selasar-loader

Apa enaknya atau tidak enaknya hidup di zaman Orde Baru saat Presiden Soeharto berkuasa?

Last Updated Mar 14, 2017

5ZHX8cMpsqF5KtLYFSKleMwSzKhORq3D.png

8 answers

Sort by Date | Votes

V98rIPrDGSWXqhBWXNca4Fw2GAH-ovD-.jpg

Sejujurnya, saya tidak begitu merasakan Orde Baru, karena hampir selama Orde Baru saya di luar negeri. Terus terang, saya keluar negeri karena hidup susah di akhir "Orde Lama" dan permulaan Orde Baru. Setiap kali saya pulang, saya temui kemajuan yang banyak di dalam negeri. Bahkan, bisa saya katakan kemajuan terbesar itu adalah pada saat Orde Baru, paling kurang landasan bagi kemajuan tersebut.

Tentu berita-berita negatif juga muncul yang kemudian berakhir pada kejatuhan Orba. Mungkin juga banyak kesalahan beliau, tapi Soeharto layak dianggap sebagai pahlawan.

Answered Mar 14, 2017
Nova Riyanti Yusuf
Ketua Umum P'himpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia #JakartaChapter

JyNWdeQZZYy52QhWoOx3-LkMP4JURYNY.jpg

Pada zaman Orde Baru, sepertinya saya hidup dalam kenyamanan. Ayah saya bekerja sebagai bankir di sebuah bank pemerintah selama 35 tahun masa hidupnya. Saya hanya ingat bahwa dalam kenyamanan, ayah saya sangat strict tentang kedisiplinan untuk modal hidup dalam rezim apa pun. Namun cukup jelas, pada zaman Orde Baru, kehidupan saya dan keluarga tidak ada masalah finansial, bahkan ibu saya sangat aktif ber-Dharma Wanita, sehingga tidak terhindarkan menjadi "agen" praktik politik praktis yang sepertinya secara nirsadar telah mengakar sebagai sesuatu yang "baik-baik saja".

Namun, di era yang sarat KKN, sewaktu ayah saya meninggal, direktur bank tempat ayah saya pernah bekerja (saat meninggal ayah sudah pensiun) pun hadir dan mengatakan dalam sambutannya bahwa ayah saya adalah salah satu dari pegawai bank yang terbersih. Saya yang saat itu berusia sekitar 21 tahun, merasa lega bahwa ayah saya adalah panutan dalam hal kejujuran dan integritas. Dan jika saya runut, maka pujian Pak Dirut bisa dibuktikan.

Tidak dipungkiri, pada zaman Orde Baru, saya kerap mendengar cerita dari ibu saya bahwa banyak kolega ayah saya yang mengalami hukuman "turun pangkat" karena korupsi. Hal ini tidak pernah terjadi pada ayah saya, sehingga saya pun bergemuruh dengan perasaan bangga saat mendengar sambutan Pak Dirut saat itu. Kemudian, almarhum ayah saya ternyata antikolusi dan nepotisme. Jika biasanya bankir-bankir di bank tempat ayah saya bekerja dulu kerap memanfaatkan kekuasaan untuk mendudukkan turunan, sanak saudara, dan lain-lain untuk bekerja di bank tersebut, almarhum ayah saya tidak demikian. Anak-anaknya disuruh berjuang sendiri mencari pekerjaan, tidak ada menggunakan jalur kekuasaan orangtua. 

xcB5yg35C8gvsKim7T_JN-CJveqVdQzT.jpg

Jadi, tidak semua pejabat Orde Baru sudah pasti KKN, walaupun semua keran itu terbuka sehingga mudah dikerjakan tanpa ada KPK yang memantau. Dikembalikan kepada orangnya...

Bagi saya sendiri, awal kegelisahan saya dengan zaman Orde Baru adalah pada saat saya mempunyai minat menulis yang begitu besar dan bersiap mendaftar ke Stanford University, kemudian ibu saya mencegah karena "kamu akan sulit hidup." Ada dua hal yang saya pelajari dari larangan keras tersebut. Ibu saya tidak pernah memproyeksikan bahwa saya akan hidup sebagai perempuan yang bergantung secara finansial kepada laki-laki. Secara tidak langsung, ibu menyiratkan bahwa menjadi penulis di zaman Orde Baru akan erat dengan "susah income". Karena kebebasan ekspresi tidak ada semasa SMP, saya menuliskan cerpen dalam bahasa Inggris dengan pensil, kemudian dibantu teman menuliskan dengan lebih rapi disertai ilustrasi-ilustrasinya, dan beberapa lembar kertas tersebut menjadi asupan teman secara terbatas.

