selasar-loader

Apa yang menyebabkan Nokia kalah dalam persaingan global?

Last Updated Nov 16, 2016

48 answers

Sort by Date | Votes
Pepih Nugraha
Kuliah bisnis di Prasetya Mulya program MMDP 2011-2012

EwDqeGSZbvKXmmWDfG5dh_ECMljwc5nu.png

Tahun 2010 saat berlangsungnya Nokia World di London, Inggris, saya bertemu dengan salah satu petinggi Nokia, asli orang Finlandia, dalam sebuah wawancara empat mata. Waktu itu saya baru memiliki iPad seri pertama besutan Apple dan itu modal saya untuk bertanya, plus setahun sebelumnya di Harian Kompas saya menulis mengenai lahirnya mesin open source besutan Google bernama Android. Saya menulis untuk Harian Kompas satu halaman penuh tentang Android ini dan itulah tulisan pertama di Harian Kompas mengenai Android.

Hal yang pertama dan urgen untuk saya tanyakan kepada petinggi Nokia itu (nama ada pada saya) itu adalah, "Apakah Nokia akan mempertahankan mesin Symbian-nya yang eklusif itu atau ada niat untuk icip-icip Android yang sudah dipakai Samsung dan HTC?"

Agak terhenyak juga dia berpikir sebelum menjawab. Tetapi dengan penuh kepastian dia menjelaskan, Nokia tetap akan mempertahankan Symbian sebagai mesin andalannya. Alasannya, karena ekslusif, maka ponsel Nokia dengan mesin Symbian akan terjaga keamanannya dengan pilihan applikasi yang ditentukan sendiri oleh Nokia lewat Ovi-nya itu.

Saya ingat betul saat petinggi Nokia itu menjawab, "Saya tahu Android. Tetapi itu gratisan, bukan? Yang namanya gratisan (free) tidak ada yang berwibawa dan dipercaya. Silakan saja mereka (produsen lain) menggunakan mesin gratisan (Android) itu, kami (Nokia) tetap menggunakan Symbian."

Sebagai perusahaan start-up, Nokia bernapsi mengakusisi Symbian, padahal ekosistem-nya saat itu belum teruji benar karena hanya eklusif digunakan oleh Nokia. Sedangkan Android diuji secara "berjamaah" oleh seluruh developer dan pembuat aplikasi karena sifatnya yang open source. Alhasil, meski pada mulanya terdapat sejumlah sampah aplikasi yang mengotori Android, toh lama-lama ada pembersihan secara alamiah dan lambat laun Android menemukan kekuatannya.

Beberapa hal yang saya petik dari percakapan/wawancara saya dengan petinggi Nokia itu adalah, bahwa;

1), Nokia terlalu percaya diri, bahkan percaya diri yang berlebihan, seakan-akan mesin yang terbaik itu adalah Symbian,
2) Nokia tidak out looking, bagai katak dalam tempurung, tidak mau tahu perkembangan kompetitor dan tidak pandai menangkap perubahan zaman,
3) sebagai perusahaan ponsel yang masih leading saat itu, Nokia merasa tidak perlu berinovasi macam-macam, cukup berpuas diri dengan pencapaiannya saat itu, yaitu ponsel dengan mesin Symbian.
4) Kompetitor lain beradaptasi dengan mesin yang sama sehingga konseumen dihadapkan pada berbagai pilihan yang dikeluarkan sejumlah produsen dengan mesin yang sama, yaitu Android.
5) Nokia juga abai terhadap kemungkinan Apple mengularkan ponsel serinya sendiri karena Apple rajanya PC atau tablet. Nokia lupa, bahwa ponsel adalah bentuk mini dari tablet atau PC.

Demikian jawaban saya untuk sementara, semoga tidak memuaskan!

Answered Nov 22, 2016
Ma Isa Lombu
Pendiri dan Chief Business Development Officer Selasar

WXIxLBVK0v9t09Dw_xr5WojROU01WJuv.jpg

Setidaknya, ada tiga pelajaran penting dari kegagalan Nokia dari industri ponsel dunia. Pelajaran pertama adalah bahwa setiap perusahaan tidak boleh berhenti untuk selalu melakukan inovasi sebagai konsekuensi hidup di dunia yang penuh arus informasi dan persaingan teknologi yang ketat. Arus informasi yang sangat deras memungkinkan para produsen untuk lebih cepat mengetahui selera pasar dan perubahan lingkungan bisnis. Perusahaan yang memilki informasi valid atas market dapat meresponnya dengan mengembangkan produk baru yang sesuai dengan keinginan pasar sesegera mungkin. Bahkan, sebagian di antaranya dengan teknologi “Big Data” mampu untuk melakukan forecasting (peramalan) atas trend dunia selanjutnya. Ini yang paling “bahaya”.

