selasar-loader

Benarkah peran media arus utama atau media mainstream semakin terdesak oleh media sosial yang kontennya diisi para netizen?

Last Updated Nov 20, 2016

Media massa arus utama yang bersifat searah (one to many) masih dianggap media yang memaksakan informasi kepada pembacanya tanpa mau tahu apakah pembancanya perlu atau tidak berita yang disuntikkan jarum hipodermik dari ruang redaksi itu. Sementara di media sosial yang tidak mengenal "deadline" informasi demikian deras mengalir, pengguna tinggal memilih saja sesuai keperluannya. Cara memperoleh informasi yang mudah ini dianggap menjadi ancaman serius media arus utama.

4 answers

Sort by Date | Votes
Hilman Fajrian
Founder Arkademi.com

Hasil gambar untuk media sosial

Ya, terutama media arus utama yang tidak mampu beradaptasi pada evolusi bagaimana informasi kini diciptakan, didistribusikan, dan digunakan. Termasuk media yang tak menyesuaikan diri dengan perubahan sifat informasi di era internet. Media arus utama yang hanya berperan sebagai pengabar pasti akan mati karena kekalahan mereka dalam kecepatan dan siklus distribusi informasi yang begitu cepat di media sosial. Media arus utama dengan keterbatasan sumber daya dan ketentuan waktu siar tak akan bisa melawan sumber daya global di media sosial yang tak memiliki batasan waktu siar.

Media arus utama kalah dalam banyak hal, seperti kecepatan, volume, interaksi, distribusi, sumber daya hingga model bisnis. Media arus utama tak cukup lagi menjadi sebatas media, mereka harus mengubah diri menjadi platform dan menjajal model bisnis baru.

Answered Dec 6, 2016

Dari segi pengaruh, bisa jadi benar. Tapi dari apakah kita harus meninggalkan media arus utama, saya rasa tidak.

Tugas media arus utama seharusnya menjernihkan kekeruhan yang diakibatkan oleh banjir informasi di media sosial. Hal ini karena media arus utama terikat dengan etika jurnalisme yang menuntut mereka untuk obyektif dan disiplin melakukan verifikasi. 

Sayangnya saat ini banyak media arus utama yang tekait dengan berbagai kepentingan seperti ekonomi dan politik sehingga laporan-laporannya kerap bias dan tidak obyektif. Inilah yang menyebabkan banyak masyarakat yang saat ini lebih percaya pada media sosial ketimbang media tradisional. 

Masalahnya, kabar-kabar yang beredar di media sosial tidak memiliki penyaring atau etika. Kabar menyebar dengan cepat melalui unit-unit data. Jangankan verifikasi, sumber awalnya pun tsering tidak jelas. 

Tugas verifikasi ini yang menjadi tanggungjawab utama media arus utama dan menyajikan laporannya secara obyektif. 

Answered Jan 15, 2017
Wija Wijayanto
Peneliti Media, Universitas Leiden.

pQi3tkZ1JdfMZ0PaPY4VuLjl-RBOj1Cz.jpg

Pertama-tama perlu dibedakan antara media sosial dan media online. Media sosial merujuk pada media yang kontennya diproduksi oleh netizen sendiri. FB, wa group, twitter, blog, youtube, instagram adalah contohnya. Termasuk Selasar. Sedangkan media online adalah media yang memproduksi berita sebagai produk jurnalistik. Mereka tak ubahnya seperti koran atau majalah, namun dalam versi online. Kompas.com, detik.com, kumparan, trito ID, tempo.co adalah contohnya.

Perbedaan yang pertama dan kedua terletak pada kaidah jurnalistik. Jika pada yang pertama tak ada tuntutan sesuai dengan kaidah jurnalistik, maka yang terakhir ada. Saya misalnya boleh saja mem-posting aktivitas makan malam di fb saya. Padal ia tidak memiliki nilai berita (news value). Namun media online tidak diharapkan memposting berita tentang pemrednya sedang makan malam. News value hanyalah salah satu elemen dalam kaidah jurnalistik. Masih banyak elemen lainnya seperti: berpihak kepada warga, menerapkan disiplin verifikasi, dan sebagainya.

Lalu ada media cetak, yaitu semua media yang terbit dalam bentuk print/cetak seperti koran jakarta post, koran Kompas, Majalah tempo, Republika dsb.

Lalu siapakah media arus utama? Menurut saya media arus utama adalah semua media baik cetak maupun online yang telah memiliki pangsa pasar yang mapan dan biasanya telah ada cukup lama: Kompas.com, Jakarta post.co, Tempo.co dan banyak yang lain. Mereka adalah media arus utama. Maka tidak semua media online adalah media arus utama.

Menurut saya, media baru seperti kumparan dan tirto ID bukanlah media arus utama. Meskipun konten nya bersifat satu arah. Film yang di-publish oleh Watchdoc seperti Jakarta Unfair bukanlah media arus utama. Ia juga satu arah. Seiring waktu mereka bisa jadi akan menjadi media arus utama. Tapi saat ini belum.

Akhirnya, apakah media satu arah akan terdesak media warga?

Menurut saya belum tentu. Produk-produk watchdoc sedang sangat berpengaruh saat ini. Banyak yang percaya pada kredibilitas produk mereka. Media-media baru seperti TirtoID dan Kumparan sedang juga mengalami peningkatan reputasi dan pengaruh. Media mainstream yang lebih "tradsional" seperti media cetak juga televisi pun tak kalah berpengaruhnya.