Isi cerita saya sudah nyeleneh, makin tidak mungkin lagi bisa berkembang dalam era Orde Baru. Kemudian, semasa SMA, saya aktif menjadi Editor Suara Tarakanita Pulo Raya, dan memasuki fase "mungkin depresi" karena walaupun saya memilih jurusan A1 (Fisika) saya kekeuh ingin kuliah Creative Writing di Stanford. Tetapi, karena tidak mau membuat ibu saya sedih, saya pun memilih sekolah FK last minute saja. Bahkan sempat menantang diri, kalau semester satu saya jeblok, ya, artinya memang bukan ini jalan hidup saya. Ternyata, jalan hidup saya memang menghantarkan saya menjadi dokter dan spesialis kedokteran jiwa.

Setelah reformasi, dan setelah saya menjadi dokter umum, baru ibu saya mengizinkan untuk menulis, dan saya menerbitkan secara independen novel Mahadewa Mahadewi pada tahun 2003 secara independen (yang kemudian hak penerbitan diambil alih oleh Gramedia Pustaka Utama), dan BBC pun mentahbiskan saya dalam jajaran penulis "Sastra Wangi" yang konotasinya masih debatable karena dianggap sexist.

Answered Mar 15, 2017

cU8JTOC9IGIuHueR95f27-v5FzLogFj-.jpg

Saat Presiden Soeharto berkuasa, saya masih anak-anak. Yang saya ingat dan saya hapal betul adalah harga BBM yang sangat murah. Salah satu pom bensin yang kerap kali dikunjungi di Kota Bandung adalah pom bensin di kawasan Jalan Badak Singa. Kini, lokasi tersebut sudah menjadi Taman Dago yang berdekatan dengan Jembatan Layang Pasupati, Bandung.

Waktu itu, harga premium yang masih saya ingat di antara rentang Rp350 hingga Rp700 per liter. Setelah itu, pecahlah gerakan Reformasi yang dikomando oleh mahasiswa dari seluruh provinsi.

Saat masih anak-anak usia SD, saya tentu tak mengenal terlalu banyak intrik politik, bahkan kondisi ekonomi. Yang jelas, saat itu, saya masih merasakan piknik murah, setidaknya setahun sekali bersama keluarga besar. Setelah krisis ekonimi pecah dan harga-harga melambung tinggi, yang saya tahu, orang tua mengajarkan untuk hidup prihatin dan sederhana.

Memori masa kecil yang paling saya ingat pada zaman Orde Baru adalah nilai mata uang 100 perak yang laku untuk membeli 4 biji permen dan 4 biji kerupuk kaleng. Sekarang, kerupuk kaleng atau kerupuk blek di kampung sudah seharga Rp1000 per biji. Sementara, untuk permen, saya jarang sekali membeli ketengan. Biasanya, permen didapatkan dari uang kembalian belanja atau membeli satu kantong penuh permen kemudian dibagi-bagikan.

Sementara itu, kondisi keamaan pada zaman Orba bisa dikatakan serba mencekam. Banyak sekali larangan-larangan tak tertulis yang saya dengar dari obrolan orang tua. Salah satunya berkaitan dengan PKI. Rasanya tabu sekali untuk membicarakan PKI, bak sebuah nama yang tak boleh disebut dalam film Harry Potter, namun semua orang sudah memahami nama tersebut.

Pernah juga suatu saat kondisi rumah mencekam karena ada fitnah yang dialamatkan pada keluarga. Sejak saat itu, Ayah saya hanya menyiapkan beberapa bambu runcing yang disimpan di balik pintu ruang tamu. Tapi, hingga kini, saya tak tahu alasannya dan tak pernah menanyakannya hingga Ayah tiada.

Suasana mencekam tersebut tak berlangsung lama karena kami dilindungi polisi yang membawa sejata lengkap. Baru kali itu, saya benar-benar melihat polisi membawa senjata laras panjang masuk ke dalam rumah. Bapak-bapak polisi ini menggunakan pakain khas: jaket hitam dan celana jeans. 

Padahal, saat itu, kami hanya tinggal di kampung. Kondisi lingkungan boleh dikatakan aman, namun kami tetap waspada dengan benturan-benturan yang dilakukan oleh oknum-oknum yang memanfaatkan suasana yang tidak kondusif di tengah warga. Lagi-lagi, saya tak mengerti apa alasan dan tujuannya.

Hingga saat ini, yang tersisa ternyata reduksi sejarah. Saya baru tahu bahwa semua dilakukan demi kursi kekuasaan. Namun, kata orang pintar, kini Soeharto tengah berdzikir, mengenakan pakaian putih-putih dan kerap lirih mengingat negeri yang dibangunnya. Sosok diktator yang menakutkan itu katanya kini menjadi pribadi yang alim dan bersahaja, tengah menunggu ditiupnya terompet sangkakala dengan damai.

Mungkin, Ayah saya juga sudah bertemu dengannya di alam sana.

Answered Mar 16, 2017
Gantyo Koespradono
Mantan wartawan Media Indonesia, penulis dan dosen jurnalistik di IISIP Jakarta.