Untuk itulah, kecepatan merespons keinginan pasar dengan cara terus berinovasi menjadi kunci keberhasilan sebuah perusahaan (dan produknya) di era ini. Perusahaan yang concern akan perkembangan sebuah ide baru dalam pengelolaan bisnis dan pengembangan produk, serta mendukung untuk penciptaan budaya perusahaan yang memberikan “rasa aman” bagi para pegawainya untuk “berbuat salah” sebagai bagian dari pembelajaran, adalah tipikal perusahaan yang akan bertahan di era disruptive sekarang ini.

Pelajaran kedua yang dapat kita ambil dari Nokia adalah bahwa perusahaan yang terus terkoneksi dengan para innovator, akan terus bertahan di “era kematian bagi yang lamban” sekarang ini. Dalam kasus ini, seandainya Nokia berkolaborasi dengan Google yang secara relatif memiliki kemampuan disruptive yang lebih baik dibandingkan Microsoft, mungkin Nokia masih tetap merajai pasar ponsel dunia hingga hari ini. Di era yang penuh kompetisi dan serba cepat sekarang ini, memiliki partner bisnis yang mempunyai kemampuan menciptakan produk yang inovatif yang memungkinkan terjadinya disruptive effect, jauh lebih berharga dibandingkan ber-partner hanya dengan perusahaan yang memiliki kesesuaian dengan model bisnis yang dimiliki.

Pelajaran ketiga (terakhir) yang dapat kita petik adalah jangan takut untuk melakukan strategi ATM (Amati, Tiru dan Modifikasi). Saat itu, Nokia masih terlalu "jumawa" dengan kisah sukses masa lalunya dengan tetap “bertahan” dengan format ponsel yang dimilikinya. Symbian versus Android dan iOS, ataupun keyboard ketik milik Nokia versus layar sentuh milik Apple adalah titik persaingan yang menciptakan kekalahan mutlak bagi Nokia. Meski akhirnya Nokia mengeluarkan pruduk Nokia Lumia dengan format layar sentuh, tetapi dunia sudah terlanjur berubah. Di banyak kalangan, Android dan iPhone jauh lebih menarik untuk dimiliki. Nokia terlambat merespon. Market share terus tergerus dan akhirnya membawa divisi ponsel Nokia menuju titik nadirnya.

***

Eric Schmidt, Executive Chairman di Alphabet Inc. (dulu Google), melalui Project Syndicate menuturkan bahwa tidak ada perusahaan yang terlalu besar untuk jatuh. Dahulu, semua orang mengira Yahoo, Microsoft, Blackberry, dan tentu Nokia adalah perusahaan yang tidak memiliki lawan berarti di dunia ini. Mereka adalah perusahaan raksasa yang diprediksi akan terus menguasai pasar dalam jangka panjang. Namun, perkembangan teknologi menjawabnya dengan sangat berbeda. Hari ini, perusahaan-perusahaan yang saya sebutkan di atas kolaps dan terganggu oleh sejumlah perusahaan teknologi yang sangat cepat dalam melakukan inovasi, termasuk Google di antaranya. 

Dalam terminologi ekonomi, peristiwa ini dikenal dengan “disruptive innovation”. Meski sekarang ini kita lebih sering mengenalnya dengan istilah “disruptive innovation”, Clayton M. Christensen seorang profesor dari Harvard yang mulai mempopulerkannya pada tahun 1995, pembahasan tentang teknologi sebenarnya sudah dimulai sejak teori “creative destruction” dikembangkan oleh Joseph Schumpeter di tahun 1942. Dalam teorinya, ia memprediksi bahwa akan terjadi serangkaian proses mutasi industri (yang digerakkan oleh perkembangan teknologi) yang secara terus menerus akan merevolusi struktur ekonomi, di mana yang lama akan tergantikan oleh yang baru.

