selasar-loader

Siapa Abraham "Haji Lulung" Lunggana, mengapa ia dipecat dari Partai Persatuan Pembangunan dan apa kesalahannya?

Last Updated Mar 15, 2017

3 answers

Sort by Date | Votes
Yohan Wahyu
Peneliti politik

UI3K3N-OGmcXQ8FPwcus_UrUhr25UjKc.jpg

Membaca Lulung 

Abraham Lunggana atau lebih dikenal dengan nama Lulung adalah ikon di PPP DKI Jakarta. Publik tentu masih ingat bagaimana Lulung dulu yang paling getol melawan Ahok, terutama sejak konflik Ahok dengan DPRD DKI. Sebagai salah satu wakil DPRD DKI Jakarta dan Ketua DPW PPP DKI Jakarta, tentu Lulung memiliki konstituen yang masif di Ibukota. Konfliknya dengan Ahok yang kemudian sampai menjadi viral di media sosial, bahkan kemudian Lulung menjadi "bintang meme", seperti gaya rambutnya, menjadikan Lulung lahir sebagai ikon politik di Ibukota.

Saya melihat Lulung sebagai sosok politikus yang istiqomah. Sikapnya terhadap Ahok adalah salah satu yang membuktikan itu. Sampai-sampai ketika DPP PPP versi Djan Faridz memecat Lulung, politisi asli putra Betawi ini tenang-tenang saja. Bahkan, Lulung cenderung menolak tawaran kubu PPP versi Romahurmuzy untuk bergabung di partainya. Namun, Lulung tidak berniat menyeberang ke PPP pimpinan Romahurmuzy tersebut. Lulung menanggapi santai pemecatan oleh PPP kubu Djan Faridz karena mendukung pasangan Anies-Sandi di Pilkada DKI. Padahal, PPP kubu Djan Faridz sudah melabuhkan dirinya ke pasangan Ahok-Djarot.

Lulung tetap setia menjadi kader PPP bersih Djan Faridz dan santai saja dengan pemecatannya. "Pemecatan itu lucu-lucuan," katanya menanggapi santai. Lulung mungkin menyadari tidak ada yang abadi dalam politik; kawan dan lawan pun tak ada yang kekal di politik. Kepentingankah yang kekal dalam politik. Begitulah, boleh jadi Lulung masih menyimpan kepentingan politik yang lain.

Answered Mar 15, 2017
Suhardi El-Behrouzy
Pemerhati Politik, Alumnus Pascasarjana Universitas Kebangsaan Malaysia (UKM)

jd6NJZD3yO6tVwwtqnWYzIaJ0rVRP7S8.jpg

Haji Lulung adalah salah satu politikus PPP yang namanya moncer di Tanah Air. Hal ini ditandai sejak “pertelagahannya” dengan Basuki Tjajaja Purnama alias Ahok. Jabatannya sebagai Ketua PPP DKI juga semakin membuatnya menjadi tokoh yang cukup diperhitungkan di Jakarta, apalagi ia anak jati Betawi asli.

Pemecatan Haji Lulung dari PPP Djan Fariz sesungguhnya mudah dibaca, yakni ketidaktundukan Haji Lulung kepada keputusan partai dalam mendukung Ahok-Djarot serta publikasi haji Lulung dalam mendukung pasangan Anies-Sandi di Pilkada DKI. Namun, tidak mudah memahami terkait strategi politik yang sedang dijalankan PPP kubu Djan Faridz, mengingat PPP Romahurmuzy hingga kini belum menyatakan dukungan politiknya. Beragam strategi sedang dijalankan oleh kedua kubu dalam menguatkan legalitas kepengurusan dan bargaining politik. Pilkada DKI boleh jadi merupakan semacam test case untuk menyatakan kepada pemerintah, kubu mana yang benar-benar berkoalisi dan memegang teguh janji kebersamaan.

