bersikap kepada orang lain dengan tepat.

4. Ketika belajar sesi-sesi psikoterapi, termasuk saat belajar hipnoterapi klinis, saya mendapatkan insight yang mendorong untuk bersikap positif, tidak menjadikan diri pada posisi akibat saja, namun mengubah persepsi tersebut menjadi persepsi sebab untuk mengevaluasi mengapa hal ini terjadi dan bagaimana solusinya. Dengan inilah terjadi perubahan yang signifikan pada diri saya ketika menghadapi suatu permasalahan.

Kiranya 4 hal tersebut yang membuat saya mengalami perubahan mindset yang besar, meskipun banyak hal-hal yang juga turut memberi andil dalam pemikiran, sikap, dan perilaku saat ini.

Tidak pernah ada kata terlambat untuk melakukan perubahan secara positif, karena memang pada dasarnya perubahan pasti terjadi, tinggal diri kita sendiri yang menyikapinya, positif atau negatif.

Answered Mar 25, 2017
Siti Nurhikmah
a journalism student

weGeRnCj8ON8rwaiIYLXx3chO1p9o-Re.jpg

via cosmogirl.co.id (FR)

Beberapa waktu lalu, saya memutuskan untuk keluar dari grup sahabat-sahabat saya karena saya sudah merasa tidak nyaman asing berada di antara mereka. Saya merasa, mereka bukan lagi seseorang yang saya kenal dulu. Mereka lebih asyik main dengan teman-teman barunya. Saya sering merasa tersisihkan. Saya sempat marah dan bertanya pada diri sendiri. Kenapa mereka seperti itu? atau Apa saya tidak berteman dengan orang lain seperti mereka? Saya terlalu takut untuk keluar dan bersosialisasi dengan yang lainnya hanya karena saat itu saya nyaman dengan mereka. 

Sampai akhirnya saya memutuskan untuk keluar karena ketidaknyamanan dengan perbedaan yang kami miliki. Saya mencoba tidak bergantung pada mereka dan mencari teman-teman baru lainnya.Saya  survive untuk sendiri di dalam lingkungan itu. Awalnya saya merasa sangat kesepian karena hanya mereka lah teman saya sahari-hari. Ketakutan untuk tidak punya teman pun membuat saya bangkit untuk memberanikan diri berteman dengan orang lain. Bahkan, orang-orang yang mungkin akan sulit untuk menerima saya menjadi temannya, Apalagi, saya bukan tipikal orang yang mudah beradaptasi dengan lingkungan baru. 

Namun, meski saya keluar dari grup tersebut dan mempunyai banyak teman di luar sana, saya tidak ingin memutuskan tali silaturahmi sebagai seorang teman dengan mereka hanya karena kami sudah berbeda dalam berbagai hal. Tetapi, saya tidak diterima kembali oleh mereka. Saya ditertawakan dan dianggap ingin kembali masuk ke dalam lingkungan sahabat-sahabat mereka karena tidak mempunyai teman. 

Setelah menerima perlakuan tersebut, saya justru tersenyum. Bukan karena saya sudah gila, tapi karena saya sudah ikhlas jika kehilangan mereka. Allah telah menggantikan mereka dengan teman yang jauh lebih banyak. Saya bersyukur karena saya justru tidak merasa kesepian lagi setelah berteman dengan mereka. 

Ketakutan saya membuat saya lebih berani dan bisa membuktikan kalau diri saya bisa berteman dengan siapapun. Teman-teman baru itu memberi saya berbagai pandangan yang membuat saya menjadi pribadi yang lebih positif dan terbaik versi saya hingga saat ini. Meski sempat marah dan kecewa, saya bersyukur karena kejadian ini saya bisa menjadi lebih dewasa dan positif daripada saya yang sebelumnya. Pandangan saya tentang berbagai hal juga berubah total dari diri saya yang dulu. 

Saya tidak ingin bergantung pada siapapun lagi, seperti saya bergantung kepada mereka dulu. Saya juga tidak bergantung pada teman-teman baru saya.

 

Answered Apr 3, 2017