selasar-loader

Buku apa yang Anda baca minggu ini? Apa isi tinjauannya?

Last Updated Mar 4, 2017

11 answers

Sort by Date | Votes
Pepih Nugraha
Mengikuti perkembangan gaya hidup setelah membaca buku Jean Baudrillard

5PnUNM4ze8RP4yZQPj3B1EmS3Nt2NWrH.jpg

Minggu ini saya sedang membaca buku Beginilah Shalat Nabi karangan Syaikh Mutawalli Al-Sya'rawi, seorang ulama terkemuka Timur Tengah. Buku terbitan Mizania (2016) mengulas tuntunan shalat yang mudah dicerna, khususnya tentang keutamaan shalat sebagai tiang agama dalam agama Islam.

Kata-kata "tiang agama" ternukil di awal pembahasan buku ini. Misalnya disebutkan, Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadis sahih; "Puncak dari segala perintah adalah Islam, tiangnya adalah shalat, dan puncak kemuliaannya adalah jihad di jalan Allah". Bahkan Umar ibn Al-Khaththab pernah berkirim surat ke suatu wilayah kekhilafahan mengenai pentingnya umat Islam menjalankan shalat. "Sesungguhnya persoalan kalian yang paling penting bagiku adalah shalat. Barang siapa menjaganya, sesungguhnya ia telah menjaga agamanya," demikian Umar.

Shalat merupakan salah satu rukun Islam setelah berucap (ikrar) syahadat. Rukun selanjutnya adalah puasa, zakat, dan berhaji ke Rumah Allah. Yang paling berkesan dari buku ini adalah kalimat "shalat merupakan salah satu ibadah yang tidak pernah gugur dan hilang kewajibannya. Setiap manusia yang beriman wajib menunaikannya dalam keadaan sehat maupun sakit."

Meskipun shalat merupakan kewajiban, seringkali umat Islam melalaikannya, padahal ia berada dalam keadaan sehat wal afiat, dalam keadaan suka-cita. Kadang pula, shalat baru dilaksanakan jika mendapat kesusahan. Shalat menjadi semacam "pelampiasan" atau "pelabuhan" untuk singgah sementara. Padahal, shalat semestinya adalah kewajiban.

Seorang muslim dalam keadaan sakit tetap harus shalat, baik dengan berdiri, duduk, telentang, atau bahkan hanya kedipan mata sekalipun. Lalu, jika ternyata ada seseorang yang mengalami sakit keras, bahkan untuk memberi isyaratpun tidak bisa, bagaimana ia mengerjakan shalatnya? Demikian salah satu kalimat yang tertulis dalam buku itu. Jawabannya sungguh membuka kesadaran, "Ia bisa menunaikan shalat dalam hatinya!"

Perbedaan inilah yang menjadi keistimewaan shalat daripada rukun Islam lainnya. Mengapa demikian? Inilah alasannya; "Seorang muslim mengucapkan ikrar kalimat syahadat la ilaha illallah muhammad rasulullah cukup sekali seumur hidup. Dalam puasa, orang yang sakit atau sedang dalam perjalanan tidak wajib melakukannya. Zakat tidak wajib bagi muslim yang tidak berkecukupan. Begitu juga haji; tidak wajib bagi orang yang tidak mampu menunaikannya."

"Kewajiban ketiga rukun Islam itu (Zakat, Puasa, haji) itu bisa gugur dari Muslim, kecuali shalat!

Saya mengambil kesimpulan; dalam konteks "kesulitan" menjalankan Rukun Islam, khususnya puasa, zakat dan haji, shalat sesungguhnya kewajiban yang "paling murah dan mudah". Murah karena dia tidak harus mengeluarkan tenaga dan uang. Mudah karena dalam keadaan apapun, muslim bisa menjalankannya. Tetapi, kenapa muslim --termasuk juga saya-- kerap melalaikan kewajiban yang "murah dan mudah" ini?

Setidak-tidaknya, buku ini menampar kesadaran saya. Alhamdulillah, saya telah menunaikan kelima Rukun Islam dalam hidup saya selaku muslim. Tetapi shalat, kadang lalai saya jalankan karena suatu hal yang tidak penting, padahal saya sedang sehat dan bugar. Shalatlah sebelum dishalatkan, demikian pernyataan itu menggedor-gedor kesadaran saya.

Buku ini mengesankan bagi saya yang membaca keseluruhan isi buku ini secara cepat, bergantian dengan istri saya sebagai si empunya buku (beberapa hari lalu ia membelinya di toko buku). Saya membaca buku apa saja.

Answered Mar 4, 2017
Nova Riyanti Yusuf
menulis 12 karya berupa novel, skenario film layar lebar, dan kumpulan esai

H0Zkr38pbcfYGz9-boNDEPkWyxwFnsJ_.png

Saya lagi baca buku-buku Atul Gawande. Waktu lagi ikut program Research Scholar di Harvard Medical School, saya bisa stalking dia dan minta dia tandatangani keempat bukunya: Better, Complications, The Checklist Manifesto, dan Being Mortal. Kenapa baca buku-buku dia lagi?

