selasar-loader

Jika kamu meninggal, kamu pilih menutup akun medsos atau membiarkannya?

Last Updated Mar 22, 2017

3 answers

Sort by Date | Votes
Pepih Nugraha
Mengikuti perkembangan gaya hidup setelah membaca buku Jean Baudrillard

Zewub5ja5nBS4FlNix3VJOhD4q0D5tpS.png

Ini pertanyaan pengandaian yang kuterima dan itu sah-sah saja untuk menggali pikiran, ungkapan, dan perasaan orang yang ditanya. Tetapi, sebelum kujawab pertanyaan ini lebih jauh, baiknya kau sepakati terlebih dahulu bahwa hidup dan mati adalah keniscayaan. Aku hidup atau mati, kau pun demikian, tidak atas keinginanku atau kemauanmu. Ada Allah, Tuhan Yang Kuasa dalam keyakinanku, yang mengatur itu semua. Bagiku, urusan aku dilahirkan kemudian hidup, adalah kehendak-Nya. Mati pun demikian. Setiap makhluk hidup akan berakhir dengan kematian, bukan?

Dalam keyakinan yang kuanut, terkait apa yang disebut Fardu Kifayah, mati adalah urusan orang hidup. Islam, agama yang kupegang, telah sedemikian mulia mengatur orang hidup bahkan saat orang itu mati. Tidak terbantahkan. Coba bayangkan jika tidak ada Fardu Kifayah yang mengatur orang mati? Boleh jadi, banyak bangkai manusia berserakan di jalanan yang menjadi hidangan binatang buas berpesta-pora.

Terkait kematian, apakah aku akan menutup media sosial seperti facebook atau selasar ini sebagaimana kautanyakan? Bagiku, kalau sudah mati, ya mati sajalah, meninggalkan semua angan, rasa dan bahkan cinta. Bagiku, segenap cinta menguap dan hilang saat kematian datang. Bagaimana mungkin tatkala aku binasa meminta akunku diteruskan oleh anak-istri? Akan kubiarkan apa adanya saja. Itu adalah prasasti digital di mana kelak semua orang boleh membaca prasasti yang tertulis di nisan digitalku itu. 

Memang, facebook sepengetahuanku memiliki fitur yang menyilakan orang lain (keluarga terdekat dalam hal ini) mengelola dan meneruskan akun. Tetapi itu akan sia-sia, hanya akan menambah luka orang-orang yang kutinggalkan. Tidak akan ada lagi pikiranku di sana, ideku, guyonanku, kritikanku yang kadang bikin orang tersakiti (kalau baper), tetapi tidak sedikit yang cekikikan (meski harus dalam hati), jika kumati nanti. Alhasil, biarkan sajalah media sosial yang kumiliki seperti apa adanya!

Kau bisa melihat pekuburan di mana ribuan orang ditanam di sana, dari generasi ke generasi lainnya. Ada kuburan yang dirawat dengan baik, bersih, dan asri. Itulah pertanda orang-orang terkasih masih merawatnya, sekadar mengenang jasa-jasa si mati semasa dia hidup. Itu karena cinta. Tetapi, adakalanya kau mungkin melihat kuburan yang batu nisannya sudah kusam, penuh rumput dan ilalang. Tertutupi dedaunan kering. Kesepian. Terlihat seperti merana. 

Seperti gambaran itulah "kuburan medsos" jika kelak aku mati. Ia mungkin sekadar prasasti di mana orang boleh bolak-balik melihat isinya, syukur kalau keluarga dan orang-orang terdekatku masih mengingatku. Ada banyak hal yang kuwariskan melalui medsos, khususnya pikiran dan ide-ide dalam bidang yang kukuasai dan kusukai. 

Di facebook, ada beberapa fanpage yang kubuat seperti "Pepih Nugraha Creative Writer" (yang dulu bernama "Nulis bareng Pepih"), ada Grup "Media Sosial Bersih dan Nyaman" (kubuat 8 tahun lalu bersamaan dengan lahirnya Kompasiana), juga tentu saja ada akun facebook pribadiku. Belum lagi di blog pribadiku seperti PepNews, Beranda T4 Berbagi, selasar, dan lain-lain. Itu semua akan kutinggalkan tatkala ajal menjemputku pada waktunya. Tidak mengapa semua itu menjadi kusam dan berdebu, setidak-tidaknya orang-orang masih sudi membaca prasasti yang tertulis di nisannya.

