selasar-loader

Apa pengalaman Anda yang tidak terlupakan ketika di SMA?

Last Updated Feb 14, 2017

9 answers

Sort by Date | Votes
Dina Adr
Seorang penikmat karya seni.

nBru60Rs_LMprt7wDsBtars5v620dReu.jpg

via zenius.net

Terpaksa mengikuti pilihan orang tua untuk mengambil jurusan IPA di SMA.

Saya mengalami kegalauan luar biasa di akhir kelas 11 karena tidak tahu harus berlanjut ke mana setelah masa SMA usai nanti. Tidak ada satu pun jurusan sains yang saya minati, apalagi yang ingin saya tekuni lebih lanjut. Saya terus-menerus mencari jawaban dan melalui proses panjang yang saya lewati hingga akhirnya menentukan pilihan. Saya memilih beralih fokus studi dengan mengejar jurusan kuliah yang berseberangan karena passion saya saat itu hanya menyala untuk jurusan Ilmu Hubungan Internasional dan Ilmu Komunikasi. Saya memutuskan untuk tidak akan menggunakan kesempatan tes IPC, hanya tes IPS yang akan saya ikuti.

Perjuangan pun dimulai. Alih-alih belajar untuk ujian akhir nasional, saya malah memprioritaskan untuk belajar otodidak ilmu sosial yang benar-benar baru bagi saya di satu tahun terakhir masa sekolah. Pendalaman materi UN IPA menjadi terbengkalai dan baru saya lakukan di H-1 bulan menjelang ujian.

Perjalanan di tahun terakhir ini menjadi semakin padat dan berat ketika saya memulai hari jam 6 pagi dengan belajar IPA dan mengakhirinya jam 10 malam dengan belajar IPS. Di tambah dengan insomnia yang menyerang hingga jam 2/3 dini hari serta alergi yang muncul di selingan waktu-waktu tersebut. Saya bahkan rela ngekost dekat sekolah supaya bisa memanfaatkan waktu lebih efektif walaupun jarak rumah saya tidak begitu jauh sebenarnya.

Tantangan lain yang juga saya hadapi dalam perjalanan ini adalah stigma guru-guru dan teman-teman yang kala itu masih sensitif dengan murid yang menyeberang jurusan. Masih tumbuh anggapan bahwa kami “mengambil” kesempatan mereka yang sudah berada dalam jalurnya. Bahkan saya pernah beberapa kali harus menangis karena celotehan negatif dari mereka yang tidak suka. 

Memang pada dasarnya, pilihan untuk lintas jurusan di sekolah saya sepertinya tidak begitu populer. Berbeda dari sekolah lain yang banyak di antara muridnya mengambil langkah ini, teman seperjuangan saya hanya satu orang waktu itu yang benar-benar berani meneriakkan pilihan yang kami buat. Mungkin ada yang lain, tapi mereka diam-diam menyimpan atau masih ragu akan pilihannya. Kami berdua bertahan dengan menjadi pundak satu sama lain terutama saat tempaan-tempaan itu datang, yang malah membuat kami menjadi lebih tahan banting ke depannya.

Semua perjuangan tersebut pada akhirnya berbuah manis. Usaha lebih besar yang saya keluarkan, waktu tidur dan bermain yang saya korbankan, tantangan demi tantangan yang saya taklukkan, doa yang dipanjatkan tiada henti, dan banyak faktor lainnya berhasil menuntun saya untuk diterima sebagai mahasiswi Ilmu Komunikasi di dua universitas ternama di Indonesia.

Inilah pengalaman tidak terlupakan bagi saya di SMA, karena melalui pengalaman ini saya belajar bahwa saya bisa menjadi apa yang saya mau ketika berjuang dengan konsisten dalam pilihan yang saya buat.

Answered Feb 20, 2017
Zulfian Prasetyo
Penulis dan Editor

78lnwJZ4gmeodhF_miYdRp_mK0AGoWPO.jpg

via montasefilm.com

A2A dari Qaedi Aqsa

Sebenarnya kurang tepat juga kalau pertanyaan ini ditujukan kepada saya, karena saya tidak pernah SMA.
Lho, kok bisa?
Bisa saja, soalnya saya sekolah di sekolah kejuruan. Hehehe.