Gawande adalah ahli bedah, ahli menulis (staf the New Yorker), dan menulis secara reflektif, bukan sebagai dokter yang menulis untuk mencari kesalahan teman sejawat, misalnya. Dia berkaca pada dirinya dulu, apa yang bisa salah dalam 'kemanusiaan'-nya "....saat menjadi Demi God yang melakukan tindakan operasi pada manusia."

Klimaksnya ada dalam buku Being Mortal, yang mana sang ayah meninggal karena kanker dan dia merasa tidak berdaya. Ada video dokumenter tentang proses sang ayah sampai akhirnya meninggal. Menurut Gawande, saat menjadi dokter, ia belajar banyak hal kecuali satu; BEING MORTAL. Kematian tidak pernah satu koridor dengan perjalanan hidup manusia.

Answered Mar 4, 2017
liem Oegan
Kuli panggul Unit Oven Persh. Tapioka UD. SUMBER REJO

NlR5iml64TZAnF9rm676D34fIHo4FB_I.jpg

The Power of Principle

 

Judul    : The Power of Principle
Penulis : Blaine Lee
Jumlah Halaman: 462

Orang seringkali menyangka bahwa yang dinginkannya adalah kekuasaanpadahal yang dibutuhkannya adalah kepemimpinan visioner yang berpusat pada hati.

Semuanya dikupas tuntas secara lugas di buku ini.


 

Answered Mar 4, 2017
Amril Taufik Gobel
Suka menulis puisi, baca koleksi puisi saya di http://bit.ly/2lA5i5a

-5kt1bOMG6WxDbb6td2OUc_NMbkZF_F5.jpg

Judul Buku: Demonstran Dari Lorong Kambing

Karya: Amran Razak

Penerbit: Kakilangit Kencana

Cetakan: Pertama, 2015

Jumlah Halaman : 285

ISBN : 976-602-8556-48-4

 

Amran Razak adalah legenda, juga sebuah fenomena…

Nama beliau sudah lama saya kenal “sepak terjang”-nya sebagai mantan aktivis mahasiswa yang juga demonstran paling militan pada zamannya sejak pertama kali memasuki jenjang perkuliahan di Universitas Hasanuddin tahun 1989. Lelaki kelahiran Makassar, 2 Januari 1957, itu memang dikenal sebagai penentang rezim Orde Baru, mantan aktivis Pers & Pergerakan Mahasiswa, juga Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan kerap menghuni sel tahanan sebagai risiko perjuangannya.

Pertemuan pertama kali saya dengan beliau, sepanjang yang saya ingat, adalah ketika saya baru mulai aktif di Penerbitan Kampus Identitas sekitar awal tahun 1991. “Kak Amran”, begitu kami memanggilnya, yang juga adalah senior di penerbitan kampus ‘Identitas” mampir ke ruang redaksi dengan gayanya yang khas: ramah, selalu tersenyum dan humoris.

Penampilannya sederhana, santai, dan kasual. Seingat saya, mantan redaksi “Identitas” tahun 1977 tersebut mengenakan kemeja lengan pendek berwarna cerah dan celana jeans. Beliau yang saat itu sudah menjadi dosen di Unhas mengajak kami bercanda, berdiskusi tentang banyak hal. Akrab. Membumi. Tak berjarak.

Lama tak jumpa, pertemuan saya dan Kak Amran terjadi kembali saat reuni nasional dan halal bihalal IKA Unhas yang dilaksanakan tahun lalu di Ancol. Beliau menyapa saya duluan dan kami saling bertukar kabar. Gaya beliau masih nampak seperti pertama kali kami berjumpa nun 20 tahun silam: santai, sederhana, dan kasual. Hanya terlihat lebih banyak helai rambut uban di kepala mantan Ketua Badan Perwakilan Mahasiswa (BPM) Fakultas Ilmu-Ilmu Sosial dan Budaya (Fisbud) periode 1979-1980 yang sekarang menjabat sebagai staf ahli Menteri Kelautan dan Perikanan ini, namun binar matanya masih tetap menyala-nyala. Bersemangat. Seperti dulu.

Sampai kemudian, kami saling bercakap kembali di Facebook serta membahas buku terbaru beliau berjudul Demonstran dari Lorong Kambing (DDLR). Kak Amran yang juga adalah Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Unhas lalu berjanji mengirimkan segera buku itu untuk saya. Kemarin siang (4/2), buku tersebut tiba di rumah. Pulang dari kantor, saya langsung “melahap”-nya hingga tuntas, bahkan hingga melewati pucuk malam.

Buku ini memang sangat menarik dibaca. Sebagai mantan reporter penerbitan kampus, Kak Amran berhasil mengolah rangkaian kata demi kata dengan sangat memikat, runtut, mengalir lancar hingga pembaca terbuai dan tahu-tahu sudah sampai di halaman terakhir. Buku DDLR terbagi atas 13 Bab masing-masing: "Bangkitnya si Anak Lorong Kambing", "Remaja Lorong Kambing", “Anak HMI", "Pers Nakal: Anti Order Baru", "Era NKK/BKK", "Peristiwa Toko La", “Pasca Perisitiwa Toko La", "Sarjana Lorong Kambing", "Bunda Terkasih", "Berbasis Kelompok Studi", "Kampus Baru Tamalanrea, Mushalla, Latoa Institute", "Penyerbuan Kampus Baraya", dan "CPNS".

jFlHmfBohJIGpYRb-G5xxVYggqgLyu2t.jpg

Buku ini memang menjadi manifestasi autobiografi penulisnya, diawali kisah kelahiran prematur seorang bayi laki-laki pada Januari 1957, cucu dari seorang sosok pemberani dan sakti dari Maros I Mangutung Daeng Garra. Dialah Amran Razak, anak seorang pegawai douane (beacukai). Amran kecil tumbuh dan besar di Lorong 108–sebuah lorong kambing di jalan Mesjid Raya, lingkungan Baraya, tak jauh dari kampus lama Universitas Hasanuddin Makassar.

Saya sangat terkesan pada kemampuan daya ingat Kak Amran dalam menceritakan masa kecilnya yang mengagumkan dan penuh warna di Lorong Kambing secara terperinci. Diceritakan, Amran kecil adalah sosok yang aktif, dinamis, lincah dan seringkali bermain bersama kawan-kawannya di sekitar kawasan kampus lama Universitas Hasanuddin (Unhas) Baraya. Di sana, ia membangun impiannya untuk kuliah di universitas tersebut kelak–tingkat pendidikan yang jauh lebih tinggi dari sang ayah dulu. Saya sempat tertawa membaca pengalaman masa kecil beliau menonton pertandingan sepakbola di stadion Mattoangin tanpa membeli tiket dengan memanjat dinding stadion. Kalau ketahuan, bisa kena pentung petugas keamanan stadion!

Memasuki bab berikutnya, kisah sang demonstran fenomenal ini tetap tak kehilangan ritme pesonanya. Bahkan terasa semakin membetot perhatian dengan “tensi” cerita yang kian meningkat dan makin bikin penasaran. Amran yang sempat melewatkan sebagian besar masa remajanya di Ternate kian terlihat “badung”-nya karena suka kebut-kebutan di jalan raya, bahkan mendapat julukan khusus ”Anak Makassar Kepala Angin”. Kenakalan “si kepala angin” ini perlahan surut menjelang masa lulus SMA hingga akhirnya Ketua Kelompok Remaja Baraya, Libara (1979-1989) ini berhasil lulus di Fakultas Ekonomi Unhas tahun 1976.

Pada September 1977, Kak Amran untuk pertama kalinya menjadi Tahanan Poltabes Makassar karena dianggap melanggar lalu lintas. Puluhan orang dari komunitas 2 lorong (108 & 108A) –terutama ibu-ibu serta remaja putri–berbondong-bondong datang mendesak agar “sang anak lorong” itu dilepaskan. Tak lama kemudian, Kak Amran dibawa ke tahanan Poltabes Makassar di jalan Balaikota. Penangkapan ini kemudian diprotes keras oleh Dewan Mahasiswa (Dema) Unhas. Dua orang perwakilan Dema Unhas, Zohra A. Baso dan Asmawi Syam sempat berdebat dengan Kapoltabes mendesak agar Kak Amran dibebaskan. Perlakuan kekerasan yang dialaminya saat ditahan terekspos secara luas ketika Ketua Bidang Extern Dema Unhas, Atja Razak Thaha, membuat pernyataan tertulis ke berbagai pihak dan pers.

Perhatian saya semakin terpikat pada kisah bergabungnya Kak Amran ke Surat Kabar Kampus (SKK), Identitas, dengan cara yang unik. Berdasarkan kisah kak M. Dahlan Abubakar yang dikutip pada halaman 86, proses penerimaan Kak Amran dimulai ketika beliau memprotes plagiasi juara lomba karikatur SKK “Identitas” justru menjadi momen bersejarah karena tulisan protes yang diajukan pendiri Serikat Penyair Kampus (SPK)...(more)

Answered Mar 4, 2017
Miftah Sabri
Pendiri dan CEO Selasar

_0Fj_kp6XwCNs4jE6o2cVuFCdSl1-CKy.jpeg

Nasruddin Hodja #Vol.1 :Kebijaksanaan Hidup Melalui Lelucon Penuh Makna

Terbitan Gramedia Pustaka Utama 2016

Nasrudin Hodja adalah seorang muslim taat yang hidup pada masa Dinasti Seljuk. Ia lahir di Desa Hortu pada tahun 1208 dan wafat pada 1284 di Aksehir. Ayahnya adalah Abdullah Effendi (jadi effendi ini nama Turki ya teman-teman, serius baru tahu), seorang Imam di desa kelahirannya.

Nasruddin Hodja menempuh pendidikan di Madrasah Sivrihisar dan Konya, Turki. Setelah lulus madrasah, ia menggantikan peran ayahnya sebagai imam di desanya tersebut. Ia juga belajar sufi pada Syeikh Muhamad Hayrani.

Hodja adalah seorang saint. Orang suci. Ia mendarmabaktikan kehidupannya untuk menunjukkan manusia kepada jalan yang lurus, memberi tahu hal hal baik, membimbing mereka pada kebenaran, dan mencegah mereka melakukan hal-hal munkar. 

Dalam melakukan semua hal itu, beliau menggunakan cara-cara yang unik. Ia suka memberi nasihat dalam rangka mengubah masyarakat yang korup, tidak baik, dengan cara humor tersirat yang mudah difahami masyarakat.

Setiap sindirannya terkandung serupa peribahasa yang penuh kandungan kebijaksanaan moral. Dengan demikian, kita menjadi tersadar bahwa setiap sindiran yang tidak patut dan tak senonoh bukan sindiran yang keluar darinya.

Ini adalah buku yang layak dibaca pada akhir pekan sembari bermain bersama dua putri tercinta; tidak terlalu berat namun bisa dipetik hikmah sehingga dapat dijadikan cemeti untuk menjadi prinadi yang lebih baik setiap hari.

Ketika Hodja sedang mengumandangkan adzan waktu zuhur, beberapa tetangganya justru asik mengobrol di depan rumah dan mereka bertingkah seolah olah mereka tidak mendengar adzan tersebut. Memang para tetangga tersebut jarang pergi ke mesjid.

Hodja mengeraskan suaranya lagi, tapi tidak ada yang berubah. Ia kemudian berlari ke arah para tetangga tersebut sambil terus mengumandangkan adzan.Beberapa tetangga mulai mengira ada sesuatu terjadi padanya.Maka merekapun bertanya:

"Ada apa Effendi Hodja? Kenapa kau Adzan sambil berlari?"

"Aku penasaran berapa jauh jangkauan suaraku jadi aku berlari untuk mengejarnya."

Demikianlah cara Hodja untuk mengingatkan orang sekampungnya untuk salat berjamaah ke masjid. :)

Note: Pantesan Prof. Effendi Gazali jadi pelawak, bawaan nama Effendi-nya dari Nasruddin Hodja Effendi. Peace, Dek Pendi!

Answered Mar 5, 2017
Qaedi Aqsa
Political Science University of Indonesia.

TEE4v7n8_R76ZPZAD1I_pnh4-VHKpQDD.jpg

MEMANG JODOH

Sebuah novel terakhir dari penulis Sitti Nurbaya. Marah Rusli.

Novel ini adalah novel ketujuh yang saya baca dengan berlatar Minangkabau, setelah Trilogi Negeri Lima Menara, Rinai Kabut Singgalang, Ayahku, dan Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk.

Novel ini adalah novel kedua sekaligus terakhir dari dari Marah Rusli, dimana novel pertamanya, Sitti Nurbaya, dikeluarkan pada tahun 1922. Seperti ungkapan Seno Gumira Ajidarma, "Memang Jodoh, lebih dari 50 tahun terpendam, kini terbuka sebagai harta karun yang memperkaya wacana Indonesia."

Memang jodoh menceritakan betapa adat memiliki kuasa dalam menentukan jalan hidup seseorang, termasuk tentang cinta. Saya menangkap bahwa Marah Rusli ingin menyampaikan dua hal. Pertama, adat itu sifatnya konstruktif, datang dari manusia. Kedua, cinta itu adalah kodrat, datang dari Tuhan. Oleh karena itu, sering terjadi pertentangan antara adat dan cinta, dan salah satunya harus terkorbankan, selalu cinta yang memenangkan.

Dengan latar belakang Minangkabau, Marah Rusli dengan lugas dan detail bisa memberikan gambaran pada zamannya bahwa adat sangat berkuasa dan kuat di Minangkabau, terutama masalah perkawinan. 

Cerita yang sangat kompleks terjadi ketika Hamli, sang tokoh utama, jatuh cinta kepada perempuan yang berasal dari Tanah Jawa. Sebagai lelaki Minang, dia harus bisa menjadi penegak adat. Di sanalah perselisihan antara adat dan cinta terjadi. Dengan segala kompleksitas tersebut, Hamli harus merelakan salah satunya. 

Silahkan baca lebih lanjut untuk mengetahui jawabannya. Atau mungkin sudah bisa ditebak jawabannya. Namun, menurut saya, yang penting bukanlah hasil jawaban atas pengorbanan Hamli. Tapi yang lebih mulia dan bisa diambil pelajaran adalah bagaimana Hamli bisa melewati proses sampai akhir hayatnya.

"Bagaimana aku dapat bekerja dengan baik untuk bangsa dan negara, kalau aku selalu dibisingkan dengan perkara kawin saja? Sedangkan hatiku rasanya penuh cita-cita memperbaiki yang belum sempurna dan menambah yang masih kurang" --Hamli--

 

Nb: Semoga selasar bisa mempertemukan dengan pembaca novel lainnya, mana tahu bisa bertukar novel bacaan.

Answered Mar 5, 2017
Martina Mochtar
Istri dari seorang pecinta sosial, dan Ibu dari seorang Bocah Pemberani

l7bsT0zuo7zNtJBzGXlAGVFeShtDbLo5.jpg

Buku "Barakallahu Laka, Bahagianya Merayakan Cinta" karya ust. Salim A. Fillah 

Sebetulnya, buku ini bukan baru kali ini saya baca, namun semenjak pertama kali membacanya, saya terus mengulang-ulang beberapa bab yang pembahasannya sesuai dengan kejadian atau fase pernikahan yang sedang kami alami.

Ust. Salim A. Fillah berhasil meruntuhkan pemikiran saya yang sebelumnya menilai buku religi hanya berisi ancaman atas dosa-dosa yang manusia lakukan. Beberapa referensi ilmiah maupun nonilmiah ia gabungkan dalam kemasan kata-kata yang indah, membawa saya merasakan betapa indahnya karunia rasa cinta dan rasa saling menyayangi yang telah Tuhan anugerahkan.

Ust. Salim membahas semua proses pernikahan, mulai dari perkenalan, malam pertama, permasalahan, hubungan dengan orang tua, cara mendidik anak, hingga hubungan bertetangga. Ia mengajak para pasangan untuk berilmu dalam penikahan. Dengan menggunakan beberapa referensi ilmiah yang dikaitkan dengan syariat Islam, ia juga membahas mengenai bagaimana hubungan seksual yang diharapkan oleh wanita dan pria. Ia terangkan secara terperinci namun sama sekali tidak terasa vulgar.

Dengan berilmu, kita dapat meminimalisir konflik, seperti ilmu untuk pria memahami arti kata "terserah" yang keluar dari mulut wanita, atau bagaimana wanita memahami kata "gak papa" yang pria ucapkan saat istrinya bertanya, "Ayah lagi ada masalah?"

Setelah membaca buku ini, saya menyadari bahwa pernikahan bukan puncak dari perayaan cinta, melainkan segala perjuangan dan adab-adab yang mewarnai perjalanan perayaan cinta itu sendiri. 

 

Answered Mar 6, 2017
Muhammad Ihsan Harahap
Love to talk on various topics, from Indonesian history to Burmese literature

VPRImpQ6P3ZBJT_VKCYYSNDu0S6htWGR.jpgNJGXA12ulsqGkcDaVcZxAJ97muMBYDjs.jpgqCoTK20BYNfUDI6aT5UqUqVwkDVQLCFQ.jpg

Ada dua buku yang saya sedang baca pekan ini. Pertama, The Voyage to Marege': Pencari Teripang dari Makassar di Australia karya arkeolog-antropolog-sejarawan Campbell MacKnight dari Universitas Nasional Australia (ANU). Kedua, novel Andai Mereka Bisa Bicara karya James Herriot dari Inggris. Di sini saya hanya akan menceritakan tentang buku yang pertama. 

The Voyage to Marege' adalah buku tentang sejarah nelayan Makassar pencari teripang (timun laut) di Australia Utara. Marege' adalah sebutan orang Makassar bagi Arnhem Land di Australia Utara, atau Australia secara umum. Saya membeli buku ini awal Februari 2017 di acara peluncuran dan bedah buku yang diadakan di Universitas Hasanuddin. Acara peluncuran itu dihadiri langsung oleh Campbell MacKnight sebagai penulis. 

Meskipun buku ini sudah menjadi semacam 'klasik' dalam studi tentang jejak orang-orang Makassar di Australia Utara, namun edisi bahasa Indonesia yang diterbitkan oleh Penerbit Ininnawa adalah yang pertama kali. Itu artinya, buku ini diterjemahkan setelah 41 tahun sejak pertama kali diterbitkan oleh Melbourne University Press pada tahun 1976. Buku ini menjadi sangat penting mengingat nelayan-nelayan Makassar pencari teripang tersebut datang pertama kali ke Australia Utara pada pertengahan abad ke-18 (1750-an ke atas). 

Sebuah pulau, Pobassoo Island, dinamakan untuk menghormati satu kapten nelayan Makassar, Pobasso (kemungkinan nama aslinya "Pak Baso"). Nama pulau tersebut diberikan oleh Matthew Flinders, seorang explorer yang pertama kali melakukan circumnavigation terhadap Australia dan menyusun buku tentang perjalanannya: A Voyage to Terra AustralisIa bertemu dengan Pobasso pada 17 Februari 1803 di Nhulunbuy, bagian utara Arnhem Land, Australia Utara. 

Para nelayan tersebut berlayar pada bulan Desember menuju Australia Utara dan akan kembali pada April atau Mei ke Makassar. Meski terjadi beberapa kali konflik kecil, nelayan-nelayan Makassar akhirnya menjalin hubungan yang lebih dari sekedar perdagangan dengan para masyarakat Aborigin di Australia Utara, terutama di Arnhem Land. Kontribusi dan pengaruh kebudayaan Makassar yang dibawa oleh para nelayan tersebut bisa dilihat dari segi bahasa, budaya, ekonomi, bahkan hingga ekologi. Kisah tentang para nelayan Makassar tersebut masih lestari hingga kini di kalangan Northern Aborigin melalui oral history (sejarah lisan), lagu-lagu, tarian-tarian, hingga lukisan di gua-gua Arnhem Land. Dari segi bahasa, misalnya, beberapa kata Makassar diadopsi sebagai kata-kata yang digunakan orang-orang Aborigin, seperti jama (kerja), rupiah (uang), balanda (orang berkulit putih) dan lainnya. Para nelayan Makassar juga yang pertama kali menanam pohon tamarin atau pohon asam (poko' camba; bahasa Makassar) di tanah orang-orang Aborigin di utara. 

Suatu ketika, saya membaca sebuah artikel tentang kerinduan mendalam suku Aborigin di utara kepada nelayan-nelayan Makassar. Kisah tersebut cukup menyayat hati: para keturunan Aborigin di Arnhem Land begitu merindukan keramahan nelayan Makassar yang bisa mereka rasakan dari sejarah lisan yang diwariskan orang tua mereka secara turun temurun tentang nelayan Makassar yang mencari teripang. Memang menyedihkan. Diketahui perahu Makassar terakhir meninggalkan Arnhem Land pada tahun 1904. Mereka tidak lagi bisa berlayar ke Arnhem Land dikarenakan pajak terlalu tinggi yang ditetapkan setelah pemerintah Australia berdiri. Sebuah kenyataan yang pahit sekali bagi para nelayan Makassar dan juga masyarakat Aborigin di Arnhem Land, Australia Utara, yang merindukan kedatangan mereka.

 

Answered Mar 7, 2017
Hari Nugroho
Bisa bahasa jawa ngapak

Y4grErgALfnHaG2cFa-_0vVuG3cwVSE2.jpg

Well, saya menjawab pertanyaan ini setelah dapat surat cinta dari admin, kok gak keliatan aktif di selasar? Hehehe maafkan om dan tante admin, lagi agak sibuk di sini.

Nah ditengah kesibukan dan kejenuhan yang melanda, minggu ini saya membaca kembali buku lama yang dibeli setahun lalu. Buku yang menurut saya menarik, bercerita tentang Indonesia dengan segala keunikannya dari sudut pandang orang Jepang!

Ya, orang Jepang... karena buku ini memang ditulis oleh orang Jepang bernama Hisanori Kato, yang kata Mohamad Sobary dalam kata pengantarnya disebut sebagai mahasiswa post graduate University of Sydney pada saat itu (sekarang Professor).

Menjadi menarik karena Kato San benar-benar mengalami dan menyelami pengalamannya di Indonesia. Bagaimana kemudian Kato San menjadi seorang guru di salah satu sekolah bergengsi sampai menjadi dosen di Universitas Nasional.

Hal yang kemudian membuat ternganga lagi adalah pengalaman Kato San menjadi seorang pengamen di bus-bus Blok M - Kota, karena juga menerapkan konsep "Sa' cukupe" yang dia temui di Jawa Tengah. Menurutnya konsep sa' cukupe ini menarik untuk diterapkan di Indonesia, konsep yang akan memberi harapan kepada manusia untuk menghadapi tantangan besar. Konsep ini tentu menitikberatkan bahwa seseorang tidak mencari selain kebutuhannya, dan merupakan kearifan lokal yang sangat berbeda dengan peradaban global yang bersifat materialistis.

Masih banyak lagi cerita-cerita yang ditulis oleh Kato San, semisal wawancara dengan Gus Dur, hingga pengalaman makan memakai tangan. Satu hal yang jelas buku ini memberi sudut pandang yang berbeda tentang apa itu Indonesia.

Penasaran dengan judul bukunya? Judulnya sangat mudah diingat, terlebih jika kita lama di luar negeri, yaitu Kangen Indonesia. 

Adakah anda Kangen Indonesia? :)

Answered Mar 22, 2017
Rezha Taufani
Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Pendidikan Indonesia

TzSM_sPLpJGUZmMXB9mY0Rxit83ejiMW.jpg

via apps-foundry.com (FR)

Sang Pemenang Berdiri Sendirian - Paulo Coelho

Manusia tak elak dengan ambisinya yang mereka segani dibandingkan para raja-raja yang ada di dunia, meskipun Tuhan telah menentukan kelak ia akan menjadi apa. Manusia tak akan pernah puas dengan apa yang telah ditetapkan, manusia terus melawan ketidakmampuan mereka untuk membunuh rasa kebosanan dan ketakutan mereka akan pengakuan yang tidak mereka harapkan.