Terkait keengganan Haji Lulung untuk mendukung Ahok-Djarot dalam Pilkada DKI, saya melihatnya lebih kepada panggilan hati dan pandangan politiknya. Bagi Haji Lulung, politik itu tidak selalu bicara menang dan kekuasaan, tapi menyangkut nurani yang tidak bisa dibohongi. Apalah artinya kursi Ketua PPP DKI, bila dirinya tidak lagi dihormati, dihargai, dan dilihat sebagai tokoh yang memiliki konsistensi. Bagi Haji Lulung, lebih baik kehilangan jabatan daripada kehilangan kepercayaan. Masa depan politiknya tidak akan habis dan mati bila tidak menjadi Ketua PPP DKI. Buktinya, beberapa partai telah membuka pintu hatinya untuk Haji Lulung.

Answered Mar 15, 2017
Shendy Adam
Belajar Politik dan Pemerintahan di UGM (2004-2008)

LWR1CrD5U7wxxOFEuBeVRLQtb8WCmWPp.png

Abraham Lunggana alias Lulung adalah Wakil Ketua DPRD Provinsi DKI Jakarta yang berasal dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Ia dipecat oleh kepengurusan PPP versi Djan Faridz. Kesalahan yang menjadi alasan pemecatan Lulung adalah karena yang bersangkutan tidak mengikuti garis kebijakan partai. Pemicunya adalah dukungan yang Lulung berikan kepada pasangan calon gubernur dan wakil gubernur Anies Baswedan-Sandiaga Uno. Seperti diketahui, PPP (versi Djan) mendukung duet petahana.

Pertanyaannya, kenapa Lulung baru dipecat sekarang? Bukannya sejak putaran pertama ia sudah membangkang dengan mendukung Agus-Sylvi?

Ada benang merah antara Djan, Lulung dan Basuki. Adalah Tanah Abang yang menghubungkan mereka. Politik selalu soal siapa mendapat apa, kapan, dan bagaimana. Saya tidak sepakat dengan Suhardi El-Behrouzy yang menyebut keputusan Lulung dilandasi panggilan hati. Tidak sesederhana itu.

Lulung adalah 'penguasa' Tanah Abang. Sila dicek ke mana larinya setoran uang parkir dan pungutan dari PKL seantero Tanah Abang. Sulit untuk mengatakan ini sebagai premanisme, karena sebagian aksinya dibungkus dengan perusahaan jasa keamanan yang dia dirikan. Ketika Pemprov DKI Jakarta (di bawah kepemimpinan Basuki) berusaha menata kawasan 'The Brother Land', kepentingan Lulung adalah yang paling terusik.

Kita tinggalkan dulu Lulung. Mari bicarakan soal Djan. Ia adalah bos dari PT. Priamanaya Djan International. Perusahaan ini sudah lama bersengketa terkait proyek Blok A. Kalau melacak di Mbah Google, keputusan hukum sepertinya sudah inkracht. Priamanaya harus menyerahkan kembali Blok A ke Pemprov DKI Jakarta (melalui PD Pasar Jaya).

Saya tidak tahu apakah keputusan itu sudah dieksekusi. Pastinya Djan tetap punya kepentingan untuk cawe-cawe pengelolaan pusat grosir yang konon terbesar di Asia Tenggara ini.

Makanya, Djan baru memecat Lulung sekarang, saat pilkada sudah memasuki babak final antara gubernur petahana melawan Anies-Sandi. Djan seolah ingin menunjukkan ke Basuki, 'gue serius lho dukung elo'.

Wajar kalau Lulung santai saja. Ia bahkan menyebut pemecatan ini lucu-lucuan sahaja. "Kalau hubungan pribadi dan pekerjaan saya tetap sama dia (menjalin hubungan dengan Djan), tetapi hubungan politik kami boleh beda pendapat," kata Lulung seperti disitat Kompas.com.

Answered Mar 15, 2017