Meskipun sempat ingin sekolah di SMAN 8 dan 81 Jakarta, takdir membawa saya untuk bersekolah di STM Pembangunan yang terkenal dengan pendidikan 4 tahunnya itu. Berdiri pada 1971, sekolah ini adalah proyek Soeharto di bidang pendidikan untuk menciptakan lulusan dengan kualitas setara D1. Cukup terkemuka juga di kalangan orang-orang teknik.

Masalahnya, mau sekeren dan seterkenal apapun sekolahnya, kalau saya tidak suka, apa mau dikata?

Saya belajar tentang manusia di sini, mulai dari kemampuan mereka dalam menahan depresi hingga keberadaan ragam karakter mereka. Lahir dan besar di lingkungan militer membuat saya kurang memahami makna keberagaman kala itu. Efeknya, saya sulit menyatu dengan lingkungan kelas, bahkan dikucilkan. Saya harus 'bertahan hidup' secara pikiran dan mental di sekolah ini.

Selain berusaha bertahan hidup, saya juga menjelajahi diri sendiri di periode ini. Karena 'butuh pelarian', saya lebih sering mendatangi perpustakaan daripada main bola ketika tidak ada pelajaran. Saya lalu menemukan kesenangan baru, yaitu menulis, hingga akhirnya meredefinisi STM sebagai Sekolah Tulis Menulis. Saya juga tertarik dengan manusia. Saya mengamati tingkah laku mereka yang berbeda-beda. Saya beradaptasi dengan keberagaman karakter mereka. Sekali lagi, saya lahir dan besar di lingkungan militer. Segalanya serba seragam.

Pada satu titik ketika saya memasuki tahun ketiga, ada seorang perempuan menghampiri saya. Dia bilang, saya sudah jauh berubah menjadi lebih baik. Bagi saya, ini adalah suatu pencapaian yang membesarkan hati.

Dari menulis, saya bisa mendapatkan uang jajan yang merupakan hasil royalti dipotong pajak royalti sebesar 15%. Iya, pajaknya besar. Tapi, tidak apa-apa. Melihat nama saya sendiri di Gramedia merupakan kepuasan tersendiri, apalagi karena sebelumnya langkah saya ini sempat diremehkan oleh orang lain.

Jadi, bila ditanya perihal pengalaman tak terlupakan ketika SLTA, jawabannya adalah menemukan dua passion, yaitu menulis dan manusia, sekaligus mendapatkan pencapaian atas keduanya.

 

Answered Feb 20, 2017
Mutiara Fadilah
A full time learner

WIL_hsp03tJ68-jWWHwhVKqhuwPkwswg.jpg

Pengalaman serius yang berguna sampai saat ini: banyak kenal jenis dan ragam manusia sekaligus cara menghadapi mereka. Menjadi bunglon? Bisa jadi!

Pengalaman terkonyol: Diusir satu kelas oleh guru Matematika gara-gara masuk kelas 15 menit sebelum pelajarannya selesai.

Pengalaman termalu-maluin: Menangis di UKS sekolah gara-gara seseorang yang entah ngapain dia waktu itu. Menangisnya ramai-ramai bersama anak-anak kelas 10.5. Satu nangis, semua nangis.

Pengalaman ter-bikin-deg-degan: Waktu meeting Teeners VII bersama alumni. Proposal kami (yang sudah susah payah dibikin) disobek di depan semua panitia (termasuk saya). Alumni marah-marah, bilang bahwa proposal kami gak bakal laku buat sponsorship.

Pengalaman ter-pengin-diulang-lagi: Pengin nyanyi dan nge-band lagi sama anak-anak Dicktator di atas panggung, dinikmati orang-orang, tapi maunya tanpa diusir seperti waktu itu. Wkwkwk!

Semuanya adalah pengalaman yang tidak terlupakan sampai saat ini, gak tau deh nanti atau besok.  

Answered Feb 21, 2017
'Youly Chang'
Wanita biasa yang tertarik pada hal-hal yang tidak biasa.

wN43-WPI262HrukWPRRRaaV-uAPGfx9n.png

SMA via Bintang.com

Pengalaman terkonyol: rok saya dirobek sama suster kepala, gara-gara saya ketahuan pakai rok pendek di atas lutut. Sebenarnya kalau ke sekolah saya selalu bawa dua rok (rok panjang sama rok pendek, hahaha...). Selama ini, yang saya lakukan aman-aman saja, cuma kebetulan saya lagi sial; belum sempat ganti rok panjang, eh, suster kepala sudah datang. Tamatlah saya. Saya dipanggil ke ruangan BP. Rok saya disobek sampai atas, terus saya dihukum lari keliling lapangan sebanyak 20 kali dan lapangannya lumayan bikin lemes. Hahahaha....

