selasar-loader

1 answer

Sort by Date | Votes
Ibnu Zubair
Menolak tua dengan rutin tertawa

_jTt_BdlRyXQGpX7wl6TPCq-hlaPGLRl.jpg

Kalau ada pertanyaan, siapa yang paling rajin menulis tiap hari, salah satu yang akan saya sebut Pepih Nugraha. Untuk mengetahui siapa orang ini, silahkan buat pertanyaan di selasar, kita akan temukan profilnya dalam tumpukan tulisan yang tak usai-selesai. Saya sengaja memulainya dengan Pepih, meski tidak ada hubungan kekerabatan antara Pepih dan Yusril. Dari nama belakangnya saja, sudah terlihat keduanya diproduksi dari mesin pabrik yang berbeda. Satu Sunda, dan lainnya Belitung.

Namun, keduanya bertemu dalam tulisan, dan saya kira orang yang paling kompeten menjelaskan tentang Yusril adalah Pepih. Sebagai penulis buku "Ranjau Biografi", Pepih atau Kang Pepih, orang yang tepat menceritakan sosok Yusril karena perspektifnya cukup lengkap, di samping objektivitasnya yang hampir netral atau bahkan netral.

Tengoklah tulisan Kang Pepih di PepNews, yang mengatakan, "Orang boleh saja nyinyir tidak suka dengan sepak terjang Yusril Ihza Mahendra, tetapi bagi saya dia adalah seorang guru jurnalistik". Tulisan yang mengundang banyak komentar di akun facebooknya itu menarik, karena di samping secuplik mengkonstruksi sifat Yusril, tapi juga menampilkan sisi positifnya. Hal yang musykil bagi banyak orang.

Yusril muncul dalam daftar orang orang yang saya kenal dan mereka tidak mengenal saya, sejak koran menjadi menu wajib di pagi hari, tepatnya pada semester-semester pertengahan atau beberapa tahun sebelum Presiden Soeharto berhenti sebagai Presiden (1998). Yusril yang saya tahu salah seorang penyusun naskah pidato Presiden, posisi itu telah mendekatkan Yusril dengan Presiden Soeharto, dan melalui perkenalan itu pula Yusril nekat meminta Presiden Soeharto berhenti ketika gelombang reformasi sudah sulit dihentikan.

Yusril dalam persepsi saya ketika itu adalah mata rantai Orde Baru, yang diambil dari Universitas Indonesia dengan dua motif sekaligus. Pertama, menumpulkan sikap kritisnya dengan mengendalikan Yusril melalui jabatan prestisius. Kedua, memadamkan amarah umat Islam sekaligus mendekatkan Presiden Soeharto dengan umat Islam.

Konon, sebagai orang dekat Natsir, Yusril dianggap memiliki akses pada kelompok kelompok Islam keras yang lazim merongrong pemerintah melalui kekerasan dan ketakutan. Belakangan, kelompok-kelompok seperti ini sebagiannya tidak murni, tapi diciptakan oleh oknum-oknum telik sandi yang kompeten dan berpengalaman.

Dan menurut analisis lainnya, selepas peristiwa Priok, hubungan umat Islam dan Presiden Soeharto cukup renggang, sehingga penunjukan Yusril dianggap sebagai usaha Presiden Soeharto menarik simpati dari umat Islam. Begitulah persepsi yang saya dapat berdasar analisis politik jalanan yang boleh jadi benar, meskipun kelirunya lebih dominan.

Selepas Orde Baru, nama Yusril semakin sering tampil di media, utamanya selepas pendirian Partai Bulan Bintang yang mendaulat Yusril sebagai Ketua Umum. Kemudian, kiprah Yusril berlanjut dengan keinginannya untuk posisi presiden namun ujung-ujungnya menjadi menteri di berbagai era pemerintahan. Belakangan, Yusril sempat muncul dalam bursa gubernur DKI.

Sekalipun gagal "nyangkut" di salah satu partai yang berwenang mengusung, Yusril berkontribusi menyatukan umat Islam Jakarta hingga meledak selepas penyataan "keseleo" Gubernur Petahana di Pulau Seribu. Yusril memang selalu tampak moderat, tetapi pendukung dan simpatisannya berlatar konservatif, dan perilaku politik Yusril akhirnya pun hanyut dalam konservatisme.

Hal itu mengkonfirmasi pilihan-pilihan politik Yusril dalam setiap kontestasi politik yang terjadi. Artinya, ke manapun Yusril berlayar, akhirnya akan bersandar di pelabuhan yang sama. Ini pendapat saya pribadi. Mohon maaf jika keliru, apalagi jika tampaknya hampir dekat dengan salah.

