selasar-loader

Benarkah anak yang suka tantrum memiliki kecerdasan di atas rata-rata?

Last Updated Nov 18, 2016

2 answers

Sort by Date | Votes
Adlil Umarat
Pak Ading, Childhood Optimizer Trainer

QgvjxUZxG4gPTZisnElxQP_bQzYkaJsU.jpg

Tidak benar anak yang suka tantrum memiliki kecerdasan di atas rata-rata. Mengapa demikian?

Anak yang sering tantrum, apakah dia menangis, teriak, atau marah, neuron di otaknya yang jumlahnya miliaran dan yang seharusnya berpotensi saling terhubung membentuk banyak konsep-konsep dari pengalaman hidupnya, malah "rontok", rusak dan jadi tak teroptimalkan. Potensi tinggal potensi. Ia hilang, lenyap bersama dengan ketidaknyamanan si anak. Ketika anak tantrum, sambungan neuron di otak terputus, "rontok", dan rusak. Kalau otak tak optimal tumbuhnya, bagaimana mungkin anak menjadi lebih cerdas di atas rata-rata?

Seharusnya, yang kita perlu lakukan adalah  kita mendorong anak yang suka tantrum untuk bisa berbicara (berbahasa). Tantrum terjadi karena ada keinginannya yang tak bisa terpenuhi dan orang dewasa di sekitarnya tak paham apa yang ia inginkan. Ada hambatan masalah komunikasi sehingga ia pakai jurus nangis, ngambek, tantrum, untuk mengekspresikan ketidaknyamanannya.

Kalau ini berlangsung terus, tak baik buat otaknya. Kita harus dorong anak untuk bisa mengungkapkan keinginan dan kebutuhannya. Jika orang tua atau orang dewasa mudah mengidentifikasi keinginan dan kebutuhan anak usia dini, tantrum tak perlu terjadi karena komunikasi sudah lancar. Semua keinginan dan kebutuhan terjawab tuntas.

Salam,
Adlil Umarat (Pak Ading)
Childhood Optimizer Trainer

Ilustrasi via wordpress.com

Answered Dec 20, 2016
nurlaili asro
pendidikan anak

tidak,karena anak yang suka dengan tantrum lebih cenderung menangis

Answered Aug 19, 2017