Answered Feb 22, 2017
Fitry Rochmatia Noer
owner @anomali.id

Gh9iIJLDL0R0phrwx21pmnMiyqEOZ5Gh.jpg

MANJAT PAGER TEMBOK SEKOLAH :))) 

SMA saya merupakan sebuah SMA yang favorit di Kota Depok (hehehe sombong) yaitu SMAN 1 Depok. Saya yakin sekolah ini berbeda dengan sekolah lainnya. Mungkin secara peraturan sama, namun secara lingkungan (keagamaan, pendidikan) saya yakin "Smansa" sangat berbeda. 

Bagaimana tidak, sedari zaman MOPD (Masa Orientasi Peserta Didik), tugas yang panitia berikan kepaaa siswa baru sangat mencerdaskan. Mulai dari rumus-rumus matematika yang digunakan dan yang mencengangkan adalah SMA ini nuansa agama Islamnya sangat kuat. 

Selain itu, anak-anak yang sekolah disini menurut saya sangat pintar. Mulai dari juara OSN, AFS, dan lain sebagainya, semuanya ada di sini. Belum lagi lulusannya 80% masuk universitas negeri favorit di Indonesia. 

Dengan sebegitu pintarnya saingan-saingan saya, maka saya merasa tidak boleh sekalipun saya melewatkan hari tanpa sekolah. 

Suatu hari ketika saya kelas XII, saya datang terlambat. Karena tingkat kedisiplinan Smansa begitu tinggi (pukul 07:01 gerbang sudah ditutup semua) sementara saya baru sampai jam 07:30, akhirnya saya menghubungi teman saya. Dia bilang, "Manjat tembok aja, Pit, sini gue bantuin!" Nah dengan adanya ide tersebut, saya setuju untuk memanjat tembok sekolah. 

Setelah saya menentukan tembok bagian mana yang saya panjat, (saya memilih tembok yang di dekat pohon untuk dipanjat agar lebih memudahkan), dengan sekuat tenaga, saya memanjat tembok tersebut yang kemudian dibantu teman-teman saya dari bagian dalam sekolah dan juga dibantu oleh warga yang tinggal di sekitar sekolah (warga tersebut meminjamkan bangkunya).

Namun sialnya, setelah saya berhasil masuk sekolah, ada seorang guru yang sedang lewat lapangan dan melihat saya masih membawa tas di tengah teman-teman saya yang sudah tidak bawa tas. 

Akhirnya, saya dipanggil ke ruang BP dan diberikan teguran agar tidak terlambat dan memanjat pagar lagi. 

Menurut saya, pengalaman tersebut merupakan pengalaman yang tidak bisa terlupakan. :)

Answered Jul 17, 2017
Ma Isa Lombu
Penikmat Budaya

BwZrXJVVGeYE-L9FZQN4vB0xUJcQ7Xj_.jpg

Memberontak kepada kakak OSIS.

Saya sekolah di SMU 81, sebuah sekolah yang terindikasi sebagai sekolah unggulan di bilangan Jakarta Timur. 

Perlu diketahui bahwa SMU 81 dulunya bernama SMA Laboratory School (Labs School) yang terletak di Rawamangun. Karena satu dan lain hal, SD hingga SMA Labs school "dinaturalisasi" menjadi sekolah negeri dan terpencarlah kami menjadi sekolah-sekolah negeri di seluruh penjuru Jakarta. Nah, SMA 81 kebetulan ditempatkan di sebuah kompleks militer di Kalimalang, Jakarta Timur.

Pada saat saya sekolah dahulu, masih banyak budaya Labs School yang diterapkan di sekolah kami, salah satunya adalah budaya kakak OSIS yang belagu. Dengan jas OSIS yang (katanya) mereka banggakan, mereka melenggang ke sana ke mari, terutama ketika MOS (Masa Orientasi Siswa). Sepertinya mereka sedang belajar menjadi diktator kepada adik kelasnya yang memang masih bercelana biru, marjinal.