47eVCnMpM0DZHhxvbvM2Y5kGuQRS4AmB.jpg

Saya termasuk WNI yang beruntung, sebab pernah mengalami pemerintahan dengan presiden yang telah berganti sebanyak tujuh kali. Saat Presiden Soekarno memimpin negeri ini, saya masih bau kencur.

Meskipun masih ingusan, saya sedikit-sedikit mengetahui situasi politik dan ekonomi pada saat itu. Khusus menyangkut ekonomi, jika negara mengalami kesulitan ekonomi, Ibu biasanya mengeluh soal mahalnya kebutuhan pokok. Pada tahun 1964-an, saya pernah tinggal di Belitang, Sumatera Selatan. Ibu sering tidak punya uang untuk membeli sayur-sayuran atau beras di pasar. Ibu biasanya menyuruh kami, anak-anaknya, mencari kangkung atau genjer yang tumbuh liar di rawa sebelah rumah. Kami juga kerap tahu diri mancing ikan atau mencari lele agar bisa makan dengan lauk yang memiliki kandungan gizi tanpa harus mengeluarkan uang.

Di masa kepemimpinan Bung Karno, saya juga pernah merasakan dampak sanering (pemotongan nilai mata uang) dari Rp100 menjadi Rp1. Tabungan kami menjadi tak berarti. Uang yang sebelumnya kami tabung untuk membeli mobil-mobilan, akhirnya hanya bisa dipakai untuk membeli kerupuk. Dari buku-buku sejarah, akhirnya saya tahu bahwa pada saat Orde Lama berkuasa, negeri ini pernah mengalami inflasi hingga 600 persen! 

Semasa Orde Lama, pergolakan politik yang saya ingat hanyalah pemberontakan Gerakan 30 September/PKI yang akhirnya menyeret-nyeret Bung Karno dan di mata saya muncul "pahlawan" baru bernama Soeharto yang kemudian memproklamasikan kepemimpinannya dengan sebutan (rezim) Orde Baru.

Lewat Supersemar, Soeharto akhirnya ditetapkan sebagai presiden. Surat perintah 11 Maret (Supersemar) ditulis oleh Bung Karno di Istana Bogor. Isinya berupa perintah agar Soeharto yang waktu itu menjabat Pangkostrad mengamankan Jakarta yang pada tahun 1965-an masih panas. Belakangan, Supersemar itu ditafsirkan bahwa Presiden Soekarno memberikan kekuasaan kepada Soeharto sebagai Presiden yang kemudian dikukuhkan lewat Sidang MPRS. Sejak itu, saya mengingat bahwa Orde Baru di bawah kepemimpinan Soeharto mencanangkan pembangunan di segala bidang. MPR menghasilkan GBHN yang draft-nya sudah disiapkan oleh tim Soeharto.

Pemerintah kemudian menjabarkan GBHN dengan Repelita (Rencana Pembangunan Lima Tahun). Repelita dijadikan sebagai kesatuan bilangan untuk mengukur kesuksesan pembangunan ala Orde Baru. Oleh sebab itulah pada saat itu ada sebutan Repelita I, II, III, IV dan V. Pengetahuan tentang MPR, GBHN dan Repelita dijadikan bahan ajaran di sekolah-sekolah. Saya masih ingat guru pelajaran Civic (istilah Civic pernah diganti dengan PPKn) saya mengajarkan jika Repelita V telah selesai, maka Indonesia akan seperti Jepang yang punya MRT, gedung-gedung pencakar langit, dan masyarakatnya adil dan makmur.

Lima Repelita telah dilewati Soeharto, tapi Indonesia belum bisa seperti Jepang. Seperti Singapura pun belum. Belakangan, pembangunan infrastruktur, termasuk MRT di Jakarta dilanjutkan Presiden Joko Widodo yang terpilih melalui Pilpres secara langsung pada 2014.

Presiden-presiden setelah Soeharto praktis tidak melanjutkan apa yang sudah dirintis Soeharto. Yang saya ingat, Timor Timur menempati posisi semula sebagai provinsi (negara) yang mandiri saat BJ Habibie menggantikan Soeharto sebagai presiden.

Di masa pemerintahan Habibie yang singkat itu, keran kebebasan berpendapat dibuka. Siapa pun boleh menerbitkan media massa, tak perlu surat izin usaha penerbitan pers (SIUPP) yang dulu pernah menjadi momok orang-orang media. Syarat itu dipangkas lewat revisi UU Pers. Yang penting harus punya badan hukum.

Lewat sidang istimewa MPR yang mengharu biru, Abdurrahman Wahid (Gus Dur) terpilih sebagai Presiden. Tak banyak prestasi yang diraih Gus Dur. Namun, sejarah mencatat, dialah satu-satunya presiden yang berani melawan kelompok intoleran yang coba-coba membangkitkan DI/TII "gaya baru".