Hal tersebut sudah terbukti saat ini. Sekarang, dunia sudah memiliki Tesla Motors, sebuah perusahaan teknologi yang berbasis di Palo Alto, California. Sebuah perusahaan yang bergerak dalam bidang otomotif dan penyimpanan energi. Lalu apa istimewanya? Dalam menjalankan roda bisnisnya, Tesla men-design, membuat, juga menjual berbagai produk yang berhubungan dengan energi listrik. Beberapa produk produksi perusahaan yang dipimpin oleh Elon Musk ini adalah mobil listrik, kereta listrik dan baterai yang sangat tahan lama.

Bisnis model yang dimiliki Tesla jelas akan mengacaukan setidaknya dua industri yang sudah sangat mapan di dunia ini, industri otomotif yang masih menggunakan dengan “bensin” sebagai bahan bakarnya, dan juga industri energi tidak terbarukan seperti minyak bumi, batu bara, dll. Ketika Tesla sukses di market, kehadirannya dengan teknologi baterai, super charger, dan kendaraan listrik akan berpotensi menggantikan perusahaan minyak raksasa seperti Chevron, BP bahkan Saudi Aramco; dan juga perusahaan otomotif besar seperti Mercedez, BMW, Toyota, dll. Begitu pula seiring dengan perkembangan teknologi sensorik, pekerjaan di sektor transportasi dan logistik akan menjadi terotomatisasi. Di masa depan, mungkin dengan “Google’s self driving cars”, para supir angkutan umum dan pengemudi jasa pengiriman barang akan kehilangan pekerjaannya. Sudah jelas, kehadiran teknologi akan “mengacaukan” semua tatanan ekonomi (dan juga sosial) yang sudah mapan sebelumnya.

Fenomena disruptive innovation ini tidak hanya terjadi di Amerika. Di Indonesia, kehadiran Uber dan Grab jelas telah mengancam dominasi Blue Bird di pasar taxi nasional. Begitu pula Netflix yang membuat bioskop kehilangan pangsa pasar dan tentunya Bukalapak yang cepat atau lambat akan mereposisi PD. Pasar Jaya sebagai salah satu tempat jualan jutaan UKM di Indonesia. Goliath yang kuat akan tumbang oleh Daud yang memiliki...(more)

Answered Dec 13, 2016

Yang menyebabkan nokia kalah adalah nokia kurang bisa berinovasi di era perkembangan digital, sehingga kehadiran brand nokia mulai kurang diminati pengguna ponsel.

Answered Jan 18, 2017
Deri Fadilah
Media Marketer

4JCMO5oTg3LPUhqwz_QCG3MtjvJeI8x0.jpg

Ini adalah yang saya resume dari Ghani Kunto di Youth Marketing. Saat itu (2008), ada kesan gengsi di masyarakat jika memegang produk Blackberry yang paling didambakan dalam pertumbuhan pasar Indonesia yang mempunyai 180 juta pemilik ponsel ketimbang Nokia.

Blackberry sebenarnya dirancang untuk kalangan eksekutif dan profesional. Dalam kenyataannya, terjadi "demam" Blackberry di Indonesia, mulai dari pembantu rumah tangga, ibu-ibu, sampai anak umur 10 tahun pun punya.

Research in Motion (RIM) memperoleh semua cinta untuk Blackberry tidak dengan memenangkan pertandingan iklan massal, tetapi dengan cara "tidak sengaja". Dia menjadi pendorong utama dalam pemasaran modern, yaitu rekomendasi.

Kegagalan terpenting yang terjadi bukanlah penolakan terhadap produk Nokia yang baru, melainkan sudah hilangnya "konteks" Nokia dari penggemar yang lama.

 

Ilustrasi via rimblogs.wordpress.com

Answered Jan 20, 2017
Muhammad Iman Adi Perkasa
penulis fesyen dan pemberi advokasi atas perspektif lain dari dunia fesyen

qrlSDK-XpcuzgCnadnJR5ynWns7qxsdk.png

Untuk menjawab pertanyaan ini, saya jadi teringat pelajaran IPA dulu. Bahwa untuk bertahan hidup, kita perlu beradaptasi. Menurut saya, Nokia tidak bisa beradaptasi dengan baik dalam persaingan global. Mereka tidak kalah, hanya saja mereka terlalu berada di zona nyaman. Ingin membuat operating system sendiri, hingga akhirnya pangsa pasar dikuasai iOs dan Android.