Uniknya, layaknya penegak hukum negeri ini di masa lalu (semoga), perilaku menjaga "marwah sekolah" hanya berani mereka tampakkan ke adik kelas yang masih unyu-unyu. Tebang pilih. Kepada para seniornya yang duduk kelas 3, hilang semua gaya-gayaan mereka. Tajam ke bawah, tumpul ke atas. Khas pejabat negeri kita.

"Otoritarianisme berat sebelah" ini saya pikir harus dihentikan, agar mereka tau bahwa kebenaran bukan milik mereka!

Yang saya pikirkan saat itu hanya menciptakan shock untuk mereka dengan cara membuktikan bahwa pengawasan mereka terhadap anak baru (kelas 1) masih banyak celahnya. Saya juga ingin membuktikan bahwa anak kelas 1 tidak takut melawan penjajahan yang dilakukan manusia atas manusia. Sesederhana itu.

Harapannya, dengan pemberontakan ini, akan ada gerakan-gerakan lain dari akar rumput anak-anak kelas 1 yang akan menciptakan gelombang perlawanan yang lebih besar.

Yang waktu itu saya (dan beberapa kawan) lakukan adalah dengan mengganti pamflet pengumuman yang secara official dikeluarkan oleh kakak OSIS dengan sebuah pamflet baru yang mengolok-olok mereka. Aksi itu kami lakukan ketika malam hari ataupun jauh di pagi hari, setelah atau sebelum semua orang datang/berada di sekolah.

Pamflet serius keluaran OSIS kami ganti redaksinya dengan kalimat-kalimat lucu/mengolok-olok ataupun kami keluarkan pamflet tandingan untuk menghancurkan kredibilitas dan legitimasi dari si kakak OSIS yang belagu.

Gerakan kami adalah aksi politik, bukan aksi lucu-lucuan!

Untuk itulah, meski kami bertindak di bawah tanah, pesan politik kami sangatlah jelas. Kami ingin menumbangkan kediktatoran semu kakak OSIS yang belagu.

Dalam bergerak, kami pun tidak takut memperkenalkan diri sebagai "root radicals", yang kalau diterjemahkan dalam kalimat yang lebih bebas, berarti "anak baru haus kasih sayang". Dengan pesan dan aktor politik yang jelas, kami berharap aksi yang kami lakukan dapat mengagitasi lebih banyak orang untuk turut bergerak. Tentunya dalam gelombang yang lebih besar.

Aksi tersebut sontak membuat sekolah gempar. Layaknya Julian Assange yang mengguncang dunia lewat Wikileaks, komplotan kami dibenci, dicari, juga dirindukan.

Anak-anak kelas 3 tidak banyak bergerak mendukung gerakan bawah tanah yang kami lakukan, tapi kami yakin secara moral mereka men-support pemberontakan yang tidak biasa ini. Anak-anak kelas dua terbagi menjadi dua kubu, ada yang pro dan ada yang kontra. Dan terakhir, anak-anak kelas 1, mostly mendukung gerakan, meski ada beberapa gelintir siswa yang takut dan masih malu-malu.

Hampir sekitar 1 bulan lamanya kredibilitas kakak OSIS kami hancurkan. Kami lumatkan kedigdayaan semu mereka menjadi sebesar remah-remah rempeyek yang jatuh dijalan, diinjak orang. Kami buka semua perilaku hipokrit mereka lewat pamflet-pamflet satir yang membuat geli pembaca, sekaligus menyatat hati. Legitimasi mereka sebagai perwakilan siswa luluh lantak selama sebulan itu, hingga...

...aksi kami ketahuan!

Ada penyusup dalam gerakan. Meskipun sebagian besar kakak OSIS belagu, jujur saya katakan, ada sedikit dari mereka yang masih punya otak.

Mereka melakukan gerakan "kontrarevolusi" dengan mengirimkan spion lewat teman-teman kami yang (masih) lugu. Sehingga mereka akhirnya mendapatkan informasi bahwa gerakan perlawanan bawah tanah ini dilakukan oleh sejumlah siswa baru dari kelas tertentu.

Tidak hanya itu, mereka akhirnya memata-matai pergerakan kami dan akhirnya berhasil menangkap salah satu dari comrade gerakan ini. Kawan kami pun diinterogasi dan akhirnya (karena pengalaman perjuangan bawah tanah kami yang masih nol besar), terungkaplah semua aktor politik aksi politik delegitimasi ini.