Di bawah kepemimpinan Gus Dur, Indonesia mengakui lagi sebuah agama, yaitu Konghucu, sehingga total ada enam agama resmi. Sebelumnya: Islam, Kristen Protestan, Katolik, Hindu, dan Buddha.

Di masa Gus Dur, kesenian tradisional Cina seperti barongsai bebas dipertunjukkan kapan dan di mana pun. Begitu juga huruf atau aksara Cina. Pada zaman Soeharto, barongsai dan aksara Cina haram hukumnya untuk diperlihatkan.

Sayang, kepemimpinan Gus Dur putus di tengah jalan karena mendapat rongrongan dari orang lewat partai yang dulu memilihnya.

Lewat sidang istimewa yang juga mengharu biru, Gus Dur digantikan Megawati Soekarnoputri. Di bawah kepemimpinan Megawati, lembaga Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) lahir. Hanya itu yang saya ingat.

KPK sampai sekarang tetap eksis, namun mereka yang doyan korupsi tak juga kapok-kapok. Korupsi tetap merajela hingga sekarang, tidak jauh berbeda dengan zaman Orde Baru yang korupsinya dilakukan secara eksklusif.

Setelah itu, muncullah Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang terpilih sebagai presiden lewat Pilpres secara langsung. Ia pengukir sejarah sebagai presiden pertama yang terpilih lewat pemilihan langsung. Ia juga merupakan pengukir sejarah sebagai presiden yang terpilih dua kali dalam pemilihan langsung dan menjabat presiden selama 10 tahun.

Sayangnya, selama 10 tahun itu, berdasarkan pengamatan saya, SBY kurang tegas dalam memimpin sehingga kelompok-kelompok radikal (intoleran) merasa mendapat angin dan menjadi besar seperti sekarang. Pemerintahan Joko Widodo ketiban pulung.

Pada zaman Orde Baru, Soeharto sangat menjaga stabilitas, terutama di bidang politik/keamanan dan ekonomi. Guna menjaga stabilitas politik dan keamanan, lembaga seperti Kopkamtib dan sejenisnya dilahirkan dan diperkuat. Kelompok-kelompok yang coba mempermainkan SARA ditumpas.

Orang model Rizieq Shihab pada zaman Soeharto, entah sejak kapan, pasti sudah masuk penjara, karena bagi Pak Harto, menjaga stabilitas politik jauh lebih penting daripada memelihara orang-orang (maaf) sinting.

Di era Orde Baru, kelompok minoritas merasa lebih aman dan terlindungi. Tidak seperti sekarang, terus merasa waswas dan diperlakukan sebagai warga negara Indonesia kelas dua.

Guna...(more)

Answered Mar 16, 2017

wDAC136JjPYWTkmfPBgmKpIARm2mbZLt.jpg

Saya lahir di keluarga guru. Buyut saya pun seorang guru dan kami adalah keluarga besar NU. Rumah buyut pada saat itu ramai sekali (sudah seperti open house) karena banyak orang tanya ini-itu ke buyut saya, tak terkecuali yang berasal dari golongan komunis. Tapi, kami bukan komunis.

Perkiraan orang, yang dibunuh tahun 1965 itu adalah PKI, komunis, dan gampangannya adalah orang jahat. Ini keliru dan perlu diluruskan.

Sederhananya, untuk menentukan apakah seseorang itu jahat atau baik, berbahaya atau tidak, makar atau bukan, perlu ada pembuktian melalui peradilan yang jelas. Tidak asal gebuk, tonjok, tusuk, dan tembak.

Saat ada pembunuhan tahun 1965, mendadak buyut saya hilang. Alasannya tidak bisa diterima: karena rumah kami sering didatangi orang komunis. Padahal, intensitas kedatangan tokoh NU ke rumah kami lebih sering. Tak hanya buyut, seluruh laki-laki di keluarga kami lenyap satu persatu. Bahkan juga seorang cucu laki-laki yang masih berusia 10 tahun. Hanya tersisa satu laki-laki, yaitu kakek saya, yang selamat karena minta perlindungan polisi. Polisi memberikan suaka, namun kakek harus pindah keyakinan. Ia pun memeluk Katolik sampai saat ini.

Sejak itu keluarga kami menutup diri dari orang luar.

Buyut putri saya tidak pernah menuntut apa-apa. Bahkan pembunuh buyut kakung sudah datang ke rumah untuk minta maaf. Buyut putri masih sempat membuatkan kopi dan bilang bahwa ia sudah memaafkan, namun pertanggungjawaban soal bunuh-membunuh tetap urusan Tuhan YME.

Lalu, inilah enaknya hidup di zaman Orba.

