selasar-loader

Benarkah peran media mainstream semakin terdesak oleh media sosial yang kontennya diisi para netizen?

Last Updated Nov 18, 2016

Selama lebih satu abad, media cetak berjaya dan sisa kejayaannya masih terasa sampai saat ini. Namun seiring dengan perkembangan dunia digital, khususnya Internet ditemukan Tim Berners-Lee tahun 1990, media menjadi lebih mudah dibaca dan lebih cepat dibaca dalam format digital. Kehadiran blog dan media sosial di mana para penggunanya (netizen) dapat membuat sendiri kontennya lambat-laun akan mengancam eksistensi media arus utama.

7 answers

Sort by Date | Votes
Pepih Nugraha
Mendalami ilmu jurnalistik sekaligus praktisi dengan menjadi jurnalis

Hasil gambar untuk berbagai media sosial

via warungkomputer.com (SUM) 

Ada anggapan lama, kehadiran media baru tidak lantas meniadakan peran dan keberadaan media lama. Contoh hadirnya radio tidak lantas menggantikan peran media cetak (koran), hadirnya televisi tidak lantas menggusur radio dan koran, kehadiran media online di internet pun tidak lantas menggusur koran, radio, dan televisi. Persoalan terkini adalah bagaimana dengan kehadiran media sosial?

Kehadiran media sosial, dimulai dengan hadirnya situs pertemanan seperti Friendster, Blog, Facebook, Twitter, Instagram, dan bentuk media sosial lainnya dengan karakteristik yang sama, yaitu konten diisi para penggunanya. Dahulu, pemilik media konvensional, kalau boleh saya menyebutnya demikian, tidak terlalu khawatir dengan kehadiran media baru ini. Pernah ada kekhawatiran bahwa media online akan "menggerus" koran, radio, dan televisi karena karakteristik media online yang bisa "memasukkan" seluruh unsur cetak, foto (grafis), audio, dan video, tetapi ketakutan itu tidak menjadi kenyataan.

Sekarang, mengapa media sosial seperti Facebook menjadi "momok" bagi media-media konvensional dan bahkan media online sekaligus?

Jawaban saya adalah karena di Facebook ada kerumunan orang yang jumlahnya hampir menyentuh 2 miliar di seluruh dunia dan mereka itu menghasilkan KONTEN. Sekali lagi, mereka para pengguna Facebook itu melahirkan dan menciptakan KONTEN.

Inilah yang kemudian ditakuti media-media lama sebelumnya yang saya sebutkan tadi, betapa Facebook walaupun tidak memasang spanduk iklan secara vulgar dan bahkan tidak memiliki account excecutive tradisional, dia akan menjadi "media sosial" terkaya dalam waktu dekat karena dua hal itu, yaitu crowd (kumpulan) manusia yang banyak dan konten yang dihasilkan oleh mereka. Dalam istilah media sosial disebut Users Genereted Content (UGC).

UGC inilah yang kemudian bisa mengalahkan jurnalis pada media arus utama dari sisi kuantitas (jumlah). Memang tidak dari sisi kualitas. Tetapi, banyak juga konten yang berkualitas di media sosial.

Saya ambil pembanding kecil saja. Jika pada media arus utama seperti media online dengan 200 wartawan "hanya" bisa menghasilkan konten sebanyak 400--500 berita, bagaimana dengan media sosial yang tidak punya wartawan tetapi bisa menghasilkan jutaan bahkan miliaran konten. Kalau saja dalam 1 juta konten itu ada 1 persen saja konten yang berkualitas dan bermanfaat, maka akan ada 10.000 konten berkualitas dan bermanfaat yang dihasilkan Facebookers.

Persoalan lainnya, ada indikasi saat ini bahwa isu yang tengah bergejolak di media sosial diikuti dan dipantau oleh media arus utama. Ini berarti, Facebook menjadi semacam alat pengukur trending topic bagi siapa pun, termasuk media massa konvensional. Lagi-lagi soal kecepatan, tatkala seseorang atau pengguna users bisa mendapatkan sendiri informasinya dari Facebook, sementara dalam waktu bersamaan media online menggarapnya di newsroom, informasi apalagi yang tersisa buat media massa itu?  

"Hantu" lainnya adalah media sosial semacam Facebook itu tidak pernah berhenti berpikir dan berinovasi. Beberapa waktu lalu, Facebook meluncurkan fitur Instant Articles, di mana sebagai media sosial yang tidak memiliki konten kredibel seperti yang dihasilkan media arus utama, Facebook ingin "mengambil" semua artikel kredibel dari media mainstream itu dengan satu kerja sama.

