selasar-loader

Mengapa banyak orang India menjadi CEO perusahaan digital internasional?

Last Updated Nov 16, 2016

Adakah penjelasan atas hal ini?

6 answers

Sort by Date | Votes
Pepih Nugraha
Kuliah bisnis di Prasetya Mulya program MMDP 2011-2012

lAI71N8QnN7dinnILPJOl6EZC38rM0Fb.jpgTahun 2007 saya diundang IBM ke Bangalore, India,untuk meliput bagaimana IBM beroperasi di India. Sebagai produsen PC yang pertama-tama dan terkemuka di dunia, IBM telah mengubah orientasi bisnisnya kepada Solusi dan Sumber Daya Manusia, Bagi saya, masalah solusi sudah tidak terlalu menarik perhatian lagi, sebab di mana-mana orang bisnis solusi ini. Misalnya di Jakarta, ada perusahaan yang memberi pelayanan IT dari mulai installment, pemilihan hardware, software, penyimpanan data, server dan seterusnya.

Ya, paling seputaran itu saja. Tetapi berbeda ketika IBM memperkenalkan "produk baru"-nya, yaitu berupa penyewaan tenaga terlatih/terdidik di bidang IT. Ibarat perusahaan alih daya global di perusahaan IT, banyak insinyur dan developer India yang menjadi bagian dari IBM. Uniknya, rata-rata mereka lulusan S2, dan S3 dan hanya sedikit saja yang selevel S2 untuk "penjualan/penyewaan" SDM untuk mengisi kebutuhan global.

Saya tanya-tanya mengapa orang India begitu tertarik dengan IT? Jawaban yang mengejutkan datang dari petinggi IBM India, yaitu "Bahasa". Ya bahasa Inggris. Orang-orang terpelajar India umumnya fasih berbahasa Inggris, meski bahasa Inggris mereka terdengar aneh dan khas bahkan kadang sulit dimengerti. Bahasa Inggris adalah pintu menuju IT karena dengan bahasa itulah mereka menyerap ilmu IT sebanyak-banyaknya, buku-buku IT dalam bahasa Inggris yang melimpah. Meraka, orang-orang India itu menjadi "first taste", orang yang pertama menyipi atau "memerawani" buku-buku IT berbahasa Inggris itu kemudian pertama yang mempraktikkannya juga.

Berbekal ilmu itulah IT berkembang di India. Sedangkan para diaspora India di berbagai belahan dunia dengan sendirinya telah terasah dengan persoalan IT yang telah dikuasainya, melampauai bangsa-bangsa lainya di dunia. Tidak aneh kalau orang-orang India banyak menjadi CEO di perusahaan IT/digital di seluruh dunia.

Answered Nov 22, 2016
Ma Isa Lombu
Pendiri dan Chief Business Development Officer Selasar

EqxdHS_DT-arhpatBi3aMWXx6VRSTJIT.jpg

Tercatat saat ini beberapa perusahaan global di dunia juga dipimpin oleh orang India. Orang India yang saya maksud di sini adalah orang dengan kewarganegaraan atau keturunan India. Sebut saja beberapa perusahaan global seperti Google, Microsoft, Nokia, Adobe, SanDisk, bahkan McKinsey & Company Inc. pernah dipimpin oleh seorang India.

Menarik memang untuk dikaji lebih jauh mengapa perusahaan global/multinasional di dunia lebih menerima orang India dibandingkan ras yang lain yang ada di seluruh dunia. Ada apa dengan mereka?

Dari data yang kita bisa baca di sumber-sumber kredibel terkait mereka, kita dapat melihat bahwa pola yang dimiliki oleh para pemimpin perusahaan global ini adalah mereka semua memiliki tingkat pendidikan yang baik, bahkan sangat baik. Hanya CEO Nokia saja yang hanya menuntaskan petualangan ilmu pengetahuannya sampai tingkat sarjana (bachelor degree), sisanya sebesar 90% para CEO global tersebut melanjutkan jenjang pendidikannya hingga ke tingkatan master degree.

Meski mayoritas memiliki latar pendidikan sarjana teknik dan ilmu komputer, 80% para CEO di atas memiliki gelar MBA (Master of Business Administration). Mereka memilih untuk melanjutkan studi dan belajar tentang perusahaan dan bisnis karena dalam program MBA tersedia berbagai macam ilmu pengetahuan “baru” seperti keuangan, akuntansi, statistik, perilaku/budaya organisasi, ataupun SDM yang tidak mereka dapatkan di jenjang pendidikan sarjana sebelumnya. Pengetahuan baru itu akan sangat mereka butuhkan untuk melengkapi kecakapan dan pengetahuan teknis yang mereka sudah peroleh dalam pendidikan strata satu mereka.

Rajat Gupta, Managing Director McKinsey & Company Inc. menyelesaikan MBA-nya di Harvard Business School. Sundar Pichai (CEO Google) menyelesaikan MBA-nya di seklolah bisnis terbaik di dunia, Wharton Business School di Universitas Pennsylvania. George Kurian (CEO NetApp) menempuh MBA-nya di Stanford Graduate School of Business, tempat para founders dan pimpinan dari Big Tech Company seperti Tesla Motor, Ford, PayPall, eBay ataupun Youtube menyelesaikan gelarnya di sana.

Menariknya, Nikesh Arora (CEO Soft Bank) juga memiliki predikat MBA dari Kellog School. Dari data ini dapat diketahui bahwa Rajat Gupta, Sundar Pichai, George Kurian, Nikesh Arora dan CEO lainnya memiliki orientasi pendidikan tinggi yang sangat ambisius. Mereka tidak hanya menyelesaikan pendidikan sarjana di universitas teknik terbaik di India tapi melanjutkan pendidikannya ke sekolah bisnis yang juga memiliki reputasi yang sangat baik di dunia.

Orientasi atas pendidikan tinggi yang berkualitas yang dimiliki oleh para CEO di atas tentu akhirnya mematahkan mitos bahwa drop out dari perguruan tinggi, seperti yang dilakukan oleh Steve Jobs, Bill Gates atau Mark Zuckerberg, adalah pemakluman yang dapat dilakukan oleh seorang IT geeks (bahkan sebagian melihatnya sebagai “jalan” yang harus diteladani) yang berminat untuk membuat perusahaan digital-nya sendiri.

Perlu diketahui bahwa Wharton Business School, Harvard Business School, Stanford Graduate School of Business (GSB), dan Kellog School di Northwestren University adalah empat dari lima sekolah bisnis terbaik di dunia, sisanya adalah Sloan School di MIT(Massachusetts Institute of Technology).

Ada sebuah buku menarik karangan George Berkowski yang berjudul How to Build a Billion Dollar App. Di dalam buku ini terungkap fakta bahwa founders sebuah perusahaan start up digital yang memiliki valuasi di atas 13 triliun rupiah adalah seorang/sekelompok orang yang memiliki tingkat pendidikan yang baik. Dari perusahaan start up digital yang diteliti, hanya 18,6 persen perusahaan yang didirikan oleh founders yang drop out. Mayoritas berpendidikan tinggi dengan urutan paling banyak lulus dari Stanford, Berkeley kemudian MIT.

Ada apa dengan India?

Kenapa harus India, bukan ras lain yang ada di dunia? Apakah para achievers yang super ambisius ini mendapatkan perlakuan yang berbeda ketika kecil atau mereka memiliki DNA khusus yang berbeda dari ras lain? Apa saja yang membuat mereka berbeda dibandingkan yang lain?

Bekerja di perusahaan multinasional, tentu memiliki requirements yang berbeda dibandingkan bekerja di perusahaan lokal, bahkan internasional sekali pun. Untuk bekerja di perusahaan multinasional, dibutuhkan beberapa kemampuan (skill) khusus untuk dapat survive dan juga berkembang di sebuah perusahaan multikultur ini.

Rajessh Deb Roy menjabarkan beberapa sikap yang dibutuhkan oleh seorang profesional untuk dapat berkembang dan memiliki karier yang baik perusahaan multinational/global, di antaranya adalah drive and persistence (memiliki dorongan yang kuat dan gigih), quantitative and analytical prowess (memiliki kecakapan kuantitatif dan analisis), communication skills (kemampuan komunikasi), capacity for collaboration (kemampuan dalam berkolaborasi), crisis management ability (­­­­­­­­­kemampuan untuk mengelola krisis), dealing with hierarchies and with peers (kemampuan dalam bekerja dengan orang lain dan berada dalam hierarki), innovativeness (kecakapan dalam berinovasi), tact and diplomacy (memiliki kebijaksanaan dan kemampuan berdiplomasi), dan optimizing resources (kemampuan untuk mengoptimalkan sumber daya yang ada).

Lalu, apa yang spesial dengan India sehingga seakan-akan budaya atau kondisi lingkungan di negara mereka fit in dengan budaya kerja perusahaan multinasional yang ada di dunia saat ini, mari kita jabarkan satu per satu.

Memiliki Dorongan yang Kuat dan Tahan Banting

Kelas menengah di India memiliki kultur yang cukup unik. Persaingan antar individu di India sangat kental dan kuat. Boleh dikatakan, tidak ada yang namanya “urutan kedua” dalam budaya kelas menengah mereka. Maka tak jarang dengan kultur seperti itu, tidak ada keluarga kelas menengah di India yang tidak menanamkan budaya bersaing yang kuat sejak dini. Belum lagi ketika mereka berjuang untuk mendapatkan beasiswa ke luar negeri. Dapat dipastikan orang yang hanya...(more)

Answered Dec 13, 2016

Karena Nokia terlambat untuk memperbarui sistemnya dengan Android.

Answered Aug 16, 2017
Muhamad Fakhrurrozi
ITB 2014 | Rumah Kepemimpinan R2-Bandung Angkatan VIII

1. Jaringan Besar di AS 30 Tahun Yang Lalu

2. Bahasa Inggris yang Baik

3. Pendidikan Kelas Dunia dalam Bidang IT

4. Gaya Kepemimpinan dan Manajemen yang Partisipatif

Answered Feb 3, 2018
Anonymous

Dengan jumlah populasi penduduk nomer 2 terbesar didunia. kuantitas orang cerdas dari india juga semakin banyak. 

Answered Apr 2, 2018
Anonymous

The information is very special, I will have to follow you, the information you bring is very real, reflecting correctly and objectively, it is very useful for society to grow together run 3

Answered Aug 26, 2019