selasar-loader

Siapakah Anda? Bisakah Anda berbagi inspirasi dengan menceritakan perjalanan hidup Anda?

Last Updated Mar 9, 2017

46 answers

Sort by Date | Votes
Andrian Habibi
Hidup dengan menulis karena menulis memberikan kehidupan

YkOPZ4FBChMGMoAdWN1o00J_cqLQUHe6.jpg

Nama saya adalah Andrian Habibi. Saya adalah anak dari pasangan Subeir (ayah) dan Khalijah (ibu). Saya memiliki tiga orang adik, yaitu Lili Sulika, Riri A Sulika dan Rudi Pamuji. Ibu mengisahkan bahwa saya dikandung tidak sampai tujuh bulan. Jadi pas lahir, saya sangat mungil dan disarankan masuk ke tabung. Namun, saat itu, ibu tidak memiliki biaya sehingga saya dibawa dari Rumah Sakit dan setiap pagi dipanasi di atas rempah-rempah yang dibakar. Begitulah, dari lahirpun seakan dunia mendiskriminasikan kehidupan saya.

Kecil Terhina

Dalam perjalanan hidup, tidak ada masa di mana saya mendapatkan pengalaman yang menyenangkan. Sedari kecil, tindakan diskriminatif selalu menghantui, mulai dari ejekan "hitam, hitam, hitam" sampai diejek "rrrrrrrrrr" (karena tidak bisa menyebutkan huruf r seperti orang lain). Sulit, memang, menjani hidup layaknya orang pada umumnya. Terlebih, saya tidak memiliki uang lebih daripada teman-teman yang lain, sehingga sejak kecil, saya tidak memiliki banyak teman yang akrab.

Ejekan, hinaan, dan perlakuan diskriminatif mungkin berpengaruh sehingga saya seakan trauma. Harus bisa menyebutkan huruf R dan harus mendapatkan cewek cantik (putih) seakan-akan merupakan kewajiban. Karena ejekan "hitam", seakan saya jelek sekali. Selain itu, sedikit teman menyebabkan saya tidak bisa berkomunikasi dengan baik. Saya tidak mampu menyenangkan hati orang lain atau bercerita dengan lama bersama teman-teman.

Di sisi lain, karena tidak memiliki uang lebih, saya juga jarang diajak pergi bermain, tamasya, atau sekedar nongkrong. Kalaupun saja diajak dengan bahasa, "Ayolah, nanti kami yang bayar", itu hanya bahasa persiapan teman-teman untuk nge-bully. Nanti, pas mau pulang, ejekan akan langsung bersuara dengan tawa dan canda menghina, "Ada duitmu? Kalau tidak ada, nyuci piring aja di sini. Kami bayarnya masing-masing". Kalaupun kisah ini harus dilanjutkan, paling-paling hanya kisah sedih berminggu-minggu (bukan hanya kisah sedih di hari minggu-nya sinetron).

Korban Politik

Setelah temat SMA, akibat saya tidak bisa berpergian jauh akibat "mabuk" (suka muntah-muntah). Maka saya hanya bisa kuliah di kota kecil, yaitu STIE YAPPAS di Lubuksikaping, Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat. Waktu itu, Bupati Pasaman bernama Yusuf Lubis, Orang Rao yang bermarga. Saya tidak tahu persis kontelasi politik antara Yusuf Lubis dan Benni Utama. Tetapi, karena saya bermarga, maka orang memanggil dengan panggilan "halak hita-halak hita" atau panggilan "bodat" (bodat = monyet). Dalam batin, apa saya salah lahir sebagai anak yang bermarga? Kenapa saya menjadi korban politik di Lubuksikaping?

Hal-hal semacam itu membuat saya berpikir, mungkinkah saya hidup hanya sebagai bahan hinaan orang atau saya memang tidak pernah dianggap sebagai manusia? Hal begitu terus berlanjut hingga semester tiga kuliah. Saat itu, saya diutus oleh BEM untuk mengikuti Latihan Kader I (LK I) HMI Cabang Persiapan Lubuksikaping (Kata Persiapan hilang saat dipenuhkan pada tahun 2013). Di sinilah saya merasakan hidup. Entah kenapa, orang-orang baru dan tidak saya kenal kok bisa sebegitu akrabnya. Setelah latihan, mereka biasa mengunjungi kost, membantu keuangan, dan membawa saya ke tempat-tempat yang bisa menikmati pemandangan indah. Tidak ada ejekan, sindiran, atau hinaan. Ini membuat saya merasa dihargai sebagai manusia.

Saat itu, Ketua Umum dan Sekretaris Umum HMI Cabang Persiapan Lubuksikaping adalah pasangan suami istri, Bang Zuletri (panggilan Bang Et) dan Kak Istiqomah (panggilan Uni Isti). Waktu itu, (setelah LK I), saya memiliki teman akrab sehingga dipangil tiga serangkai bersama Ega Satria (Ega) dan Afrisal (Sal). Di rumah pasangan suami-istri inilah, kami belajar berdiskusi dan berdebat. Masih teringat saat itu, hidup Bang Et dan Uni Isti pas-pasan. Terbayang nakalnya kami, malam-malam datang ke rumah Bang Et dengan alasan mau berdiskusi. Uni Isti pun memasak apa yang ada. Nasi yang seharusnya sepiring berdua bersama suaminya, malah menjadi sepring berlima dengan kami (tiga serangkai) datang.

Sejak ber-HMI, saya memiliki keberanian untuk berbicara tanpa takut kepada siapapun. Di HMI jugalah kami bersua dengan beberapa senior. Ada banyak sih tetapi yang mempengaruhi kehidupan saya adalah Bang Wahid Khusairy, Bang Nazaruddin Koto (Nako), Bang Listianto Reso Dikromo, Bang Sabar AS, Bang Iskandar, Bang Zennis Helen, Bang Rahmad Isa, dan lain-lain. Tetapi bila dikerucutkan, yang membina saya adalah Bang Et, Bang Wahid, Bang Sabar dan Bang Listianto. Di Lubuksikaping jugalah saya mengenal politik dengan turut hadir sebagai pemantau pemilu. Iya, saya masuk ke Komite Independen Pemantau Pemilu (KIPP) Kabupaten Pasaman.

Mari kita sedikit kembali ke dunia kampus. Sejak semester 5 hingga tahun 2012, saya berdomisili di sekretariat cabang. Dari cabang ke kampus, jaraknya adalah sekitar 5 kilometer. Jarak itu saya tempuh dengan berjalan kaki (pulang-pergi). Karena alasan inilah kabarnya orang mengejek junior-junior dengan bahasa "seniormu itu jalan kaki, masak mau punya senior begitu". Tetapi, bila ditarik ke masa sekarang, mereka yang mengejek pasti sudah tidak berani lagi. Cerita jalan kaki, Bang Wahid termasuk yang paling usil dalam memaksaku hadir ke rumahnya. Terkadang, dia memanggilku malam-malam. Karena Bang Wahid itu pemarah (sedikit sama dengan Bang Fuad), jarang ada teman yang mau diajak ke rumahnya. Bahkan, tidak ada yang mau meminjamkan sepeda motor. Sehingga, ada kalanya, biarpun hujan, aku jalan kaki sejauh lima kilo dari sekretariat menuju ke rumah Bang Wahid. Kadang, aku datang hanya untuk mendengarkan ceramahnya dengan amarah karena ada teman yang salah atau bertindak tidak wajar. Jadilah telingaku korban dari kekesalan orang lain.

Bagaimanapun, selama di Lubuksikaping, aku merasakan betapa lebih berartinya teman daripada keluarga. Betapa indahnya bersahabat yang dekatnya seakan lebih daripada saudara. Hanya saja, kebahagiaan tidak bertahan lama. Saya pikir, HMI akan terus menjadi tempat yang membahagiakan, ternyata tidak. Sebagai...(more)

Answered Mar 12, 2017
Hera Wati
Saya.. Ya, saya. Tak perlu menjadi oranglain, tak perlu meniru siapapun.

Y8kAblOliA7wHNkk002XTgPuo7gjP0RK.jpg

Saya, Herawati Suryanegara, adalah seorang guru kecil di sebuah kampung. Meski asli dari Bandung, saya sangat mencintai desa dan anak-anak kecil. Ayahku seorang hakim, sangat menginginkan saya mengikuti jejaknya. Saya sendiri adalah putri ke-3 dari 6 bersaudara. Tetapi, ibuku menginginkan saya menjadi guru untuk mengerem sifat saya yang tomboy. Saya akhirnya diterima di IKIP Bandung. Selama menjadi mahasiswi itulah, saya mulai memakai rok dan belajar berjalan dengan sepatu wanita! Ibuku yang mengajarinya.

Ibuku adalah wanita cantik. Beliau bisa memainkan gitar dan piano. Kami, anak-anaknya, belajar musik dari Ibu. Tapi saya tidak mahir-mahir juga. Kami semua suka musik, mungkin karena turunan dari ayah dari ibuku (kakek) yang seorang seniman.  