Kami semua diarak menuju ruang OSIS, layaknya para jenderal revolusi yang di seret gerombolan PKI ke Lubang Buaya. Saya masih ingat, ketika itu waktu pulang sekolah. Sekitar pukul 16.30 sore.

Kami, layaknya tahanan, dimasukan ke ruang OSIS dengan kaca yang ditutup rapat oleh tirai. Meski interogasi mereka lakukan dengan sepenuh jiwa dan raga, tapi hati kami bahagia karena gerakan awal sudah kami lakukan.

Mereka mengancam ini dan itu. Memojokkan kami dengan kekuatan struktural yang mereka miliki. Dari mulai bentakan, hingga ludah yang muncrat mengenai muka, sudah menjadi atribut wajib kekerasan verbal sore itu.

Ajaibnya, kami tidak takut!

Kami lawan argumen dengan argumen. Kami lawan cacian dengan teriakan lantang yang membuat nyali mereka ciut. Kami mengetahui kekerasan fisik tidak mungkin mereka lakukan. Untuk itulah segala cara kami lakukan untuk membuat mereka kalah. Kami juga ungkapkan ancaman-ancaman kami yang tentunya hanya bluffing semata. Menariknya mereka percaya.

Jam berganti jam. Akhirnya mereka melunak.

Kami, sang pemberontak, hanya dihukum "black list" dari seluruh kegiatan OSIS dan tidak dapat berpartisipasi menjadi/mendaftar sebagai anggota OSIS di periode berikutnya.

Fair enough.

Cukup mengesankan. :)

Answered Jul 17, 2017

SMAN 86 JKT.
Tidak ada satupun kenangan yang aku lupakan ketika duduk di bangku SMA, di mana saat-saat remaja mulai terlihat mencolok dan serba ingin tahu semuanya. Mulai memikirkan masa depan, bimbang antara kuliah atau kerja, dan itu semua baru terpikirkan pada saat memasuki kelas 3. Berlomba-lomba untuk mendaptkan PTN dan bisa memutuskan antara kuliah atau kerja, terutama untuk TEATER DETIK yang 75% kegiatanku di SMA terisi untuk kegiatan teaterku ini hingga sekarang. Pokoknya semuanya gak akan bisa dilupakan dan akan sama seperti 4 tahun ke depan, yaitu masa kuliahku di UIN JKT yang akan kubangun masa-masa terindah mulai dari sekarang.

Answered Aug 14, 2017

Daaruttaqwa Integrated Boarding School.

Pengalaman yang tidak pernah saya lupakan di masa SMA itu salah satunya ketika di ponpes, saya setiap pagi sering melihat santri putra. Lucu kalo didengar, cuma hanya melihat santri putra. Bagi yang pernah pengalaman sekolah di pesantren pun akan merasakannya, pasti. Saat itu saya menjadi pengurus organisasi pelajar di ponpes, setiap paginya selalu mengontrol kerja bakti pesantren. Pada satu tahun yang lalu, dengan rekan kerja, bukannya kami mengawasi para anggota, tetapi kami malah melirik-lirik ke arah santri putra. Pada saat itu pun, saya sedang menyapu halaman depan kantor pengurus kami. Rekan kerja saya tiba-tiba mengambil sapu lidi yang saya pakai, otomatis saya kaget dong, tanpa dia bilang, mengambil barang yang sedang saya pakai. Ternyata dia mengambil sapu hanya untuk cari perhatian sama pacar dia. Saya kesal, saya kira dia ingin benar-benar menyapu halaman tersebut, ternyata tidak. Hanya dipegang. Setelah pacarnya pergi, udah ditaruh gitu aja, padahal halaman tersebut masih sangat kotor. Seketika saya langsung marah-marah ke dia. Saya berantem dengannya sampai-sampai teman saya itu pingsan dan jatuh sakit. Saya kira dia lebay banget sih, padahal gak diapa-apain, cuma adu bicara bisa sampai seperti itu. Beberapa bulan kemudian, saya masih belum baikan sampai pada akhirnya kami dipindahkan kamar karena hal tersebut. Saat lulus pun, baru saya memulai untuk bermaaf-maafan dengannya. Karena saya tidak mau saat itu lulus belum akur sama dia. Dan setelah lulus kami menjadi bersahabat dengan teman saya satu lagi. Dan dinamakan (LDR) LinaDeaRafiqah.