Berdasarkan riset kecil yang pernah saya lakukan terhadap 53 responden yang berisi para power holders di eksekutif maupun legislatif, mereka semua masih mengkonsumsi media online mainstream. Dan pada saat yang sama, mereka semua juga masih mengkonsumsi media cetak seperti koran dan majalah.  Hanya saja tingkat intensitas tiap harinya berbeda.

Jika media online mengambil 60% waktu mereka dalam mengkonsumsi media, maka media cetak mengambil 20% dari waktu mereka. Yang menarik, mereka lebih mempercayai media tradisional seperti media cetak dalam hal kredibilitas dan akurasi. Alasannya: cetak biasanya lebih mendalam, akurat, dan bisa dipercaya. Tentu saja, mereka juga beraktivitas di media sosial, seperti WAG sebagai sumber informasi.

Apa yang bisa kita ambil dari fenomena di atas? Menurut saya ini berarti bahwa hari ini terjadi diversifikasi media, yakni satu media dan yang lain saling melengkapi. Mereka satu sama lain masih sama-sama penting untuk bersama-sama menciptakan pengaruh kepada masyarakat.

Dalam hal ini studi Merlyna Lim menarik untuk kita lihat. Dalam, Lim, M. (2013) Many Clicks but Little Sticks: Social Media Activism in Indonesia, profesor media di Kanada ini menemukan bahwa protes di media sosial baru akan punya dampak jika didukung oleh media arus utama. Dia menggunakan kasus Prita dan Cicak Buaya sebagai studi kasus untuk men-support argumen keberhasilan. Dan melihat kasus protes terhadap lumpur Lapindo sebagai contoh gerakan gagal karena tidak didukung media arus utama. Meskipun protes sosial atas bencana Lapindo ini masiv, namun karena beberapa media arus utama dimiliki oleh pemegang saham utama Lapindo, gerakan ini pun gagal.

Dengan demikian, semua media itu tidak saling menghilangkan, tetapi saling membutuhkan satu sama lain. Memang ada sharing pengaruh di sini, tetapi masing-masing memiliki peran yang tak tergantikan.

Answered Jan 30, 2017
KangArul
Penulis dan Dosen yang senang menulis blog

n19s_n_uWaq14OUVrg-LKe1LCS5a7kI0.jpg

Setiap media memiliki karakteristik dan setiap perangkat media memiliki prinsip tersendiri. Media arus utama tetap akan hadir sebagai saluran penjaga kredibilitas sebuah berita, sedangkan media baru termasuk media sosial akan menjadi media alternatif untuk menjaga kredibilitas informasi.

Answered Mar 9, 2017

Question Overview


5 Followers
2024 Views
Last Asked 3 years ago

Related Questions


Benarkah peran media mainstream semakin terdesak oleh media sosial yang kontennya diisi para netizen?

Mengapa media disebut "Pilar Keempat" dalam demokrasi?

Apa pendapatmu tentang isu-isu yang berkembang di media mainstream belakangan ini?

Apa pendapatmu tentang media cetak sekarang?

Siapakah yang mempopulerkan "Om Telolet Om"? Mengapa bisa populer di kalangan netizen?

Apakah skill atau keahlian paling utama yang harus dimiliki seorang pemimpin redaksi?

Apa yang membuat Harian Kompas sebagai media cetak lebih unggul dan bernilai dibanding media cetak lain?

Apa yang membuat Harian Republika sebagai media cetak lebih unggul dan bernilai dibanding media cetak lain?

Apa yang membuat Harian Media Indonesia sebagai media cetak lebih unggul dan bernilai dibanding media cetak lain?

Apa yang membuat Anda kecanduan media sosial seperti Facebook, Twitter, atau Instagram?

Bagaimana cara mengatasi kecanduan media sosial?

Apa yang membuat orang betah berlama-lama di suatu situs/web?

Mengapa rakyat Tiongkok bisa hidup tanpa media sosial buatan AS seperti Facebook dan Google?

Apa yang menyebabkan turunnya pamor Kaskus?

Siapakah orang Indonesia yang pertama sekali memiliki akun di Facebook?

Ada berapa grup WhatsApp yang Anda ikuti? Sesungguhnya di grup WA apa sajakah Anda aktif? Mengapa?

Apakah Kompasiana itu?

Bagaimana menjaga objektivitas seorang Jurnalis?

Apa perbedaan antara jurnalisme televisi dan jurnalisme cetak?

Kenapa pemberitaan setiap media nasional memiliki perspektif berbeda?

Siapa Itu Sukarni Ilyas yang dikenal dengan nama "Karni Ilyas"?

Siapa itu Pepih Nugraha?

Apa yang dimaksud dengan 5W 1H dalam menulis berita?

Apa yang disebut "Nilai Berita" atau news value?

Siapa Jakob Oetama dalam dunia jurnalistik dan media Indonesia?

Mengapa banyak orang mudah menghujat di media sosial?

Jika kamu meninggal, kamu pilih menutup akun medsos atau membiarkannya?

Apa yang menarik dari Afi Nihaya Faradisa?

Apa pemikiran para netizen mengenai "Hari Patah Hati Nasional"?

Perlukah Pemerintah membentuk lembaga pengelola netizen?

Apakah merek parfum yang paling cocok untuk wanita?

Apakah perbedaan antara parfum dan cologne?

Apa yang membuat harga parfum begitu mahal?

Apakah wanita mengenakan parfum untuk menarik perhatian pria atau ada alasan lainnya?

Apa tujuan laki-laki memakai parfum?

Bagaimana cara memakai parfum yang benar?

Bagaimana cara memakai cologne yang benar?

Apakah parfum yang aromanya paling maskulin?

Apakah parfum yang aromanya paling feminin?

Parfum pria apa yang aromanya bisa diterima oleh semua orang?