Setelah lulus, saya mendapat penempatan di daerah. Pertama kali bertugas sebagai guru, saya sangat kaget. Angkutan umum menuju sekolah masih sangat jarang. Bisa berjam-jam kami nunggu angkot lewat. Itupun berebutan. Sekolah kami gedungnya baru, tetapi tidak ada kursi satupun dan tidak ada papan tulis. Akhirnya, kami belajar lesehan dan saya menulis di tembok. Bila tembok sudah penuh tulisan, saya hapus pakai lap. Ini menjadi pengalaman yang sangat mengharukan dan tak akan pernah terlupakan.

Saya juga kost di sebuah rumah yang airnya ternyata dari sawah. Tak berapa lama, kulit sayapun gatal-gatal. Tapi saya enjoy, meski keluarga meminta saya untuk pindah, saya tidak mau.

Selain mengajar di tempat tersebut, 2 tahun lalu saya mengajar juga di sebuah sekolah terbuka. Masya Allah, perjalanan menuju sekolah tersebut luar biasa; jalannya berbatu dan melintasi semacam perbukitan. Sering saya seram sendiri bila pulang sekolah pada sore hari. Jalan sangat sepi dan harus melalui perkebunan. Kalau hujan, banjir cukup menakutkan. Setiap kali saya mengajar, saya harus pertimbangkan cuaca karena kami masuk siang. Bila cuaca mendung, terpaksa saya pulangkan anak-anak sebelum waktunya tiba. Mereka jalan kaki. Ada yang sampai 1 jam waktu tempuhnya dan berjalan melewati perkebunan. Sampai hari ini, saya tidak bisa melupakan mereka. Seringkali, mereka belum bubar sebelum melihat saya benar-benar pergi. Sepanjang jalan itu, saya sering menangis dan berdoa untuk mereka. Dan ternyata... mereka pun melakukan hal yang sama. Sungguh... life is beautiful!

Saya masih ingat, bagaimana anak-anak perempuan bersekolah dengan memakai lipstik tetapi bersandal jepit. Bagi mereka, sekolah adalah hiburan mengusir rasa jenuh setelah bekerja pagi hari di kebun atau di sawah. Pelajar putranya juga banyak yang berpotongan rambut aneh. Aneh, menurut saya. Tentu saja penerapan disiplin tidak tiba-tiba saya lakukan, mengingat latar belakang mereka yang cukup unik. Saya berusaha terlebih dahulu membuat mereka gembira bersekolah. Setelah mereka tampak senang, baru saya arahkan, bagaimana sebaiknya dandanan seorang pelajar. Akhirnya mereka mengerti.

Meski tugas jauh, saya selalu didorong oleh Ibu untuk melanjutkan kuliah. Ibuku seorang sarjana hukum yang cerdas. Ibu ikut bekerja bersama tanteku, membuka kantor notaris di sekitar Kabupaten Bandung. Sampai hari ini, kantor itu masih aktif. Beliaulah yang mendukungku melanjutkan S2. Jarak sekitar 90km dari tempatku bertugas menjadi tantangan tersendiri. Kalau pulang-pergi, ya 180 km. Tapi saya selalu enjoy, karena sudah biasa setiap pekan pulang-pergi. Dan tentu saya senang dengan profesor-profesor saya yang luar biasa pengertiannya. Termasuk Prof.Karim yang saya paling suka. Beliau mengajar mata kuliah Ilmu Politik. Alhamdulillah.... Pendidikan itu pun selesai dengan hasil yang membuat ibu saya bangga saat menyaksikan saya mendapat penghargaan.Beliau tidak saya beritahukan sebelumnya. Saya ingin membuatnya bahagia. Suami saya juga sangat mendukung saya. 

Oh ya... di daerah penugasan, saya sempat mengajar juga di sebuah pesantren modern kepunyaan seorang mantan menteri dan belajar agama di pesantren salafi tertua dan terbesar di kota itu. Adem... saya senang bertemu dengan para kyai. Selain itu, penelitian tesisku juga tentang kepemimpinan kyai. Luar biasa.... Ilmu mereka tidak kalah dengan yang di pesantren modern. Bahkan, hubungan dengan luar negeri pun mereka jalin. Saya pernah diminta buatkan oleh-oleh oleh Pak Kyai untuk Sultan Brunei saat Pak Kyai akan berkunjung ke sana. Oleh-oleh yang saya bikin adalah asesoris dari kristal dan, katanya, mereka senang dengan oleh-oleh itu.

Ya begitulah. Selain kerja, tentu saya senang jalan-jalan. Saya suka laut, saya suka gunung. Saya kurang suka keadaan kota. Dari kecil, saya sekolah disekitar Jalan Sudirman, Bandung. Bosan, rasanya. Jadi, jalan-jalan ke daerah menjadi pilihan utama. Saya, suami, dan anak-anak memiliki selera jalan-jalan yang sama.

Waduh, kepanjangan ya? Ya, sudah. 

 

Answered Mar 13, 2017
Ikhwanul Halim
Ayah, Suami, Penyair, Penulis, Pengarang, Editor, Satiris, Humoris

Xqw5v7_G7ItR6bSMegPeVY7S2zpOz7aj.jpg

Lahir di Banda Aceh, 25 Juli 1965, masa kecil dan remaja dihabiskan di kota ujung utara pulau Sumatera tersebut. Lulusan SMAN 3 Bandung dan mendapat gelar Sarjana Teknik Nuklir dari FT-UGM Yogyakarta. Pernah bekerja sebagai guru musik, pedagang keliling, mandor pabrik, pengrajin akik, kontraktor, supervisor lapangan, konsultan. Sebagai nomaden, berpindah-pindah kota seperti Jakarta, Surabaya, Jambi, Medan dan Banda Aceh sebelum memutuskan untuk menetap (sementara) di Bandung pada awal tahun 2014.

Dari sekadar hobi menulis di blog, memutuskan untuk serius menjadi penulis awal Agustus 2015, sejak bergabung dengan Kompasiana, dan rajin menulis di kanal Fiksiana. Sesekali menulis juga di Indonesiana.  

Buku pertama bertajuk "The Geek Got the Girl (Antologi Puisi)" yang diterbitkan oleh guepedia. Selanjutnya "Terdampar" (kumpulan flashfiction) yang diberi Kata Pengantar oleh Pepih Nugraha (wartawan Kompas) dan "Rindu yang Memanggil Pulang (Antologi Puisi)" yang diterbitkan oleh Peniti Media.

Beberapa karya puisi terdapat dalam buku kumpulan puisi beberapa penulis: "Pelangi Cinta Negeri: 70 Tahun Indonesiaku" (penerbit Halaman Moeka), "Ombak Biru Semenanjung 1020 Sonian Tiga Negara" (penerbit Kosa Kata Kita).

Puisi dan cerpen juga terdapat dalam “Rampaian Puisi Apresiasi Sastra RTC”, “Seabad Setelah Merdeka”, “Rampaian Flash Fiction Apresiasi Sastra RTC”, “Aku dan Hujan November” yang diterbitkan oleh Lingkar Mata.

Esai tentang kebhinekaan yang berjudul “Dari Peunayong ke Evanston” terdapat dalam buku (In)Toleransi terbitan Peniti Media.

Di samping menulis, juga menyunting. Selain buku sendiri dan buku-buku komunitas RTC, telah menyunting buku Kumpulan Cerpen “Piring-piring Krismon” oleh Andri Sipil (Penerbit Lingkar Mata) dan Novelet Misteri “Pesugihan Coban Pelangi” oleh Yon Bayu yang akan segera diterbitkan Peniti Media.

Suka bergabung dalam komunitas, dari komunitas penggemar Star Trek sampai Rotary. Dan senang makan juga.

Answered Mar 14, 2017
Hariri Shafa
Undergraduate Student from Telkom University

xJ1tH-nWkeCwuzkeOT_QmAl58hzUW0J2.jpg

Kalung Usus

Lahir di kota Lapas Narapidana (Cilacap,14 April 1996) dari keluarga sederhana pasangan guru SMK yang kini mendapat SK PNS di SMA, dan pegawai SMK, saya termasuk salah satu yang mengalami proses lahir secara unik. Orang tua bahkan saya pernah bercerita bahwa saya terancam meninggal dunia jika bidan tidak melakukan penanganan tepat terhadap kelahiran saya waktu itu.

Singkat cerita, saya dibesarkan di lingkungan pendidikan serta Muhammadiyah. Masa kecil saya lebih sering diisi dengan bermain-main di sekolah, baik tempat saya belajar maupun orang tua saya mengajar karena TK dan SMK nya memang berada pada satu kawasan. Bisa dibayangkan saat itu; saya tidak hanya bermain balon dan segala kekanak-kanakannya, namun sesekali juga bermain bola dengan anak SMK, meski hanya sebagai ledekan dan pelepas penat mereka pada jam istirahat.