 

sumber gambar: contentful.com

Answered May 4, 2017

uMDupeIqQajEaDpFKXcFoc4MBfi4nNWt.jpg

Apple dan Samsung adalah dua raksasa penakluk kejayaan Nokia (yang sebenarnya raksasa juga). Kedua perusahaan tersebut bukan hanya besar, tetapi mereka juga memiliki langkah yang cepat. Keduanya sama-sama memiliki strategi dan senjata mematikan untuk menggebuk Nokia. Meskipun Apple dan Samsung sama-sama memiliki perangkat penaklukkan yang hebat, tetapi mereka menggunakannya tidak seketika.

Mereka tampak bukan gaya petarung yang reaksioner. Bagaimana tidak, Nokia meluncurkan OS Symbian tahun 2002, tetapi beberapa tahun setelah itu kedua pesaingnya itu melepaskan serangan mematikan. Apple melepaskan iOS tahun 2007 dan Android melakukan invasi tahun 2008 (yang kemudian dipakai Samsung).  Selama 5--6 tahun, Nokia seolah terlena dengan keberadaannya yang masih dipuja oleh penggunanya.

Nokia seperti kurang waspada dan telik sandinya seolah tidak berfungsi maksimal menengarai pesaing lain. Nokia gagal connecting people, karena orang-orang sekarang lebih suka think different dan mereka lebih suka pada sesuatu yang inspire the world, create the future.

Ilustrasi via ibtimes.sg

Answered Jul 5, 2017
Kesha Darma
Traveler, Worker, Lover (of Hawa), Pro-Rider in sometimes, and a writer

Hasil gambar untuk nokia kalah

Saya yakin kalau semua orang akan setuju bahwa Nokia kalah karena tidak melakukan inovasi terhadap OS-nya pada saat itu, dan terlalu sombong dikarenakan tidak melihat laju kompetisi yang sedang berjalan.

Namun, menurut saya, Nokia pada saat itu bukannya tidak berinovasi. Buat saya, Nokia selalu melakukan inovasi yang paling banyak dibandingkan dengan kompetitor lainnya, seperti BlackBerry, Apple, atau bahkan Samsung dan Siemens. Namun hal yang salah dilakukan Nokia pada saat itu adalah mereka tetap melakukan inovasi terhadap bentuk, yang dalam kasus ini bisa kita sebut hardware dibandingkan dengan software yang mereka pakai, yaitu Symbian. Pada medio 2000an, masyarakat yang baru melek teknologi tentunya tidak terlalu memikirkan bagaimana kita harus memakai Google dan semacamnya. Pada saat itu, kita lebih memikirkan, apakah handphone kita memiliki faktor yang penting pada saat itu, yaitu, bisa menelepon atau mengirimkan pesan, bisa mendengarkan musik, bisa mengambil foto, faktor penambah lainnya adalah apakah bisa bermain game, dan apakah bentuknya lucu atau unik.

Sayangnya, zaman tentunya berubah, internet menjadi salah satu hal yang paling penting di dunia pada kehidupan sekarang ini. Bahkan, mencari info pelajaran atau berita sudah mudah, dengan tinggal masuk ke dalam browser dan langsung tersedia. Media berbentuk sekarang sudah mulai ditinggalkan, bahkan beberapa media majalah atau  pun koran sudah berganti menjadi media digital. Nokia pada kasus ini tidak melihat bahwa di masa medio 2010an, masyarakat lebih mementingkan handphone yang memiliki spesifikasi berselancar internet yang cepat namun bentuknya kurang bagus, dibandingkan dengan handphone yang bentuknya bagus namun tidak bisa berinternet, padahal kalau mereka mau mengembangkan Nokia Comunicator mereka untuk internet yang lebih baik ditambah dengan OS yang baik pula, saya yakin Nokia mungkin masih bertahan ketika BlackBerry merajalela. Sayangnya hal itu luput dari pandangan Nokia, dan ketika mereka sadar bahwa kebutuhan masyarakat telah berubah, mereka sudah telat dan tertelan arus masa depan dari perusahaan seperti Apple maupun Android. 

 

Ilustrasi via ubloger.com

Answered Jul 20, 2017
Naufal Raihansyah
Sistem Informasi - UI 2k17

Karena Nokia mempertahankan gaya lama dan tidak memiliki gebrakan inovasi lebih lanjut. Di saat Apple muncul, Nokia malah tetap bertahan dengan kepercayaan mereka terhadap Symbian OS yang mereka miliki. Karena hal tersebut juga, mereka telat untuk memasuki pasar smartphone dan kita tahu bagaimana hasilnya.

