selasar-loader

Pada umur berapa sebaiknya anak diajak untuk menjalankan ritual keagamaan?

Last Updated Nov 18, 2016

Ada anggapan menyuruh dan bahkan memaksa anak melaksanakan shalat (dalam Islam) sejak usia dini lebih baik untuk mengajarkan kedisiplinan waktu. Namun ada juga yang menganggap untuk ritual keagamaan orang tua tidak boleh memaksa anaknya.

8 answers

Sort by Date | Votes
Wahada Nadya
F.Psikologi UGM | masih belajar dan terus belajar | batubatako.wordpress.com

Hasil gambar untuk mengajarkan agama kepada anak

Dipaksa. Saya kurang setuju dengan kata dipaksa.

Alangkah lebih baiknya diajarkan. Jika pertanyaannya diganti dengan diajarkan, maka saya akan menyatakan bahwa itu lebih baik dilakukan sedini mungkin. Bagaimana aktivitas keseharian yang kita kaitkan dengan ritual keagamaan, hal ini akan membuat pola pikir anak terbentuk mengenai ritual keagamaan sedari dini dan baik untuk framing mengenai agama ke depannya.

Tapi, jika pertanyaannya memang menggunakan kata "dipaksa", maka sesuai dengan ajaran agama saya adalah ketika anak sudah mulai tumbuh dewasa atau baligh. Ketika mereka sudah mulai mempunyai rahasia sendiri dari keluarga, mulai menentukan keputusan sendiri, dan hal lainnya yang membuat mereka memikul tanggung jawab, di sanalah peran kita untuk mengarahkan, "memaksa" mereka melakukan ritual keagamaan sebagai pondasi mereka dalam kehidupan. Untuk menjadi sandaran mereka dalam kehidupan, karena tidaklah hanya kepada Tuhanlah kita bergantung. 

Gambar via kajian.afahrurroji.net

Answered Dec 19, 2016
Ramadhan Yunus
Pecandu dan Pendiri Bacapikiran.com

Kalau ingin menanamkan atau mengarahkan anak agar taat menjalankan ritual keagamaan. Bisa dibiasakan sejak umur 0 hari.

Bagaimana caranya? di ajak interaksi walaupun hanya interaksi satu arah. Dengan seringnya mendengar, melihat dan merasakan kegiatan ritual agama orang tua. Maka akan tertanam kuat dalam kepribadian si anak.

Jadi jawabannya di perintah atau di ajak atau di paksa (terserah bahasa Anda) sesuai dengan kemampuannya. Contoh kalo dalam islam, ritual  Sholat.kalau masih belum bisa berdiri ya cukup di ajak sholat di sampingnya, bisa mulai berdiri di ajak berdiri di sampingnya, sampai bisa mengikikuti gerakan. Tapi dengan konsekuinsi ritual Anda bakal terganggu.

 

Answered Jan 26, 2017

Dalam ajaran Islam, seorang anak harus diajarkan sholat sejak usia dini....  agarselah baligh ia tak lagi merasa beratmenjalankannya, karena sudah menajdi kewajiban. Temtu saja, kedua orangtuanya atau seisi keluarganya ikut mencontohkannya dengan baik, dan pilih sekolah yang juga mengajarkan agama tersebut secara optimal.

Answered Jan 26, 2017

Kewajiban menjalankan agama (Ta'lif) jatuh setelah seseorang memasuki usia akil baligh. Dalam hal ini sebelum masa baligh, tidak ada kewajiban menjalankan perintah agama, Namun orang tua berkewajiban memberikan pendidikan tentang agamanya.

Dalam hal mengajarkan anak untuk beribadah, Rasulullah menganjurkan agar dilakukan sejak dini. Beliau menyuruh orang tua gar menyuruh anaknya untuk melakukan sholat pada usia 7 tahun, dan memukulnya (dengan maksud mendidik) apabila tidak melakukan sholat di usia 10 tahun.

