selasar-loader

Bolehkah orangtua memaksakan mimpinya yang tertunda kepada anaknya? Mengapa?

Last Updated Nov 18, 2016

3 answers

Sort by Date | Votes
Reza Firmansyah
Mathematician. Writer. Futurist. Trying to leave good marks as my legacy.

7EOYPj2RppJf3STlRXVBWl5htPAaxydI.jpg

Tentu tidak. Selama mimpi pribadi sang anak tidak merugikan orang lain, sebaiknya biarkan sang anak mengejar mimpinya sendiri.

Namun akan jauh lebih baik apabila diadakan diskusi antara orang tua dan anak mengenai cita-cita yang cocok bagi sang anak.

 

sumber gambar: kompasiana.com

Answered Dec 16, 2016
Adlil Umarat
Pak Ading, Childhood Optimizer Trainer

7ushHOB3aTE3U4u5p_NwCDCzye9fup07.jpg

Tiap orang punya potensi dan hasrat di bidang yang berbeda-beda. Jika orang tua memaksakan mimpinya yang tertunda kepada anaknya, kasihan sekali anaknya. Jika anak punya potensi dan hasrat pada bidang yang sama, bisa jadi matching. Tapi kalau tidak, ia akan merasa tertekan hidupnya karena ia hanya akan jadi ROBOT bagi ayah-bundanya yang menjadi dalang buat hidupnya. Padahal, anak bukanlah ROBOT yang digerakkan oleh orang lain. Ia adalah sebuah entitas unik dan punya ciri khas sendiri yang ia bisa bangun dan gerakkan sendiri.

Kalau orang tua memaksakan mimpinya yang tertunda kepada anaknya, anak akan menjalani bidang yang dipaksakan itu sebagai sesuatu yang alakadarnya karena bukan passion dia. Bisa jadi, usahanya di bidang tersebut menjadi tidak maksimal. Paling parah, jika ia gagal di tengah jalan, lalu ia datang kepada orang tua lalu bilang, "Kan dulu Papa-Mama yang paksa aku kuliah di bidang ini?" Ia akan jadi orang yang tak bertanggung jawab karena bidang tersebut ia anggap bukan pilihan hidupnya. Padahal, hidup hanya akan dijalani sekali saja. Sayang sekali, hidup sekali, tapi terjebak pada impian orang lain, bukan impian sendiri.

Bahayanya, jika kita menjalankan impian orang lain, dan ketika orang lain tersebut sudah tidak ada lagi di dunia, hancur sudah hidup kita. Misalnya, orang tua sudah tak ada lagi, si anak tadi akan baru mencari atau memulai bidang yang ia sukai. Di saat seperti itu, ia sudah kadung terlambat. Umur sudah menua. Kompetisi dan kompetitor di bidang yang ia cintai sudah semakin ketat. Akhirnya, ia hanya akan jadi manusia biasa, standar, kelas medioker karena kalah start, kalah segala-galanya. Hidupnya pun tak bahagia. Apa rasanya hidup tapi tidak bahagia menjalaninya karena terpaksa?

Tugas orang tua sejatinya adalah sebagai coach yang memberikan fasilitas pendukung agar potensi-potensi anak ini tergali secara optimal, lalu bisa diolah dengan maksimal. Kita menyediakan stimulus-stimulus yang kita lihat sebagai potensi pada diri anak. Biarkan ia berani memilih satu bidang yang ia akan tekuni. Kita bantu ia mengangalisis positif-negatif dari sebuah pilihannya. Kita ajak anak kita berani berpikir, berani ambil keputusan. Karena hal-hal seperti ini jika terbiasa diterapkan di waktu anak kecil, ia akan tumbuh menjadi manusia yang berpikir, bukan jadi orang yang gampang di"cekoki", dihasut, karena punya pendirian, pilihan, dan jalan hidup yang ia yakini dan ia perjuangkan sampai impian tercapai.

Saya paham, bahwa orang tua selalu mengkhawatirkan kesejahteraan anaknya secara ekonomi kelak. Namun, jika kita mampu fasilitasi anak kita menyukai suatu bidang secara mendalam, fokus, hingga menjadi ahli di bidang tertentu, malah dia yang akan dicari orang. Uang yang akan datang "menyembah-nyembah" pada dirinya, bukan sebaliknya, di mana dia mengejar-ngejar uang agar mau datang ke kantongnya.