Answered Aug 2, 2017
Rizki Najib Makarim
Mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

Yang menyebabkan Nokia kalah dalam persaingan global adalah karena tidak mau mengikuti perubahan zaman atau statis. Ketika perusahaan-perusahaan telekomunikasi yang lain sudah mulai memasuki era digital, Nokia masih yakin bahwa produknya tetap laku, walaupun sudah mulai "kuno".

Answered Aug 7, 2017

Karena kurangnya inovasi, Nokia menganggap bahwa produk mereka memiliki pasar tersendiri dibanding dengan platform OS lainnya.

Answered Aug 9, 2017

Karena kurangnya inovasi dalam menciptakan produk, sistem, dan desainnya.

Answered Aug 9, 2017
Alyasa Washyil Barry
Orang aneh yang kuliah di UIN Jakarta dengan jurusan KPI.

0E2hjShj5CRd41cP-IHXpT4ERn7he-s-.jpg

Nokia terlalu percaya dengan Symbian OS-nya dan bertahan dengan idealisme mereka sendiri. Justru idealisme mereka sendiri malah mengurung mereka sehingga selalu berada di comfort zone dan pada akhirnya, kalah inovasi dengan Android, Blackberry, dan kompetitor lainnya. 

Saat mereka percaya dengan idealismenya sendiri, sebenernya itu bisa jadi bumerang untuk mereka. Bumerang yang menyatakan bahwa mereka tidak bisa bersaing dan kalah. Alhasil, mereka tetap percaya kehebatan mereka tidak akan runtuh meski tanpa inovasi dan dobrakan yang menggila.

Bukan cuma Nokia, kok. Blackberry emang kagak?

 

Ilustrasi via youtube

Answered Aug 10, 2017
Lukman Nul Hakim
Mondok nganti rabi, Madridista sejati

Karena Nokia tidak mau mengikuti perkembangan teknologi. Sekarang sudah zamannya OS Android tapi Nokia masih bertahan dengan Symbiannya.

Answered Aug 11, 2017

Menurut saya, yang menyebabkan Nokia kalah dalam persaingan global ialah karena fitur-fitur yang disediakan Nokia kalah canggih dengan fitur-fitur yang disediakan oleh smartphone yang saat ini banyak diminati oleh masyarakat.

Answered Aug 17, 2017
Dimas Jr
Rizaldi Dimas

Karena Nokia menggunakan sistem Windows, bukan seperti smartphone lain yang menggunakan Android.

Answered Aug 18, 2017
Anonymous

Karena para pesaingnya sudah menggunakan aplikasi open source, yaitu Android.

Answered Aug 19, 2017
Alfan Amin
Fakultas adab dan humaniora jurusan sastra inggris

Karena harga dari produk Nokia bisa dibilang mahal dibandingkan dengan produk yang lain.

Answered Aug 19, 2017
Nadya Anggraini
Mahasiswa Fakultas Sains dan Teknologi

Karena perusahaan Nokia tidak mau mengikuti perkembangan zaman melalui pemakaian Android. Selain itu, perusahaan Nokia juga terlalu bersikap angkuh terhadap kejayaannya tanpa menyadari persaingan di masa depan.

Answered Aug 19, 2017

Karena Nokia terlalu nyaman dalam sistemnya sendiri dan tidak mau berkembang.

Answered Aug 20, 2017
Ridwan Hidayanto
Dokter Gigi Muda | Unair | Rumah Kepemimpinan Angkatan 8 Regional 4 Surabaya

1045159

Kalau kita menengok beberapa dekade ke belakang, Nokia adalah salah satu brand handphone yang begitu familiar dan banyak sekali dipakai oleh masyarakat dunia, namun kepopuleran Nokia ini akhirnya turun drastis semenjak kompetitor besarnya, Apple dan Samsung, membawa inovasi-inovasi terbarunya di bidang teknologi.

Dalam dunia teknologi yang selalu berkembang cepat, jika sebuah perusahaan teknologi tidak memiliki inovasi yang hebat dan kuat, maka bukan tidak mungkin perusahaan sekaliber Nokia juga akan tergilas oleh perusahaan pesaingnya yang mungkin tidak setenar dirinya.