Cara kerjanya sederhana. Facebook mengambil konten dari media mainstream, si media mainstrem mendapat traffic karena pembaca Facebook yang masif itu. Konten media mainstream yang diambil Facebook bisa pula diisi iklan dengan pembagian yang disepakati. Akan tetapi, pengguna Facebook dapat menikmati konten media kredibel yang ditulis wartawan seluruh dunia tanpa harus membaca tautan berita, tetapi langsung di "media" Facebook.

Itu sebabnya saya berani berpendapat bahwa jika tanpa inovasi dari sisi konten, maka keberadaan media arus utama dalam berbagai bentuknya (cetak, audio, televisi, online) akan terdesak oleh keberadaan Facebook. Mereka akan menjadi "hamba" dari Facebook yang sekarang sudah tercermin dari kerja sama media dengan Facebook dalam Instant Articles. Pilihannya memang cuma dua, yaitu bekerjasama dengan Facebook atau menjauh dari Facebook.

Kedua pilihan itu punya risiko masing-masing. Tetapi melihat meruyaknya Facebook sampai ke pelosok desa dan tengah lautan (ingat Facebook punya "wi-fi global" yang bisa menjangkau area mana pun), maka pilihan paling realistis bagi media mainstream adalah bekerja sama dengan Facebook.

Answered Dec 5, 2016

pada waktunya, media massa konvensional akan tergerus oleh jamannya sendiri. dengan perkembangan era digital yang sedemikian kuat dan progresif, maka media-media mainstream akan menemukan jalannya sendiri untuk ditinggalkan generasi digital. hanya menyisakan pembaca-pembaca tradisionalnya saja. di era digital yang sangat terbuka dan lessborderer, maka pembaca adalah raja bagi berita yang dibacanya. keterlibatan netizen menjadi keharusan dlm mengisi ruang-ruang bebas untuk menulis, menceritakan, memberitakan dan juga mendramatisasinya.

Answered Jan 13, 2017
Wilingga Wilingga
Menulis, menulis, menulislah

Benar, Pers itu sekarang sedang berada dipersimpangan. Masyarakat  sudah banyak yang termakan berita hoax. Berita itu merupakan berita yang dibuat sendiri oleh netizen. Ini merupakan perkara yang sangat menyedihkan. Contohnya saja yang terjadi di Amerika Serikat. Pers di Negara tersebut tidak pernah memberitakan Trump baik, selalu berita yang sesuai adanya dengan pribadi Trump. Trump arogan, jahat, jelek atau lainnya. Namun, masyarakat di Negara tersebut lebih percaya dengan saudaranya, temannya atau pacarnya yang ada di media sosial. Nah mereka ini yang selalu membagikan berita hoax. Ini yang saya bilang adalah peristiwa yang menyedihkan. Pada akhirnya, dikarenakan berita hoax, atau sudah kalahnya pers dibanding media sosial, jadilah Trump memenangkan pemilihan presiden.

Answered Jan 17, 2017
Achmad Humaidy
Freelance Writer; Membaca, Menulis, dan Menjelajah Dunia Maya; My IG:@me_eksis

l-y8CwgmZVj0qBsHu9vgFBKGoxGYS6YQ.png

via technofaq.org

Benar. Media mainstream tidak berpihak kepada rakyat. Mereka lebih sering ditunggangi oleh kepentingan sekelompok golongan. Netralitas media sudah tak terlihat.

Sementara, netizen mulai berani unjuk gigi dengan beragam pilihan content yang lebih mendidik dan menghibur tanpa basa-basi. Meskipun demikian, netizen harus lebih bijak lagi dalam menggali informasi agar konten yang disiarkan melalui blog dan dan media sosial tidak menyebarkan berita kebohongan (hoax).

Answered Feb 14, 2017

 

9FX6K-nBH-ZZ7odZcMFxgXngLWDcZSZM.jpg

via pesanlogo.files.wordpress.com (KAM)

Semoga tidak ada kesalahan. Media mainstream itu contoh nya seperti detik.com, kompas, liputan6, replubika adalah sebagian dari media mainstream. Dimana konten media tersebut hampir semua isinya tentang berita. Itu yang saya ketahui tentang media mainstream. 

Sedangkan media sosial yang konten nya di isi dengan netizen itu seperti path, instagram, facebook, youtube, twitter, blog dll. Dimana di media sosial tersebut konten yang di tuangkan lebih ke kehidupan pribadi para netizen, keseharian para netizen, apapun yang mereka share di media sosial tersebut meliputi kegiatan mereka. Mulai dari kegiatan dirumah, dijalanan, dikampus, di kantor, kuliner, jalan-jalan, bergosip dll nya. 

Sudah dipastikan kedua media tersebut sangatlah berbeda di jaman sekarang. Dimana khalayak lebih banyak menggunakan media sosial yang konten nya di isi oleh netizen nga sendiri. 

Dari pertanyaan "Benarkah peran media mainstream semakin terdesak oleh media sosial yang konten nya di isi oleh netizen nya sendiri?". Jawaban saya adalah iya. Karena dijaman sekarang sudah jelas kita semua tau bahwa khayalak sangat mengikuti perkembangan jaman. Dimana khalayak menginginkan sesuatu yang serba instan. 

Karena jaman sekarang khalayak di kuasai oleh generasi Y atau generasi milenium atau generasi anak muda. Dimana generasi tersebut menyukai segala sesuatu yang mudah, simple, gampang, tidak mau susah dan semua serba instan. Yang generasi itu tidak hanya ingin mengetahui semua tentang berita saja. 

Sedangkan media sosial mainstream lebih diminati oleh khalayak generasi tua. Atau yang sudah hidup lebih lama dibanding generasi Y. Dimana mereka tidak terlalu suka mengikuti jaman di era sekarang. 

Sosial media yang konten nya di isi oleh netizen itu lebih suka segala sesuatu yang instan. Karena, misal hanya membuka 1 situs bisa untuk membuka semua hal yang dia inginkan. Seperti youtube. Disana kita bisa melihat apa saja tidak hanya 1 konten. Kita bisa melihat berita, lagu-lagu, tutorial make-up, tutoriol hijab, travelling, kuliner dll. 

Sedangkan di sosial media mainstream konten nya lebih ke berita. Walaupun banyak juga konten nya berisi tentang hal lain seperti di instagram, youtube, twitter, path, facebook, blog dll nya. 

Di zaman yang serba modern ini, netizen lebih menyukai melihat dan mencari informasi dengan tampilan yang menarik. Berbagai pengguna media sosial berlomba-lomba menyajikan informasi di media sosial dengan tampilan semenarik mungkin. Netizen menyukai melihat dan mencadj informasi di media sosial karena tampilannya yang lebih eye catching dan tidak kaku seperti media mainstream.

Jadi, itulah jawaban saya dari pertanyaan Bapak Gantyo untuk ujian tengah semester ini. Dimana intinya bahwa media mainstream sudah kalah saing dengan sosial media di jaman sekarang seperti path, instagram, twitter, blog, facebook akibat dari gaya hidup dan kebutuhan khalayak di jaman sekarang. 

 

Answered Apr 9, 2017
Rinhardi Aldo
Penulis dan Pekerja - Teknik Jaringan Akses SMK Telkom Jakarta

hzfA5SBHQki9HKU11ofVX2SIGCm3beZO.jpg

Terdesak dalam hal apa? Terdesak dalam jumlah pengunjung, pemirsa, atau penonton? Terdesak berdasarkan revenue sales untuk iklannya?

Media mainstream pada umumnya sering dimaknai sebagai media yang mempunyai budaya kerja dengan menggunakan platform yang common, seperti koran, televisi, radio, dan semacamnya. Namun, kalau di dunia internet, media mainstream umumnya sering dimaknai sebagai media yang isinya kebanyakan adalah jurnalis dan tak bisa diisi kontennya oleh kita-kita yang nonjurnalis. 

Jika dikatakan terdesak, rasanya tak juga. Semuanya bisa seiring dan sejalan. 

gambar: socialsongbird.com

Answered May 11, 2017
Mugniar
Blogger www.mugniar.com | Freelance writer

65Bp1Z3410o-dNbLtq2mK2vS_OuNBouf.jpg

Dalam hal peminat, kelihatannya seperti terdesak, ya? Apalagi anak-anak sekarang sangat familiar dengan dunia digital, mereka lebih suka mengakses informasi via gadget. Kalau tipikal media mainstream yang hanya mengejar jumlah pembaca tanpa memperhatikan konten, barangkali iya - akan terancam oleh media sosial tetapi sebenarnya masing-masing punya kekhasan tersendiri.