SD-SMA Super Ekstrovert

Pada masa inilah keingintahuan saya meningkat seiring dengan lingkungan belajar yang meluas, namun tumbuh bersama dengan orang tua yang sabar dalam mendidik anaknya. Setelah pada kanak-kanak saya termasuk pribadi yang liar (membuat masalah dengan preman kampung,memasukkan obat ke lubang hidung hingga memasukkan tongkat kayu ke rongga mulut), di masa SD pula kecintaan pada dunia kepramukaan tumbuh. Hingga SMA, organisasi tersebut konsisten saya ikuti. Namun, kegilaan saya terhadap eksplorasi diri muncul pada saat SMA, ketika saya mengikuti berbagai ekstrakurikuler seperti pramuka, teknik komputer jaringan, paduan suara, hingga forum remaja masjid.

Hal menarik yang saya alami pada masa tersebut adalah pada saat yang sama, daerah saya mengalami kondisi kekeringan sehingga setiap hari, saya harus membantu orang tua untuk menimba air demi memenuhi keperluan pokok. Setiap pagi dan sore sepulang sekolah (bahkan pernah hingga malam hari karena sumber mata air baru tersedia pada saat itu), saya menjalankan perintah orang tua saya sekitar 8 bulan lamanya.Betapa baik Allah memberikan cobaan untuk menguatkan hamba-Nya di kemudian hari.

Beruntung bisa Kuliah

Kok bisa? Ya, memang begitu adanya. Setelah beberapa kali mengalami kegagalan dalam Tes PTN, akhirnya saya diterima di Telkom University. Kisah selengkapnya saya tuliskan di https://www.selasar.com/question/8605/Apa-pengalaman-berkesan-saat-kuliah-di-Telkom-University-dan-mengapa-harus-kuliah-di-universitas-itu

Saat ini, saya masih berkuliah di kampus ini, tepatnya di Jurusan Administrasi Bisnis dan menjalani tahun ke-3. Semoga ilmu yang diterima benar-benar bermanfaat dan saya mampu menjadi salah satu dari agen perubahan yang dicita-citakan perguruan tinggi.

Answered Mar 14, 2017

adjtWMqiH0LnmnF_KyJHIbAhqx_kzyVD.jpg

Panggil saja saya Fidia. Dari kecil sampai SMA, saya menghabiskan waktu di Jember.  Terdorong ingin membantu ekonomi keluarga, saya kemudian merantau ke Bali, mengambil sekolah diploma selama setahun. Sambil sekolah, saya bekerja sebagai operator telepon di salah satu hotel di Seminyak. Kemudian, saya pindah dari satu hotel ke hotel lainnya. Saya pernah merasakan bekerja sebagai butler, sales executive, dan berakhir menjadi villa manager. Saya juga merasakan bekerja di berbagai tempat, mulai dari hotel kecil, villa, sampai hotel resort ternama di Payangan, Ubud.

Pekerjaan itu saya lalui dengan penuh syukur. Nggak nyangka, saya bisa bekerja di hotel dan diberi kesempatan belajar tentang ilmu perhotelan. Ini adalah sesuatu yang memang saya senangi, bisa bertemu banyak orang dan membuat mereka senang.

Abah sangat bangga melihat putri kecilnya , anaknya yang dulu sering dicibir tetangga dan disangka bekerja di tempat yang nggak-nggak ternyata bisa bekerja di tempat yang bagus dan bisa menghasilkan uang. Bagaimanapun, yang paling penting bagi saya adalah bisa membantu ekonomi keluarga, tak seperti anak-anak mereka yang masih merepotkan orangtuanya.

Lama di Bali membuat saya jatuh cinta dengan lelaki Bali, yang notabene beragama Hindu. Keluarga kami sama-sama menentang keras. Namun, saya yang keras kepala dan menyukai tantangan tak menggubris, malah enjoy menjalaninya. Yah, meskipun harus dijalani selama 7 tahun, akhirnya orangtua kami sama-sama merestui. Mungkin mereka sudah lelah, hehehehe.

Kami menikah, kemudian saya berhenti bekerja karena kondisi kesehatan saya drop saat hamil. Anak saya lahir dengan kondisi BBLR (Berat Badan Lahir Rendah). Dokter memberi peringatan  dini; mungkin anak saya nanti akan bisu, tuli, atau tak bisa berjalan. Sebagai ibu yang melahirkannya, saya jelas tak terima. Dia bukan Tuhan! Belum lagi kata-kata sinis yang saya terima dari orang-orang. Katanya, saya tidak care sewaktu hamil sehingga membuat anak saya lahir begitu. Hellowwwww? Enak saja men-judge tanpa tahu ceritanya! Meskipun hati saya menangis, saya abaikan mereka. Namun, kata-kata mereka saya jadikan cambuk supaya saya bisa mendidik anak saya dengan baik.

Saya yang nggak ngerti apa-apa tentang BBLR mulai mencari tahu, bagaimana cara menangani bayi BBLR. Beruntung saya punya suami yang baik dan mendukung semua apa yang saya lakukan untuk putrinya.

Anak BBLR butuh banyak sentuhan. Karenanya, saya rajin memijatnya, merangsang pendengarannya dengan banyak membacakannya buku cerita, mendengarkan music Mozart, atau lantunan ayat Alquran. Sedangkan, untuk merangsang penglihatannya, saya mulai memperkenalkan dengan flash card.

Rasanya seperti miracle ketika melihat anak saya tumbuh sehat, bisa merangkak, berjalan, kemudian berbicara. Allah Maha Besar! Pun ketika dia sudah lancar membaca dan menulis di usianya yang menginjak 3 tahun! Hati saya dan suami lega luar biasa.

Anak saya mulai besar, dan saya kangen untuk kembali bekerja. Meskipun banyak tawaran, suami tidak mengijinkan, dan menginginkan saya fokus mengurus anak. Lantas, saya menawarkan solusi; buka usaha di rumah, tentunya yang masih berkaitan dengan melayani orang-orang.

Dengan modal terbatas, kami akhirnya memilih usaha laundry, mengingat di sekitar rumah kami, di Canggu, banyak terdapat villa. Feeling saya nyaman.

Alhamdulillah, dari awal buka, usaha kami berjalan lancar. Pelanggan bukan hanya Villa, tetapi orang-orang kampung juga banyak menyerahkan laundry-nya pada kami. Dalam menjalankan bisnis, kami tak mau sembarangan. Harga boleh bersaing, tetapi soal kebersihan dan kecepatan kerja, kami lebih unggul. Contohnya begini, bila ada satu pelanggan yang menginginkan laundrinya selesai dalam waktu dua jam, ya, harus dilakukan tepat waktu, nggak boleh ngeles seperti bilangnya “iya”, tetapi ujung-ujungnya “nggak bisa”. Pelanggan akan kecewa nanti. Di situ, kita bisa mengatur ritme kerja.

Bila pelanggan puas, mereka akan balik terus ke tempat kita.

Mungkin saya terlalu enjoy dan fokus bekerja. Tanpa diduga, biduk rumah tangga diterpa badai. Rumah tangga di ujung perceraian. Kemudian, bisnis yang sedang bersinar saya tutup. Rumah lantas saya jual. Saya pindah ke rumah kost. Pelanggan dan tetangga menangisi keputusan saya. Mungkin saya dianggap bodoh, tetapi saya punya alasan lain. Saya ingin membuka lembar baru dan melupakan cerita yang membuat saya menderita.

Meskipun teman saya tak banyak, mereka benar-benar perhatian dan support saya. Saat mengetahui saya jatuh, mereka datang dan menawarkan pekerjaan kepada saya. Saya juga boleh membawa putri saya bekerja di salah satu travel agent yang menangani manajemen villa.

Karena sekolah anak saya waktu itu tergolong homeschool, hal itu tak masalah buat saya. Di sela-sela pekerjaan, saya mengajari anak saya. “Nak, selama ada Mama, kamu tak boleh takut. Kamu harus tunjukkan pada Papa, kamu anak hebat.” Alhamdulillah, anak saya mengerti. Dia tak pernah rewel.

Tetapi Allah, memberikan rencana lain.

Suami menginginkan saya kembali. Dia membatalkan gugatan perceraian. Suami memutuskan untuk pindah ke Jember. Saya masih di Bali. “Ning, kamu tak bisa egois. Ingat anakmu. Kamu tak bisa mengejar karier terus. Ingatlah anakmu. Dia butuh figur ayah. ” Kakakku menelpon, mencoba mengubah keputusanku. Setelah perenungan dalam, saya memaafkannya dan kembali merajut perkawinan.

Terlepas dari itu semua, saya mengambil pelajaran. Saat keluarga kita ada masalah, beberapa hal ini berguna.

  1. Sebaiknya, kita tetap bisa mengontrol emosi. Suami berulah, jangan diserang atau dimarahi, atau diusir-usir. No! Buat dia bingung, dengan tetap memperlakukannya dengan baik.