Mengenai usia tersebut, saya rasa sangat relevan dengan usia perkembangan anak. Sayyidina Ali kw. berkata , 

7 tahun pertama, jadikanlah anakmu Raja / Ratu. (manjakan dan berilah kasih sayang sebesar-besarnya, karena ini masa perkembangan anak paling cepat)

7 tahun kedua, jadikan anakmu tawanan.(Didiklah dengan tegas, bagaikan ranting yang masih muda, harus diikat agar bisa tumbuh lurus)

7 Tahun ketiga, jadikan anakmu sahabat. pada fase ini anak sudah tidak bisa lagi dipaksa, kalau dipaksa ia akan kabur atau mencari perlindungan diluar rumah. maka pastikan pendekatannya seperti seorang sahabat.

Answered Jan 26, 2017
Miftah Faridz
Young Enterpreneur, Future Psychologist, Mahasiswa S1 Psikologi UNAIR

belajar-menghafal-al-quran.jpg

Ketika melihat pertanyaan ini, saya langsung ingat akan sebuah hadits yang mana, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, "Perintahkan anak-anak kalian untuk melakukan shalat saat usia mereka tujuh tahun, dan pukullah mereka saat usia sepuluh tahun. Dan pisahkan tempat tidur mereka." (HR. Ahmad).

Sebagai seorang muslim, saya dan anda pasti meyakini bahwa apapun yang diucapkan oleh Nabi Muhammad adalah benar karena apa yang beliau ucapkan bersumber langsung dari Allah SWT. Apabila kita melihat hadits di atas, secara tidak langsung Allah menyuruh orang tua untuk memukul anaknya jika pada usia 10 tahun masih enggan untuk melaksanakan ritual keagamaan (sholat). Sebenarnya dari hadits di atas sudah menjawab pertanyaan ini, namun di sini saya ingin mengutarakan pendapat saya.

Menurut saya cara yang paling efektif supaya anak mau untuk melakukan ritual keagamaan tanpa menggunakan kekerasan adalah orang tua harus memberikan contoh atau teladan kepada anak terlebih dahulu. Misalnya, orang tua mengiginkan anaknya untuk mau mengerjakan sholat, maka orang tua juga harus melaksanakan sholat tanpa satupun meninggalkan waktu sholat. Kasus seperti ini bisa dijelaskan dengan teori psikologi behavioristik yaitu Observational Learning dari Albert Bandura. Dari eksperimen yang telah dia lakukan, dia mendapatkan kesimpulan bahwa anak-anak akan mencontoh perilaku orang (model) yang mereka lihat. Apabila anak melihat tayangan TV yang mempertontonkan adegan kekerasan maka kemungkinan besar anak juga akan berperilaku anarkis. Namun, apabila anak dipertontonkan dengan tayangan yang baik seperti menolong orang, memberi dll, maka anak juga akan melakukan hal serupa.

Oleh karena itu, apabila orang tua menginginkan anaknya bisa melakukan ritual keagamaan, maka yang perlu dilakukan adalah memberikan contoh terlebih dahulu kepada anak. Hal tersebut akan mengakibatkan anak tidak perlu lagi untuk dipukul atau diperlakukan secara kasar supaya mau melakukan ritual keagamaan.

Answered Jun 18, 2017

Pada umur 7 tahun karna Nabi menganjurkan hal itu,dalam salah satu hadis nya beliau bersabda:"perintahkanlah anak mu mengerjakan solat pada saat ia berusia 7 tahun," dan pukulah ia jika tidak mengerjakan solat ketika ia berusia 10 tahun. 

Answered Aug 18, 2017
Dian Fhaatma Thaib
Core Lead Team Psychological First Aid (PFA) F. Psikologi Universitas Indonesia

[Asal Alasannya Tepat,  Lebih Cepat Lebih Baik]

ihUKS0dqlGVVCdeWzoPYLP6HJJgxw2rE.jpg

Menurut saya pribadi, ada banyak alasan mengapa ada perbedaan pandangan mengenai usia dan situasi terbaik seorang anak mulai diajak mengikuti ritual keagamaan. 

Saya rasa,  orang tua tentu yang paling tau mengenai usia yang tepat untuk hal ini, disesuaikan dengan karakteristik anak itu sendiri. Namun,  jika boleh berpendapat,  menurut saya hal utama yang harua diperhatikan orang tua saat ingin mulai mengajak anaknya mengikuti ritual agama adalah 'why' atau alasan yang kuat,  mengapa itu merupakan saat terbaik dan sudah seberapa jauh orang tua siap menjelaskan semua kemungkinan pertanyaan yang akan ditanyakan sang anak nantinya. Hal berikutnya yang menurut saya harus diperhatikan oleh orang tua adalah bagaimana menjelaskan 'esensi' dari setiap ritual yang akan ia jalani,  tentunya dengan bahasa yang ia pahami. Ini menjadi PR tersendiri bagi kebanyakan orang tua, saya rasa.  Pasalnya,  menjelaskan esensi dari setiap ritual ibadah tentu bukan perkara mudah,  ditambah lagi hal itu harus disesuaikan dengan pemahaman dan bahasa sang anak. 

Ajakan ini juga sebaiknya dilakukan secara bertahap, sehingga anak dapat memaknainya secara lebih utuh.  Seperti membiarkan anak menjadi pengamat diawal ajakan. Membiarkan anak mengobservasi ini memungkinkan ia mengalami proses berfikir sehingga orang tua dapat memberikan pemahaman atas apa yang ia amati dan menjawab beragam pertanyaan yang muncul dari pengamatan yang ia lakukan. Anak sejatinya sudah memiliki kemampuan mengamati dan meniru diusia yang sangat dini,  kira-kita diusia 2-3 tahun,  jika ingin memaksimalkan masa masa aktif meniru sanga anak,  maka dapat dimulai sejak usia tersebut.

Misalnya sholat,  orang tua yang ingin mengajak anaknya sholat ada baiknya melakukan sholat didekat anaknya itu terlebih dahulu. Setelah itu diajak perlahan untuk melakukan geraka-gerakan yang ringan seperti mengangkat tangan,  rukuk,  sujud dalam durasi yang lebih singkat dari sholat yang sebenarnya.  Hal ini karena anak memiliki atensi yang tidak terlalu lama,  jika dipaksakan,  anak dikhawatirkan akan cepat bosan dan jadi tidak ingin melakukan rangkaian ritual itu lagi.  Sembari mengenalkan gerakan-gerakan tersebut  ada baiknya orang tua menyelinginya dengan memberi tau alasan mengapa sang anak harus sholat (bisa dengan memberitahu lebih dahulu konsep surga dan pahala,  karena anak biasanya akan lebih mudah memahami dan melakukan jika ada konsep reward yang mereka dapatkan.  Setelah bertambah besar barulah jelaskan tentang pentingnya sholat untuk kedekatan  ia dan Rabb nya dan sebagainya). Konsep dosa,  durhaka dan hal-hal tidak mengenakan lainnya,  jika saya boleh menyarankan akan lebih baik tidak dijadikan tersebut pondasi utama dalam mengajar anak mengenali ritual dalam agamanya. Dimana dalam hal ini adalah sholat wajib.  Hal ini agar anak memiliki penilaian dan pandangan positif dulu terhadap apa yang akan mereka jalankan. 

Menurut saya,  terkait usia yang tepat,  lagi-lagi jika orang tua sudah siap untuk ber-'effort' lebih untuk mengajak, menjelaskan dan mengarahkan anak maka hal tersebut sejatinya sudah dapat dilakukan.  Perlu dipastikan agar orang tua nantinya tak sekedar mengajarkan anak sebatas cara mengerjakan ritual semata,  tapi juga memahamkan anak akan esensi dibaliknya. 

Answered Dec 1, 2017
Romli Amrullah
RK7 Makassar | Founder ODTePs Community | Interested in Sharia Banking

Ebv51VTMPsyPj_QUSvwCwEcr9zW8j6_0.jpg

seorang balita  belajar berbagai hal dari orang-orang terdekatnya, dari Ibu atau Ayahnya. Ia tidak belajar seperti anak-anak yang belajar melalui seorang guru, seorang balita belajar berdasarkan kebiasaan apa yang Ia lihat dan Ia dengarkan. Tak sedikit balita yang tumbuh dengan hafalan Qur'an yang luar biasa. Apakah itu karena Ia yang membaca dan menghafalnya sendiri? tentu tidak, orang tuanya lah yang secara rutin membacakan atau memperdengarkan bacaan-bacaan Qur'an kepada sang anak. Bahkan telah banyak kita lihat melalui media-media Ibu yang memperdengarkan bacaan-bacaan Qur'an sejak sang anak masih di dalam kandungan. Hal ini membuktikan bahwa tak ada patokan umur yang dapat dijadikan referensi kapan sang anak mulai diperkenalkan tentang ritual-ritual keagamaan. Sejak kecil, bahkan sejak balita seorang anak bisa diperlihatkan atau disandingkan saat orang tuanya melaksanakan shalat, tilawah atau yang lainnya. kebiasaan-kebiasaan seperti itulah yang nanti akan ditiru oleh seorang balita ketika Ia mulai tumbuh besar dan bisa belajar untuk melaksanakannya dengan benar berdasarkan hukum dan contoh yang diberikan oleh Rasulullah SAW.

Answered Dec 14, 2017

Question Overview


10 Followers
1036 Views
Last Asked 3 years ago

Related Questions


Mengapa Tuhan membuat surga, padahal insentif tertinggi umat Islam adalah ridha Allah?

Apakah Tuhan perlu dibela?

Apakah Syiah bukan Islam?

Mengapa Nabi Muhammad tidak mengizinkan Ali mempoligami Fatimah?

Apa yang dimaksud dengan bid'ah?

Apa yang dimaksud dengan munafik?

Apa yang dimaksud dengan halal?

Apa yang dimaksud dengan haram?

Apa yang dimaksud dengan mubah?

Mengapa Ibrahim meninggalkan Hajar dan Ismail sendirian di Mekah?

Apa dan bagaimana cinta itu?

Kepada siapa kecenderungan waria memilih pasangannya?

Adakah kaitan antara parfum dan kepribadian seseorang?

Apakah status sebagai anak tunggal mempengaruhi sikap politik Presiden ke-6 RI?

Apakah status sebagai anak lelaki satu-satunya dalam keluarga mempengaruhi sikap politik Presiden Jokowi?

Apa yang menyebabkan orang takut menikah?

Apa yang menyebabkan seseorang takut menghadapi masa depan?

Mengapa respons orang sedih umumnya menangis?

Apakah menangis itu sehat atau malah membuat sakit?

Benarkah anak yang suka tantrum memiliki kecerdasan di atas rata-rata?

Benarkah anak yang 'fatherless' berpotensi menjadi kemayu? Mengapa?

Bagaimana cara mengatasi anak yang memiliki rasa ingin tahu berlebih?

Mengapa anak lebih baik tidur di kamar sendiri alias terpisah dari orangtuanya?

Pada usia berapakah anak boleh diajarkan bahasa asing? Mengapa?

Pentingkah mengajarkan bahasa daerah kepada anak?

Bagaimana cara yang bijak menjawab pertanyaan anak tentang seks?

Pentingkah orangtua memberikan nama yang baik kepada anaknya? Mengapa?

Seberapa berbahayakah kondisi anak yang memiliki kedekatan berlebih dengan pengasuhnya?

Mengapa channel mainan di YouTube cenderung memiliki banyak sekali penonton?

Bagaimana Anda memaknai tujuan kehidupan?

Siapa orang yang selalu menyemangati hidup Anda?

Apakah pendidikan anti korupsi sejak dini itu penting? Mengapa?

Apakah Anda tahu bahaya dari korupsi?

Siapa Drs. Musholli, pendiri Nurul Fikri?

Bagaimana cara agar mahasiswa dapat lulus tepat waktu?

Apa kelebihan kuliah di jurusan Psikologi?

Apa yang membuat seseorang kurang disukai?

Apakah seseorang yang mempunyai kepribadian introvert bisa berubah menjadi seseorang yang berkepribadian ekstrovert?

Peristiwa besar apa yang dimulai dari kehidupan di kampus?

Apa yang membuat Demam Berdarah menjadi salah satu penyakit yang berujung kematian?

Apa tips yang paling efektif untuk melancarkan buang air besar?

Apa yang biasanya Anda lakukan untuk mengatasi rasa bosan?

Apa itu asam urat?

Apa menurut kamu studi banding ke luar negeri ke beberapa negara maju untuk guru itu perlu dilakukan?

Apakah skill atau keahlian paling utama yang harus dimiliki seorang guru sekolah dasar?