Paulo Coelho menceritakan tentang manusia-manusia yang ada di benua Eropa, tepatnya di negara yang terkenal dengan menara romantisnya "Eiffel". Selalu diadakan festival film tersohor setiap tahunnya, yakni festival film Cannes yang mengundang pelbagai kalangan papan atas baik itu artis, konglomerat, seniman film, dan para pemburu prestise yang akan merebut tahta tersebut dari raja-raja yang telah berhasil mendapatkannya. Tokoh di novel ini menceritakan sudut pandang orang ketiga. Sudut pandang tersebut dijelaskan ketika ada seorang konglomerat yang memiliki segalanya namun ingin menghancurkan "dunia" yang lain lain demi mendapatkan kembali cinta sejatinya. Ada seorang artis muda, yang memiliki mimpi untuk membahagiakan dirinya karena ia merasa layak mendapatkannya. Serta ada seorang pria muda yang bermimpi untuk mendapatkan peluang berkarya karena ia merasa pantas dibandingkan yang lainnnya, karena ia yakin mimpinya merupakan hal yang mulia.

Namun, pada akhirnya seorang pemenang akan berdiri dalam kesendirian. Bukankah Tuhan seorang pemenang? Maka dari itu Ia berdiri seorang diri bukan?

Psikologi Lintas-Budaya : Riset dan Aplikasi

Iklim intelektual Indonesia mau tidak mau perlu kita akui masih jauh dari negara-negara yang lainnya. Kita masih duduk di peringkat ke-57 untuk soal publikasi ilmiah. Hal ini merupakan tanda bahaya akan dominasi intelektual dari sektor-sektor yang menguasai iklim akademik dan intelektual karena mereka memiliki eksistensi dan modal lebih dalam menciptakan kepercayaan publik, politik, dan intelek dibandingkan mereka yang memiliki status "rendahan" dalam konteks ilmiah saintifik.

Buktinya adalah hingga saat ini teori dalam disiplin psikologi masih dikuasai oleh ideologi barat yang identik dengan poros individual, kapital, dan liberal. Sedangkan kita di Asia masuk dalam kelas masyarakat oriental yang kental dengan budaya kolektivis, komunal dan fundamental. Kita masih terjajah dengan menelan mentah-mentah teori yang ditemukan di negeri barat tanpa menguji bagaimana teori tersebut layak atau tidaknya diterapkan di masyarakat timur karena menimbang perbedaan karakter yang dimiliki oleh masyarakat barat dan masyarakat timur.

Kita masih perlu memerdekakan Indonesia dari pengaruh barat karena kita perlu memperjelas identitas kita baik secara sosial, yakni intelektual dan kulturalnya, Buku ini menjelaskan kritik dasar atas penerimaan budaya barat dalam kehidupan orang timur secara sehari-harinya.

Mitologi dan Toleransi Orang Jawa

Saya sangat menyukai cerita Pandawa Lima dalam perang Pamungkas Baratayudha Jayabinangun. Buku ini meringkas peran-peran para Satria, Punakawan, Kurawa, dan dewa-dewa yang turut membangun cerita ini menjadi sebuah kehidupan yang sangat ironi. Sebagaimana Pandawa Lima dibantu oleh Krishna, yang merupakan seorang satria yang memiliki darah dewa, lalu memerangi Kurawa karena mereka adalah bentuk dari "nafsu" atas kekuasaan dan tahta lalu mencurinya dari Pandawa. Hal mencuri seperti ini tidak dibenarkan menurut etika moral.

Segala hal yang baik akan berujung pada kebaikan dan segala hal yang buruk akan berujung pada keburukan. Semua manusia akan menerima konsekuensi ini. Hal tersebut adalah hal yang diajarkan dari cerita Pandawa Lima. Orang-orang Jawa dikenal lemah lebut karena menganut nilai-nilai dari cerita Pandawa ini yang didapat dari orangtua mereka biasanya. Namun, dalam konteks perjuangan yang mengatasnamakan kebajikan, mereka akan berubah menjadi satria yang akan melawan penindasan dan ketidakadilan demi kesejahteraan bersama. Nilai-nilai dari dongeng yang diserap dari cerita luhur hindu ini membentuk watak orang Jawa pada umumnya. Oleh karena sejarahnya ketika kerajaan kuno lampau agama Hindu merupakan keyakinan yang mendominasi raja-raja dahulu sehingga membentuk watak mereka menjadi seorang satria. Hal ini menjadi cita-cita dan panutan bagi masyarakat Jawa pada umumnya.

Answered Mar 29, 2017
Adrian Benn
Penikmat bacaan-bacaan menarik

wk9RabIkke9XCkod0-eKQdky7cwHAe-x.jpg

Bacaan fiksi saya minggu ini adalah Crucible of Gold yang ditulis oleh Naomi Novik, dan merupakan buku ketujuh dari seri Temeraire yang terdiri dari 9 judul. Seri ini merupakan sebuah paduan dari kisah alternate history dipadu dengan elemen fantasi. 