  2. Curhat boleh saja untuk menenangkan hati. Tetapi, keputusan tetap ada di tangan kita.

  3. Melibatkan orangtua untuk menyelesaikan masalah, menurutku, tak banyak membantu. Mereka pasti akan memihak dan lebih mencari kambing hitam. Bukannya selesai, masalah justru makin buruk. Ada lho orangtua yang justru ngomporin anaknya.

  4. Jangan lupa salat, sedekah, serta puasa untuk...(more)

Answered Mar 14, 2017
Baskoro Aris Sansoko
Suka Humor sampai Tidak Pernah Dianggap Serius

BzsMPRxG9JPTNH3iiAYh0tfibriVn_wc.jpg

Arek Suroboyo asli! Pada 2 Mei 1995, lahir seorang bayi laki-laki yang kelak dinamai Baskoro Aris Sansoko, anak biasa dari keluarga biasa. Saya tinggal di sebuah kampung Banyu Urip yang terletak di Surabaya agak ke Barat. Dari kecil hingga sekarang. Saya mengenyam sekolah dasar di sebuah sekolah yang terletak dekat dengan pasar tradisional dan lapangan tempat anak-anak bermain (dan beberapa remaja melakukan hal mesum ketika malam tiba). SDN Banyu Urip III satu komplek dengan SDN Banyu Urip IV dan VIII. Saya berkesempatan melanjutkan pendidikan di SMPN 1 Surabaya, itu pun aslinya nilai UN tidak sampai, kebetulan saja waktu itu sedang ada pembukaan kelas SBI yang perlu tes bahasa Inggris sehingga menjadi peluang untuk bisa masuk. Kemudian, saya melanjutkan ke SMAN 5 Surabaya. Saya lulus SMA tahun 2013.

Seusai SMA, saya mencoba masuk HI UGM, tapi gagal. Sudah diterima di Hukum UGM, tapi tidak jadi saya ambil. Saya lebih memilih HI UNAIR. Sekarang, saya menempuh semester ke-8 di UNAIR.

Suka Video Game

Saya adalah penggemar video game sejak kecil. Sejak kelas 1 SD. Saya menamatkan game Final Fantasy VII sewaktu kelas 4 SD, 3 SMP, 2 SMA, dan semester 2 kuliah. Saya adalah penyuka RPG dengan cerita-cerita yang memukau, seperti serial Final Fantasy, Tales of The .... (terutama yang Abyss), Persona, dan banyak lain. Dari video game ini, rupanya saya lebih belajar menjadi laki-laki yang penuh empati, mudah baper, sangat peka bahkan melampaui kepekaan teman-teman perempuan saya. Selain itu, kemampuan bahasa Inggris saya juga banyak terasah lewat video game. Lumayan lah.

Suka Membaca dan Menulis

Untunglah kedua orangtua masih banyak memiliki buku di salah satu lemari rumah. Kakak saya mengkoleksi serial Harry Potter dan Supernova-nya Dewi Lestari. Ada karya-karya Habiburrahman el-Shirazy lengkap di lemari. Sedikit Agus Mustofa. Banyak buku-buku Islam dari berbagai komunitas; NU, Muhammadiyah, Salafi, Islam Liberal, sampai Syi'ah. Oh tidak tertinggal buku Jakarta Undercover-nya Moammar Emka yang sudah saya diam-diam baca sejak kelas 6 SD. (Hahaha.)

Saya punya blog sejak SD. Pindah-pindah alamat sesuai perkembangan usia, menyesuaikan kelabilan hati dan pencarian jati diri. Cari saja nama "Baskoro Aris Sansoko" di google, akan keluar blog-blog yang isinya tulisan menggelikanku dari SD. Keinginanku untuk menulis tiba-tiba saja muncul, berawal dari narsisme tidak berfaedah hingga sekarang dengan berbagai ekspresi dan ragam tulisan yang bisa dilihat di selasar ataupun situs pribadiku di http://baskoroaris.com. Dulu, sempat terpikir hingga mau stres terkait mencari gaya penulisan; mau meniru Habiburrahman el-Shirazy tapi gagal, Pramoedya Ananta Toer tapi gagal, meniru siapapun tapi gagal. Akhirnya aku tidak ambil pusing dan tetap menulis. Ujungnya, terkadang aku sangat menikmati tulisanku sendiri. Terkadang.

Suka Memulai Sesuatu (namun Kesusahan Menjaganya sehingga Kadang Harus Mengakhirinya)

Waktu SMP, aku pernah membuat akun fanpage FB bernama "Anti-Mandoel" yang berfungsi untuk laman edukasi agar tidak mandul. Ini serius. Tapi tidak terjaga. Aku juga pernah membuat komik strip bermodal Microsoft Power Point dengan jarum pentul sebagai tokoh utamanya. Teman-teman di SMP lumayan menikmatinya dan suka juga sih, tapi sekali lagi, cuma sebentar. Waktu SMA, aku paling ingat pernah mendengar adanya isu kristenisasi. Waktu itu, saya bergejolak dan mengumpulkan teman-teman lewat akun twitter untuk bertemu di selasar masjid SMA untuk membicarakan dan harapannya melakukan suatu gerakan. (Hahahaha.) Tapi, tidak ada apa-apa.

Sewaktu kuliah, saya mencoba membuat wadah hijrah bernama Muslim WAY di Surabaya. Kalau yang ini, sudah cukup bagus geraknya. Sempat diwawancarai radio Suara Muslim. Mengadakan bagi-bagi jilbab syar'i di Car Free Day Taman Bungkul sewaktu dekat dengan Hari Valentine. (Waktu itu berhasil mengumpulkan lewat kampanye online sebesar 15 juta untuk bagi-bagi jilbab itu.) Ya, lumayan lah. Tapi kemudian tidak terjaga dan berhenti.

Saya juga sempat memulai mengajar secara sukarela di Rumah Bahasa Balai Pemuda Surabaya sebagai pengajar Bahasa Arab. Hampir dua tahun mengajar sih, tapi akhirnya putus juga.

Pada waktu ini, saya sedang memulai sebuah wadah bernama Muslimbiasa. Muslimbiasa ini diharapkan dapat menjadi wadah yang semua muslim dapat saling setuju tanpa harus membuat eksklusivitas sendiri dan saling tidak setuju tanpa harus saling membenci. Rupanya, wadah mendapatkan respons yang cukup baik di LINE@, sejak 15 Desember 2016 hingga sekarang sudah mengumpulkan 2.000 adders LINE@. Tanpa iklan. Murni konten. Alhamdulillah. Kalau yang ini, semoga terjaga.

Saya suka fotografi
Kalau yang ini baru waktu kuliah. Mulai memegang kamera yang sudah ada sejak SMP, namun tidak pernah kupakai. Hasil fotoku lebih banyak aku unggah di instagramku.

Saya Pemberontak
Saya banyak menjadi devil's advocate di organisasi yang saya ikuti. Sewaktu SMA, saya getol melawan orang-orang Tarbiyah yang memang berusaha menguasai SKI SMA dan menjadikan SKI SMA hanya untuk kelompoknya saja. Perlawanan ini, walaupun awalnya untuk memenangkan komunitas Salafi, malah menjadikan saya seseorang yang ingin memenangkan inklusivitas, keterbukaan terhadap semua golongan, dan mengembalikan prioritas untuk melayani orang-orang yang akan didakwahi.

Sewaktu kuliah, saya sudah kehilangan gairah melawan orang-orang Tarbiyah yang berusaha menguasai Kerohanian Kampus dan menjadikan Kerohanian Kampus untuk kelompoknya saja. Saya lebih banyak mendorong inovasi dan mengembalikan prioritas untuk melayani mahasiswa. Menjadikan stakeholder yang patut diprioritaskan adalah mahasiswa yang sayangnya waktu itu cenderung diabaikan karena kelompok dominan memosisikan diri mereka sebagai stakeholder terpenting. Perlawanan sewaktu kuliah saya temui ketika di Lembaga Pers Mahasiswa tingkat universitas. Kali ini, yang saya lawan adalah mahasiswa-mahasiswa HMI yang mencoba mengendalikan Lembaga Pers untuk kepentingan mereka dan mengarahkan opini publik agar mendukung...(more)

Answered Mar 14, 2017
Uli Elysabet Pardede
Karyawan Biasa, Blogger, Make-Up Addicts

9zOk3rwow_y9fhxelkBDnY4-sNfprGeY.jpg

Saya bukan siapa-siapa. Perjalanan hidup saya juga belum terlalu panjang alias saya masih muda, hahahaha... Tapi saya baru menemukan passion saya dan sedang mewujudkannya. Jadi, suatu saat jika passion itu kelak mengubah hidup saya, saya akan mampir dan mengedit jawaban ini lagi. Sampai ketemu lagi! :D

Answered Mar 15, 2017
Martina Mochtar
Istri dari seorang pecinta sosial, dan Ibu dari seorang Bocah Pemberani

wD8tKMnQGziymcTlL84EtMpZgsix3s8r.jpg

Terima kasih untuk pertanyaannya. 