Saya masih SD saat Pak Harto menjabat. Tak bisa saya jelaskan secara lengkap tentang ini, karena yang saya ingat hanyalah hal-hal remeh. Yang jelas, waktu itu harga indomie hanya Rp.300,00 dan harga beras pun murah. Saya tak paham berapa harga bahan bakar karena kami tak punya kendaraan bermotor waktu itu. Sekolah saya pun dekat, cukup jalan kaki.

Namun sangatlah naif jika lalu muncul pemujaan dan pengkultusan Orde Baru dilakukan hanya karena alasan harga beras yang murah di tahun 1966-1998. Tahu kenapa? Karena rendahnya harga beras dan komoditi tersebut didapat dari hutang luar negeri yang kita bayar sampai saat ini. Mau tahu jumlah utang kita? Nih saya jembreng datanya.

4vOCMBB2YFrRoCSx4NVLjRt1_zUuzRPc.jpg

Di masa Orde Baru, gaji guru SD golongan II hanya cukup dimakan dua minggu. Jarang ada yang punya kesempatan bersekolah tinggi. Cuma mimpi. Kakek saya, sampai beliau pensiun dari profesinya sebagai kepala sekolah tahun 2001, masih tinggal di rumah sewa berlantai tanah. Barulah setelah pensiun, beliau bisa beli rumah. Itu pun sebagian menggunakan uang patungan dari anak-anaknya. Sekarang pertanyaannya:

  1. Apakah murahnya harga barang bisa menjamin kesejahteraan warga?
  2. Apakah di zaman Orde Baru banyak rakyat bisa beli rumah, mobil, dan punya tabungan?

Jadi, asumsi bahwa Pemerintahan Orde Baru bisa menyejahterakan dan membuat rakyat kaya adalah asumsi yang sesat.

UU Penanaman Modal Asing tahun 1967 adalah pintu masuk bagi Freeport untuk menguasai tambang emas Indonesia. Itu adalah produk hukum pertama Orde Baru yang diteken Pak Harto. Kita cuma kebagian sekitar 1% dari keseluruhan hasil tambang. Skema bagi hasil ini berlangsung selama puluhan tahun. Dampak lingkungan dari pertambangan emas tersebut perlu juga dipikirkan. Dari 100% bahan tambang, hanya sekitar 3% yang menghasilkan mineral berguna. Sisanya adalah limbah yang bernama "tailing" (bersifat racun).

Kini, rakyat Papua harus menderita karena jumlah limbah tailing yang cukup besar. Ada prakarsa untuk mengolah limbah ini menjadi kerajinan, tapi tak seimbang dengan jumlah limbah itu sendiri. Negara-negara yang tadinya berminat untuk turut serta dalam pengolahan limbah juga sudah menarik diri satu persatu. Jika Freeport kaya karena emas, maka rakyat Papua kaya dengan limbah emas.

Sebelum ngefans dengan Orde Baru, hendaknya dikaji dulu deh keterkaitannya dengan kasus KKN, pembantaian 1965, Tanjung Priok, Talangsari, Papua, dan hilangnya aktivis HAM. Itu semua manusia yang dibunuh, bukan ayam, kambing, atau burung.

Apa hilangnya nyawa manusia ini bisa terobati dengan murahnya harga beras? Hellaaawww?

Kalau sekarang Orde Baru masih berkuasa, tidak akan ada kebebasan berbicara dan berekspresi seperti saat ini. Kita semua pasti sudah di-"dor!" Hilang dari muka bumi. 

  1. Maksud glorifikasi Supersemar dan Orde Baru itu apa?
  2. Ingin menghidupkan kembali Orde Baru?
  3. Kangen dengan KKN, pembantaian, dan pembredelan pers?

Demokrasi kita sudah baik, namun belum sempurna. Ibarat jarum jam, jalannya harus maju. Jangan malah mundur lagi ke jaman Orde Baru. Ini kan aneh.

Sekian saja dari saya. Sudah panjang penjelasannya. Semoga bermanfaat.

Answered Mar 19, 2017
Bhayu Mahendra H.
Usahawan; Konsultan MSDM; bhayumahendra.com

mDdSWCLTakCnDhFwffLLbucqFSXDVB5m.jpg

Terima kasih kepada Kang Pepih sudah menanyakan pertanyaan ini. Maaf baru sempat menjawab karena tak mau sembarangan.

Menjawab pertanyaan ini, saya berusaha untuk adil dan proporsional. Tanpa data dan riset, jawaban saya hanya bersifat subyektif dan berdasarkan pada pengamatan pribadi.

Kita mulai dari enaknya dulu. Di masa Soeharto, ada doktrin "Trilogi Pembangunan". Salah satunya adalah "stabilitas nasional yang dinamis". Stabilitas ini terasa sekali di masyarakat, walau banyak caranya yang saya baru tahu setelah rezim tersebut tumbang. Stabilitas itu digambarkan seperti suasana aman, harga murah, kurs dolar terhadap rupiah yang bersifat tetap, ketersediaan barang memadai, keamanan mencukupi, dan rakyat berfokus pada kehidupan masing-masing saja.

