selasar-loader

Benarkah anak yang 'fatherless' berpotensi menjadi kemayu? Mengapa?

Last Updated Nov 18, 2016

5 answers

Sort by Date | Votes
Reza Firmansyah
Mathematician. Writer. Futurist. Trying to leave good marks as my legacy.

Biasanya karena ia hanya belajar berperilaku dari sang ibu sehingga gerak-geriknya akan cenderung mengikuti sang ibu.

Kekemayuannya bisa lebih tinggi apabila sang anak merupakan satu-satunya anak laki-laki di keluarganya.

Hasil gambar untuk anak kemayu

Gambar via s3-ap-southeast-1.amazonaws.com

Answered Dec 15, 2016
Adlil Umarat
Pak Ading, Childhood Optimizer Trainer

pzgNNlUlPv_SFuQ9xhRUXAorLtmhcdd3.jpg

Kuncinya, ketika self-concept dibangun atas dasar pasokan tak imbang dari kedua orang tua, maka modelling yang akan diserap sebagai sebuah keyakinan yang akan dipraktikkan anak kelak ketika besar akan timpang.

Bagi anak yang kehilangan sosok modelling dari ayahnya, ayahnya seperti lagu "Bang Toyib" yang gak pulang-pulang, dia takkan tahu referensi yang terinstalasi di otaknya tentang bagaimana seharusnya tugas dan peran ayah sebagai seorang laki-laki.

Ditambah lagi, bila sosok perempuan di rumah dominan, maka dia akan menjadikan sosok perempuan tersebut sebagai modelling yang diterapkan secara total di dalam dirinya.

Hati-hati para ibu, juga kakak, jangan biasakan berdandan lalu dilihat oleh adik laki-lakinya. Itu jalur masuk yang secara tidak sadar dan powerful untuk membentuk laki-laki kemayu. Sudahlah kehilangan sosok laki-laki dalam referensi, lalu diganti dengan satu-satunya referensi perempuan bersolek, maka gosok-gosok dikit, jadi tuh "barang": hasil berupa laki-laki kemayu.

Ada sejenis kebingungan identitas pada diri si anak tadi yang terakumulasi, lalu tanpa sadar sudah jadi habit dan karakter. Di saat seperti itu, biasanya akan jauh sulit mengubahnya. Maka dari itu, pendidikan di saat anak usia dini tentang seks, identitas, dan peran sangat demikian penting. Jangan dianggap remeh. Ayah, kembalilah ke rumah, main dengan anak, tanamkan how to be a man!

Ilustrasi via news1130.com

Answered Dec 20, 2016
Anonymous

hay1rnZLcyPP7nKysQITk58ywt-l-_sT.jpg

Pertanyaan ini sangat absurd, menurut saya.

Saya mengenali orang-orang yang fatherless, mulai dari paman hingga atasan saya. Dan mereka baik-baik saja. Tidak kemayu sedikitpun. Mereka jantan.

Di sisi lain, saya punya teman yang memiliki seorang ayah. Dia kemayu.

Menurut saya, seorang ayah justru punya peran besar dalam membuat anak menjadi kemayu. Para ayah yang terlalu keras kepada anaknya adalah mimpi buruk yang kemudian membuat sang anak menjadi kemayu. 

Sesimpel itu.

 

sumber gambar: amazonaws.com

Answered May 20, 2017
Yessy Nur Handayani
Rumah Kepemimpinan

iJrOXJWYdz2WtwaxltLE4WXW5s3QiO07.jpg

Anak yang fatherless secara otomatis akan lebih dekat ke ibunya, sehingga sedari kecil ia cenderung untuk mengikuti atau melihat pola pikir dan perilaku ibunya. Bahkan pola pendidikan yang diterapkan ibunya akan dicontoh oleh anak tersebut. Boleh jadi secara prinsip, hidupnya akan sejalan dengan yang diterapkan oleh ibunya.

Jadi, bisa jadi iya, bisa jadi tidak, tergantung pada ibunya. Maka, akan lebih baik jika tidak ada sosok ayah di rumah, maka sang ibu bisa melibatkan figur laki-laki lain, seperti kakek atau pamannya sehingga anak bisa melihat perbedaan antara laki-laki dan perempuan, anak bisa belajar pola pikir ala laki-laki dan perempuan, serta anak bisa belajar problem solving antara laki-laki dan perempuan.

 

Ilustrasi via keepschoolssave.org

Answered Jul 11, 2017

ya,karena anak yang fatherless sangat deket dengan ibunya

Answered Aug 19, 2017