Saya lahir dan besar di Kota Bandung. Papa saya asli kelahiran Kota Kandangan, Kalimantan Selatan. Ibu saya besar di Jakarta, namun berayahkan orang Minang dan ibunya berdarah Sunda. Walaupun, papa saya kental sekali berbahasa Banjar, saya hanya dapat memahami saja dan tidak fasih menggunakan bahasa Banjar dalam komunikasi. Mama yang sering disebut padang bengkok tidak bisa berbahasa lain selain bahasa Indonesia. Di tahun 1986, kami pindah dari Jakarta ke Bandung, tanpa sanak saudara yang tinggal di kota yang sama, jadilah saya seorang yang dulu saya pikir bersuku tidak jelas.

Dulu papa saya adalah pengurus Kerukunan Warga Kalimantan Selatan (KWKS) sehingga sering sekali warga Kalimantan Selatan berkumpul di rumah saya. Setelah Papa meninggal, otomatis kegiatan yang dulu saya anggap gak spesial itu tidak pernah terjadi.   

Sampai pada hari pernikahan kami untuk pertama kalinya, saya mengakui pada diri saya sendiri bahwa saya ini memang Galuh Banjar. Dentuman hadrah mengumandangkan salawat kepada Nabi menyambut pengantin memasuki gedung resepsi. Perayaan dilanjutkan dengan tarian Giring-giring khas suku Dayak yang mengiringi kami sampai di pelaminan. Hal itu bukan rangkaian acara yang sengaja dirancang oleh wedding organizer, melainkan hanya kombinasi 2 sumbangan dari 2 relasi yang berbeda. Untung saja masih bisa disambung-sambungin. Ditambah melihat wajah-wajah saudara yang rela terbang dari Banjarmasin khusus untuk menghadiri pernikahan kami. Saat itu, hati saya bergetar, serasa Papa sedang berkata, secuek-cueknya saya, yang namanya darah pasti akan terus melekat. 

Setelah menikah dengan suami saya yang kelahiran kota Bandung dan berdarah Tulang Bawang Lampung, saya semakin mantap merasa bahwa saya ini memang orang Banjar. Setelah hidup bersama suami, saya baru tahu bahwa yang menjadi budaya keseharian, selera makanan, dan pola pikir saya ternyata memang Banjar banget. Apalagi banyak yang bilang bahwa kondisi fisik saya memang bercirikan wanita Banjar. Ditambah sifat keras dan dominan saya yang mengingatkan pada ungkapan bahasa Banjar, nang harat nang bini.       

Saya terlahir sebagai anak bungsu dari empat bersaudara, dengan jarak usia yang relatif jauh yaitu 10, 9 dan 7 tahun. Di keluarga, saya sering dinilai paling aneh dan paling badung. Kata-kata andalan mama saya ketika marah adalah, "Heran... kakak-kakak kamu gak ada tuh yang kaya kamu begini."

Menanggapi pernyataan itu dulu, saya menganggap karena kakak-kakak saya sempurna dan saya tidak sesempurna mereka. Namun, setelah maraknya artikel membahas mengenai generasi X dan Y, saya menjadi paham. Sebenarnya, yang terjadi adalah karena perbedaan generasi antara saya dan kakak-kakak saya. Berbeda minat, cara, dan sudut pandang. 

Semenjak kuliah semester 5, saya sudah mulai bekerja di sebuah perusahaan Tower Provider. Awalnya, hal itu saya lakukan hanya untuk menambah modal untuk niat membuka usaha kuliner bersama teman. Namun, perusahaan ternyata malah memperpanjang masa bakti saya menjadi 2 tahun dengan posisi sekretaris perusahaan. 

Lulus kuliah, saya langsung melamar kerja ke sebuah bank swasta di kota Bandung. Saya senang karena akhirnya saya bisa lepas dari pekerjaan sekretaris yang saya pikir bukan bakat saya. Di bank ini, saya bekerja sebagai consumer business staff. Namun, tidak lama, pimpinan tertinggi di wilayah Jawa Barat meminta saya untuk menjadi sekretarisnya. Hati kecil saya ingin menolak, namun apa daya, tidak ada yang bisa menolak boss besar punya mau. Untung saja, saya tidak punya kesempatan menolak, karena ternyata menjadi sekretaris beliau merupakan pengalaman yang luar biasa.

Selama dua tahun di wilayah Jawa Barat, ia membawa saya hijrah ke Jakarta untuk menjadi Sekretaris Direksi. Dua tahun menjadi direktur di bank swasta nasional, ia pindah untuk menjadi seorang CEO di 9 anak perusahaan. Saya pun kembali diajak. Di sini, saya mendapatkan pengalaman bekerja di bidang hospitality dan leisure. Kali ini, bukan menjadi sekretaris, melainkan menjadi personal assistant. Mayoritas orang beranggapan bahwa tidak ada bedanya, namun sebenarnya sangat berbeda. 

Saat bekerja sebagai personal assistant, saya tidak lagi menyentuh pekerjaan yang bersifat administrative. Pekerjaan saya lebih fokus kepada bisnis, seperti monitoring project, serta membuat report secara berkala. Saya juga berfungsi sebagai penghubung antara boss dan bawahan, ataupun sebaliknya. Untuk hal ini, boss saya dengan khusus mendaftarkan saya untuk mengikuti communication impressively training dengan tujuan agar saya mampu menyampaikan pesan beliau kepada bawahannya yang setingkat general manager secara tegas dengan tetap menjaga kesopanan tanpa mengurangi ataupun menambahkan makna dari pesan yang harus disampaikan.

Adakalanya, jika ada satu proyek yang tidak bisa ia tugaskan ke bagian manapun, ia akan tugaskan saya untuk mengerjakan project tersebut. Pokoknya seru!

Setelah mempunyai anak, saya memutuskan untuk kembali ke kota Bandung. Saya bekerja di bagian komunikasi pemasaran. Saya sangat jatuh cinta dengan pekerjaan ini. Saya banyak mendapatkan ilmu mengenai digital marketing, public relation, dan rajin melakukan media visit. Namun, sayangnya, hal itu hanya berjalan selama 9 bulan dikarenakan alasan keluarga saya harus pindah lagi ke bank, kali ini bank syariah.

Di bank syariah, saya bekerja di bagian bisnis pendanaan. Selain bisa meneruskan ilmu marketing yang telah saya dapat di posisi sebelumnya, kali ini saya mendapatkan ilmu baru. Saya banyak belajar tentang cara bernegosiasi dengan orang lain dan bagaimana bisa menarik perhatian orang lain. Terlebih jika posisi kebutuhannya ada di saya. Maklum, sebagai executive secretary, saya tidak pernah punya 'PR' untuk mendapakan perhatian orang. Sebagai executive secretary, seringkali sayalah yang dibutuhkan orang, jarang sekali saya harus rayu-rayu atau membujuk-bujuk orang lain.

Dengan pengalaman yang masih cetek ini, tidak ada yang bisa diungkapkan selain...(more)

Answered Mar 17, 2017
Heru Prasetyo
Seorang pejalan kaki yang juga suka naik trans Jogja dan becak.

HzgON4He_H6xHGF3y7lxXOHD-y0QzWKa.jpg

Saya lahir di Yogyakarta, berusia 36 tahun. Ayah dan ibu asli Jogja, tinggal di barat Malioboro. 

Saya senang menulis, termasuk kesialan yang saya alami juga saya tulis, lalu saya kirim ke koran. Kalau dimuat, dapat honor.

Waktu kecil, umur 5 tahun, saya pernah kena DBD akut sehingga harus koma 10 hari. Kata Bapak, seluruh tubuh bebal sehingga jarum infus dan suntik tak tembus. Akhirnya, penanganan dilakukan dengan cara dimasukkan ke tenggorokan pakai selang. Selang ini menyenggol pita suara saya sehingga saya pun kalau bicara gagap sampai sekarang.

Answered Mar 18, 2017

pylLpbfWgm61e1zKT30GvcxpO8RAmtw7.jpg

Saya adalah orang biasa. Bertangan dua, berkaki dua, dan bermata dua. Saya pecinta kopi dan bukan orang yang hobi bersosialisasi. Hobi saya menulis atau diskusi yang jelas maksudnya. Perjalanan hidup saya kepanjangan kalau ditulis di sini. Bisa-bisa seminggu ditulis juga tak kelar-kelar.

Jika Anda ingin inspirasi, minum saja satu mug besar kopi. Insya Allah, Anda akan dapat inspirasi. Begitu kurang lebihnya.

Terima kasih dan salam kenal buat semuanya. Wassalam.

Answered Mar 18, 2017

fMWJcNfOzV_nCGZY-WjzLXQ8M5_elzTx.jpg

Saya lahir di sebuah nagari yang bertepatan di pinggir danau, tepatnya di Nagari Saniangbaka, kecamatan X Koto Singkarak, Solok, Sumatera Barat. Saya lahir di tengah-tengah keluarga petani sederhana dengan latar nagari yang berlandaskan agama dan adat istiadat dengan memakai sistem ninik mamak. Saya masuk sekolah dasar sekitar tahun 90-an dan pindah ke kota Jakarta ketika kelas 3 SD sampai kelas 5 dan di lanjutkan kelas 6 sampai tamat di SDN 2 Leuwiliang, Kabupaten Bogor. SMP saya adalah SMPN Leuwiliang 1. Saya bersekolah di sana sampai tamat. Sementara itu, SMA saya adalah SMA KORNITA IPB dengan predikat lulus.

Pendidikan agama saya dapatkan secara informal, road to road, mosque. Beberapa tahun belakangan ini, ilmu agama lebih banyak saya dapatkan di rumah yang setengah toko. Suatu hal yang dapat saya sampaikan adalah masih banyak hal-hal yang tersembunyi untuk disingkap dari dalam diri kita.

Answered Mar 20, 2017
Hawa Sadewi
Suka streaming film

5Ohn5Stod7qeFXXjktY612R5eoMlMjRy.jpg

Saya lahir dan besar di Jakarta. Dari kecil, saya suka sekali mengambar, mewarnai, dan menyanyi. Darah seni ini sepertinya turunan dari mama-papa saya. Mama saya sangat aktif sekali karena di masa mudanya, beliau suka sekali mengikuti lomba menyanyi, baca puisi, drama, dubbing film jepang Oshin, dan juga pernah menjadi penyiar radio. Sedangkan, Papa sangat mahir sekali dalam hal menggambar dan mewarnai. Tapi saya ini merupakan orang yang pemalu, jadi saya lebih menyukai pekerjaan di balik layar, termasuk duduk berjam-jam di depan layar komputer, daripada harus berbicara di depan orang banyak, hehehe. Padahal, dari kecil, mama saya mengarahkan saya untuk mengikuti teater, lomba menyanyi, dan presenter. Tetapi, hal itu tidak membuat saya menjadi pribadi yang berani tampil di depan orang banyak.

Saat ini, saya baru saja lulus sidang skripsi S1 jurusan Akuntansi di STIE Indonesia Banking School. Padahal, saat SMA, saya masuk ke jurusan IPA yang sama sekali nggak mempelajari akuntansi yang dipelajari oleh siswa jurusan IPS. Tetapi, hal itu tidak menghalangi saya untuk bisa mengerti akuntansi. Alhamdulillah, saya bisa lulus 3.5 tahun dari STIE Indonesia Banking School.

Selama kuliah, saya mulai mengikuti organisasi. Hal itu ternyata penting untuk melatih diri kita agar mampu bekerja secara tim dan individu. Di organisasi tersebut, saya menjadi sekretaris di Himpunan Mahasiswa Akuntansi periode 2014/2015. Setelah lulus S1, saya memutuskan untuk bekerja dulu, mengumpulkan uang untuk bisa menaikkan haji orang tua dan semoga bisa meneruskan S2. Amiiin. Saya juga ingin sekali bisa keliling dunia (cita-cita saya dari kecil). Insya Allah kalau ada rezeki. Amiiin.

Sekarang, saya sedang magang di selasar sebagai administration officer. Saya mulai bekerja tanggal 8 Maret 2017. Sambil magang di selasar, saya harus merapikan skripsi saya yang masih ada revisi dari dosen penguji. Bekerja di sini sangat menyenangkan; orang-orang yang bekerja sangat welcome dan humble. Harapan saya, semoga selasar semakin jaya dan sukses terus ke depan.

Perjalanan hidup saya sepertinya belum bisa menginspirasi, karena pengalaman saya yang masih sedikit. Namun, seperti pepatah mengatakan, "Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian." Jadi jangan mudah menyerah yaa guys, terus berdoa dan berusaha yang terbaik untuk mencapai cita-cita kita. SEMANGAT! 

Answered Mar 20, 2017
Ibnu Zubair
Menolak tua dengan rutin tertawa

9KCn4kTWQL4MCGHERW4pkzs4oEe4yitr.jpg

Saya adalah seorang tokoh terkemuka, lahir dari rahim seorang ibu yang memiliki pengaruh cukup kuat di kalangan kaum perempuan. Bapak saya adalah seorang saudagar sukses yang mengendalikan banyak perusahaan besar, di antaranya termasyhur hingga terpampang di jersey klub ternama di Inggris dan Spanyol. Saya lahir secara normal dengan gizi yang cukup. Ibu dan Bapak begitu menyayangi saya hingga mereka tak kuasa meninggalkan saya, meski hanya untuk pergi ke sekolah.

Untuk berbagai keperluan, saya difasilitasi mobil mewah, sopir, dan seorang ajudan pribadi yang siap mengawal dan memenuhi kebutuhan hidup saya. Saban akhir pekan, saya selalu berlibur ke tempat yang saya inginkan, sekalipun tempat itu jauh dan berbiaya mahal. TAPI, SEMUA CERITA ITU HANYA KHAYALAN DAN KEINGINAN SAYA, BUKAN YANG SEBENARNYA. DAN INILAH FAKTANYA.

Saya datang dari kampung ke Jakarta. Tujuannya, seperti kebanyakan orang kampung lainnya, ingin memperbaiki hidup. Maklum, hidup di kampung serba kurang dan monoton. Sensasinya nyaris tidak ada. Hidup yang penuh dengan rutinitas, ini-ke-itu, tanpa ada perubahan. Cara pandang kami tentang dunia sangat sempit,  seakan bumi ini hanya terdiri dari gapura selamat datang hingga gapura selamat tinggal yang terpasang kokoh dan gagah di kampung saya. Tapi, itu kampung saya yang dulu. Setelah reformasi dan pembangunan digalakkan, apalagi selepas telepon seluler bisa diakses, kampung saya berubah terbuka, bahkan cenderung kebablasan.

Serangkaian peristiwa pidana pernah mampir di kampung, mulai dari yang enteng sampai yang berat macam kasus narkoba pernah ada. Kadang, saya berpikir ingin pulang kampung dan menjadi warga kampung kembali, tapi apa daya, magnet Ibukota terlanjur kuat menghujam dalam keseharian saya. Belum lagi, kebutuhan ekonomi sejauh ini baru bisa dipenuhi oleh kehidupan di Jakarta, sementara sulit mencari pekerjaan di kampung.

Orang-orang di kampung saya sangat antusias dengan penerimaan PNS. Mereka berani bayar berapa pun asal diterima sebagai PNS. Padahal, antara penghasilan PNS dan uang sogok yang dikeluarkan mungkin lebih besar sogokannya, tapi pandangan tentang pekerjaan di pemerintahan yang prestisius telah menjadi stigma yang kuat dan terlanjur menjadi cita-cita sejak anak-anak masuk usia sekolah. Orang kaya tidak akan dipandang jika tidak berlabel PNS, sebaliknya PNS yang ekonominya masih kembang-kempis akan dianggap terhormat. Ironi, tapi itulah faktanya.

Sesampainya di Jakarta, saya menumpang hidup di salah satu rumah kerabat yang telah lebih dulu menetap di Jakarta. Sehari-hari, saya turut membantu kegiatan rumah tangga, seperti mencuci, menyetrika, dan lain-lain. Semuanya kami lakukan secara bergiliran. Mengingat minimnya uang, saya memilih kuliah di tempat yang murah, tapi memiliki rekam pergerakan yang kuat. Setidaknya, saya bisa belajar formal dan informal. Formal melalui bangku kuliah, dan informal melalui kuliah-kuliah jalanan yang difasilitasi dalam banyak demonstrasi.

Tapi, demonstrasi ketika itu masih merupakan sesuatu yang terlarang dan diwaspadai. Karena itu, aksi-aksi yang saya ikuti lebih banyak terjadi di dalam kampus. Barulah setelah reformasi, demonstrasi banyak terjadi di luar kampus. Tapi, aksi yang saya lakukan dulu dengan sekarang berbeda. Dulu, kreativitas itu tinggi, mungkin karena di bawah tekanan, sedang sekarang, demonstrasi nyaris membosankan, malah mengundang antipati karena sering memacetkan jalan di Jakarta.

Selain aksi, saya rutin mengikuti majelis ilmu yang diadakan secara berpindah-pindah dari satu lokasi ke lokasi lainnya. Materi yang paling favorit ketika itu adalah tentang ideologi dan filsafat. Materi ini membangkitkan semangat juang sekaligus mengasah nalar. Di sini, tulis-menulis mulai saya lakoni. Selain karena terpaksa, kami didoktrin bahwa hukum membaca sama wajibnya dengan keharusan menulis. Dua kegiatan itu telah menjadi idola yang dapat mendatangkan simpati dari kaum hawa yang terlibat dalam kegiatan serupa. Intinya, yang paling giat membaca dan rajin menulis akan mendapat banyak jempol dari peserta perempuan, dan mahasiswi cenderung terpesona dengan dua keterampilan tersebut ketika itu. Sekarang, sudah beda, rajin membaca dan pandai menulis bukan yang utama, bahkan telah menjadi syarat yang paling akhir, dari beberapa syarat utama agar seorang wanita tertarik. 

