selasar-loader

Apa yang menyebabkan beberapa orang mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri?

Last Updated Mar 18, 2017

9 answers

Sort by Date | Votes
Arief Bahari
Graphic Designer at Selasar. Data Visualization • Motion Artist

6jEDzauZeNQTlqUr8ltbDBHlfTqaqoPH.jpg

Mungkin karena sudah tak mampu lagi menghadapi beban hidup sehingga opsi untuk bunuh diri dianggap sebagai satu-satunya jalan untuk keluar dari semua masalah yang sedang dia hadapi.

Answered Mar 18, 2017
Venusgazer E P
A man who loves reading, writing, and sharing

gg_KM7ZKMJz6367GKLvzao_qYKCzmFbc.jpg

Ada beberapa alasan bagi seseorang untuk melakukan bunuh diri.

  1. Putus Harapan. Beberapa kasus bunuh diri di daerah Gunung Kidul, misalnya, disebabkan pelaku merasa sudah tidak perlu lagi menjalani hidup karena putus harapan, baik harapan untuk lepas dari kemiskinan maupun penyakit yang tidak kunjung sembuh.
  2. Kecewa berat karena disakiti pasangan. Banyak kasus bunuh diri dilakukan oleh mereka yang merasa kecewa dan tersakiti karena putus cinta atau ditinggalkan pasangannya. Ada perempuan yang merasa sangat sakit sekali ketika dia sudah menyerahkan segalanya, lalu dicampakkan begitu saja.
  3. Tidak sanggup bayar hutang. Soal hutang piutang banyak juga menyebabkan seseorang bunuh diri. Bunuh diri dianggap sebagai jalan paling pintas untuk menyelesaikan hutang-hutangnya tanpa membebani pihak keluarga, misalnya.
  4. Harga diri. Hal ini lazim dilakukan di Jepang. Orang-orang yang berjiwa samurai melakukan bunuh diri dengan kesadaran sendiri ketika kalah atau gagal menjalani tugas demi harga dirinya.
  5. Doktrin tertentu. Masih di Jepang. Para penerbang Jepang pada Perang Dunia II melakukan aksi Kamikaze dengan cara menabrakkan pesawat mereka pada kapal perang AS agar korban yang jatuh lebih besar, sesuai dengan perintah Kaisar atau komandan. Bunuh diri yang dilakukan oleh teroris kurang lebih sama. Mereka mempunyai keyakinan bahwa bunuh diri adalah bagian dari perjuangan dan surga akan diberikan kepada mereka. Kasus-kasus bunuh diri massal yang pernah dilakukan di Amerika Serikat atau Afrika ditengarai pelaku dan juga korban sudah dicuci otak dengan doktrin-doktrin tertentu.
  6. Menyimpan rahasia. Beberapa jenderal Nazi yang dianggap bertanggungjawab terhadap kejahatan Nazi lebih memilih untuk melakukan bunuh diri menggunakan sianida daripada tertangkap Sekutu. Racun sianida dan sejenisnya juga dipakai oleh agen-agen rahasia untuk bunuh diri daripada nanti pihak musuh bisa mengorek rahasia dari diri mereka.
  7. Bunuh diri tanpa alasan. Ini terjadi pada kasus bunuh diri yang melibatkan sebuah keluarga. Anak-anak biasanya tidak mengetahui bahwa mereka akan mati. Orangtua mengajak mereka menenggak minuman atau racun tanpa mereka sadari bahwa itu akan membinasakan mereka.
  8. Cinta. Bunuh diri karena cinta sepertinya banyak diambil oleh pasangan yang benar-benar ingin sehidup-semati. Mereka melakukan bunuh diri sebagai tanda cinta satu sama lain. Biasanya, langkah ini ditempuh karena keduanya tidak mungkin bersatu disebabkan faktor keluarga, agama, status pasangan, atau perbedaan status sosial. Ya, seperti kisah cinta Romeo dan Juliet.

Answered Mar 18, 2017
Iwa Maulana
Seorang peneliti dan alumnus FISIP UI

mLzetm3F-fkMkKxLkvealtggqr-uEPf2.jpg

Pertanyaan ini mungkin dapat dijawab dengan mengacu pada karya klasik Emile Durkheim yang berjudul Suicide atau Le Suicide. Durkheim mengartikan bunuh diri sebagai kematian yang merupakan hasil dari tindakan positif (misalnya, menggantung diri atau menembak diri) maupun negatif (misalnya, menolak makan) yang dilakukan oleh sang korban. Menurut Durkheim, bunuh diri dapat dibagi ke dalam empat jenis: egoistic, altruistic, anomic dan fatalistic.