Nah, tidak enaknya justru karena adanya ketidakadilan dan penindasan demokrasi. Secara ekonomi, hanya segelintir orang di "kroni Cendana" yang menikmati "keberhasilan pembangunan". Kita melihat anggaran negara dijadikan "bancakan" dan "the 1st family" bertingkah bak keluarga kerajaan. Tentu, ini merupakan ironi di sebuah negara demokrasi. Nah, demokrasi inilah yang paling ditindas. Kebebasan berserikat dan berkumpul serta menyatakan pendapat dengan lisan dan tulisan ditindas habis. Rakyat juga "dibohongi" bahwa posisi Indonesia sebagai "macan Asia" ternyata diraih dengan manajemen hutang luar negeri yang buruk. Dan tentunya, kita tahu Soeharto adalah koruptor terbesar di dunia. Wow!

Mungkin sementara itu dulu. Semoga saya bisa segera menulis jurnal di Selasar. Terima kasih.

Answered Mar 19, 2017
Syaifuddin Sayuti
Happy Holiday...

AeFZrsTe9uk9JyzG5b7nX8O0ME-cUSvR.jpg

Enaknya hidup di Era Orde Baru, saya tak banyak dipusingkan oleh persoalan ekonomi keluarga karena pada era tersebut, saya masih kecil hingga remaja. Seperti halnya ABG (Anak Baru Gede) yang tak pernah berpikir terlalu jauh soal itu, selama orang tua bekerja, saya sebagai anak tinggal pergi sekolah.

Dulu, harga-harga masih cukup terjangkau. BBM masih murah. Dolar pun dulu sekitar 2 ribu rupiah. Artinya, gaji pegawai biasa saja sudah mampu untuk hidup berkecukupan pada saat itu.

Hanya, tak enaknya, kebebasan bersuara banyak dibatasi. Saya ingat, saat SMA, saya ingin membaca karya Pramoedya Ananta Toer itu susahnya minta ampun. Tapi, saya dan teman-teman punya banyak akal untuk membaca karya Pram. Di SMA saya yang hanya berbatasan tembok dengan Kejagung, karya Pram beredar dari tangan ke tangan. Untuk membacanya, kami memang harus sembunyi-sembunyi, tidak bisa seterbuka membaca novel lainnya. Bahkan, Novel Pram kami beri sampul bunga-bunga untuk menyamarkan judulnya.

Karya Pram yang dilabeli sebagai karya sastra "kiri" jadi barang haram saat itu, sesuatu yang sungguh tak saya mengerti mengapa harus ada pelarangan bahan bacaan bagus seperti itu.

Di era Orde Baru saat itu, saya juga melihat banyak yang aneh di negeri ini, mulai dari anak-anak Presiden yang pegang banyak perusahaan, mendapat konsesi usaha berupa tata niaga cengkeh lah, mobil nusantara lah, bahkan mendirikan stasiun televisi tanpa modal dan mendompleng stasiun tv pemerintah. Mau protes? Tak ada salurannya.

Saat itu, hanya ada media mainstream, dan semuanya sudah dikuasai pemerintah. Berteriak lewat media? Mana ada media yang berani memuatnya.

Oiya, ada lagi yang aneh; televisi pemerintah isinya seremonial melulu. Jarang ada berita yang berisi peristiwa hard news.

Selain itu, setiap menjelang peringatan Hari Kesaktian Pancasila, film G30S/PKI selalu diputar di TV, seolah jadi film wajib tonton untuk semua rakyat. Bahkan, anak-anak sekolah pun wajib nonton di bioskop bareng-bareng. Buat anak-anak SD sih enak, jadi gak belajar.

Answered Mar 19, 2017
Agus Nina
Saya selalu gagal menjadi orang keren

ZcoXCBtVDtqy9Yxz9rqXOYx_ra3bni0p.jpg

Pertanyaan ini mengingatkan saya tentang masa kecil. Saya bisa dibilang orang kampung banget, mungkin karena kehidupan di kampung relatif damai tidak terlalu terpengaruh dinamika politik di luar. Tapi saat itu, suasana demokrasi tidak seperti sekarang, orang tidak bebas berpendapat karena ada kekuatiran terhadap aparat TNI/Polri serta agen-agen yang menyamar. Mungkin karena tidak terlepas dari yang terjadi pada tahun 1965, meskipun apa yang saya ketahui hanya berdasarkan cerita orang-orang yang dibisikkan dengan hati-hati. Masa itu, tidak ada media siaran selain TVRI dan RRI, tapi kami yang hidup di perbatasan lebih sering menikmati tontonan dari siaran negara tetangga Malaysia dengan aktor favorit dan legenda sepanjang masa yaitu Piramli dan kawan-kawannya dengan nama peran, Do, Re dan Mi.