Uniknya, lima tahun lalu atau tahun 2012, aku iseng-iseng membuat fanpage di Facebook bernama "Rest In Peace". Mengapa kubuat fanpage "menyeramkan" semacam itu? Tidak lain karena terdorong dari kematian secara alamiah para facebookers yang merupakan teman-temanku dan aku ingin "menguburkan" mereka di "Kuburan" Rest In Peace itu, setidak-tidaknya keluarga terdekatnya (si hidup) bisa memberitahu dan kematian orang-orang terdekatnya di fanpage di sana, sekaligus menerakan Akun Mendiang. 

Pada saat itu pula bahkan aku pernah mengutarakan ide kepada mas Wicak Hidayat yang baru bergabung ke KompasTekno untuk membuat aplikasi (apps) tentang orang-orang mati di media sosial, khususnya facebook. Ide yang sampai sekarang belum terwujud!

Kau mungkin ingin tahu berapa banyak akun fanpage "Rest In Peace" (gambar di atas) yang kubuat lima tahun lalu itu di-"like" orang? Hanya 2 (dua) likes, itu pun salah satunya aku sebagai pembuat laman, satu orang lagi mungkin orang yang sedang mabuk saat mencentang "like" di "Kuburan Facebook"-ku itu.

Kau pahamlah, mana ada orang yang menyukai kematian, bukan?

 

Answered Mar 22, 2017

SeCEW9yiQ1iJgL90sE7jcPBxdcEcY9yg.png

Menutupnya karena nggak mau medsosku jadi ladang dosa nantinya.

Answered Mar 22, 2017
Ida Dwi Anggraeni
Perempuan dari Gunung Sumbing

rE-scd0t3Bi0n9Oi6RB-VtObk0J_suul.jpeg

Saya termasuk orang yang ketinggalan info bahwa beberapa hari lalu ada yang menggemparkan di facebook, seorang pria menayangkan live adegan bunuh dirinya. Kabar tersebut baru saya ketahui lewat status facebook seorang penyair. Selain penyair tersebut, ada pula kawan fb saya yang lain yang memposting tentang bunuh diri.

Mati harusnya tetap menjadi misteri. Peristiwa yang terjadi sesuai kehendak Tuhan, dan tidak diketahui oleh manusia kapan tepatnya, kecuali bagi orang yang memilih sendiri cara mengakhiri hidupnya. Ia bisa menentukan sendiri kapan, dimana, dan dengan cara apa ia ingin meninggal.

Lantas, jika kematian datang--sesuai takdir Tuhan, apa yang bisa kita lakukan terhadap karya kita? Gawai kita? Media sosial kita? Tak ada. Mati ya mati saja.

Orang yang meninggal mana sempat memikirkan media sosialnya. Jika sudah sekarat, mana ada waktu buat menulis wasiat atau berpamitan dari media sosial. Jangankan media sosial yang berupa dunia maya, bahkan kehidupan sosial di dunia nyata saja tak sempat dipamiti.

Di facebook saya punya beberapa akun. Facebook pribadi, fanpage Rumah Kata Publishing House, dan fanpage eSKey Handcraft. Sebuah akun twitter @ida_dwiang. Serta beberapa blog yang tidak lagi terurus.

Apa yang akan saya lakukan pada akun-akun tersebut jika saya meninggal? Tak ada. Ya sudah biarkan saja apa adanya. Paling nanti dinding fb saya isinya hanya tag dari orang-orang. Bahkan mungkin nomor hp saya juga akan tetap aktif. Selama terisi pulsa dan ada yang menggunakannya, nomor hp saya akan tetap aktif. Minimal masih tercantum di grup-grup whatsapp. Hingga nomor tersebut keluar secara otomatis karena terlalu lama tidak aktif.

Takkan ada harta yang dibawa mati, pun tak ada karya yang bakal dibawa mati. Semuanya akan tertinggal di dunia. Dan karena kita tak bisa memprediksi kapan malaikat datang menjemput, cara terbaik untuk pergi dengan tenang adalah dengan meninggalkan kebaikan. Entah di dunia maya lebih-lebih di dunia nyata.

Pertanyaannya, sudahkah saya berperilaku baik hingga saat ini?

Answered Mar 26, 2017