Itulah sekilas tentang saya.

Answered Mar 21, 2017
Kesha Darma
Someone who try to enjoyed life

4H6HMgkHX1M2qave3vZp6hT3vprKcuoL.jpg

Saya adalah Kesha Darma Utama, manusia biasa kelahiran 1993 dengan zodiak Aquarius. Seperti zodiak saya, saya selalu suka apapun yang berbau lautan. Full time as a son, from a best father in the world. Perjalanan hidup saya bisa dibilang menanjak, dari yang dulu hidupnya pas-pasan, sampai akhirnya sudah bisa hidup berkecukupan sampai saat ini. Inspirasi terbesar saya adalah ayah saya sendiri. Pria kelahiran bulan Agustus ini adalah orang yang paling saya sayang seduniaaakk, orang yang akan ngeliatin dengan mimik khawatir melebihi ekpresi ibu saya ketika saya sedang sakit. Yang akan selalu menelepon saya malam-malam untuk memastikan anaknya sudah di jalan pulang atau belum.

Daaaaannn... dialah yang selalu bisa mengeluarkan jokes receh di saat yang selalu gak tepat. Ayah saya juga selalu menjadi guru sejarah sepanjang hidup saya. Tanya deh apapun yang berkaitan dengan sejarah yang ada di dunia, niscaya kita cuma bisa ngangguk-ngangguk sambil ngiler ngedengerin ceritanya  yang superlengkap plus pake nama-nama tokoh pada zaman tersebut. 

Ayah saya paling suka membaca. Mungkin, dia bukanlah orang yang paling pintar sedunia, tapi dia adalah salah satu orang yang paling gak menyerah melakukan apapun yang pernah saya kenal. Contoh, waktu Ayah saya ngegebet ibu saya, coba tebak berapa lama dia bisa diterima oleh oleh ibu saya? Coba berapa?

Hah, dua bulan? Bukaaan....

Ayo, berapa lagi? Ada yang masih mau nawar lagi?

Hah, setahun? Yah, masih kedikitan....

Delapan tahun, Saudara-saudaraaa!!! Bapak saya ngegebet emak saya lalu ditolak dan sampai delapan tahun baru bisa dapat hatinya! Lah, para ABG (Anak Baru Gede) sekarang mah bisa apa? Baru PDKT (pendekatan) seminggu, 'menembak', lalu ditolak saja langsung putus asa. Gantung diri.

Anyway, selain kegigihannya untuk ngedapetin ibu saya, ayah saya selalu gigih untuk melakukan pekerjaannya supaya bisa liat anak-anaknya senang, lalu bisa membelikan apa saja yang anaknya mau. Untungnya, saya dewasa di lingkungan yang berubah-ubah, jadi ketika dewasa, saya bisa bersikap tahu diri dengan ayah saya dan gak pernah nuntut ini-itu, paling kalau pengin cuma bisa liatin gambarnya saja, gak berani ngomong, karena saya tahu saya nggak mau ngerepotin beliau.

Buat saya, rasa sayang ayah saya tidak pernah mampu diungkapkan lewat kata-kata, tetapi melalui perlakuan. Ayah saya suka menelepon untuk menanyakan apakah saya sudah makan atau belum, suka ngambek kalau saya pulang malam (Padahal, kan, saya anak cowok ya, dan umur saya udah bukan saatnya diteleponin untuk "pulang temenin Papa"), suka paling khawatir kalau saya lagi sakit, dan sebagainya.

Ayah saya selalu memperlihatkan sikap "no pain, no gain", jadi kita harus selalu berusaha untuk mendapatkan sesuatu. Juga, yang paling penting adalah "melakukan sesuatu sesuai masanya", misalkan menyetir mobil pada umur 16, bisa jalan dan pulang malam pada umur 19, juga hal-hal lainnya yang diperbolehkan sedikit demi sedikit ketika saya sudah dewasa. 

Itu lah sekelebat cerita saya. Semoga saja ada hal yang bisa menginspirasi dari cerita saya. Intinya, dalam hidup saya, saya tidak akan bisa menjadi apa-apa tanpa kedua orang tua saya. That is why I love both of them so much, still hoping that I have still have time to make them happy and proud. :)

Answered Mar 22, 2017
Kunume Wene
Analyse System (Local Big Date Center)

Saya berasal dari masyarakat adat Balim (Dani) Papua. Saat ini saya sedang menelusuri berbagai macam hal pembiaran kehidupan Balim sangat menumpuk itu yang kini mengakibatkan kekacauan dalam pembangunan di atas tanah Papua. Hal yang menyebabkan konsep pembangunan yang selama ini terjadi tanpa melihat landasan filosofis orang Papua, namun dibangun dengan pandangan yang sangat keliru dari luar. 

Permasalahan yang paliang mendasar ialah kesalahan yang terjadi awal pemerintah menyentuh orang Balim Papua lalu mengilegalkan berbagai macam hal seperti yang ada pada gambar-gambar di atas ini (pemusnahan budaya, operasi koteka oleh militer RI, merusak habitat Kunume (Rumah adat Balim) yang merupakan pusat pancaran kehidupan Balim. Oleh karena beberapa hal yang saya sebut di atas merupakan kehidupan Balim (Papua)  itu sendiri. Jika Anda tertarik untuk mengunjungi Papua, silakan hubungi saya. Demikian...

 

 

 

P.S. gambar oleh Malekhanif at ms.wikipedia - https://commons.wikimedia.org/w/index.php?curid=16233791

Answered Mar 23, 2017
I.Hartaman C.Ht
Certified Hypnotherapist , Certified Trainer

UaI7xtUQt-syWzYqs_X5F1R-NSKwlQRp.jpg

Saya yakin Anda pernah tahu nama saya, betul?

Kalau belum, Anda perlu membaca kembali dari atas sejak pertanyaannya.

Nama lengkap adalah saya Iman Hartaman. Terlihat jelas karakter Sundanya karena sebagian besar nama orang Jawa Barat bersuku Sunda memiliki suku kata nama depan dan belakang yang sama. Tantri Sulastri, Yanti Susanti, Dedi Siswadi. Sunda, itu semua. Tulen. Sebab, nama-nama itu adalah nama adik-adik saya semua. Nah, kalau yang beda, patut dipertanyakan tuh keaslian Sundanya, ya….

Saya adalah orang Bandung sejak kecil. Dari sekolah dasar sampai selesai pendidikan tinggi, semua pendidikan saya ditempuh di institusi negeri yang disediakan oleh pemerintah, sesuai dengan pekerjaan orang tua yang merupakan abdi negara. Biar kelihatan keren. Artinya, sih, sama saja dengan anak tentara.

Petualangan "keluar sarang" saya dimulai dua puluh delapan tahun lalu ke Negeri Sakura, berlanjut ke Tanah Dewa alias Pulau Bali, dan terakhir "terdampar" di tanah beragam suku Jabodetabek. Saya tinggal di Jakarta, kemudian pernah di Tangerang, Depok, dan sekarang di Bekasi. Perjalanan ini memberikan pelajaran mengenai cara memahami karakter dan budaya sosial manusia yang beragam. Dengan mengerti bahasa, kita bisa lebih mendalami perasaan masyarakatnya.

Semua pengalaman itu saya jalani sembari bekerja di industri bangunan mekanik dan listrik. Di sana, saya mengarungi berbagai kesenangan dan kepahitan. Terkadang, saya juga sedikit bersenggolan dengan kawan.

Pekerjaan sebagai seorang Certified Hipnotherapist saya lakoni disela-sela rutinitas pekerjaan di perusahaan modal asing di Cikarang sebagai Direktur Produksi, pencapaian yang cukup baik setelah melalui berbagai usaha yang panjang. Bertahun tahun menjabat asisten manajer tanpa manajer ataupun direktur, berhubungan langsung dengan Presiden Direktur (warga negara Jepang, tentu), sakitnya tuh di sini…(kalau lagunya dua kali). Setelah pada tahun 2014 mengetahui bahwa teknik dapat mengubah diri sendiri, setahun kemudian, saya memegang jabatan saat ini dan setahun kemudian (lagi) mendapatkan sebagian kecil bagian perusahaan sebagai shareholder. Saya berandai-andai ,bila pengetahuan ini saya dapat tiga puluh tahun lalu, ceritanya akan lain.

Perjalanan panjang mengubah diri

Dua puluh lima tahun bekerja dengan perubahan biasa-biasa saja, saya merasa perjalanan diri ini tidak signifikan. Saya merasa seperti ada yang salah. Hal ini membuat saya pada enam tahun lalu memulai pencarian missing link berupa penyebab saya terpenjara di posisi yang sama dengan ikut seminar motivasi, teknik berbisnis dengan menulis impian, berteriak, selalu berpikir positif, banting tulang, banting piring. Pokoknya, segala usaha dilakukan untuk bisa berubah sejak tahun 2002. Hal-hal ini tidak mengubah saya.