Ilustrasi via piximus.net

Answered Dec 21, 2016
Annisa Sri Aulia Mutiara
Pecinta sepakbola. Penikmat sastra.

nCBP_IhZgZlv8RxevGivgK52gBSHs0Ty.jpg

Bad Parent via Livestrong.

Tidak. Sang anak pasti punya potensi lain dalam dirinya. Selama potensi tersebut dapat ia salurkan ke hal-hal yang positif, tentu tak jadi masalah. Orangtua dapat mengingatkan, menasehati, dan membimbing sang anak agar tak salah jalan, tetapi tidak perlu memaksakan mimpinya yang dulu kepada sang anak.

Selain itu, sang anak kini hidup di zaman yang berbeda. Jadi, tak bisa lagi disamakan atau dibanding-bandingkan dengan zaman orangtuanya dulu. Biarkan anak tersebut berkembang sesuai potensi dan kemampuannya. Orangtua hanya bertugas untuk mendukung sepenuhnya sang anak, selama hal tersebut positif.

Jika masih saja memaksakan mimpinya kepada sang anak, akan timbul banyak kerugian. Misalnya, sang anak tidak sampai hati untuk menolak permintaan orangtuanya. Ia pun akhirnya menuruti, tapi dengan setengah hati. Ditambah kemampuannya pun tak menunjang. Akibatnya, sang anak tidak dapat berkembang maksimal di bidang tersebut. Lambat laun, ia akan menemukan masalah-masalah dari pilihan yang dipaksakan tersebut dan menyesali perbuatannya.

Answered Apr 13, 2017

Question Overview


5 Followers
1078 Views
Last Asked 3 years ago

Related Questions


Bagaimana cara mengatasi anak yang manja?

Pada usia berapakah anak akan mampu menyerap pendidikan seks usia dini dengan baik?

Benarkah anak yang suka tantrum memiliki kecerdasan di atas rata-rata?

Bagaimana cara yang tepat membuat anak yang pemalu menjadi aktif di kelas?

Benarkah anak yang 'fatherless' berpotensi menjadi kemayu? Mengapa?

Bagaimana cara mengatasi anak yang memiliki rasa ingin tahu berlebih?

Mengapa anak lebih baik tidur di kamar sendiri alias terpisah dari orangtuanya?

Bagaimana cara mendidik anak yang terpisah jauh dari orangtuanya?

Seberapa signifikan pengaruh pendidikan orangtua terhadap tumbuh kembang anak?

Apa cita-citamu di saat kecil?

Pada saat sedang tidur, mimpi seperti apa yang paling berkesan bagi Anda?

Apakah mimpi terliar yang anda impikan dalam hidup anda?

Apa imajinasi paling anehmu?

Mengapa manusia ketika tidur bisa bermimpi? Bagaimana prosesnya?

Apa mimpi burukmu yang menjadi kenyataan?

Apakah kamu percaya pada tafsir mimpi dan apa makna mimpi menurutmu?

Apa mimpi terlucu yang pernah kamu alami sampai kamu terbangun dari tidurmu?

Apa mimpi buruk yang pernah kamu alami sampai kamu terbangun dari tidurmu?

Pada usia berapakah anak boleh diajarkan bahasa asing? Mengapa?

Pentingkah mengajarkan bahasa daerah kepada anak?

Bagaimana cara yang bijak menjawab pertanyaan anak tentang seks?

Pentingkah orangtua memberikan nama yang baik kepada anaknya? Mengapa?

Seberapa berbahayakah kondisi anak yang memiliki kedekatan berlebih dengan pengasuhnya?

Mengapa channel mainan di YouTube cenderung memiliki banyak sekali penonton?

Di manakah kota terbaik di Indonesia untuk masa pensiun? Mengapa?

Bagaimana perasaan orangtua ketika pertama kali mendengar anaknya bisa bicara?

Sejauh apakah The Return of Superman mempengaruhi cara didik orangtua kepada anaknya di Korea juga Indonesia?

Bagaimana biasanya kondisi mental anak-anak yang dibesarkan dalam lingkungan broken home?

Bagaimana cara membuat anak tertarik membaca?

Bagaimana menghadapi anak yang melakukan pelecehan seksual?

Keluarga apa yang menurut anda ideal?