Teknologi akan selalu berkembang tak terbatas, jadi setiap individu atau kelompok "dipaksa" agar selalu berinovasi dan berkreativitas sebaik mungkin agar tidak tertinggal. Hal yang merupakan kesalahan terbesar Nokia adalah tidak melihat peluang yang akan dibawa Android sebagai OS nomor satu saat ini dan lebih memilih mengadopsi sistem operasi Windows phone yang akhirnya kurang diminati masyarakat dunia.

#Jawabanku Agustus 2017
#Rumah Kepemimpinan
#RK Regional Surabaya

 

Answered Sep 2, 2017

Question Overview


and 32 more
50 Followers
3528 Views
Last Asked 3 years ago

Related Questions


Apa beda antara startup dan perusahaan lainnya? Mengapa istilah startup begitu naik daun?

Bagaimana cara membangun tim awal startup/perusahaan?

Apa yang menyebabkan sebuah startup digital mengalami kegagalan pada tahun pertamanya?

Apakah nama perusahaan startup terbaik di Indonesia?

Apa yang menyebabkan jumlah venture capital di Indonesia tidak sebanyak di Amerika?

Apa rahasia membangun sebuah startup digital yang sukses?

Apa yang dimaksud dengan design thinking?

Apa yang dimaksud dengan design sprint?

Mengapa design sprint digunakan untuk membuat produk digital?

Apa yang membuat Steve Jobs sukses membangun Apple?

Apa yang dimaksud dengan growth hacker?

Apakah kehadiran seorang growth hacker penting dalam sebuah startup digital?

Apa fungsi utama seorang growth hacker?

Apa yang dimaksud dengan growth hacking?

Siapakah menurut Anda yang akan memenangkan kompetisi di Indonesia; Go-Jek, Uber, atau Grab?

Bagaimana cara melakukan usability testing untuk sebuah produk digital?

Seberapa penting usability testing dalam proses pembuatan sebuah produk digital?

Apa yang dimaksud dengan usability testing?

Apa perusahaan teknologi terbaik di Indonesia?

Mengapa banyak orang India menjadi CEO perusahaan digital internasional?

Apa tujuan utama yang harus dicapai perusahaan ketika menggunakan media sosial sebagai alat komunikasinya?

Bagaimana melatih skill komunikasi publik seorang pemimpin yang pada dasarnya pendiam?

Apa tips yang dapat Anda berikan bagi pejuang SBMPTN?

Apa enaknya jadi mahasiswa?

Mengapa seseorang bisa tertarik bergabung dengan ISIS?

Apa yang Anda banggakan dari Indonesia saat bertemu masyarakat internasional?

Apakah "mood booster" terbaik Anda?

Apa itu Rumah Kepemimpinan?

Apa perbedaan menulis esai dengan menulis gagasan?

Apa yang menjadi alasan mengapa suatu negara menerapkan bebas visa terhadap negara lain?

Mengapa Indonesia sebagai negara maritim harus mengimpor garam?

Apa kelebihan kuliah di jurusan Teknik Metalurgi?

Apa perbedaan antara sosiologi ekonomi dan ilmu ekonomi?

Apa yang menyebabkan manusia selalu menilai dari apa yang dia lihat?

Bagaimana efek otonomi daerah terhadap pengontrolan mutu di Indonesia?

Kabupaten apa yang mengalami inflasi paling tinggi pada tahun 2017?

Apa yang dimaksud dengan haram?

Apa kelebihan kuliah di jurusan Komunikasi?

Apa saja hukum/prinsip fisika yang diterapkan pada sebuah roller coaster?

Apakah HIV dan AIDS itu sama?

Bagaimana cara masuk UI (Universitas Indonesia)?

Mengapa kuliah di Universitas Indonesia begitu menarik dan prestisius?

Mengapa iPod mampu mengalahkan Walkman dalam bisnis peranti musik dunia?

Kenapa Indonesia belum juga maju sementara Korea Selatan yang dulu lebih miskin dari kita justru maju sekali saat ini?

Siapa film director (sutradara film) terbaik menurut Anda?

Apabila poligami adalah ibadah, mengapa banyak perempuan muslim yang tidak mau melakukannya?

Mengapa banyak anak perempuan yang menjadikan ayahnya sebagai cinta pertamanya?