Answered Aug 14, 2017
Astuti Purwaningsih
Mahasiswi Ilmu Komputer UGM | Rumah Kepemimpinan 8

Di SMA saya, terdapat lima ekstrakurikuler yang merupakan sie otonom dari OSIS. Sehingga sie tersebut mengurus organisasinya sendiri. Lima ekskul tersebut adalah Pecinta Alam, Karya Ilmiah Remaja, Palang Merah Remaja, Jurnalistik, dan Teater.

Dan saya masuk dalam ekskul Palang Merah Remaja. Bukan sekedar PMR biasa jika saya bilang. PMR ini adalah tempat yang Allah membuat saya mengerti tentang Allah, tentang agama, tentang hidup, dan masih banyak lagi. Bukan hanya berbicara masalah kemanusiaan. Namun lebih tinggi dari itu semua, bagaimana seorang manusia itu bisa menjadi rahmatan lil alamin.

PMR di sekolah saya namanya Teladan Junior Red Crescent :)

Dan tempat itu adalah hal yang belum bisa saya lupakan hingga kini :))

 

*btw saya sekolah di SMA 

Answered Feb 2, 2018

Question Overview


14 Followers
2089 Views
Last Asked 2 years ago

Related Questions


Apa pengalaman terburuk yang pernah Anda alami seumur hidup?

Apa pengalaman terbaik/terindah yang pernah Anda alami sepanjang hidup Anda?

Bagaimana cara Anda meniti karier dari bawah sampai ke puncak?

Bagaimana rasanya ditipu/difitnah/dizalimi oleh orang lain?

Apa hal yang paling berbahaya/berisiko yang pernah Anda lakukan?

Apa pengalaman yang paling mengesankan selama hidup Anda?

Apa cerita nyata yang Anda alami tapi banyak orang tidak percaya?

Apa cerita hebat mengenai orang tua Anda yang akan ceritakan ke anak Anda?

Apa pengalaman kehidupan yang paling berkesan dalam diri Anda?

Apa hal paling menyedihkan yang pernah Anda dengar, baca, dan lihat?

Bagaimana sistem pendidikan di Jerman berlangsung selama Perang Dunia II?

Adakah kajian ilmiah tentang parfum?

Bagaimanakah cara yang tepat untuk menanggulangi kenakalan remaja?

Bagaimana cara yang tepat untuk menanggulangi kenakalan remaja, khususnya seks bebas?

Apa saja faktor yang menginspirasi bagi remaja untuk melakukan kenakalannya?

Apakah rehabilitasi sudah cukup untuk menghentikan pengguna narkoba yang sudah terjerumus?

Apa yang mempengaruhi kaum remaja untuk melakukan seks bebas?

Apakah bisa kita menghilangkan seks bebas di kalangan remaja?

Apa itu sistem pendidikan anak Montessori?

Pada usia berapakah anak akan mampu menyerap pendidikan seks usia dini dengan baik?

Bagaimana cara belajar secara efektif ketika SMA?

Siapa Guru SMA paling favorit Anda dan mengapa beliau begitu mengesankan Anda?

Apakah benar masa-masa SMA adalah masa yang paling indah? Mengapa?

Mengapa SMA Kristen dan Katolik banyak memiliki kualitas dan prestasi bila dibandingkan sekolah Islam?

Bagaimana cara masuk UI (Universitas Indonesia)?

Bagaimana cara agar diterima di ITB?

Bagaimana cara kuliah tanpa merepotkan orang tua?

Bagaimana cara mendapatkan keringanan biaya kuliah?

Apa keunggulan SMA Taruna Nusantara Magelang dibanding SMA lain yang ada di Indonesia?

Bagaimana kaitan antara genre film favorit dan budaya setiap negara?

Apa itu Mazhab Frankfurt?

Bagaimana perkembangan Mazhab Frankfurt dalam konteks budaya populer?

Apa yang dimaksud dengan Teori Fetisisme Komoditas?

Apa perbedaan antara budaya massa dan masyarakat massa?

Apakah kaitan antara budaya massa dan amerikanisasi?

Apa pendapat Anda tentang amerikanisasi dan kritik atas Teori Budaya Massa?

Bagaimana pengaruh industri budaya terhadap musik pop?

Apakah kaitan antara James Bond dan strukturalisme?

Bagaimanakah konsep hegemoni Gramsci?