Bunuh diri egoistic ditandai dengan rendahnya integrasi sosial. Bunuh diri dapat terjadi ketika individu tidak merasakan ikatan dengan lingkungan sosialnya. Seringkali, indikasi ini dapat ditemukan pada individu yang merasa dirinya invisible, tidak dianggap, tidak dikasihi sehingga berujung pada anggapan bahwa ada atau tidaknya keberadaan dirinya tidaklah berarti.

Sebaliknya, bunuh diri altruistic ditandai dengan tingginya integrasi sosial. Bunuh diri ini dapat terjadi ketika individu melihat keberadaan dirinya tidak lebih besar dibanding kepentingan kelompoknya. Bom bunuh diri yang dilakukan oleh teroris, misalnya, dapat menjadi contoh.

Bunuh diri anomic, seperti namanya, ditandai dengan sebuah keadaan tanpa aturan atau norma. Bunuh diri jenis ini dapat terjadi ketika berlangsung sebuah pergeseran tatanan ekonomi, sosial, ataupun politik. Orang-orang yang berada dalam keadaan demikian tidak jarang merasa bingung dan terputus karena perubahan yang drastis.

Bunuh diri fatalistic ditandai dengan terlalu kuatnya aturan. Bila pada jenis anomic yang terjadi adalah kekosongan, maka yang berlaku di sini adalah adanya aturan yang sangat menekan. Individu-individu tertentu, karena posisinya dalam masyarakat, tidak jarang justru mengalami penindasan karena aturan yang berlaku. Pada titik terparah, penindasan yang terjadi dapat menyebabkan orang mengakhiri hidupnya sendiri.

Untuk membantu menjelaskan, Anda dapat menengok bagan di bawah ini:

1VVo_2gK8BdMehBJbwWFwkUS0OMQoWEp.jpg

 

Answered Mar 19, 2017
Gagar Asmara Sofa
Sarjana Psikologi. Penulis syair, puisi, dan prosa di gagarasmara.tumblr.com

7sN7QTVt-bO4NwjF5EEjRQzP38XTH1r7.jpg

Bunuh diri berarti mengakhiri hidup di dunia. Mengakhiri hidup di dunia berarti merasa sia-sia hidup di dunia. Sia-sia hidup di dunia berarti merasa segala hal yang ada di dunia sudah tidak bisa lagi diikhtiarkan. Merasa tidak bisa mengikhtiarkan segalanya dalam hidup berarti sudah tidak mampu merayakan atau mengisi hidup. Tidak mampu mengisi dan merayakan hidup berarti manusia itu memiliki konsep yang salah soal hidup.

Berikut ini adalah beberapa hal yang harus diperhatikan dan dipikirkan supaya soal yang terakhir itu tidak menghantui Anda:

1. Apa itu hidup?

2. Apa yang mempengaruhi hidup?

3. Apa dasar-dasar dari hidup yang bermakna dan menyenangkan?

Sudahkah Anda:

  • memercayai bahwa manusia dan dunia sebagai hal yang baik?
  • membangun rasa kebergunaan?
  • mendefinisikan diri dan membangun identitas diri yang positif?
  • mencintai diri sendiri dan orang lain?
  • menentukan makna hidup, peran di dunia, dan memberi inspirasi kepada orang lain?

4. Apa itu keindahan dan kebaikan dunia?

Apakah Anda:

  • menikmati alam sebagai kebaikan dunia?
  • memahami keterbatasan diri dan menikmati segala yang dimiliki sesedikit apapun?
  • menikmati diri sendiri?

5. Bagaimana Anda ikut terlibat dalam jalannya kehidupan sehari-hari?

Apakah Anda sudah:

  • menemukan, mewujudkan, dan mengembangkan ide-ide baru?
  • berpartisipasi dalam pengembangan kualitas hidup manusia?

6. Dan bagaimana mengaji hidup?

Sudahkah Anda:

  • melakukan refleksi diri (introspreksi dan retrospeksi)?
  • berorientasi pada masa depan?
  • hidup di masa kini?