Sebenarnya, siaran TVRI masa itu cukup bagus, film-filmnya lumayan bermutu, seperti Star Wars, McGyver, dan X-files selain cerita dan film-film lokal dengan aktor/aktris kawakan dengan mutu akting jauh lebih bagus dari yang sekarang. Selain siaran propaganda pro pemerintah dengan bintang utamanya Harmoko "si Hari-hari Omong Kosong" untuk memperkenalkan semua aktivitas Pak Soeharto yang di layar kaca semua terlihat wah; Indonesia swasembada pangan tersiar melalu program rutin klompencapir, menyiarkan kedekatan beliau dengan para petani. Tapi di daerahku, kultur bersawah belum ada, kami bisa swasembada pangan dengan cara ladang berpindah.

Tak ada bantuan pemerintah, karena memang dari nenek moyang kita sudah berladang untuk memenuhi kebutuhan pangan. Biasanya, hasil berladang sangat cukup sampai musim berikutnya. Pada masa itu, alam Kalimantan masih sangat terjaga, jadi mencari ikan sangat mudah.

Saat musim kemarau, sungai di belakang rumahku debit airnya berkurang sehingga menyisakan aliran sungai kecil. Aku dan teman-teman dan para sepupu yang numpang di rumah akan turun mencari ikan setelah sekolah. Tidak perlu alat khusus, cukup cara manual, baik dengan tangan atau pukat untuk yang dibentangkan di kiri-kanan sungai. Sebagian orang bertugas menggiring ikan-ikan ke arah pukat.

Abangku yang nomor dua memiliki keahlian berburu dengan senapan lantak atau bedil buatan tangan. Dalam seminggu, ada saja hasil buruan yang didapat untuk memenuhi kebutuhan protein keluarga. Tapi, sedihnya, di masa itu juga terjadi penebangan masif atas hutan Kalimantan, alam berubah sangat cepat, izin HPH menciptakan banyak konglomerat dari emas hijau, perusahaan kayu sangat berjaya di Kalimantan dan membuka banyak lapangan kerja tapi harus dibayar dengan mahal dengan kerusakan alam hayati.

Bagaimana kehidupan PNS saat itu? Masa itu belum ada otonomi daerah seperti sekarang, semua masih di atur pusat, belum ada pilkada. Sebagian besar PNS yang berasal dari daerah luar Kalimantan menduduki jabatan-jabatan strategis. Sisi positifnya, terjadi pembauran kehidupan masyarakat, banyak terjadi pernikahan antara daerah, guru-gurunya juga sangat berkualitas dan mereka rela mengabdikan diri di tempat mereka ditugaskan.

Tapi jangan ditanya, bahwa penghasilan gaji dan tunjangan PNS memang tidak cukup untuk hidup. Tapi kalau di kampung, para PNS masih bisa berladang dan berkebun. Lebih kreatif, mereka berdagang kecil-kecilan dan mencari ikan.

Masa itu, Bapak meniti karir sebagai seorang guru sekolah dasar yang sudah ditugaskan di banyak daerah terpencil. Ibuku sebagai seorang istri mengikuti kemana pun beliau ditugaskan dan membantu kebutuhan hidup dengan melakukan satu-satunya keahlian beliau, yaitu berladang dan berkebun. Selain mengajar mata pelajaran formal, di waktu luangnya beliau juga mengajarkan keahlian bermusik pada siapapun yang mau belajar. Seingatku, ada beberapa alat musik yang beliau kuasai, misalnya gitar, celo, dan biola. Di kemudian hari, saat dewasa dan banyak berjalan, saya bertemu banyak orang yang pernah belajar musik dengan beliau dan juga mantan murid beliau.

Kemudian karier beliau menanjak menjadi kepala sekolah, penilik, dan terakhir kepala DEPDIKBUDCAM yang membawahi wilayah empat kecamatan. Karena itu, kehidupan masa kecil sampai remaja diwarnai dengan banyak pemahaman akan tugas dan pengabdian seorang PNS di masa Orde Baru. Bila kemudian ada stereotip PNS Orde Baru itu koruptif, itu tidak bisa digeneralisir. Di satu sisi, masa itu adalah masa peralihan yang sangat berat, infrastruktur daerah benar-benar minim, kadang kita melihat dari televisi betapa "wah"-nya Jakarta, dan bermimpi kapan bisa ke sana karena di daerah, jangankan jalan raya, telepon dan lain-lain, bisa menonton TVRI dan mendengarkan siaran radio saja kami sudah bersyukur. Sementara hutan begitu banyak dibabat, setiap hari kami melihat rakit gelondongan kayu di sungai Kapuas dibawa ke ibukota provinsi dan diproses di sana untuk diolah dan diekspor.

