selasar-loader

Seperti apakah pengaruh budaya populer pada makanan?

Last Updated Nov 18, 2016

3 answers

Sort by Date | Votes
Anggun Widiastuti
Sangat cinta terhadap tarian tradisional.

GWChL6xHrZIfPLFNTFpwMf9t9qu13S6m.jpg

Populer berasal dari kata populasi (massal). Budaya populer berarti sesuatu yang disukai oleh banyak orang. Saya ambil satu contoh yang hype di Indonesia, yaitu K-Pop atau Korean Pop.

Banyak sekali penggemar K-Pop di Indonesia. Saya rasa pun tak hanya di Indonesia, di negara lain pun banyak penggemarnya. Pengaruhnya pada makanan pun sangat besar. Restoran-restoran Korea banyak ditemukan di mana saja di Indonesia, contohnya Daebak Fan Cafe. Dalam bahasa Korea, daebak memiliki makna hebat. Di dalam kafe ini, banyak terdapat foto-foto artis Korea, sehingga para K-Popers, julukan untuk orang yang menyukai sesuatu yang berhubungan dengan K-Pop, mungkin betah berlama-lama di sana.

Makanan Korea pun menjadi hits, seperti Tteokbokki, Topokki, Jajangmyeon, sampai yang kini sedang trend, yaitu mie Samyang. Mie instan pedas (menurut saya tidak) khas Korea ini sangat laku di Indonesia. Bahkan, banyak orang yang membuat Samyang Challenge di channel Youtube-nya. Untuk menambah tantangannya, mereka menambahkan bubuk cabai atau cabe rawit di atasnya. Meskipun sangat mainstream, tetapi masih banyak saja yang melakukan challenge ini. Tak hanya sekadar dalam bentuk mie instan saja Samyang dapat dinikmati. Kini banyak pula restoran yang menawarkan martabak Samyang. Hal tersebut dinamakan glokalisasi, yaitu interprenetasi antara sesuatu yang global dengan sesuatu yang lokal sehingga membentuk sesuatu yang unik.

Ilustrasi via diskon123.com

Answered Dec 27, 2016
Muhammad Rizki Akbar
Web Developer, dan mencoba menjadi founder nyimak.net

Banyak pengaruhnya contoh nya aja sekarang ada kue cubit dengan berbagai rasa, ubi yang di berikan bumbu aneka rasa, kue pancong yang dimodifikasi semenarik mungkin.

Answered Jan 18, 2017
Delmar Zakaria Firdaus
Auditor Halal LPPOM MUI | Food Enthusiast

Fakta bahwa campuran ingredient bisa berubah status menjadi 'makanan' yang diterima di dalam masyarakatnya merupakan bukti bahwa makanan adalah bagian dari budaya populer itu sendiri. Kuliner Indonesia contohnya, begitu erat hubungannya dengan kuliner China dalam penggunaan bumbu dasar tumis, dan juga memiliki pengaruh India yang kental dalam beberapa masakan berbasis kari dengan bumbu yang kuat, seperti yang kita umum jumpai di masakan Padang dan Aceh. 

Begitupun dengan makanan/cemilan berbahan dasar tepung terigu. Letak Nusantara di khatulistiwa membuat negara ini tidak dapat ditanami gandum. Oleh karenanya, setiap makanan yang berbahan dasar terigu adalah hasil pengaruh budaya kuliner dari bangsa lain. Hal yang sama dengan masuknya makanan Barat di Indonesia. Kini french fries dan beef steak tidak asing lagi di telinga warga.

Jika kita mereduksi makna budaya kuliner menjadi pop culture dalam konteks kekinian, maka yang sebenarnya sedang terjadi saat ini adalah perubahan trend rasa yang begitu cepat. Dalam beberapa dekade terakhir, tidak ada perubahan signifikan dalam makanan yang kita makan, kecuali pada variasi rasa dan penyajian. Bahan dasar makanan dan menunya, itu-itu juga.

Maka dalam beberapa tahun terakhir, muncul banyak sekali makanan dengan variasi rasa pedas, rasa green tea, rasa red velvet, dan rasa-rasa lainnya yang asing di kuliner lokal. Trend rasa ini bukan tanpa arah, karena flavorhouse (perusahaan flavor) besar dunia setiap tahunnya merilis flavor trend berbasis riset.

Mari kita lihat rasa apa lagi yang akan muncul di Indonesia tahun ini :)

Answered Feb 21, 2018