Keenam poin tersebut saya sarikan dari pemikiran Dr. Bagus Takwin, M. Hum., Psikolog dalam bukunya "Bagaimana Mengisi Hidup". Silakan bila Anda tertarik untuk dapat membaca dan meresepinya.

Answered Mar 19, 2017
Kesha Darma
Traveler, Worker, Lover (of Hawa), Pro-Rider in sometimes, and a writer

4tumi40HIV4ug7LDKCxwexkac2Tbfxde.jpg

Tampaknya, bunuh diri menjadi salah satu pelarian yang paling bisa dikerjakan ketika kita sedang memiliki masalah. Bagi orang-orang yang tidak mempunyai kepercayaan akan Tuhan, hal ini akan selalu menjadi pilihan yang tepat. Orang yang beragama dan orang yang tidak memiliki kepercayaan tentunya berbeda, ya, setiap orang akan selalu memiliki agama, namun tidak semua orang beragama juga memiliki keyakinan akan Tuhan. Kuncinya tentu saja akan hal tersebut. Sayangnya, banyak orang yang tidak memiliki keyakinan akan Tuhan selalu berpikir bahwa mereka tidak memiliki tempat untuk berlari maupun tempat untuk mengadu. 

 

Answered Mar 21, 2017
Rifqi Fathianto
Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia

4P7m3KMjdwNziybE4SA-J8WcubdJ026X.jpg

Tendensi untuk mengakhiri hidup paling kuat adalah ketika seseorang tengah berada di puncak rasa depresi. Penyebabnya bervariasi, ada yang karena tekanan ekonomi, masalah cinta, sampai ke krisis identitas diri. Bunuh diri dianggap sebagai solusi ketika seseorang sudah tidak tahan lagi menghadapi masalah; dengan kata lain, bunuh diri adalah jalan keluar dari masalah.

Seorang individu yang sedang berada di puncak tekanan dan putus harapan sulit untuk berpikir jernih. Pada akhirnya, jalan pikir mereka akan berujung kepada solusi pragmatis untuk keluar dari masalah: mati. Hidup pun rasanya sudah tidak berharga lagi, sebab ada masalah yang senantiasa menghantui setiap langkah. Ketika tak ada lagi yang bisa dijadikan tempat bersandar dan berharap (apakah itu Tuhan, orangtua, sahabat, dll), maka opsi terakhir adalah mengucapkan selamat tinggal kepada dunia.

Tetapi, ada pula yang memilih untuk bunuh diri karena alasan-alasan yang cukup irasional: penasaran akan rasanya mati, mencari pengakuan/perhatian dari lingkungan sekitar apabila dia mati, atau mungkin pula untuk balas dendam; memberi rasa sakit kepada mereka yang ditinggalkan.

Answered Mar 22, 2017
Hari Nugroho
Pernah mengalami gejala depresi

gyzMDwoUMDFFNDaAeqAznu1Vy4r-Na6q.jpg

Bunuh diri menjadi topik yang hangat belakangan ini, apalagi setelah ada salah satu warga dunia maya yang menyiarkan proses bunuh dirinya secara live di salah satu media sosial.

Berkaca dari apa yang dikatakan oleh dr. Noriyu, penyebab bunuh diri tentu tergantung pada proses autopsi psikologis pada korbannya. Salah satu selasares telah menjawab konsep bunuh dirinya Durkheim. Beberapa juga menjelaskan tentang kondisi depresi yang dialami oleh seseorang yang melakukan tindakan bunuh diri.

Hal yang jelas bunuh diri menjadi salah satu penyebab kematian tersering, di US bunuh diri merupakan penyebab kematian nomor 10, dan membuat 44.000 orang meninggal setiap tahunnya. Secara statistik laki-laki lebih rentan meninggal ketika melakukan percobaan bunuh diri dibanding perempuan, angkanya mencapai 3.5 sampai 4 kali lebih tinggi untuk menjadi meninggal setelah percobaan bunuh diri. Bunuh diri adalah hal yang kompleks, seringkali tak terduga, namun sebenarnya dapat terlihat tanda dan gejalanya.

Tak hanya orang yang depresi yang bisa melakukan tindakan bunuh diri, orang dengan gangguan jiwa lainnya juga dapat melakukan hal yang sama, misalnya pada orang yang mengalami gangguan psikotik atau schizophrenia, halusinasi yang terjadi dapat membuat mereka melakukan bunuh diri. Begitu juga dengan orang-orang bipolar, apalagi jika sedang dalam episode depresi. Orang yang mengalami kecanduan alkohol dan narkoba juga dapat bunuh diri, baik karena efek gangguan jiwa yang muncul atau karena overdosis zat yang digunakan.