Konsekuensi sebagai pejabat yang membawahi para tenaga pendidik di empat kecamatan sebetulnya sangat merepotkan kami sekeluarga. Tiap hari, siang dan malam, rumah dipenuhi tamu yang berurusan dengan segala masalah masing-masing. Tidak cukup di waktu kerja, karena tenaga yang menangani begitu banyak orang juga terbatas. Kadang, kami juga harus menerima tamu untuk menginap di rumah, belum lagi jika ada para handai taulan dari kampung-kampung yang punya urusan atau sakit. Kita menjadi semacam rumah singgah. Jangan ditanya, darimana dapat logistik untuk itu semua dengan gaji seorang PNS masa itu. Ada pepatah, sekilo gula dan kopi kadang hanya cukup dua hari. Tapi, saya takjub dengan kebesaran hati ibuku, beliau tidak pernah tertinggal berladang setiap musim kadang-kadang harus meninggalkan kami berbulan-bulan, tentunya untuk membantu ekonomi keluarga yang morat-marit hanya mengandalkan gaji seorang PNS, tapi puji Tuhan karena hasil panen sangat berlimpah ruah.

Dari kehidupan yang saya jalani, saya ingin mengatakan bahwa pengabdian seorang PNS zaman dahulu memang betul-betul pengabdian. Tidak semua PNS koruptif meskipun memiliki kesempatan untuk itu, banyak di antara harus berkorban seperti yang dilakukan ibu saya,...(more)

Answered Mar 22, 2017

Question Overview


11 Followers
3250 Views
Last Asked 2 years ago

Related Questions


Mengapa Hillary Clinton yang mendapatkan popular votes terbanyak tidak terpilih sebagai Presiden?

Apakah terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat akan mengubah wajah dunia?

Mengapa seseorang bisa tertarik bergabung dengan ISIS?

Mengapa seluruh periset di lembaga survei dan media Amerika Serikat gagal dalam memprediksi Hillary Clinton sebagai Presiden?

Beranikah Donald Trump mewujudkan janji-janji kampanyenya dengan mengusir imigran ilegal, mencegah Muslim masuk, dan memproteksi produksi AS dari gempuran barang komoditas Tiongkok?

Bagaimana cara Bareskrim Polri bekerja saat menentukan status kasus yang menjerat Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok?

Bagaimana sebenarnya hubungan Jokowi dengan Ahok?

Apakah aksi damai 411 ditunggangi kepentingan politik tertentu?

Seperti apa karakter pemimpin ideal yang pantas memimpin Jakarta?

Apa yang menyebabkan perilaku koruptif seperti tidak dapat dihilangkan di Indonesia?

Apa nasihat terbaik yang pernah Anda dapatkan?

Bagaimana menjelaskan bahwa ada kemungkinan kehidupan lain selain di Bumi ini?

Apa motto hidup paling keren?

Apakah seseorang mempunyai karakter bawaan yang tidak bisa diubah?

Apa ketakutan terbesar dalam hidupmu? Mengapa?

Siapakah cinta pertama Anda?

Seberapa pentingkah olahraga bagi Anda ?

Apa yang Anda lakukan ketika mengalami kesulitan dalam menentukan pilihan?

Apa pengalaman paling bermakna dalam kehidupan Anda?

Siapakah orang yang paling berpengaruh dalam kehidupan Anda?

Apa beda Kementerian Komunikasi dan Informatika dengan Departemen Penerangan era Orde Baru?

Mengapa Orde Baru dapat mempertahankan kekuasaannya selama 32 tahun?

Apa akibat NKK/BKK yang masih kita rasakan di kehidupan kampus?

Apa kelebihan dan kekurangan pemerintahan pada zaman Presiden Soeharto?

Siapa Probosutedjo?

Apa kesamaan Soeharto dan Jokowi?

Bagaimana seharusnya status hukum bagi seorang yang melakukan pelanggaran HAM berat di masa lalu (Orde Baru)?

Apa yang dapat dipelajari dari pemerintahan Orde Baru?

Apa yang melatarbelakangi diperbolehkan masuknya modal asing di Indonesia pada masa pemerintahan Soeharto?

Darimana kekayaan anak-anak Soeharto yang sangat besar berasal?

Berapa kekayaan keluarga Soeharto sekarang?

Setelah berkuasa 32 tahun, kenapa tidak satupun anak-anak Soeharto yang mengikuti jejak Bapaknya masuk ke militer?

Apa kesan Anda saat pertama kali bertemu langsung dengan Presiden Soeharto?

Apa saja keberhasilan dari Soeharto, ketika menjadi Presiden Indonesia?

Seberapa kenal Anda dengan mantan Presiden Soeharto dan apa kesan terdalam Anda mengenai beliau?

Mengapa Rezim Penguasa takut kepada karya sastra?

Kenapa Angkatan Darat sangat berkuasa di Indonesia?