Televisi misalnya, masih sulit tergeser oleh media lainnya. Masih banyak perusahaan yang memilih televisi sebagai media beriklan. Bisa dilihat pada tulisan saya yang mengambil data dari Katadata:

http://tz.ucweb.com/6_HBVS

Saya mengutip dari Katadata:

Televisi masih menjadi pilihan utama para produsen untuk promosi. Meskipun mahal, beriklan di televisi dianggap lebih tepat sasaran dibandingkan dengan media lainnya. Munculnya fenomena sosial media dan media online belum mampu menggantikan televisi sebagai sarana beriklan utama. Sementara belanja iklan di media cetak, baik koran, majalah dan tabloid justru menunjukkan penurunan. Data Nielsen Advertising Services menunjukkan bahwa belanja iklan televisi pada 2016 tumbuh 22% menjadi 103,8 triliun rupiah. Monitoring belanja iklan yang dilakukan Nielsen meliputi 15 stasiun televisi nasional.

Ini berarti, masih banyaknya pemirsa televisi (termasuk yang nonton streaming).

 

sumber gambar: kompasiana.com

Answered Jun 9, 2017

Question Overview


11 Followers
2049 Views
Last Asked 3 years ago

Related Questions


Benarkah peran media arus utama atau media mainstream semakin terdesak oleh media sosial yang kontennya diisi para netizen?

Apa yang membuat Anda kecanduan media sosial seperti Facebook, Twitter, atau Instagram?

Bagaimana cara mengatasi kecanduan media sosial?

Apa yang membuat orang betah berlama-lama di suatu situs/web?

Mengapa rakyat Tiongkok bisa hidup tanpa media sosial buatan AS seperti Facebook dan Google?

Apa yang menyebabkan turunnya pamor Kaskus?

Siapakah orang Indonesia yang pertama sekali memiliki akun di Facebook?

Ada berapa grup WhatsApp yang Anda ikuti? Sesungguhnya di grup WA apa sajakah Anda aktif? Mengapa?

Apakah Kompasiana itu?

Bagaimana menjaga objektivitas seorang Jurnalis?

Apa perbedaan antara jurnalisme televisi dan jurnalisme cetak?

Kenapa pemberitaan setiap media nasional memiliki perspektif berbeda?

Siapa Itu Sukarni Ilyas yang dikenal dengan nama "Karni Ilyas"?

Siapa itu Pepih Nugraha?

Apa yang dimaksud dengan 5W 1H dalam menulis berita?

Apa yang disebut "Nilai Berita" atau news value?

Siapa Jakob Oetama dalam dunia jurnalistik dan media Indonesia?

Mengapa media disebut "Pilar Keempat" dalam demokrasi?

Apa pendapatmu tentang isu-isu yang berkembang di media mainstream belakangan ini?

Apa pendapatmu tentang media cetak sekarang?

Siapakah yang mempopulerkan "Om Telolet Om"? Mengapa bisa populer di kalangan netizen?

Apakah skill atau keahlian paling utama yang harus dimiliki seorang pemimpin redaksi?

Apa yang membuat Harian Kompas sebagai media cetak lebih unggul dan bernilai dibanding media cetak lain?

Apa yang membuat Harian Republika sebagai media cetak lebih unggul dan bernilai dibanding media cetak lain?

Apa yang membuat Harian Media Indonesia sebagai media cetak lebih unggul dan bernilai dibanding media cetak lain?

Negara mana di Afrika yang paling maju dari sisi industri teknologi informasi dan internet?

Apa yang Anda rasakan jika hidup tanpa gawai (gadget) seperti ponsel, tablet, atau komputer berinternet barang seminggu saja?

Bagaimana pendapat Anda tentang fenomena menjamurnya vlogger di Indonesia?

Apa yang Anda pikirkan ketika mendengar istilah 'Youtube lebih dari TV' ?

Apakah konsep kedaulatan negara masih relevan dalam konteks internet?

Seperti apa pedoman perlindungan HAM yang paling ideal di masa derasnya arus informasi internet seperti ini?

Seperti apakah batasan kebebasan berekspresi di Internet yang tidak melanggar peraturan?

Apa yang dimaksud "fact is sacred" dalam menulis berita?

Apa yang dimaksud "Cub Reporter"?

Apa yang disebut "Hook" dalam menulis berita?

Apa yang dimaksud "Firsthand Account" dalam meliput peristiwa?

Bagaimana membedakan antara "Firsthand Account" dan "Secondhand Account" dalam menulis berita?

Siapakah Trias Kuncahyono?

Efektifkah aksi boikot Metro TV melalui Petisi?

Model bisnis apa saja yang biasa dilakukan oleh media online?