selasar-loader

Seberapa berbahayakah kondisi anak yang memiliki kedekatan berlebih dengan pengasuhnya?

Last Updated Nov 18, 2016

2 answers

Sort by Date | Votes
Wahada Nadya
F.Psikologi UGM | masih belajar dan terus belajar | batubatako.wordpress.com

Hasil gambar untuk kedekatan anak dengan pengasuh

Berbahaya. Kenapa berbahaya, karena dalam dunia psikologi kita mengenal mengenai bagaimana kelekatan antara ibu dan anak yang memiliki banyak pengaruh ke depannya. Seperti dalam hal kelekatan emosional, yang banyak berdampak pada kehidupan si anak.

Anak yang memiliki kelekatan atau kedekatan dengan seorang pengasuh secara berlebih tidak akan memiliki kelekatan emosional yang dimiliki oleh anak yang diasuh oleh ibu. Ketika si anak yang kedekatan berlebih dengan pengasuh akan kurang dalam "kepemilikan" mengenai orang tua kandungnya, sehingga berdampak pada kognitif yang mungkin akan lebih acuh tak acuh karena merasa dia lebih dekat dengan pengasuhnya dan orang tua tidak memerdulikannya.

Sebenarnya, hal ini semua tergantung dari orang tua itu sendiri dan koneksinya dengan pengasuh. Ketika anak memang memiliki kedekatan berlebih dengan pengasuh, namun orang tua menjadi kontrol dan turut andil melakukan "pelurusan" konsep mengenai hal tersebut kepada anak, mungkin kemungkinan-kemungkinan buruk di atas bisa diminimalisasikan.

Pengendalian adalah kunci. 

Gambar via amazonaws.com

Answered Dec 20, 2016
Adlil Umarat
Pak Ading, Childhood Optimizer Trainer

lbCHzabNCDZ3OtupWzXppTXVSp14zYgf.jpg

Dulu, saat anak saya Afiqah Humayra Umarat, usia 2 tahun, dia ketergantungan pada bantuan-bantuan orang dewasa di rumah. Kami saat itu punya asisten rumah tangga. Tapi, ternyata ada masalah. Apa itu? Asisten rumah tangga seperti ingin membentuk "ketergantungan" anak saya kepadanya sebagai sebuah hal yang membanggakan. "Bu, itu Afiqah kalau makannya gak sama saya, dia gak mau...," sambil melempar senyum tanda bangga.

Istri saya yang melihat gelagat-gelagat tersebut merasa tak nyaman. Anak itu, anak siapa? Lalu kenapa dibuat ketergantungan dengan asisten rumah tangga? Orang tua lama-lama kalah pamor. Anak bisa lebih memilih nyaman disuapi makan oleh asisten rumah tangga. Tapi, makan tidak di meja makan, namun diajak jalan-jalan keliling komplek, sambil si asisten rumah tangga bergosip ria dengan asisten rumah tangga lainnya. Mereka membicarakan cowok dan pacar dengan bahasa-bahasa yang tak bermutu. Anak-anak bayi yang disuapi masing-masing asisten rumah tangga tersebut, menyerap kosakata yang diucapkan dalam pembicaraan tak bermutu tersebut.

Akhirnya istri saya, Andin Garindia, mengambil tindakan tegas. Dia pecat asisten rumah tangga kami. Kami tidak pakai lagi bulan depannya setelah sempat menggunakan jasanya beberapa bulan. Lebih baik anak kita terikat hatinya pada orang tuanya. Meski orang tua jadi lebih capek, tapi rasa puasnya bisa meluluhlantakkan rasa capek.

Kalau anak kita ketergantungan pada asisten rumah tangga sebagai pengasuh, itu pola hubungan yang tak sehat. Anak ini lahir sebagai tanggung jawab orang tua, dan kelak dimintai pertanggungjawaban oleh Allah kepada orang tuanya, bukan ke asisten rumah tangga. Kalau dia terikat hatinya, bonding-nya pada asisten rumah tangga, lalu tak mendengarkan perkataan orang tuanya, apa jadinya kelak? Bisa repot sekali.

Tidak ada tempat bagi pengasuh yang mencoba "mencuri" hati anak orang lain dan secara sadar menciptakan "ketergantungan akut" yang tak sehat dan tak baik buat tumbuh-kembang anak.

Langkah revolusioner yang diambil oleh istri saya waktu itu saya dukung. Biar istri tak capek, kita pakai jasa laundry untuk urusan bersih-bersih pakaian. Ada kompensasi yang harus disiapkan. Tak apa uang keluar lebih besar, tapi hati anak kita, tetap milik kita. Para orang tua sebaiknya waspada, jangan sampai hati anaknya "digondol" orang lain yang tak berhak. Jika sudah terlambat, sulit untuk membangun bonding dan rasa percaya dengan anak kita sendiri. Sedih rasanya jika ia lebih percaya orang lain daripada orang tuanya sendiri.

Ilustrasi via selasar.com

Answered Dec 21, 2016