Berlatar pada perang Napoleon di tahun 1800an, dalam kisah ini masing-masing pihak yang terlibat dalam perang juga memiliki corps angkatan udara berupa naga. Setiap naga diibaratkan seperti sebuah kapal di angkatan laut, dalam artian memiliki seorang kapten serta sejumlah perwira dan kru. Tokoh utama dalam seri ini adalah Captain William Laurence bersama seekor naga bernama Temeraire. Bersama mereka, Anda akan dibawa untuk mengalami langsung tensi antara Perancis dan Inggris dalam perang Napoleon. Tidak hanya di Eropa, tetapi juga imbasnya hingga ke berbagai penjuru bumi.

Saya memulai membaca seri ini bulan Desember lalu, ditemukan di perpustakaan dekat tempat tinggal. Tanpa pernah mendengar tentang seri ini sebelumnya, saya memutuskan untuk membaca buku pertamanya tanpa ekspektasi apa-apa. Toh saya memang menyukasi seri fantasi seperti A Song of Ice and Fire (GRR Martin), Lord of the Ring (JRR Tolkien), dan The Wheel of Time (Robert Jordan). Dan ternyata menarik, tanpa sadar dalam 3 bulan sudah masuk ke buku ketujuh.

Jika Anda menyukai kisah fantasi, atau kisah alternate history, seri Temeraire ini bisa saya rekomendasikan.

Answered Mar 29, 2017

Question Overview


12 Followers
1036 Views
Last Asked 2 years ago

Related Questions


Apa buku yang paling menginspirasi yang pernah Anda baca?

Siapakah pengarang buku yang paling berbakat yang pernah ada?

Apa buku yang paling mengubah dunia?

Apa buku yang wajib dibaca oleh remaja?

Mengapa buku dari pengarang Jepang selalu memberikan unsur seks yang vulgar?

Mengapa buku Jostein Gaarder yang lain tidak ada yang sefenomenal Dunia Sophie?

Siapa pengarang Indonesia yang paling berpengaruh? Mengapa?

Manakah yang lebih baik, membaca buku fiksi atau nonfiksi?

Apakah buku yang paling berpengaruh dalam hidup Anda?

Novel apa yang paling mengesankan hati dan pikiran Anda?

Mengapa novel Dilan karya Pidi Baiq sangat digandrungi oleh remaja?

Mengapa minat baca orang Indonesia sangat sedikit?

Novel apa yang pernah membuat Anda sampai menangis ketika membacanya. Mengapa?

Apa itu Read and Eat Society?

Hal apa yang dapat dilakukan oleh pihak sekolah agar dapat meningkatkan minat baca pada anak?

Mengapa kita perlu rajin membaca?

Mengapa kita sering tidak memiliki waktu untuk membaca buku?

Apa buku yang paling aneh yang pernah Anda baca?

Siapa penulis yang ingin Anda temui dalam dunia nyata?

Apakah merek parfum yang paling cocok untuk wanita?

Apakah perbedaan antara parfum dan cologne?

Apa yang membuat harga parfum begitu mahal?

Apakah wanita mengenakan parfum untuk menarik perhatian pria atau ada alasan lainnya?

Apa tujuan laki-laki memakai parfum?

Bagaimana cara memakai parfum yang benar?

Bagaimana cara memakai cologne yang benar?

Apakah parfum yang aromanya paling maskulin?

Apakah parfum yang aromanya paling feminin?

Parfum pria apa yang aromanya bisa diterima oleh semua orang?

Adakah karya sastra yang memiliki tema tentang parfum?

Apakah yang dimaksud dengan penulisan kreatif?

Apa puisi Chairil Anwar yang paling Anda sukai?

Siapa sastrawan paling "nyastra" menurut Anda? Mengapa?

Mengapa pada masa sekarang sangat sedikit penulis Indonesia yang memiliki kualitas layaknya Pramoedya Ananta Toer?

Dari mana cara termudah memulai mencari ide untuk menulis novel?

Bagaimana cara paling efektif untuk mengembangkan alur dalam menulis novel?

Bagaimana proses kreatif saat pertama kali menulis novel?

Siapakah sastrawan Indonesia paling Anda sukai? Mengapa?

Bagaimana kaitan antara genre film favorit dan budaya setiap negara?

Apa itu Mazhab Frankfurt?

Bagaimana perkembangan Mazhab Frankfurt dalam konteks budaya populer?

Apa yang dimaksud dengan Teori Fetisisme Komoditas?

Apa perbedaan antara budaya massa dan masyarakat massa?

Apakah kaitan antara budaya massa dan amerikanisasi?

Apa pendapat Anda tentang amerikanisasi dan kritik atas Teori Budaya Massa?

Bagaimana pengaruh industri budaya terhadap musik pop?

Apakah kaitan antara James Bond dan strukturalisme?

Bagaimanakah konsep hegemoni Gramsci?