Jika saja pemilihan umum dilakukan hari ini, mungkin posisi suara PBB akan meningkat. Mengapa? Karena hal itu tidak lepas dari kontribusi Yusril tadi di awal-awal pencalonan bakal calon gubernur Jakarta, dan saat ini sedang demam-demamnya. Sayangnya, fase ini diperkirakan akan lekas usai, setidaknya selepas gubernur DKI terpilih. Apalagi kalau gubernur terpilih merepresentasikan kelompok konservatif tadi, hampir pasti demo-demo masif bertema ukhuwah akan menyusut pelan-pelan.

Yang saya pelajari dari Yusril adalah kemampuannya menggunakan nalar hukum dan konsistensinya dengan itu. Selainnya, semangat membacanya masih tinggi, karena itu dalam banyak kesempatan, akan kita temukan istilah dan bahan rujukan klasik yang sering dikutip Yusril. Di sini pengetahuan kesejarahannya sangat baik, dan saya belajar banyak soal itu.

Kutipan-kutipan Yusril dalam kajian tentang hukum cukup mumpuni dan kontekstual. Kalau boleh saya katakan, Yusril adalah sosok intelektual hukum masa kini yang memadukan bahan-bahan lama yang (mungkin) sudah dipensiunkan, dengan kondisi kekinian. Saya belajar banyak soal-soal itu dari Yusril.

Answered Mar 8, 2017

Question Overview


2 Followers
586 Views
Last Asked 2 years ago

Related Questions


Siapa Mar'ie Muhammad?

Siapa Seno Gumira Ajidarma?

Siapa Gaffari Ramadhan?

Siapa Fithra Faisal Hastiadi?

Siapa Edho Mahendra?

Siapa Bane Raja Manalu?

Siapa Ronny P Sasmita?

Siapa Pramudya Oktavinanda?

Siapa Hasan Nasbi Batupahat?

Apa definisi dokter yang sukses menurut Anda?

Mengapa Hillary Clinton yang mendapatkan popular votes terbanyak tidak terpilih sebagai Presiden?

Apakah terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat akan mengubah wajah dunia?

Mengapa seseorang bisa tertarik bergabung dengan ISIS?

Mengapa seluruh periset di lembaga survei dan media Amerika Serikat gagal dalam memprediksi Hillary Clinton sebagai Presiden?

Beranikah Donald Trump mewujudkan janji-janji kampanyenya dengan mengusir imigran ilegal, mencegah Muslim masuk, dan memproteksi produksi AS dari gempuran barang komoditas Tiongkok?

Bagaimana cara Bareskrim Polri bekerja saat menentukan status kasus yang menjerat Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok?

Bagaimana sebenarnya hubungan Jokowi dengan Ahok?

Apakah aksi damai 411 ditunggangi kepentingan politik tertentu?

Seperti apa karakter pemimpin ideal yang pantas memimpin Jakarta?

Apa yang menyebabkan perilaku koruptif seperti tidak dapat dihilangkan di Indonesia?

Kinerja ketua KPK siapa yang paling baik; T. Ruki, Antasari Azhar, Busyro Muqoddas, Abraham Samad, atau Agus Rahardjo?

Mengapa selama ini kaum pria lebih banyak tersangkut kasus korupsi dibandingkan perempuan?

Apakah hukuman yang paling memberikan efek jera untuk koruptor laki-laki?

Apakah hukuman yang paling memberikan efek jera untuk koruptor perempuan?

Apakah Anda setuju hukuman mati untuk para koruptor?

Mengapa sosok Presiden RI secara otomatis juga menjabat sebagai panglima militer tertinggi di negeri ini?

Apakah keluarnya surat perintah penyidikan juga berarti ada tersangka?

Mengapa Lampung terkenal sebagai provinsi yang tinggi tingkat kriminalitasnya?

Bagaimana negara seharusnya melindungi HAM atas saksi kasus korupsi?

Bagaimana pandangan Anda mengenai struktur kabinet Jokowi 2014-2019?

Bagaimana cara jadi menteri?

Apa analisis politik Gerindra masuk kabinet Jokowi?

Siapakah Menteri yang kinerjanya paling bagus? Mohon dijelaskan.

Apa keuntungan dan kerugian Partai Gerindra jika bergabung dengan Kabinet Kerja?

Siapa Luhut Binsar Panjaitan?

Siapa Wiranto?

Siapa Sofyan Djalil?

Siapa Darmin Nasution?

Siapa Indroyono Soesilo?

Jika Anda menganggap Partai Bulan Bintang adalah partai terbuka dan modern, apa alasan logis yang bisa diterima nalar?

Siapa MS Kaban?

Siapa Yasonna Laoly?

Siapa Denny Indrayana?

Siapa Hamid Awaluddin?

Mengapa duta besar memiliki hak imunitas (kebal hukum)?

Apakah seharusnya Indonesia memiliki Undang-undang tentang diskriminasi?

Apa hasil dari UPR Indonesia tahun 2017?

Apa yang Anda ketahui dari Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia?