selasar-loader

Jika teroris adalah penyebar ketakutan (bukan bertindak kriminal), benarkah Islam memerintahkan terorisme?

Last Updated Feb 27, 2017

وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ 

"dan persiapkanlah semampu kamu dari kekuatan dan kuda-kuda yang ditambat (persiapan untuk perang), untuk memberi rasa takut kepada musuh Allah dan musuh-musuh kamu" QS. Al-Anfal : 60.

1 answer

Sort by Date | Votes

WFD_iJJmpTmNfl9Gdry1yWGqBErf9iOS.jpg

Pertanyaan ini membuat saya ingin mempertanyakan lebih mendasar: apakah ada kebenaran tentang Islam yang tunggal dan bersifat objektif?

Ada yang mengatakan bahwa kelompok yang diklaim sebagai Islam Liberal meyakini bahwa tidak adanya kebenaran tentang Islam yang tunggal. Tidak ada pula kebenaran yang bersifat objektif. Adanya adalah keragaman kebenaran yang bersemayam dalam subjektivitas tiap-tiap manusia.

Tapi meyakini kebenaran semacam ini memiliki konsekuensi tersendiri, yaitu keharusan mengakui bahwa interpretasi sekelompok orang bahwa Islam itu menganjurkan membunuh orang yang dianggap kafir ketika bertemu dengannya adalah bagian dari kebenaran Islam. Termasuk juga ajaran Ahmadiyah yang tidak mengakui Muhammad sebagai nabi terakhir adalah bagian dari kebenaran Islam. Ditambah, kebenaran versi ini juga mengharuskan kesimpulan bahwa minum susu unta membatalkan wudhu dan minum susu unta tidak membatalkan wudhu itu sama-sama benar.

(Jadi teringat Schrodinger Cat. Hanya ini bedanya tentang status wudhu yang batal sekaligus tidak batal. Hahaha.)

Oleh karenanya, aku sendiri tidak memegang versi kebenaran semacam ini. Terlalu absur. Lagipula Nabi pernah bersabda menggaris satu garis dengan jarinya lalu berkata, "Ini jalanku" dengan menggunakan kata sabil yang merupakan bentuk tunggal. Lalu Nabi menggariskan banyak garis di kiri kanannya dan berkata bahwa itu adalah subuulusy-syaithon atau jalan-jalan setan. Subul adalah bentuk jamak dari sabiil.

Versi kebenaran lainnya adalah kebenaran yang tunggal dan bersifat objektif. Versi ini katanya sih banyak diyakini oleh kelompok yang diklaim sebagai fundamentalis atau konservatif. Versi yang ini meyakini bahwa kebenaran itu sifatnya tunggal sebagaimana jalan Nabi di atas. Selain itu juga bersifat objektif yang bermakna bahwa kebenaran itu diposisikan selayaknya objek yang berada di luar diri manusia sehingga dapat diteliti, dievaluasi, dan diukur layaknya objek-objek lain.

Walaupun versi kebenaran ini dapat dijadikan landasan untuk mengatakan bahwa Islam tidak memerintahkan terorisme. Akan tetapi ada masalah yang mendasari versi kebenaran ini: siapa yang berhak menentukan bahwa cara penelitian, cara melakukan evaluasi, dan cara melakukan pengukuran serta kesimpulan-kesimpulannya adalah kebenaran yang benar-benar benar secara objektif?

Padahal kebenaran adalah sebuah konsep abstrak yang untuk mengukur, meneliti, dan mengevaluasinya tidak bisa lepas dari pengolahan pemikiran manusia yang jelas penuh dengan subjektivitasnya.

Dulu ketika masih ada Nabi pertanyaan ini mudah saja dijawab. Nabi adalah yang berhak untuk menentukan mana bagian kebenaran yang objektif dan tidak. Hanya saja sepeninggal Nabi, ini menjadi permasalahan tersendiri. Ketika zaman para sahabat mungkin tidak begitu terasa, karena beliau-beliau bertemu langsung dengan Nabi sehingga bisa mengetahui dengan lebih pasti mana yang bagian dari kebenaran objektif dan mana yang tidak.

Adapun bagi orang zaman sekarang, masalahnya cukup berat. Karena tidak semua orang memberikan legitimasi atau pengakuan yang sama terhadap sosok-sosok yang dianggap ulama. Bahkan istilah "ulama" zaman sekarang bisa menjadi ambigu apakah seseorang menjadi ulama ketika telah melampui kapasitas tertentu yang dapat diukur secara objektif ataukah karena pengakuan masyarakat yang mengikutinya. Orang-orang yang memberikan pengakuan terhadap sekelompok Y sebagai ulama tidak mengakui sekelompok X sebagai ulama. Sebaliknya juga begitu.

Walaupun fenomenanya demikian, kebenaran memang tetap dianggap objektif. Namun tidak ada yang benar-benar secara utuh dapat melihat keobjektifan kebenaran. Ibaratnya, masing-masing masih meraba dalam gelap. Entah gelap lingkungannya atau memang kabur alat penglihatannya.

Adapun begitu, saya tetap meyakini bahwa masing-masing meraba bukan berarti tidak diketahui sama sekali keobjektifan kebenaran. Ada sisi-sisi yang banyak para peraba sepakat bahwa itu bagian dari kebenaran Islam secara objektif. Misalnya, Allah itu satu. Tempat bergantung segala sesuatu. Tidak beranak. Tidak diperanakkan. Dan tidak akan ada sesuatupun yang menyamaiNya.

Tapi, bahkan di sisi ketuhanan saja masih ada yang meraba secara berbeda. Misal ketika menjawab pertanyaan "di mana Allah?" atau "Apakah Allah benar-benar punya tangan ataukah itu bahasa kiasan?" para pemikir Islam banyak berbeda secara tajam.

Menghadapi ini, walaupun sekilas membingungkan, saya menganggap bahwa Islam telah memberikan panduan untuk mencari kebenaran yang benar-benar objektif. Yang saya rasa inilah yang membuat para ulama jaman dahulu membuat sistem verifikasi riwayat baik hadist maupun sejarah yang super kompleks dan teliti yang nanti menjadi basis dikembangkannya menjadi ilmu tafsir, ushul fiqih, dan sebagainya. Yaitu... mengembalikan ke bagaimana para sahabat Nabi memahami permasalahan ini.

Allah sendiri memberikan jaminan bahwa para sahabat ini adalah golongan manusia yang diridhoi di surat at-Taubah. Nabi sendiri bersabda bahwa sebaik-baik manusia adalah masaku, yang berarti adalah para sahabat.

Yang oleh karenanya, perdebatan tentang apakah sesuatu benar-benar bagian dari kebenaran Islam yang objektif dapat dilakukan dengan parameter yang jelas, yaitu dengan memeriksa fakta-fakta sejarah bagaimana para sahabat Nabi meyakini dan menyikapi sesuatu. Nah, walaupun cara seperti ini memang tetap tidak mampu menjawab semua permasalahan, akan tetapi metode ini lebih dapat memberikan guidance yang lebih objektif dalam membahas Islam, bukan sekedar tentang rasio yang penuh subjektivitas atau sekadar perasaan.

(Karena kalau sekedar rasio yang penuh subjektivitas atau perasaan, konsekuensinya adalah semua hasil rabaan dalam gelap itu bisa dianggap sebagai bagian kebenaran Islam yanng objektif.)

Terkait pertanyaan di atas, walaupun para sahabat Nabi pernah membaca al Anfal ayat 60 tapi fakta sejarahnya mereka tidak melakukannya. Ini menunjukkan secara objektif bahwa menyiapkan kekuatan, naik kuda, dan menakut-nakuti orang kafir secara random bukanlah bagian dari...(more)

Answered Mar 6, 2017

Question Overview


3 Followers
1222 Views
Last Asked 3 years ago

Related Questions


Mengapa Tuhan membuat surga, padahal insentif tertinggi umat Islam adalah ridha Allah?

Apabila poligami adalah ibadah, mengapa banyak perempuan muslim yang tidak mau melakukannya?

Bagaimana cara mengakhiri konflik antara Sunni dan Syiah?

Apakah Syiah bukan Islam?

Mengapa Nabi Muhammad tidak mengizinkan Ali mempoligami Fatimah?

Apa yang dimaksud dengan bid'ah?

Apa yang dimaksud dengan munafik?

Apa yang dimaksud dengan halal?

Apa yang dimaksud dengan haram?

Apa yang dimaksud dengan mubah?

Seberapa besar pengaruh Rizieq Shihab di masyarakat?

Menurut Anda, apakah ormas radikal harus dibubarkan? Mengapa?

Bagaimana jika gerakan radikalisme masuk ke kampus?

Apakah ormas radikal di Indonesia berbadan hukum?

Mengapa ormas radikal bisa berkembang besar di Indonesia?

Bagaimana awal mula FPI didirikan?

Bagaimana awal mula HTI didirikan?

Mengapa ormas radikal dianggap meresahkan?

Apa tujuan didirikannya HTI?

Bagaimana rasanya menjadi bagian anggota teroris/ekstrimis?

Percayakah Anda pada anggapan bahwa ISIS menunggangi unjuk rasa besar "Aksi Bela Islam" pada 4 November 2016 lalu?

Bagaimana rasanya bersahabat dengan yang disebut oleh banyak orang dengan "teroris"?

Mengapa masih ada orang terpelajar dan bahkan pejabat di Indonesiayang tertarik untuk bergabung ke ISIS?

Apa yang membuat ISIS menarik perhatian sehingga banyak orang yang ingin menjadi bagian darinya?

Apa itu terorisme?

Adakah penjelasan mengapa teror di negara barat lebih banyak diekspose media daripada teror di negara-negara Afrika dan Asia?

Apakah bom Manchester adalah salah satu serangan teroris?

Apakah ada keterkaitan antara ledakan bom Manchester dengan ISIS?