Singkatnya, sampailah saya pada suatu workshop perubahan yang dimulai dari diri sendiri (life transformation), yaitu mental, kesadaran yang mengendalikan hidup. Orang menyebutnya insting, kata hati, ilham, dan lain sebagainya. Ternyata, perubahan itu memerlukan ilmu setara Power Ranger, yaitu dengan mengubah diri melalui teknik hipnotis. Pengalaman pribadi inilah yang menjadikan saya seorang hipnoterapis untuk bisa berbagi dengan teman-teman.

Saya punya pesan untuk orang-orang yang ingin mengubah diri (move on, kata anak sekarang) dalam menjalani kehidupan. Berubah harus dimulai dari keinginan yang kuat, berasal dari dirinya sendiri, disertai dengan action, bukan NATO (No Action Talk Only), dan dilakukan dengan memakai ilmu, bukan secara ngawur. Tidak ada kejadian yang datang secara otomatis alias turun dari langit. Semua perlu media untuk membuatnya terjadi, bahkan firman Allah dari Alquran surat Ar-Ra’d ayat 11 mengatakan bahwa “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” Apakah maksud dari “mengubah keadaan diri” itu seperti Power Ranger yang berubah wujud? Bukan. Kesadaran dan mental kita lah harus diubah.

Semoga pengalaman ini bisa bermanfaat bagi Selasares.

 

Answered Mar 25, 2017

Akan panjang sih menjawab pertanyaan ini. Mungkin bisa disearch dahulu di profil linkedin saya, ada biografi singkat disitu.

https://www.linkedin.com/in/ramadhanirizki/

Answered Mar 25, 2017
Mugniar
Blogger www.mugniar.com | Freelance writer

Hasil gambar untuk penulis

Sumber gambar: https://mazyudee.files.wordpress.com/ (via SUM)

Saya ibu rumah tangga biasa yang menemukan passion menulis di usia yang tidak muda lagi (37 tahun, sekitar 6 tahun lalu). Saya belajar menulis dalam berbagai bentuk yang menurut saya menarik untuk dipelajari. Saya pernah menerbitkan buku "solo" dan "duet". Saya juga terlibat dalam 19 antologi. Saya menulis di koran lokal. Pernah juga menulis resensi untuk koran yang terbit di Jakarta tetapi saya paling senang ngeblog. Total tulisan saya sekarang ada 2.000, mulai dari tulisan dengan 100 kata sampai 2000an kata (sejak aktif tahun 2011). Saya bersyukur bisa membuktikan bahwa menulis bukan bakat melainkan kemauan kuat untuk praktik menulis. Dan saya bersyukur, dengan menulis, saya bisa "menembus batas". Alhamdulillah.

 

 

Answered Apr 3, 2017
Tasri Jatnika
Dosen, Pengajar dan Pengamat Seni Rupa, Praktisi Graphic Recorder dan Penulis

wDecXuX5dSXWmtMpaCCUCiip7niAHiq6.jpg 

(gambar via TJ)

Izinkan memperkenalkan diri. Nama saya Tasri Jatnika. Saat ini aktivitas saya sebagai pengajar dan pendidik di bidang Seni Rupa dan Desain. Kecakapan teknis yang saya ajarkan kepada siswa dan mahasiswa adalah menggambar. Pada dasarnya, itu adalah sebuah aktivitas purba yang dilakukan oleh setiap orang sejak kecil. Hanya saja, ketika bertambah umur dan pola pikir mulai menuntut pilihan jalan, kebanyakan orang memilih berpikir bahwa dia kurang berbakat menggambar atau merasa tidak bisa menggambar padahal dulu sebelum mengenal huruf dan angka, setiap manusia berkomunikasi dengan gambar dalam wujud garis, bidang, bentuk dan warna.

Tahun ini saya akan lebih fokus pada pengembangan diri di bidang graphic recorder, sebuah pola komunikasi lewat bahasa tulisan dan gambar dengan bantuan bagan, tabel, grafik, dan sebagainya. Kebutuhan setiap orang berbeda dalam menyerap informasi di sekitarnya sehingga membutuhkan kecepatan dalam menyerap dan memahami infromasi, kecermatan dalam detail dengan tetap membawa nilai rasa, dan empati pada khalayak.

Answered Apr 3, 2017
Ign Joko
Guru; Menulis itu tindakan dan membaca adalah menabung

Sh5Bab5YsBpVV0bn6Qxt9d0JRxObLwP5.jpg

Saya adalah seorang guru seni rupa yang kebetulan suka dengan menulis. Menurut cerita orang tua, nama saya Joko Dwiatmoko terinspirasi dari seorang pengarang terkenal terutama tentang sastra jawa bernama Joko Dwiatmoko. Kebetulan sejak kecil, harta terbanyak ayah saya adalah buku pelajaran dan buku cerita. Sejak kelas dua SD saya sudah mulai senang membaca cerita silat karya SH Mintardja Api di Bukit Menoreh, Naga Sasra Sabuk Inten yang biasa dibaca oleh nenek dan ayah saya.

Kelas 3 SD saya sudah keranjingan mendengar cerita wayang dan cerita silat Asmaraman S Kho Ping Ho. Sebagai anak pegawai negeri, cerita-cerita rakyat terbitan Balai Pustaka juga sering saya lahap. Maka, ketika besar ada fantasi yang membuat saya tertarik dalam dunia tulis-menulis karena sejak kecil saya sudah mengenal buku cerita. Mungkin saya tidak mempunyai bakat sebesar penulis-penulis besar sekarang ini yang aktif menulis, Akan tetapi paling tidak sekarang sedang berusaha agar saya selalu rajin menulis dan saya tertarik dengan Selasar saat ini yang unik lain dari yang lain.

Semoga Selasar semakin besar dan saya bisa berkontribusi di dalamnya.

Answered Apr 4, 2017

Question Overview


and 41 more
59 Followers
5238 Views
Last Asked 3 years ago

Related Questions


Buku biografi siapa yang paling mengesankan yang pernah Anda baca?

Siapa itu Jose Rizal?

Siapa Mar'ie Muhammad?

Apa keunggulan karakter Letjen (purn) Prabowo Subianto?

Siapa Arifki Chaniago?

Menurut Anda, apakah yang menarik dari seorang Malcolm-X ?

Siapakah Anda? Dapatkah Anda menceritakan kisah hidup Anda yang bisa menginspirasi orang lain?

Siapakah Ibu Anda? Dapatkah Anda mengisahkan perjalanan hidup Ibu yang Anda ketahui?

Siapakah Ayah Anda? Dapatkah Anda mengisahkan perjalanan hidup Ayah yang Anda ketahui?

Apa nasihat terbaik yang pernah Anda dapatkan?

Bagaimana menjelaskan bahwa ada kemungkinan kehidupan lain selain di Bumi ini?

Apa motto hidup paling keren?

Apakah seseorang mempunyai karakter bawaan yang tidak bisa diubah?

Apa ketakutan terbesar dalam hidupmu? Mengapa?

Siapakah cinta pertama Anda?

Seberapa pentingkah olahraga bagi Anda ?

Apa yang Anda lakukan ketika mengalami kesulitan dalam menentukan pilihan?

Apa pengalaman paling bermakna dalam kehidupan Anda?

Siapakah orang yang paling berpengaruh dalam kehidupan Anda?

Apa pengalaman terburuk yang pernah Anda alami seumur hidup?

Apa pengalaman terbaik/terindah yang pernah Anda alami sepanjang hidup Anda?

Bagaimana cara Anda meniti karier dari bawah sampai ke puncak?

Bagaimana rasanya ditipu/difitnah/dizalimi oleh orang lain?

Apa hal yang paling berbahaya/berisiko yang pernah Anda lakukan?

Apa pengalaman yang paling mengesankan selama hidup Anda?

Apa cerita nyata yang Anda alami tapi banyak orang tidak percaya?

Apa cerita hebat mengenai orang tua Anda yang akan ceritakan ke anak Anda?

Apa pengalaman kehidupan yang paling berkesan dalam diri Anda?

Apa hal paling menyedihkan yang pernah Anda dengar, baca, dan lihat?

Apakah merek parfum yang paling cocok untuk wanita?

Apakah perbedaan antara parfum dan cologne?

Apa yang membuat harga parfum begitu mahal?

Apakah wanita mengenakan parfum untuk menarik perhatian pria atau ada alasan lainnya?

Apa tujuan laki-laki memakai parfum?

Bagaimana cara memakai parfum yang benar?

Bagaimana cara memakai cologne yang benar?

Apakah parfum yang aromanya paling maskulin?

Apakah parfum yang aromanya paling feminin?

Parfum pria apa yang aromanya bisa diterima oleh semua orang?