Ancaman untuk bunuh diri adalah suatu kondisi emergency psikiatri, harus segera ditangani supaya akibat fatal dapat ditekan. Jika ada di sekitar kita ada orang yang menyatakan punya ide untuk bunuh diri, ajaklah bicara mengenai apa yang dia pikirkan dan dia rasakan. Jangan banyak memberi nasehat atau menawarkan solusi. Jangan pula bersikap menghakimi, dengarkan apa yang diceritakan dengan empati . Tanyakan apakah dia mempunyai rencana bunuh diri, waktunya, bagaimana caranya, dan lain-lain, supaya kita dapat mengamankan benda-benda yang bisa digunakan sebagai sarana untuk melakasanakan idenya.

Jika, sebelumnya ada riwayat perawatan gangguan jiwa atau bunuh diri, segeralah telepon dokter yang merawat, atau perawat jiwa yang dahulu menangani. Segera bawa ke UGD jika tendensi untuk melukai diri sendiri dan orang lain semakin meningkat.

Mari belajar untuk berbicara kepada orang lain jika kita merasa ada hal-hal yang mengganjal, sesuai dengan tema yang diangkat oleh WHO tentang Let's Talk, sehingga kita tidak merasa sendiri, dan segala pikiran dan peraaaan negatif dapat tersalurkan.

Answered Mar 22, 2017
wahyu sutejo
Success enthusiast, Psikologi interest, Omni Channel Enthusiast

2nwdVPBhQfzAWE60FsPpRyMGw9wu5QYB.jpg

via iran-daily.com

Dalam hemat saya, penyebab seseorang bunuh diri ada dua, di antaranya adalah sebagai berikut.

1. Mental kejiwaan

Kondisi mental atau jiwa terganggu sehingga perasaan yang ditimbul sudah di luar akal sehat karena imajinasi yang muncul.

Tidak sedikit yang bunuh diri sebenarnya tidak sadar apa yang dia lakukan.

2. Lingkungan buruk

Lingkungan yang buruk secara tidak langsung memaksa seseorang untuk melakukan hal-hal diluar kewajaran, salah satunya adalah bunuh diri.

Seperti yang kita tahu bersama, lingkungan itu sangat kejam, bahkan tidak sedikit lingkungan keluarga justru malah menjadi penyebab kegagalan hidup seseorang.

Answered Mar 26, 2017
Rezha Taufani
Psikologi Sosial, Psikologi Politik, Psikologi Lintas-Budaya

Kaplan-Suicide-Story_90f6a2d4-423a-42d9-

Via Newsroom.ucla.edu (FR)

Hal yang paling sederhana dalam melihat alasan seseorang untuk mengakhiri hidupnya sendiri adalah cinta dan materi atau emosi dan kepemilikan fisik. Pada masa seperti ini, manusia memiliki banyak permasalahan secara intrinsik (sesuatu yang datang dari dirinya sendiri) dan ekstrinsik (sesuatu yang datang dari luar dirinya). Pola perilaku manusia yang ideal adalah mampu menyeimbangkan kedua hal tersebut, tanpa menitikberatkan pada satu sisi yang dapat berdampak pada keseimbangan kehidupan yang dimiliki oleh individu.

Dalam mengkaji bagaimana seseorang memutuskan untuk mengakhiri hidupnya merupakan bagian dari insting kematian yang dikemukakan oleh Freud dalam cetusan Psikoanalisanya. Tepatnya pada saat insting ini memiliki peranan dalam mendorong manusia untuk lebih destruktif (merusak) dibandingkan konstruktif (membangun). Persoalan emosi merupakan suatu hal yang bisa diselesaikan secara personal dengan membangun komunikasi, kepercayaan, komitmen secara relasi baik itu jangka panjang atau jangka pendek. Apabila individu tidak membangun aspek positif dalam kehidupannya maka naluri untuk merusak diri maupun sekitarnya akan muncul.

Dalam kajian perilaku ekonomi motif individu untuk bunuh diri dalam skala nasional merupakan salah satu faktor yang masuk dalam ketetapan kenapa orang tersebut bunuh diri karena kegagalan finansial, yaitu ketidakmampuan seseorang dalam mengendalikan ekspektasi materi dalam dirinya sehingga berakhir pada keputusasaan dan depresi yang berkelanjutan, tidak memiliki alternatif lain dalam mengelola finansialnya, dan masih banyak faktor yang terukur menggunakan isu finansial/ekonomi sebagai landasan utama seseorang mengakhiri hidupnya. Tidak bisa dipungkiri bahwa ekonomi merupakan bagian yang tidak terelakkan dalam komponen yang membuat manusia terus hidup dalam kesehariannya. Sandang, pangan, papan dan semacamnya ditopang oleh ekonomi dan gejala kapitalistik global yang membuat orang yang kaya semakin kaya dan orang miskin semakin miskin. Pernyataan tersebut adalah pernyataan yang cukup relevan untuk menyatakan bahwa individu yang masuk dalam kategori kelas ekonomi rendah memiliki hak untuk mengakhiri kehidupannya. Oleh karena itu, individu yang masuk dalam kategori kelas ekonomi atas, hidup masyhur dan serba ada sehingga memiliki tingkat stres dan kecemasan yang rendah dibandingkan mereka yang tidak mampu.

“There are causes worth dying for, but none worth killing for.”
- Albert Camus

Answered Mar 28, 2017

Question Overview


10 Followers
953 Views
Last Asked 2 years ago

Related Questions


Apa dan bagaimana cinta itu?

Kepada siapa kecenderungan waria memilih pasangannya?

Adakah kaitan antara parfum dan kepribadian seseorang?

Apakah status sebagai anak tunggal mempengaruhi sikap politik Presiden ke-6 RI?

Apakah status sebagai anak lelaki satu-satunya dalam keluarga mempengaruhi sikap politik Presiden Jokowi?

Pada umur berapa sebaiknya anak diajak untuk menjalankan ritual keagamaan?

Apa yang menyebabkan orang takut menikah?

Apa yang menyebabkan seseorang takut menghadapi masa depan?

Mengapa respons orang sedih umumnya menangis?

Apakah menangis itu sehat atau malah membuat sakit?

Bagaimana cara berdamai dengan masa lalu yang kelam dan penuh trauma?

Apakah kebiasaan nonton film porno dapat disembuhkan? Bagaimana caranya?

Bagaimana cara yang paling efektif untuk menyembuhkan penyakit susah tidur (Insomnia)?

Bagaimana cara mengobati gangguan jiwa karena depresi atau stres berat?

Apakah Hipnoterapi itu berbahaya? Bagaimana proses hipnosis dilakukan untuk terapi/pengobatan?

Mengapa ada orang berpikir bunuh diri?

Bisakah hipnoterapi mengungkap rahasia seseorang?

Apa ciri-ciri orang mengidap manic depressive?

Apa ciri-ciri anak down syndrome?

Apa perbedaan gaya berpikir kuno/lama dan baru dalam perspektif dunia kerja?

Apakah penderita schizofrenia bisa menjadi orang yang produktif dan hidup normal bersama orang kebanyakan?

Apa yang membuat Anda kecanduan media sosial seperti Facebook, Twitter, atau Instagram?

Apa pentingnya kehadiran dokter jiwa untuk masa sekarang ini?

Benarkah hati yang mengontrol perasaan itu ada? Jika ada, di manakah sebenarnya letak hati yang berbicara tentang perasaan manusia itu?

Apakah mereka yang memiliki orientasi seksual seperti lesbian, homoseksual, dan teman-temannya itu adalah orang-orang yang sehat jiwa atau sakit jiwa?

Bagaimana ciri-ciri orang yang mengidap megalomania?

Apa hubungan kuat antara stres dan penggunaan media sosial?

Apakah laki laki tidak boleh menangis?

Bagaimana cara menyudahi depresi berkepanjangan?

Apakah merek parfum yang paling cocok untuk wanita?

Apakah perbedaan antara parfum dan cologne?

Apa yang membuat harga parfum begitu mahal?

Apakah wanita mengenakan parfum untuk menarik perhatian pria atau ada alasan lainnya?

Apa tujuan laki-laki memakai parfum?

Bagaimana cara memakai parfum yang benar?

Bagaimana cara memakai cologne yang benar?

Apakah parfum yang aromanya paling maskulin?

Apakah parfum yang aromanya paling feminin?

Parfum pria apa yang aromanya bisa diterima oleh semua orang?